SKRIPSI JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM JAM’IYYAH TA’LIM WAL MUJAHADAH KRAPYAK YOGYAKARTA DALAM MENGANTISIPASI KENAKALAN REMAJA



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Penegasan Judul
Untuk memperjelas dan menghindari kesalahpahaman dalam memahami skripsi yang berjudul “Jam’iyyah Ta’lim Wal Mujahadah Krapyak Yogyakarta Dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja (Tinjauan Metode Dakwah)”, maka dipandang perlu adanya penegasan terhadap istilah-istilah yang ada dalam judul tersebut, yaitu :
1.    Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah Krapyak Yogyakarta
Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah Krapyak Yogyakarta merupakan majelis dzikrullah yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, diasuh oleh KH Chaidar Muhaimin Affandi. Jam’iyyah ini bernama lengkap Jam’iyyah Ta’lim Wal Mujahadah Jum’at Pon (JTMJP)[1] dan sejak bulan Oktober 2003 dilengkapi menjadi Jam’iyyah Ta’lim Wal Mujahadah Jum'at Pon (JTMJP) "Padang Jagad" Krapyak Yogyakarta.[2]
Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah ini merupakan lembaga pendidikan non formal yang bergerak di bidang sosial keagamaan yang anggotanya terdiri dari santri dan masyarakat umum (remaja dan dewasa). Kegiatan dari Jam’iyyah ini berupa pengajian, sholat tasbih dan dzikir bersama. Pengajian dilaksanakan supaya jamaah memiliki tambahan  pengetahuan dan wawasan berkaitan dengan ajaran agamanya dan meningkatkan kualitas taqwa mereka. Sedangkan sholat  tasbih dan dzikir untuk mendekatkan diri kepada  Allah dan  menenangkan jiwa  jamaahnya.
Selain kegiatan tersebut, Jam’iyyah juga mengadakan kegiatan berupa pengelolaan hewan qurban dan terapi, baik terapi jiwa maupun terapi obat-obatan.
2.    Antisipasi
Antisipasi adalah perhitungan tentang hal-hal yang akan (belum) terjadi. Mengantisipasi adalah membuat perhitungan (ramalan, dugaan) tentang hal-hal yang belum (akan) terjadi, upaya pencegahan.[3]
Jadi yang dimaksud mengantisipasi dalam penelitian ini adalah upaya pencegahan yang dilakukan oleh Jam'iyyah dalam menanggulangi kenakalan remaja yang belum terjadi dan berusaha memperbaiki akhlak yang sudah terlanjur rusak.
3.    Kenakalan  Remaja
a.    Kenakalan
Kenakalan adalah tingkah laku secara ringan yang menyalahi norma dan hukum yang berlaku dalam suatu masyarakat.[4] Kenakalan  tersebut antara lain  membolos sekolah,  meninggalkan sholat lima  waktu,  berkelahi atau tawur antar kelompok,  keluyuran, minum minuman  keras, narkoba dan  lain-lain.
b.    Remaja
Remaja adalah seorang yang berusia 13-21 tahun, pada masa ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rokhaniah dan jasmaniah terutama fungsi seksual.[5]
Jadi, kenakalan remaja adalah tingkah laku oleh remaja yang berumur antara 13-21 tahun, yang mana tingkah laku tersebut menyalahi norma dan hukum yang berlaku di masyarakat sehingga dianggap sebagai problem sosial.
Adapun  yang dimaksud kenakalan remaja dalam penelitian  ini adalah tindakan pelanggaran norma yang dilakukan  oleh remaja anggota Jam’iyyah, seperti membolos  sekolah, meninggalkan sholat lima waktu, keluyuran, menipu orang  tua (minta uang untuk membeli minuman keras dan  narkotika tanpa sepengetahuan orang tua), minum  minuman  keras dan narkotika, duduk-duduk di  pinggir jalan  yang bisa meresahkan masyarakat, tawur antar kelompok  dan lain-lain.
4.    Metode Dakwah
a.    Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk Metode
mencapai suatu maksud.[6]
b.    Dakwah
Dakwah adalah mengajak umat manusia dengan hikmah kebijaksanaan untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.[7] Menurut Ali Mahfuzh dalam Hidayatul Mursyidin, sebagaimana yang dikutip Masyhur Amin, dakwah adalah:
حثّ النّاس على الخير والهدى والامر بالمعروف والنّهى   عن المنكر ليفوزوا بسعادة العاجل والاجل.
“Mendorong (memotivasi) umat manusia melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk serta memerintah mereka berbuat makruf dan mencegahnya dari perbuatan munkar agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.”[8]
Jadi, dakwah adalah mengajak manusia agar termotivasi dalam mengikuti
petunjuk Allah dan Rasul-Nya sehingga mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Adapun yang dimaksud dengan metode dakwah adalah suatu cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu pesan oleh seseorang kepada orang lain agar termotivasi dalam mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya untuk mengubah sikap, pendapat atau perilaku sehingga mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam penelitian ini yang dimaksud  dengan metode dakwah adalah suatu cara yang dilakukan oleh untuk  menyampaikan suatu pesan dari Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah kepada  jamaahnya agar termotivasi untuk  mengikuti  pengajian, sholat tasbih dan  dzikir  sehingga jamaah tidak melakukan pelanggaran norma-norma dalam masyarakatnya dan tidak terpengaruh orang lain yang mengajak melakukan  pelanggaran  tersebut.
Berdasarkan penegasan terhadap istilah-istilah yang sudah dipaparkan di atas maka yang dimaksud dengan judul "Jam'iyyah Ta'lim Wal Mujahadah Krapyak Yogyakarta Dalam Mengantisipasi Kenakalan Remaja (Tinjauan  Metode  Dakwah)" adalah penelitian tentang upaya pencegahan yang dilakukan oleh Jam'iyyah Ta'lim Wa al-Mujahadah Krapyak Yogyakarta dalam mengajak remaja yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma masyarakat untuk ikut dalam kegiatannya, dengan tujuan untuk mengubah tingkah laku yang rusak menjadi tingkah laku yang positif sesuai dengan ajaran Islam.

B. Latar Belakang Masalah
Islam adalah rohmatan lil ‘alamin untuk segenap makhluk diseluruh alam raya ini, oleh karena itu harus disebarluaskan dengan cara dakwah. Dakwah merupakan upaya untuk mengajak manusia dari kondisi kegelapan, kekafiran serta amoral untuk dialihkan kepada kondisi yang penuh limpahan cahaya, keimanan serta nuansa akhlaqul karimah. Upaya itu harus dilaksanakan secara maksimal untuk mencapai perubahan ke arah kebaikan.
Dakwah merupakan komunikasi ajaran-ajaran Islam dari seorang da’i kepada umat manusia. Pada pelaksanaan dakwah, di dalamnya terjadi proses komunikasi, sebab unsur-unsur yang ada dalam dakwah telah memenuhi persyaratan untuk dikatakan komunikasi.  Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa dalam setiap proses dakwah terdapat komunikasi, akan tetapi tidak semua proses komunikasi terdapat aktivitas dakwah.[9] Adapun yang menjadi titik perbedaan adalah terletak pada isi dan orientasi pada keduanya.  Pada komunikasi, isi pesannya bersifat umum bisa juga berupa ajaran agama, sementara orientasi pesannya adalah pencapaian tujuan dari komunikasi itu sendiri yaitu timbulnya effek berupa perubahan tingkah laku. Sedang pada dakwah, isi pesannya jelas berupa ajaran Islam dan orientasinya adalah pada penggunaan metode yang benar menurut ukuran Islam.
Pada dasarnya manusia sendiri adalah makhluk suci. Fitrah yang dibawa manusia akan berkembang dengan baik manakala dibina dengan baik pula, sehingga dengan adanya pembinaan itu manusia akan menjadi taat beragama dan mendasari semua tindakannya pada aturan Islam. Namun sebaliknya bila benih fitrah yang dibawanya tidak dibina dengan baik, maka akan melahirkan manusia yang jauh dari agama.
Kurangnya pengetahuan agama akan berpengaruh terhadap kesadaran manusia dalam melaksanakan amal ibadah dan beragama. Norma dan aturan yang sudah ada sulit diterapkan dalam hidupnya sebagai disiplin diri, kesemua itu dapat terjadi karena kurangnya penanaman sejak kecil, atau bisa pula karena pengaruh lingkungan sekitarnya yang jauh  dari nilai-nilai agama, sehingga seringkali dalam sikap dan tingkah lakunya ada yang kurang sesuai dengan ajaran agama yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah.[10]
Melihat kondisi yang demikian, maka perlu adanya suatu tindakan atau upaya pembenahan kembali nilai-nilai Islam pada kehidupannya. Nilai dan ajaran Islam tersebut bukan hanya dikenal dan dimengerti akan tetapi harus dilembagakan dan dibudidayakan agar berlaku dalam kehidupan sehari-hari, karena nilai dan ajaran Islam mampu menjadi kendali dan pedoman dalam kehidupan manusia.
Masuknya iman kedalam hati manusia adalah atas petunjuk atau hidayah yang datang dari Allah, dan petunjuk Allah itu tidak akan datang dengan sendirinya tanpa adanya suatu usaha untuk mendapatkannya. Dalam hal inipun dakwah bukanlah merupakan jaminan akan turunnya hidayah atau dapatnya hidayah seseorang dari Allah akan tetapi hanya sebagai sarana untuk mengajak manusia mencari hidayah Allah, di dalam mengajak manusia sudah barang tentu membutuhkan suatu cara yang mengena terhadap obyek dakwah.[11]
adalah masa yang kritis dalam usia pertumbuhan fisik maupun psikis. Remaja menempati posisi yang penting untuk kelangsungan hidup masyarakatnya. Mereka merupakan penerus yang akan melanjutkan proses pembangunan dan upaya Salah satu obyek dakwah yang menarik adalah remaja, karena usia remaja memajukan bangsanya. Pada pundak merekalah tampuk kepemimpinan masyarakat dan bangsa ini akan diestafetkan. Sehingga manakala generasi muda dari suatu bangsa mengalami kebrobokan mental dan lemah keahlian dan ketrampilannya, maka akan bobrok dan lemah pula bangsanya.
Oleh karena itu, maka menjadi kewajiban bagi para generasi tua untuk menyiapkan dan membekali mereka dengan ketrampilan dan keahlian yang bermanfaat bagi kehidupan masa depan mereka, dan yang paling penting lagi adalah membina mereka agar mempunyai akhlaqul karimah. Sehingga pada akhirnya mereka akan mampu memikul amanah atas bangsa ini dengan baik sesuai dengan tuntunan yang diajarkan agama Islam.
Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah merupakan majelis dzikrullah yang dilaksanakan setiap malam Jumat Pon di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Pengasuh kegiatan ini adalah KH Chaidar Muhaimin Affandi.
Tujuan berdirinya Jam’iyyah ini tidak lepas dari tujuan amar ma’ruf nahi munkar dengan jalan bil hikmah wa al-mauidlah al-hasanah dengan dasar rohmatan lil ‘alamin.  Para  jamaah  berasal  dari berbagai macam kalangan baik strata sosial ataupun golongan dan tidak berafiliasi pada salah satu partai politik manapun.[12] Bahkan  ada warga non muslim yang mengikuti kegiatan ini, karena majelis ini mempunyai misi dakwah.
Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah dalam gerak dakwahnya lebih banyak menekankan pada kalangan remaja sebagai suatu usaha menjawab dan memecahkan permasalahan yang dihadapi remaja guna mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Di antara remaja yang mengikuti Jam’iyyah ini banyak yang dulunya merupakan remaja nakal yang memerlukan sentuhan agama sebagai benteng pertahanan kemerosotan moral yang terjadi akhir-akhir ini.
Untuk menanggulangi semakin merajalelanya perbuatan tak berakhlak di kalangan remaja, harus dilaksanakan upaya yang lebih intensif. Selain itu dukungan dan peran serta keluarga dan masyarakat dengan menciptakan situasi dan kondisi sosial ekonomi serta adat yang mendukung di tempat tinggal mereka sangat dibutuhkan. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Zakiah Daradjat bahwa pengaruh lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat dengan keadaan sosial ekonomi serta agama dan adatnya sangat menentukan dalam pembinaan remaja yang tumbuh dalam keluarga dan masyarakat tersebut.[13]
Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah sebagai lembaga pendidikan non formal membantu memecahkan tidak hanya menghilangkan, mengendalikan dan mengantisipasi  gejala permasalahan atau penyakit emosional belaka, akan tetapi bertujuan untuk memperbaiki pola  tingkah laku dan meningkatkan perkembangan kepribadian yang positif.
Majelis Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah  sebagai wadah pendidikan non formal keagamaan yang mempunyai tujuan meluruskan kepada para remaja menuju jalan yang diridlai Allah dengan menampilkan berbagai macam amaliyah keagamaan yang tentunya sesuai dengan kaidah ajaran Islam.
Kegiatan amaliyah tersebut dilaksanakan secara kontinyu dan berjamaah setiap tiga puluh lima hari sekali (selapanan). Metode dakwah yang digunakan berupa pengajian, sholat tasbih berjamaah di masjid, dan dzikir bersama. Pengajian dilaksanakan supaya jamaah memiliki tambahan  pengetahuan  dan wawasan berkaitan dengan ajaran agamanya dan meningkatkan kualitas taqwa mereka. Sedangkan sholat  tasbih dan dzikir untuk mendekatkan diri kepada  Allah dan  menenangkan jiwa  jamaahnya.
Metode sangat penting sekali dalam sebuah proses dakwah, karena agama sekalipun apabila tidak didukung dengan metode dan pendekatan yang handal dan tepat dalam penyampaian agama tersebut akan sulit sekali mencapai suatu hasil yang baik. Akan tetapi, bila metode penyampaian tepat serta terorganisir dengan baik, sekalipun ajaran itu salah, maka akan mencapai tujuan yang diharapkan.[14]
Perlu diketahui bahwa penulis merasa tertarik dengan obyek Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah karena keberhasilan pengasuh dalam membina murid-muridnya, sehingga banyak muridnya yang sadar dan kembali ke jalan yang benar. Di samping itu juga semakin hari muridnya semakin bertambah. Hal ini merupakan keberhasilan pengasuhnya dalam berdakwah lewat wadah Jam’iyyah tersebut.
Berangkat dari sinilah, penulis tertarik untuk meneliti metode dakwah yang dilaksanakan oleh Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah dalam upaya mengembangkan dakwah Islamiyah, khususnya dalam mengantisipasi kenakalan remaja.

C.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka masalah yang akan dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana pelaksanaan metode dakwah oleh Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah Krapyak  Yogyakarta dalam mengantisipasi kenakalan remaja ?

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam kajian ini adalah: Untuk mengetahui pelaksanaan metode dakwah Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah dalam mengantisipasi kenakalan remaja.

E.     Kegunaan Penelitian
1.    Kegunaan Akademis
Diharapkan   penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi pengembangan disiplin ilmu dakwah dan pengembangan penelitian dibidang  dakwah, khususnya  dalam aktivitas dakwah yang dilaksanakan Jam’iyyah Ta’lim Wa al-Mujahadah Krapyak Yogyakarta dalam mengantisipasi kenakalan remaja.
2.    Kegunaan Praktis
Diharapkan penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran bagi pengurus Jam'iyyah dalam meningkatkan pelaksanaan dakwah Islamiyah khususnya dan kegiatan dakwah pada umumnya.

F.     Kerangka Teori
Tinjauan tentang Kenakalan Remaja
a. Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan Remaja atau Juvenile Delinquency terdiri dari dua kata yaitu Juvenile yang berasal dari bahasa Latin ‘juvenilis’ yang artinya anak-anak,anak muda (yang berusia antara 13-21 tahun), ciri karakteristik pada masa muda, sifat-sifat pada periode remaja. Delinquent berasal dari kata Latin ‘delinquere’ yang artinya menjadi jahat, asosial, kriminal, pelanggar aturan, pembuat ribut, pengacau, penteror, tidak dapat diperbaiki lagi, durjana,dursila, dan lain-lain.[15]
Menurut Simanjuntak, sebagaimana yang dikutip oleh  Sudarsono,         suatu perbuatan disebut delinquency apabila perbuatan-perbuatan tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat dimana ia hidup atau suatu perbuatan yang anti sosial dimana didalamnya terkandung unsur-unsur anti normatif.[16]
Jadi, kenakalan remaja adalah perbuatan-perbuatan pelanggaran yang dilakukan oleh anak remaja berusia antara 13-21 tahun, yang bersifat melanggar hukum, anti sosial, anti susila dan menyalahi norma agama.
b. Bentuk-bentuk Kenakalan Remaja
Berbicara masalah kenakalan remaja yang setiap saat berbeda dalam versinya karena pengaruh lingkungan kebudayaan dan sikap mental masyarakat maka untuk menentukan apakah tingkah laku remaja semata-mata merupakan kelainan tingkah laku sesuai dengan taraf perkembangan yang dialami atau tidak maka Y. Singgih D Gunarsa dan Singgih D Gunarsa menyatakan bahwa bentuk-bentuk kenakalan remaja digolongkan menjadi dua, yaitu :
1)   Kenakalan yang bersifat amoral dan asosial serta tidak dapat diatur dalam Undang-Undang sehingga sulit digolongkan pelanggaran hukum seperti :
a)    Berbohong 
b)   Membolos
c)    Kabur, keluyuran
d)   Memiliki dan membawa benda yang membahayakan orang lain
e)    Bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk
f)    Berpesta pora semalam suntuk tanpa pengawasan
g)   Membaca buku-buku cabul dan kebiasaan menggunakan bahasa tidak sopan
h)   Secara berkelompok makan di rumah makan, tanpa membayar atau naik bis tanpa membeli karcis
i)     Turut dalam pelacuran atau melacurkan diri baik dengan tujuan kesulitan ekonomis maupun tujuan lainnya
j)     Berpakaian tidak pantas dan minum-minuman keras atau menghisap ganja sehingga merusak dirinya maupun orang lain.[17]
2)   Kenakalan yang dianggap melanggar hukum diselesaikan melalui hukum dan acapkali bisa disebut dengan istilah kejahatan. Kejahatan ini dapat diklasifikasikan sesuai dengan berat ringannya pelanggaran tersebut, misalnya :

a)    Perjudian
b)   Pencurian, penggelapan barang
c)    Penipuan dan pemalsuan
d)   Pelanggaran tata susila, menjual gambar-gambar porno dan film porno, pemerkosaan
e)    Tindakan anti sosial : perbuatan yang merugikan milik orang lain
f)    Penganiayaan, percobaan pembunuhan
g)   Pengguguran kandungan.[18]
Sedangkan Hasan Basri mengutip pendapat Wright, membagi jenis-jenis kenakalan remaja  dalam beberapa keadaan, yaitu :
1)  Neurotic deliquency; remaja bersifat pemalu, terlalu  perasa, suka menyendiri, gelisah dan mengalami perasaan rendah diri. Mereka mempunyai dorongan kuat  untuk melakukan suatu kenakalan, seperti :
a)    Mencuri sendirian
b)    Melakukan tindakan agresif secara tiba-tiba tanpa alasan  karena dikuasai oleh khayalan dan fantasinya sendiri.
2)  Unsocilized delinquent; suatu sikap yang suka melawan kekuasaan seseorang, rasa bermusuhan dan pendendam. Mereka  tidak pernah merasa bersalah dan tidak pula menyesali perbuatan yang pernah dilakukannya. Sering melemparkan kesalahan dan tnggung jawab kepada  orang lain.
3)  Pseudo social delinquent; remaja atau pemuda yang  mempunyai loyalitas yang tinggi  terhadap kelompok atau 'gank' sehingga sikapnya tampak patuh, setia dan kesetiakawanannya baik. Jika melakukan sesuatu tindakan kenakalan bukan atas dasar kesadaran diri sendiri tetapi karena didasari anggapan bahwa ia harus melaksanaakan  sesuatu kewajiban kelompok yang telah digariskan.[19]
c. Ciri-ciri Kenakalan Remaja
Agar bisa membedakan kenakalan remaja dari aktivitas yang menunjukkan ciri  khas remaja,  perlu diketahui beberapa ciri-ciri pokok dari kenakalan remaja :
1)   Dalam pengertian kenakalan, harus terlihat adanya perbuatan tingkah laku yang bersifat pelanggaran hukum yang berlaku dan pelanggaran nilai-nilai moral.
2)   Kenakalan tersebut mempunyai tujuan yang asosial yakni dengan perbuatan atau tingkah laku tersebut ia bertentangan dengan nilai atau norma sosial yang ada di lingkungan hidupnya.
3)   Kenakalan remaja dapat dilakukan oleh seorang remaja saja, atau dapat juga dilakukan bersama-sama dalam suatu kelompok remaja.[20]
d. Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja
Berbicara masalah kenakalan remaja tidak akan terlepas dari pembicaraan mengenai faktor-faktor  yang menimbulkan kenakalan tersebut. Yang dimaksud dengan faktor-faktor tersebut adalah hal-hal yang melatarbelakangi, mendorong dan menguatkan timbulnya kenakalan remaja yang dikarenakan oleh sebab-sebab tertentu.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi kenakalan remaja adalah :
1)   Faktor dari individu anak.
Yaitu faktor penyebab yang memang sudah ada dalam diri anak itu sendiri, tanpa pengaruh dari luar atau adanya unsur bawaan ataupun keturunan yang dibawa sejak lahir.
a) Teori Biologis
Tingkah laku sosiopatik atau delinkuen pada anak-anak dan remaja dapat muncul karena faktor-faktor fisiologis dan struktur jasmaniah  yang dibawa sejak lahir.
b) Teori Psikogenis
Teori ini menekankan sebab-sebab tingkah laku delinkuen anak-anak dari aspek psikologis atau isi kejiwaannya. Antara lain faktor intelegensi, ciri kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi, rasionalisasi, internalisasi diri yang keliru, konflik batin, emosi yang kontroversial, kecenderungan psikopatologis dan lain-lain.[21]



2)   Faktor rumah tangga (keluarga)
Keluarga sebagai tempat kehidupan yang pertama dan tempat pendidikan yang pertama dan utama merupakan dasar fundamental bagi pertumbuhan dan perkembangan anak selanjutnya.
Kualitas rumah tangga atau kehidupan keluarga jelas mempunyai peranan paling besar dalam membentuk kepribadian remaja delinkuen. Misalnya, rumah tangga yang berantakan disebabkan oleh kematian ayah atau ibu, perceraian diantara bapak dengan ibu, hidup terpisah, poligami, keluarga yang diliputi konflik keras, semua itu merupakan sumber yang subur untuk memunculkan  delinkuensi remaja. Sebabnya antara lain :
a)    Anak kurang mendapat perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua, terutama bimbingan ayah, karena ayah dan ibunya masing-masing sibuk mengurusi permasalahan serta konflik batin sendiri.
b)   Kebutuhan fisik maupun psikis anak-anak remaja menjadi tidak terpenuhi. Keinginan dan harapan anak-anak tidak bisa tersalur dengan memuaskan, atau tidak mendapatkan kompensasinya.
c)    Anak-anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk hidup susila. Mereka tidak dibiasakan dengan disiplin dan kontrol diri yang baik.[22]
Sebagai akibat ketiga bentuk pengabaian diatas, anak menjadi bingung, risau, sedih, malu, sering diliputi perasaan dendam benci, sehingga anak menjadi kacau dan liar. Di kemudian hari mereka mencari kompensasi bagi kerisauan batin sendiri di luar lingkungan keluarga, yaitu menjadi anggota dari gang kriminal, lalu melakukan banyak perbuatan berandalan dan kriminal.
3)   Faktor dari masyarakat
Keadaan masyarakat dan kondisi lingkungan dalam berbagai corak dan bentuknya akan berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap anak-anak remaja dimana mereka hidup berkelompok. Hal yang demikian itu karena hidup saling membutuhkan dan saling ketergantungan antara satu dengan yang lainnya.
Agar semua pengaruh baik dari luar ataupun dalam suatu masyarakat tidak membawa pengaruh yang negatif, maka perlu adanya penjaringan dalam proses aktualisasi, misal dengan memberikan wawasan yang luas tentang kebudayaan, pendidikan yang lebih maju dan yang paling penting adalah penanaman ajaran agama.
Secara umum dapat dikemukakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap munculnya kenakalan remaja yang berasal dari masyarakat adalah :
a)    Kurangnya pelaksanaan agama secara konsekuen.
b)   Minimnya pendidikan bagi masyarakat, sehingga tidak bisa menilai pengaruh dari luar secara lebih selektif.
c)    Kurangnya perhatian dan pengawasan terhadap kegiatan remaja.
d)   Munculnya norma-norma baru di dalam masyarakat sebagai akibat dari perkembangan peradaban dan kemajuan teknologi.
e. Usaha Mengantisipasi Kenakalan Remaja
Juvenile Delinquency muncul sebagai masalah sosial yang semakin gawat pada masa modern sekarang, baik yang terdapat di negara-negara


 
NB : JIKA SOBAT INGIN VERSI LENGKAP DARI SKRIPSI INI, SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR, DAN MENINGGALKAN ALAMAT E-MAILNYA....


Advertisement

0 Response to "SKRIPSI JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM JAM’IYYAH TA’LIM WAL MUJAHADAH KRAPYAK YOGYAKARTA DALAM MENGANTISIPASI KENAKALAN REMAJA"

Post a Comment