iklan

CONTOH SKRIPSI AGAMA ISLAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA SISWA KELAS IX SMP PGRI 12 PONDOK LABU (Studi Penelitian Kelas IX SMP PGRI 12 Pondok Labu)



 SKRIPSI AGAMA ISLAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA
SISWA KELAS IX SMP PGRI 12 PONDOK LABU (Studi Penelitian
Kelas IX SMP PGRI 12 Pondok Labu)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan di lembaga sekolah tingkat pertama sangat didominasi oleh pelajaran umum seperti IPA dan IPS, sedangkan Pelajaran Agama Islam (akhlak) di lembaga tersebut sangat minim, mulai dari alokasi waktu yang diberikan hanya 2 jam di setiap kelas, guru agama Islam hanya berjumlah beberapa orang, serta buku panduan yang diajarkan di sekolah tersebut juga belum memadai baik dari segi isi buku maupun pengarang buku tersebut.

Melihat dari fenomena tersebut, tentunya akan sangat sulit mencapai tujuan pendidikan keagamaan dengan baik yang ada dalam kurikulum mata pelajaran, dengan waktu yang begitu singkat padahal si anak tidak hanya dituntut mendapatkan materi tentang apa itu akhlak dan berbagai macamnya,
tapi justru hal yang paling utama adalah bagaimana cara pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Jika kita meminjam pendapat kaum Hedonis, sebagaimana yang di kutip Ahmad Amin, dalam Bukunya yang berjudul .Etika (Ilmu Akhlak)., maka alokasi waktu tersebut jauh dari
cukup, karena pelajaran akhlak menuntut adanya praktik dalam masyarakat, mereka berpendapat, .Pelajaran akhlak mempunyai pengaruh yang besar dalam praktik hidup, karena teori ini membatasi tujuan hidup. Yaitu kebahagiaan perseorangan yang menurut pendapat paham Hedonism atau kebahagiaan masyarakat menurut pendapat paham Universalistic
Hedonisme.1.

1Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1975), h. 134 Dalam kehidupan nyata sendiri, setiap manusia akan lebih banyak mendapatkan pendidikan akhlak melalui dunia nonformal, atau lebih pada pemberian contoh dari kaum yang lebih tua, yang terkadang kaum tua sendiri
lebih banyak memberikan contoh yang tidak baik. Karenanya sektor pendidikan formal (melalui sekolah) atau nonformal (Pendidikan Pesantren) menjadi solusi yang amat diperlukan oleh masyarakat guna pendidikan akhlak anak. Dengan harapan ketika si anak terjun kemasyarakat ia mampu memposisikan dirinya sebagai manusia yang bisa diterima diberbagai golongan atau usia, dan bahkan harapan yang lebih jauh ia menjadi manusia yang terhormat. Permasalahannya sekarang adalah, apakah dengan tenggang waktu pendidikan yang relatif sedikit atau sebentar tersebut
si anak mampu menjawab semua permasalahan yang ada di masyarakatnya yang seiring waktu permasalahan tersebut akan berkembang atau apakah ia mampu menjadi remaja yang diharapkan? Karena pada realita-nya masyarakat hanya bisa menuntut hal yang baik. Dengan mempelajari kasus yang penyimpangan norma pada saat dahulu2, serta di barengi dengan melihat realita perkembangan zaman saat ini, tentunya penanaman nilai-nilai keagamaan sangatlah dibutuhkan dalam proses pendidikan. Apalagi jika merujuk kepada penjelasan diatas, jelas sekali, akan tercipta peluang besar terjadi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan oleh para siswa. Sebagai contoh kecil, mereka tidak bersikap baik terhadap teman, guru, orang tua, dan lingkungan, apalagi terhadap Tuhan mereka yang abstrak. Di mulai dari kelas satu siswa naik ke kelas dua lalu naik ke kelas tiga yang mana di masa ini siswa kelas tiga berada di masa pubertas atau masa peralihan dari remaja menuju dewasa (umur 13-17 tahun). Hal ini yang sangat Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, dalam bukunya Pengantar Studi Akhlak, mamberikan pembahasan khusus mengenai .Sejarah Perkembangan Ilmu Akhlak.. Fase itu dimulai sejak zaman Yunani, Fase Arab pra-Islam, Fase Islam, Abad pertengahan hingga Fase Modern, secara tidak langsung hal ini mengindikasikan pendidikan akhlak adalah hal yang paling urgen yang menjadi perhatian tersendiri karena dengan berkembangnya zaman maka itu berarti berkembang pula permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sosial tentunya. Zahrudin AR dan Hasanudin Sinaga, Pengantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h.19-35 dikhawatirkan seharusnya oleh semua kalangan khususnya oleh umat Islam yang berkecimpung di dunia pendidikan. Karena di masa ini siswa akan mencoba sesuatu yang mereka belum ketahui akan baik dan buruknya sikap yang mereka lakukan, maka oleh karena itu pendidikan agama harus diutamakan oleh pihak pendidik lebih khusus lagi dalam bidang moralitas atau akhlak.

Berkaitan dengan masalah akhlak, Islam menawarkan berberapa landasan teori yang tertuang dalam al-Quran dan Hadis, yang kesemua itu sudah membuktikan oleh para tokoh Islam, diantaranya Ibnu Miskawaih dan al-Ghazali, kemudian mereka pun menjadi pemerhati kehidupan manusia dan menjadikan perkembangan akan moralitas atau akhlak manusia umumnya dan khususnya anak remaja sebagai salah satu kajian utamanya. Adapun landasanlandasan tersebut ialah sebagai berikut:

1. Al-Qur.an
........ ...... ...... .........
Sesungguhnya engkau (muhammad) berada diatas budi pekerti yang agung (Q.S. Al-Qalam : 4).3
2. Al-Hadis
. .. .... .. .... .. .dS ... . .... .. .... ... .. ..
. ..
"Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia".4
3. Menurut ulama dan Tokoh-Tokoh Muslim
a. Abdul Hamid Yunus
5 ... O ... . .d. ... . ... ... . ....
"Akhlak ialah sifat kebiasaan manusia"
3 Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Bandung: CV penerbit
Jumanatul Ali, 2005), h.596
4 Imam Malik, Al-Muwatha Juz. 14, (Beirut: Daarul Fikr, 1980), h. 132
5 Abdul Hamdi Yunus, As-Sya.ab, (Kairo: Daarul Ma.arif, tt), h. 436
b. Imam Al-Ghazali
...... ..µ. .... ..... ß.... .. .... .. G.... .....
6 ..... ... ... ...S ... .. .d.. ....d.
.Akhlak ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripada timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak memerlukan pertimbangan pikiran (lebih dulu)..
c. Ibrahim Anis
.. .. .. ... .. . ... ... . .µ. .... ... .. ß.... . .S .....
7 .... . ... ... .. .S ...
"akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang dengannya lahirlah macam-macam perbuatan baik dan buruk, tanpa membutuhkan pikiran dan pertimbangan" Sejak manusia menghendaki kemajuan dalam kehidupan, maka sejak itu timbul gagasan untuk melakukan pengalihan, pelestarian, dan pengembangan kebudayaan dan ilmu pengetahuan melalui pendidikan.
Pendidikan senantiasa menjadi perhatian utama dalam rangka memajukan kehidupan dari generasi ke generasi, sejalan dengan tuntutan kemajuan masyarakat. Apabila ilmu pengetahuan hanya dimiliki oleh segelintir orang, akibatnya akan terjadi pembodohan terhadap masyarakat
yang menyebabkan mudah ditindas bahkan dapat diperbudak oleh kaum yang kuat. Islam mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan yakin menuntut akhirat tetapi tidak melupakan kepentingan dunia, sebagimana firman Allah dalam QS.Al-Qashash 77:
........ ....... . ..........
. .......... ........ ....
.... ......... ..... ....
...... ......... . ..........
.... . ........ .... ........
... ........... ......
...... .. .... .... . ........
. ...............
6 Imam Ghazali, Ihya Ulumuddin, (Daarulyan: tp, 1987), Jilid. 2, h. 58
7 Ibrahim Anas, Al-Mu.jamul Wasith, (Mesir: Daaru; Ma.arif, 1972), h. 2002 .Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. AL-Qashash : 77).8 Pandangan hidup yang materialitis atau hanya mementingkan keuntungan dunia, mempengaruhi masyarakat yang nampak pada tingkah lakunya dengan meninggalkan amalan-amalan ibadah serta tidak memperdulikan lagi untuk mempelajari Al-Qur.an sebagai kitab suci dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan dunia dan untuk keselamatan di akhirat kelak. Manusia lebih mementingkan waktu dan materi keduniaan, sehingga melalaikan kewajiban utamanya sebagai makhluk Allah swt beribadah dan berakhlak mulia.

Maka dalam dunia pendidikan agama tidak bisa di pisahkan, walaupun di SMP/ SLTP banyak pelajaran-pelajaran akan tetapi setiap mata pelajaran memiliki ciri khas dan karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lainnya. Begitu juga halnya mata pelajaran pendidikan agama Islam, khususnya di sekolah menengah pertama (SMP). Adapun karakteristik mata pelajaran PAI di SMP adalah sebagai berkut:

1. Diberikannya mata pelajaran PAI, khususnya di SMP, bertujuan untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertaqwa kepada Allah swt. Berbudi pekerti yang luhur (berakhlak mulia), dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang Islam, terutama sumber ajaran dan sendi-sendi Islam
lainnya sehingga dapat dijadkan bekal untuk mempelajari berbagai bidang ilmu atau mata pelajaran tanpa harus terbawa oleh pengaruh-pengaruh negative yang mungkin ditimbulkan oleh ilmu dan mata pelajaran tersebut.

2. Prinsip-prinsip dasar PAI tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu akidah, syariah dan akhlak. Akidah merupakan penjabaran dari kosep iman; syariah meupakan penjabaran dari konsep Islam, syariah memiliki dua dimensi kajian pokok, yaitu ibadah dan muamalah, dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan. Dari ketiga prinsip dasar itulah berkembang berbagai kajian keIslaman (ilmu-ilmu agama) seperti ilmu kalam (teologi Islam, usuluddin, ilmu tauhid) yang merupakan pengembangan dari akidah, ilmu fikih yang merupakan pengembangan
8 Departemen Agama RI, Alquran Dan Terjemahannya, (Jakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Quran DEPAG, 1995), h. 623 dari syariah, dan ilmu akhlak (etika Islam, moralitas Islam) yang
merupakan pengembangan dari akhlak, termasuk kajia-kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya yang dapat dituangkan dalam berbagai mata pelajaran di SMP.9

Adapun rujukan atau pedoman dalam pembelajaran pendidikan agama Islam (akhlak) di SMP PGRI 12 untuk kelas IX ialah buku mutiara akhlak dalam pendidikan agama Islam. Berdasarkan Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang standar isi dan Permendiknas nomor 23 tanun 2006 tentang standar kompetensi lulusan yang di karang oleh Drs. Soepardjo, S. Ag dan
Ngadiyanto, S. Ag. yang di terbitkan oleh PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri di Solo tahun 2007.
Dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam (akhlak) di SMP PGRI 12 Pondok Labu kelas IX disesuaikan dengan silabus, standar kompetensi, kompetensi dasar dan indicator dari Departemen Pendidikan Nasional.10

Anak yang berada dalam masa puber serta belum memahami agama Islam dan fenomena tersebut terjadi di sekolahan lanjutan pertama dengan didukungnya mata pelajaran tentang keagamaannya sangat kurang maksimal.

Anak akan mudah terjerumus pada perbuatan dosa dan perbuatan maksiat lainnya. Keadaan semacam ini juga dapat menjadi penyebab utama kemerosotan moral, pergaulan bebas, penggunaan obat-obat terlarang, pemerkosaan, pembunuhan, dan berbagai bentuk kejahatan yang kebanyakan dilakukan oleh generasi yang kurang pemahamannya tentang akhlak,
kurangnya pendidikan akhlak serta pembinaan akhlak pada anak. Apabila anak telah memahami hikmah dan pentingnya mempelajari akhlak dengan baik berarti mereka telah dibimbing untuk senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah Swt, yang akan membawa kepada ketenangan jiwa dan akan timbul perasaan takut bila hendak melakukan 9 Depdiknas, Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Pertama (SMP), (Jakarta: Depdiknas, 2004), h. 2-3
10 Drs. Soepardjo, S.Ag dan Ngadiyanto, S.Ag, Mutiara Akhlak Dalam Pendidkan Agama Islam Untuk Kelas IX Sekolah Menengah Pertama, (Solo : PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2007), h. 35-40 dan h. 121-126.
perbuatan dosa karena ia telah yakin bahwa dirinya senantiasa berada dibawah pengawasan Allah Swt.

Lembaga pendidikan lanjutan pertama sangat dibutuhkan peranannya dalam membantu orang tua serta melanjutkan pemberian pemahaman akhlak serta pembinaan akhlak pada anak didik (remaja awal) yang sudah mereka dapatkan dari sekolah dasar. Karena periode ini merupakan masa pertumbuhan dan perubahan yang pesat, meskipun masa puber merupakan periode singkat yang bertumpang tindih dengan masa akhir kanak-kanak dan permulaan masa remaja Namun,
ciri utama masa ini adalah bergejolaknya dorongan seksual. Oleh karena itu, interaksi mereka dengan kekuatan barunya ini tergolong salah satu problem yang paling berat.11
Melihat fenomena di atas penulis tertarik untuk meneliti dan membahas dalam penulisan skripsi dengan judul : .IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA SISWA KELAS IX SMP PGRI 12 PONDOK LABU..

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah
Untuk memperjelas dan mempermudah pokok permasalahan dalam penulisan skripsi ini, penulis membatasi masalah sebagai berikut: Impelementasi secara sederhana adalah pelaksanaan atau
penerapan. Implementasi menurut Mclaughlin (dalam mann, 1978). Implementasi merupakan aktivitas yang saling menyesuaikan. Implementasi yang penulis maksud adalah bukan sekedar aktivitas tetapi suatu kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai tujuan kegiatan.12 11Netty Hartati, Dkk. Islam Dan Psikologi, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 39-40

12 Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum, 2004), h. 40 Implementasi berasal dari bahasa Inggris yang berarti pelaksanaan13, sedangkan dalam kamus ilmiah populer yang berarti
penerapan, pelaksanaan14, karena luasnya masalah pendidikan agama Islam yang meliputi: Ibadah, Akidah dan Akhlak, Al-Qur'an dan Fiqh, maka dalam pembahasan proposal ini peneliti hanya membatasi pada pembelajaran akhlak siswa Kelas IX dalam Pembinaan Akhlak Siswa di SMP 12 PGRI Pondok Labu.

2. Perumusan Masalah
Setelah membatasi masalah dalam penelitian ini, penulis memutuskan masalah sebagai berikut:
Bagaimana implementasi pembelajaran akhlak di SMP PGRI 12 Pondok Labu?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui bentuk pembelajaran akhlak di SMP PGRI 12 Pondok Labu.
2. Untuk mengetahui pola pembinaan akhlak di SMP PGRI 12 Pondok Labu.
3. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan positif bagi orang-orang yang kosen dan bergerak dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan agama Islam yang mengenai akhlak.

D. Kegunaan Penelitian
1. Untuk mengembangkan disiplin keilmuan yang penulis miliki dan menambah wawasan penulis khususnya, serta pihak lain yang berminat dalam masalah ini.
2. Untuk memberikan masukan bagi sekolah yang diteliti sebagai bahan evaluasi.
13John M. Echoles dan Hasan Sadizly, Kamus Inggris Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,1995)
14 Tim Media, Kamus Ilmiah Populer, (Media Center, 2002), h. 155

E. Metodologi Penelitian
Untuk pengumpulan data, peneliti menggunakan beberapa tekhnik
yaitu:

1. Angket
Sebagian besar penelitian umumnya menggunakan angket sebgai metode yang dipilih untk mengumpulkan data. Angket memang mempunyai banyak kebaikan sebagai instrumen pengumpulan data.15 Angket adalah alat untuk menumpulkan data yang berupa daftar
pertanyaan yang disampaikan kepada responden untuk dijawab secara tertulis.16
Jenis angket yang digunakan oleh peneliti adalah angket tertutup, yaitu angket yang menghendaki jawaban pendek, atau jawabannya diberikan dengan membubuhkan tanda tertentu. Daftar pertanyaan disusun dengan disertai alternative jawabannya, respoden diminta untuk memilih salah satu jawaban atau lebih dari alternative yang sudah disediakan.17
Untuk mendapatkan data yang komprehensif, angket ini dibagikan kepada guru-guru yang menjadi responden. Angket tersebut berisi pertanyan seputar pembelajaran akhlak dan pembinaan akhlak siswa. Yang ada di SMP PGRI 12 Pondok Labu.

2. Observasi

Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang di susun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang menggambarkan akan terjadi.18
15 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 225

16 Risnayanti, Implementasi Pendidikan Agama Islam Di Taman Kanak-Kanak Islam Ralia Jaya Villa Dago Pamulang, Skripsi (Jakarta: Perpustakaan Umum, 2004), h. 41
17Risnayanti , Implementasi Pendi... h. 41
18 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 229
Obervasi merupakan pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian.19

Dalam hal ini peneliti mengadakan observasi langsung yaitu mengadakan pengamatan secara langsung ke SMP PGRI 12 Pondok Labu untuk mengamati keadaan sekolah, guru-guru, siswa, fasilitas yang dimiliki dan struktur organisasi yang dimiliki oleh SMP PGRI 12

3. Wawancara
Di samping memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data, dengan metode interviue peneliti harus memikirkan tentang pelaksanaanya. Memberikan angket kepada responden dan menghendaki jawaban tertulis, lebih mudah jika dibandingkan dengan
mengorek jawaban responden dengan tatap muka.20 Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer)
yang mengajukan pertanyaan dan yang mewawancarai (interviewee) yang
memberikan jawaban atas pertanyaan itu.21 Wawancara dilakukan dengan berdialog dan Tanya jawab dengan kepala sekolah, dan juga guru yang bertugas di SMP PGRI 12.

4. Dokumentasi
Tidak kalah penting dari metode-metode lain adalah metode dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, prasasti, notulen rapat, lengger, agenda, dan sebgainya.
Dibandingkan dengan metode lain, maka metode ini agak tidak begitu sulit, dalam arti apabila ada kekeliruan sumber datanya masih tetap,
belum berubah. Dengan metode dokumentasi yang diamati bukan benda hidup tetapi benda mati.22
19 Risnayanti , Implementasi Pendi... h. 41
20 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 227
21 Risnayanti , Implementasi Pendi... h. 41
22 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penlitian Suatu Pendekatan Praktik,(Jakarta: Rineka
Cipta, 2006), h. 231
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barangbarang tertulis. Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mencatat data-data yang sudah ada.23

F. Pedoman Penulisan
Teknik penulisan dalam skripsi ini berdasarkan pada Pedoman Penulisan Skripsi yang disusun oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2007.24

G. Sistematika Penyusunan
Sistematika penyusunan dalam penelitian ini dibagi dalam lima (5) bab, setiap bab dirinci ke dalam sub bab sebagai berikut:

Bab I : Pendahuluan, pada bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang masalah, pembahasan dan perumusan masalah, tujuan penulisan dan kegunaan penelitian, metodologi penelitian dan sistematik
penyusunan.

Bab II : Landasan Teori, pada bab ini akan diuraikan mengenai pengertian pendidikan agama Islam, dasar dan tujuan pendidikan agama Islam, pengertian akhlak, pembentukan akhlak, pembinaan akhlak, faktorfaktor yang mempengaruhi pembinaan akhlak.

Bab III : Metodologi penelitian, pada bab ini akan diuraikan mengenai pendekatan penelitian, populasi dan sample penelitian, waktu dan tempat penelitian, pengumpulan data yang mencakup angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Bab IV: Hasil penelitian Pelaksanaan pembelajaran akhlak di SMP PGRI 12 Jakarta pada bab ini diuraikan mengenai pembelajaran akhlak, kurikulum, materi, keteladanan, kendala-kendala, gambaran umum SMP PGRI 12 dan deskripsi data, analisis dan interpretasi data.

Bab V : Penutup, pada bab ini akan diuraikan mengenai kesimpulan dan saran


NB : JIKA SOBAT INGIN VERSI LENGKAPNYA, SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR DENGAN MENINGGALKAN E-MAILNYA.
 

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH SKRIPSI AGAMA ISLAM IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN AKHLAK PADA SISWA KELAS IX SMP PGRI 12 PONDOK LABU (Studi Penelitian Kelas IX SMP PGRI 12 Pondok Labu)"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top