iklan

SKRIPSI JURUSAN KESEHATAN HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DENGAN GANGGUAN KAPASITAS VITAL PARU (KVP) PADA PEKERJA BAGIAN PENGAMPLASAN DI INDUSTRI MEUBEL PT. KOTA JATI FURINDO DI DESA SUWAWAL KECAMATAN MLONGGO KABUPATEN JEPARA



"HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DENGAN GANGGUAN KAPASITAS
VITAL PARU (KVP) PADA PEKERJA BAGIAN PENGAMPLASAN
DI INDUSTRI MEUBEL PT. KOTA JATI FURINDO
DI DESA SUWAWAL KECAMATAN MLONGGO
KABUPATEN JEPARA"

BAB 1
PENDAHULUAN


1.1.  Latar Belakang

Dalam melakukan pekerjaan apapun, sebenarnya manusia berisiko untuk mendapat gangguan kesehatan atau penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan tersebut. Era globalisasi menuntut pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja di setiap tempat kerja, termasuk sektor informal. Untuk itu perlu dikembangkan dan ditingkatkan upaya promosi dan pencegahan dalam rangka menekan serendah mungkin resiko penyakit yang timbul akibat pekerjaan atau lingkungan kerja. Dalam pelaksanaan pekerjaan sehari-sehari pekerja diberbagai sektor akan terpajan dengan resiko penyakit akibat kerja. Resiko ini bervariasi mulai dari yang paling ringan sampai yang paling berat, tergantung dari jenis pekerjaannya (Anies, 2005:01) 

Produktifitas tenaga kerja juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan dan manusia itu sediri. Lingkungan kerja yang manusiawi dan lestari akan menjadi pendorong bagi kegairahan dan efisiensi kerja. Lingkungan kerja yang melebihi toleransi kemampuan manusia tidak saja merugikan produktifitas kerjanya, tetapi juga menjadi sebab terjadinya penyakit atau kecelakaan kerja. Hanya lingkungan kerja yang aman, selamat dan nyaman merupakan prasarat penting untuk terciptanya kondisi bekerja didalamnya atau sekitarnya (Tjandra Yoga, 2002:58).

Pembangunan dibidang industri terutama industri kayu semakin meningkat, hal ini sesuai dengan kondisi alam Indonesia dengan hutan tropisnya yang memiliki keanekaragaman pohon. Salah satu industri kayu adalah pengrajin meubel yang memproduksi meja, kursi, almari, dan lain-lain. Pada proses penyuguhan dan pengamplasan banyak dihasilkan debu dari kayu yang dapat mengganggu lingkungan kerja. 

Lingkungan industri meubel yang banyak mengandung debu, dapat menyebabkan penyakit terutama penyakit yang berhubungan dengan paru. Penyakit paru yang diderita oleh pekerja salah satu diantaranya dalah pneumokoniosis. Pneumokoniosis adalah segolongan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan debu dalam paru-paru. Berdasarkan dari hasil survei pendahuluan melalui pengamatan pada tanggal 15 April 2008 terhadap 39 orang, diketahui bahwa masih ada dari para pekerja yang menggunakan alat pelindung diri pernafasan tidak sesuai dengan fungsinya. Saat melakukan komunikasi dengan pekerja lain, masker yang mereka kenakan ditarik ke arah bawah, sehingga masker tidak menutup hidung. Oleh karena itu para pekerja saat menarik nafas, udara yang mengandung debu masuk ke dalam paru-paru. Apa yang terjadi dengan debu itu, sangat tergantung dari pada besarnya ukuran debu. Debu berukuran di antara 5-10 mikron akan ditahan oleh jalan pernafasan bagian atas, sedangkan yang berukuran 3-5 mikron ditahan oleh bagian tengah pernafasan. Partikel-partikel yang besarnya di antara 1 dan 3 mikron akan ditempatkan langsung kepermukaan alveoli paru-paru (Suma’mur P.K., 1996: 126).

Laporan ILO (International Labour Organization) tahun 1991 tentang penyakit akibat kerja, dan diantara semua penyakit akibat kerja 10-30% adalah penyakit paru. ILO telah mendeteksi sekitar 40.000 kasus pneumokoniosis terjadi diseluruh dunia setiap tahun. Sebagian besar penyakit paru akibat kerja mempunyai akibat yang serius. Lebih dari 3% kematian akibat penyakit paru kronik di New York adalah berhubungan dengan pekerjaan. Dari data tahun 1996, juga ditemukan 3300 kasus baru penyakit paru yang berhubungan dengan pekerjaan. Tetapi di Indonesia belum ada data resmi tentang berapa banyak angka kejadian kasus penyakit paru akibat kerja (Mukhtar Ikhsan, 2002:73) 

Berdasarkan data yang diperoleh dari pelayanan kesehatan di Puskesmas Mlonggo yang terletak disekitar lingkungan kerja PT. Kota Jati Furindo, dapat diketahui bahwa penyakit yang berhubungan dengan paru merupakan salah satu masalah kesehatan utama. Selain itu berdasarkan dari hasil wawancara pada tanggal 15 April 2008, terhadap 39 orang pekerja bagian pengamplasan dapat diketahui bahwa sebagian besar dari para pekerja yang sakit lebih memilih untuk memanfaatkan layanan kesehatan di Puskesmas Mlonggo. Walaupun hasil wawancara tersebut tidak bisa dijadikan sebagai kesimpulan yang valid, tetapi hal tersebut bisa memberikan gambaran bahwa sebagian besar pekerja yang bekerja di PT. Kota Jati memilih untuk menggunakan layanan kesehatan di Puskesmas Mlonggo. Dan berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Mlonggo pada bulan Januari-Desember 2008, penyakit ISPA (non Pneumonia) menduduki peringkat pertama pada daftar 10 besar penyakit yaitu sebanyak 2058 kasus (Puskesmas Mlonggo, 2009)

Para pekerja bagian pengamplasan lebih sering terpapar debu dibandingkan dengan pekerja dibagian lain, dimana pada proses pengamplasan adalah proses untuk menghaluskan permukaan-permukaan kasar yang tentunya banyak menghasilkan debu. Dimana masa kerja karyawan berkisar antara 1-10 tahun, dengan jam kerja rata-rata 8 jam per hari dari hari Senin sampai Sabtu, sehingga mempunyai potensi pemaparan debu kayu terhadap kapasitas vital paru. Berdasarkan wawancara terhadap 4-5 orang pekerja, dari para pekerja tersebut mengakui adanya keluhan-keluhan yang berhubungan dengan bagian pernapasan. 

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang adanya hubungan antara Masa kerja dengan gangguan Kapasitas Vital Paru (KVP) pada pekerja bagian pengamplasan industri meubel PT. Kota Jati Furindo di desa Suwawal, kecamatan Mlonggo, kabupaten Jepara.

1.2. Rumusan Masalah
Berdasar latar belakang tersebut, maka permasalahan yang diangkat peneliti adalah ” Adakah hubungan antara masa kerja dengan gangguan Kapasitas Vital Paru (KVP) pada pekerja bagian pengamplasan di industri meubel PT. Kota Jati Furindo di desa Suwawal Kecamatan Mlonggo Kabupaten Jepara? “

1.3. Tujuan Penelitian
Mengetahui apakah ada hubungan dan seberapa besar hubungan antara masa kerja dengan gangguan Kapasitas Vital Paru (KVP) pada pekerja bagian pengamplasan di industri meubel PT. Kota Jati Furindo di desa Suwawal, kecamatan Mlonggo, kabupaten jepara.

1.4. Manfaat Hasil Penelitian
1.4.1 Bagi Instansi
Memberikan masukan untuk meningkatkan kesehatan para pekerja khususnya pada bagian pengamplasan dan merupakan sumbangan pemikiran, serta memberi kejelasan kepada pekerja khususnya pada bagian bagian pengamplasan mengenai bahaya dan penyakit akibat kerja
1.4.2 Bagi Masyarakat
Memberikan informasi mengenai efek debu yang dihasilkan dari pengolahan kayu yang dapat mengganggu kesehatan
1.4.3 Bagi IKM UNNES
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai acuan dan referensi untuk penelitian selanjutnya.
1.4.4 Bagi Peneliti
Merupakan sarana untuk melatih diri bagi penulis mengenai cara dan proses berfikir ilmiah secara praktis dan mengaplikasikan teori yang telah didapat dari bangku kuliah pada keadaan yang sebenarnya dilapangan .
  
Penelitian yang dilakukan sebelumnya terdapat beberapa perbedaan dengan penelitian yang dilakukan sekarang. Perbedaan tersebut terdapat pada variabel, tahun penelitian, rancangan penelitian, dan tempat penelitian. Penelitian Yuli Setiyani Z melakukan penelitian tentang, hubungan masa kerja dengan kapasitas vital paru pada pengemudi bus Perum Damri unit kota Semarang jalur Terboyo-Mangkang, tahun 2005. Dengan rancangan penelitian metode survei analitik, dan tempat penelitian di Semarang. Sedangkan perbedaan penelitian ini dengan Lambang Satria H adalah meneliti tentang, pengaruh pemakaian APD pernafasan terhadap kapasitas fungsi paru petani sayuran pengguna pestisida semprot, tahun 2005. Dengan rancangan penelitian metode survei analitik dengan pendekatan cross sectional, dan tempat penelitian di Semarang.

1.6. Ruang Lingkup Penelitian
1.6.1 Ruang Lingkup Tempat
Penelitian yang akan dilakukan peneliti bertempat di PT. Kota Jati Furindo di desa Suwawal, kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara, khususnya pada bagian pengamplasan
1.6.2 Ruang Lingkup Waktu
Penelitian ini dimulai pada awal bulan Mei 2008 sampai selesai
1.6.3 Ruang Lingkup Materi
Materi dalam penelitian ini mengenai K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja ), yang mencakup antara masa kerja dan gangguan Kapasitas Vital Paru (KVP).



BAB II


LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori
2.1.1 Kapasitas Vital Paru
2.1.1.1 Pengertian Kapasitas vital Paru

Kapasitas vital paru adalah jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan dari paru, setelah udara dipenuhi secara maksimal (Jan Tambayong, 2001: 84). Kapasitas paru adalah suatu kombinasi peristiwa-peristiwa sirkulasi paru atau menyatakan dua atau lebih volume paru yaitu volume alun nafas, volume cadangan ekspirasi dan volume residu (Guyton, 1997:604)

Dalam penguraian peristiwa-peristiwa sirkulasi paru, kadang-kadang diperlukan untuk menyatukan dua volume atau lebih. Kombinasi seperti itu disebut sebagai kapasitas paru. Kapasitas paru dapat dibedakan menjadi kapasitas total dan kapasitas vital.

1) Kapasitas total yaitu jumlah udara yang dapat mengisi paru pada inspirasi sedalam-dalamnya. Dalam hal ini angka yang didapat tergantung dari beberapa hal yaitu kondisi paru, umur, sikap, dan bentuk seseorang.
2) Kapasitas vital yaitu jumlah udara yang dapat dikeluarkan setelah ekspirasi secara maksimal (Syaifuddin, 1997:90).

Menurut Guyton (1997:604) kapasitas paru dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
1) Kapasitas inspirasi
Kapasitas sama dengan volume tidak ditambah dengan volume cadangan inspirasi yaitu jumlah udara (kurang lebih 3500 ml) yang dapat dihirup oleh seseorang dimulai tiap ekspirasi normal dan pengembangan paru sampai jumlah maksimal.
2) Kapasitas residu fungsional
Yaitu jumlah udara yang tersisa dalam paru pada akhir ekspirasi normal (kurang lebih 2300 ml).
3) Kapasitas paru vital
Kapasitas vital sama dengan volume cadangan inspirasi dan volume cadangan ekspirasi, yaitu jumlah udara maksimum yang dapat dikeluarkan seseorang dari paru setelah terlebih dahuli mengisi paru secara maksimum dan kemudian mengeluarkan sebanyak-banyaknya (kurang lebih 4600 ml).

4) Kapasitas paru total
Kapasitas paru total merupakan volume maksimum pengembangan paru dengan usaha inspirasi sebesar mungkin dengan inspirasi paksa (kurang lebih 5800 ml).
Kapasitas vital paru rata-rata pria dewasa kira-kira 4.8 liter dan wanita dewasa 3.1 liter (Jan Tambayong, 2001:86).

2.1.1.2 Kegunaan Pemeriksaan Fungsi Paru
Pemeriksaan fungsi paru pada pekerja berguna untuk :
1) Mengidentifikasi penyakit paru, gangguan pernafasan sebelum bekerja untuk menentukan penyakit secara dini dan memperbaiki perjalanan penyakit.
2) Menilai bahaya dengan spirometer yang ada di tempat kerja dan mendapat standar bahaya tersebut.
3) Pemeriksaan fungsi paru juga dapat digunakan untuk diagnosis dan menentukan derajat kelainan paru, mengidentifikasi jenis gangguan fungsi pernafasan, dan mengidentifikasi atau menyingkirkan penyakit respiratorius sesak nafas.

2.1.1.3 Cara Pengukuran Kapasitas Paru
Dengan menggunakan spirometer
Bagian-bagian yang ada pada spirometer :
1) Floating drum yaitu tabung tempat ruang udara
2) Air
3) Drum tempat penampungan air
4) Ruang oksigen (udara pernafasan)
5) Tempat mulut untuk menghirup

Cara pengukurannya adalah:
1) Masukkan air pada tabung hutchinson sebatas garis merah
2) Sesuaikan kleb batas dengan suhu air yang terbaca di termometer
3) Lakukan inspirasi maksimal
4) Masukkan udara melalui selang karet, maka tabung akan naik
5) Baca hasilnya pada skala penunjuk (Herry Koesyanto dkk, 2005 : 45)

2.1.2 Sistem Pernafasan Manusia
2.1.2.1 Anatomi Saluran Pernafasan

1. Hidung (Nasal)
Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang (kavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran-kotoran yang masuk ke dalam lubang hidung.

2. Tekak (Faring)
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makan. Terdapat didasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. Rongga tekak, dibagi dalam tiga bagian:

1) Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut nasofaring.
2) Bagian tengah yang sama tingginya dengan Istmus Faisum disebut Orofaring
3) Bagian bawah sekali dinamakan Laringofaring
3. Pangkal tenggorok (Laring)

Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakhea bawahnya.
Laring terdiri dari lima tulang rawan antara lain :
1) Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun (Adam’s apple) sangat jelas terlihat pada pria.
2) Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker.
3) Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin.
4) Kartilago epiglolis (1 buah)
4. Batang tenggorok (Trakea)

Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 sampai dengan 20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku kuda (huruf C). Panjang trakea 9-11cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos.

5. Cabang tengorok (Bronkus)
Merupakan lanjutan dari trakhea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebra torakalis ke IV dan ke V. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampuk paru-paru, bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri, terdiri dari 6-8 cincin, mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih ramping dari yang kanan, terdiri dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang.

6. Paru-paru
Paru-paru adalah sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung (gelembung hawa=alveoli). Gelembung-gelembung alveoli ini terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Banyaknya gelembung paru-paru ini kurang lebih 700.000.000 buah (paru-paru kiri dan kanan) (Syaifuddin, 1997:87).

2.1.2.2 Fisiologi Saluran Pernafasan
Pernafasan paru merupakan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang terjadi pada paru. Fungsi paru adalah tempat pertukaran gas oksigen dan karbon dioksida pada pernafasan melalui paru atau pernafasan eksterna, oksigen dipungut melalui hidung dan mulut, pada waktu bernafas, oksigen masuk melaui trakea dan pipa Bronchial ke alveoli, dan dapat erat berhubungan darah di dalam kapiler pulmonalis.

Proses pernafasan dibagi empat peristiwa :
1) Ventilasi pulmonal yaitu masuk keluarnya udara dari atmosfer ke bagian alveoli paru-paru
2) Difusi oksigen dan karbondioksida di udara masuk ke pembuluh darah yang disekitar alveoli
3) Transpor oksigen dan karbondioksida di darah ke sel
4) Pengaturan ventilasi (Guyton, 1995:342)

2.1.2.3 Pathofisiologi saluran pernafasan
Penyakit paru yang terjadi pada perusahaan mebel kayu adalah terjadinya efek pathofisiologis dan bersifat fibrosis pada paru sehingga alveoli mengalami kekuatan yang berakibat terjadinya penurunan elastisitas dan pengembangan paru sehingga alveoli mengalami beban kerja pernafasan yang sangat kuat. Sehingga untuk mengatasi daya elastisitas alat pernafasan diperlukan nafas cepat dan dangkal. Pernafasan ini mengakibatkan hipoventuilasi alveolar dan ketidakmampuan mempertahankan gas dalam normal. Setiap penurunan pengembangan paru akan menyebabkan pengurangan kapasitas vital paru.

Kelainan pada saluran pernafasan dapat berupa opstrusi aliran darah pulmonal dan insufisiensi pernafasan. Kelainan saluran secara garis besar terdiri dari tiga bagian, yaitu :
1) Ventilasi yang tidak memadahi alveoli
2) Pengurangan difusi gas melalui membran pernafasan
3) Berkurangnya oksigen jaringan
2.1.2.4 Penyakit parenkim paru

1) Pneumokoniosis
Pneumokoniosis adalah segolongan penyakit yang disebabkan oleh penimbunan debu-debu dalam paru-paru. Penyakit akibat inhalasi ini sangat terkait erat dengan kesehatan kerja. Jenis debu terinspirasi dapat mempengaruhi paru-paru, beberapa debu jika terhirup dalam paru-paru akan menimbulkan fibrosis, diantaranya silika akan menimbulkan silikosis, besi menimbulkan siderosis, batu bara akan menimbulkan paru-paru hitam, asbes menimbulkan asbestosis dan berilium menimbulkan berrilosis (Suma’mur, 1996:126).

Gejala-gejala yang muncul antara lain batuk-batuk kering, sesak nafas kelelahan umum, berat badan turun, banyak dahak dan lain-lain. Gambaran
rongent paru-paru, baik noduler ataupun lain-lainnya. Pemeriksaan tempat kerja harus menunjukkan adanya debu yang diduga menjadi sebab penyakit pneumokoniosis itu.

Diagnosis pneumokoniosis adalah sukar, sebab sesungguhnya tak seorangpun manusia yang tidak menimbun debu-debu dalam paru-parunya. Lebih-lebih kehidupan di kota atau di tempat kerja yang berdebu. Makin tua umur berarti makin banyak pula debu yang tertimbun dalam paru-paru sebagai hasil penghirupan debu sehari-hari. Lebih-lebih pneumokoniosis tingkat permulaan sngat sukar dipastikan diagnosanya (Suma’mur, 1996:128)

2) Fibrosis Paru
Fibrosis paru bukan merupakan penyakit tetapi istilah patologis yang menyatakan adanya jaringan pengikat dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat proses penyakit paru-paru yang menimbulkan peradangan atau nekrosis.

2.1.3 Pengertian Debu
Debu adalah istilah yang digunakan dalam industri untuk menguraikan bagian-bagian padat yang berada diudara yang biasanya besarnya antara 0.1 sampai 25 um (1um: 10-6m ). Debu yang besarnya lebih dari 25 um biasanya tidak cukup lama mengudara dan tidak menjadi suatu masalah penghirupan udara. Debu dengan ukuran yang besarnya kurang dari 5 um disebut debu yang dapat dihirup (respirable dust) (ILO, 1991:71).

Debu yaitu partikel-partikel zat padat, yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan alami atau mekanis seperti pengolahan, penghancuran, pelembutan,
pengepakan yang cepat, peledakan, dan lain-lain dari bahan-bahan baik organik, maupun anorganik. Misalnya batu, butir-butir zat, dan sebagainya (Suma’mur, 1996:104).

2.1.4 Sifat-Sifat Debu
1. Sifat pengendapan
Adalah sifat debu yang cenderung selalu mengendap karena gaya grafitasi bumi. Namun karena kecilnya ukuran debu, kadang-kadang debu ini relatif tetap berada di udara. Debu yang mengendap dapat mengganggu proporsi partikel yang lebih dari pada yang ada di udara.

2. Sifat permukaan basah
Sifat permukaan debu akan cenderung basah, dilapisi oleh lapisan air yang sangat tipis. Sifat ini penting dalam pengendalian dalam tempat kerja.

3. Sifat penggumpalan
Oleh karena permukaan debu yang selalu basah, sehingga dapat menempel satu sama lain dan dapat menggumpal. Turbelensi udara meningkatkan pembentukan penggumpalan debu. Kelembaban di dawah saturasi, kecil pengaruhnya terhadap penggumpalan debu.

4. Sifat listrik statis
Debu mempunyai sifat listrik statis yang dapat menarik partikel lain yang berlawanan. Dengan demikian, partikel dalam larutan debu mempercepat terjadinya proses penggumpalan.

5. Sifat optis
Debu atau partikel basah atau lembab lainnya dapat memancarkan sinar yang dapat terlihat dalam kamar gelap.

Pembagian debu yang didasarkan pada efeknya secara garis besar, ada tiga macam debu yaitu sebagai berikut:
1) Debu organik seperti debu kapas, debu daun-daunan tembakau dan sebagainya.
2) Debu mineral yang merupakan senyawa komplek seperti silikon dioksida dan sebagainya.
3) Debu metal, seperti timah hitam, mercury, Cd, aseton, dan lain-lain (Depkes RI, 2003:45).

2.1.5 Macam-Macam Debu
Macam-macam debu menurut Harington (2003:154), yaitu:
1) Debu batu bara
Terbentuk akibat pembusukan bahan vegetasi sejak zaman prasejarah.
2) Debu silika
Merupakan senyawa keras mirip batu, dapat pecah menjadi partikel halus.
3) Debu Asbestos
4) Secara alamiah berupa silika serat serpetin (chrysotile), amfibol (crocidolite, amosite, anthothyllite).
5) Debu mineral buatan manusia dibuat dengan jalan penarikan, peniupan, sentrifugasi, dan penipisan dengan nyala api pada suhu yang sangat tinggi dengan menggunakan berbagai bahan mentah dan menghasilkan berbagai serabut dengan berbagai diameter dan sifat.
6) Debu kapas.
7) Debu yang dihasilkan oleh tanaman kapas melalui suatu proses pemisahan biji dan bahan lainnya dari kapas mentah.
8) Debu yang lain

2.1.6 Efek Debu Terhadap Fungsi Pernafasan
Proses penimbunan debu terhadap paru-paru dapat terjadi melalui proses inspirasi yang mengandung debu. Penimbunan debu tergantung dari besarnya debu, apabila debu itu berukuran dintara 5-10 mikron akan ditahan oleh jalan pernafasan bagian atas, sedangkan yang berukuran 3-5 mikron ditahan oleh bagian tengah jalan pernafasan. Partikel yang ukurannya diantara 1 dan 3 mikron akan ditempatkan langsung kepermukaan alveoli paru-paru. Dan yang berukuran 0.1-1 mikron tidak begitu gampang hinggap dipermukaan alveoli, karena debu-debu ukuran demikian tidak mengendap. Debu yang partikel-partikelnya berukuran kurang dari 0.1 mikron bermassa terlalu kecil, sehingga tidak hinggap dipermukaan alveoli atau selaput lendir (Suma’mur 1996:126). Partikel-partikel ini oleh karena gerakan brown, ada kemungkinan membentur permukaan alveoli dan tertimbun disana. Bila debu masuk di alveoli, maka alveoli akan mengeras (Fibrosis). Bila 10% mengeras akibatnya mengurangi elastisitasnya dalam menampung volume udara, sehingga kemampuan mengikat oksigen menurun.

Penyebab hinggap dan tertimbunnya debu dalam paru-paru adalah sifat pengendapan dan sifat permukan basah partikel debu yang bergerak pada saat udara membelok, sehingga partikel berukuran besar menumbuk selaput lendir dan
hinggap ditempat tersebut. Proses ini dinamakan sedimentasi yaitu pada bronchioli tekanan udara sangat kurang, kira-kira 1cm/detik oleh karena gerakan grafitasi bumi sehingga partikel-partikel debu tersebut akan mengendap (Suma’mur, 1996:127).

2.1.7 Akibat Partikel Debu Terhadap Paru-Paru
1) Fibrosis paru mineral
Fibrosis paru dapat berwujud nodulasi dan difus (fibrosis ringan) berapa tidak elastisnya jaringan paru.
2) Fibrosis paru ekstensi
Fibrosis paru ekstensif berupa nodulus ekstensif dan fibrosis paru yang jelas.
3) Peradangan dan perlukaan
Fibrosis pada paru-paru merangsang terjadinya peradangan atau perlukaan pada saluran pernafasan.
4) Keracunan sistemis
Absorbsi aerosol berakibat timbulnya reaksi toksis patologis.
5) Alergi
Pembengkakan membran dapat meningkatkan secret (lendir) di hidung, nafas berat, dan kapasitas vital menurun.
6) Reaksi demam
Reaksi demam merupakan kompensasi tubuh terhadap proses peradangan.

2.1.8 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kapasitas Vital Paru
Faktor yang mempengaruhi volume dan kapasitas vital paru antara lain :

2.1.8.1 Pemakaian Alat Pelindung Diri
Alat Pelindung Diri (APD) adalah seperangkat alat yang digunakan tenaga kerja untuk melindungi sebagian atau seluruh tubuhnya dari adanya potensi bahaya atau kecelakaan kerja (A. M. Sugeng Budiono, dkk, 2003:329). Yang dimaksud disini adalah Alat Pelindung Diri (APD) pernafasan yang berguna untuk melindungi pernafasan terhadap gas, uap, debu, atau udara yang terkontaminiasi di tempat kerja yang dapat bersifat racun, korosi ataupun rangsangan. Alat pelindung diri harus memenuhi persyaratan yaitu, APD haruslah enak dipakai, tidak mengganggu kerja, memberikan perlindungan yang efektif terhadap bahaya (Suma’mur, 1996:217).

Alat pelindung pernafasan dapat dibedakan menjadi dua (A.M. Sugeng Budiono, 2003: 332), yaitu:
1. Masker
Untuk melindungi debu atau partikel-patikel yang lebih besar yang masuk ke dalam pernafasan, dapat terbuat dari kain dengan ukuran pori-pori tertentu.
2. Respirator
Berguna untuk melindungi pernafasan dari debu, kabut, uap logam, asap dan gas. Alat ini dapat dibedakan atas:

1) Respirator pemurni udara
Membersihkan udara dengan cara menyaring atau menyerap kontaminan dengan toksinitas rendah sebelum memasuki sistem pernafasan.
2) Respirator penyalur udara
Memberikan aliran udara yang tidak terkontaminasi secara terus-menerus. Udara dapat dipompakan dari sumber yang jauh (dihubungkan dengan selang tahan tekanan) atau dari persediaan portabel (seperti tabung yang berisi udara bersih atau oksigen). Jenis ini biasa dikenal dengan SCBA (Self Contained Breathing Apparatus)

2.1.8.2 Umur
Umur berhubungan dengan proses penuaan atau bertambahnya umur, semakin tua usia seseorang maka semakin besar kemungkinan terjadi penurunan fungsi paru (Joko Suyono, 2001:218). Menurut Sugeng Hariadi (2003:45), Usia produktif seseorang yaitu 18-40 tahun. Kebutuhan zat tenaga terus meningkat sampai akhirnya menurun setelah usia 40 tahun berkurangnya kebutuhan tenaga tersebut dikarenakan telah menurunnya kekuatan fisik.

Dalam keadaan normal, usia juga mempengaruhi frekuensi pernapasan dan kapasitas paru. Frekuensi pernapasan pada orang dewasa antara 16-18 kali permenit, pada anak-anak sekitar 24 kali permenit. Walaupun pada orang dewasa frekuensi pernapasan lebih kecil dibanding dengan anak dan bayi. Dalam kondisi tertentu hal ini tersebut akan berubah misalnya akibat dari suatu penyakit, pernapasan bisa bertambah cepat dan sebaliknya (Syaifudin, 1997:105).

2.1.8.3 Jenis Kelamin
Jenis kelamin mempunyai kapasitas paru yang berbeda. Volume dan kapasitas paru pada wanita kira-kira 20-25% lebih kecil daripada pria (Guyton,1997:605). Dan menurut Jan Tambayong (2001:86) kapasitas vital paru rata-rata pada pria dewasa kira-kira 4.8 liter dan wanita dewasa 3.1 liter.

2.1.8.4 Riwayat Penyakit
Kapasitas vital paru akan berkurang pada penyakit paru-paru, jantung (yang menimbulkan kongesti paru-paru) dan kelemahan otot paru (Guyton, 1997:608).
2.1.8.5 Status Gizi

Gizi kerja adalah nutrisi atau kalori yang diperlukan oleh tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan sesuai dengan jenis pekerjaannya (A.M. Sugeng Budiono, 2003:154). Tenaga kerja memerlukan makanan yang bergizi untuk pemeliharaan tubuh, untuk memperbaiki sel-sel dan jaringan, untuk pertumbuhan sampai masa-masa tertentu untuk melakukan kegiatan, termasuk pekerjaan guna mencapai produktifitas kerja yang setinggi-tingginya. Status gizi seseorang dapat mempengaruhi kapasitas vital paru, orang kurus panjang biasanya kapasitas vital paksanya lebih besar dari orang gemuk pendek (I Dewa Nyoman S, 2001:32).

Masalah kekurangan dan kelebihan gizi pada orang dewasa (usia 18 tahun keatas) merupakan masalah penting, karena selain mempunyai resiko penyakit-penyakit tertentu, juga mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu caranya adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal dan normal (I Dewa Nyoman S, 2002:59).


NB : JIKA SOBAT INGIN BAB SELANJUTNYA, SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR, JIKA INGIN RESPON CEPAT SILAHKAN HUB.SAYA DINOMOR KONTAK DIATAS.

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "SKRIPSI JURUSAN KESEHATAN HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DENGAN GANGGUAN KAPASITAS VITAL PARU (KVP) PADA PEKERJA BAGIAN PENGAMPLASAN DI INDUSTRI MEUBEL PT. KOTA JATI FURINDO DI DESA SUWAWAL KECAMATAN MLONGGO KABUPATEN JEPARA"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top