iklan

CONTOH SKRIPSI AGAMA ISLAM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN TRADISONAL DALAM PERSEPKTIF PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA



BAB I
PENDAHULUAN

1.    LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan suatu proses di dalam menemukan transformasi baik dalam diri, maupun komunitas. Oleh sebab itu, proses pendidikan yang benar adalah membebaskan seseorang dari berbagai kungkungan, intimidasi, dan ekploitasi. Disinilah letak afinitas dari paidagogik, yaitu membebaskan manusia secara konfrehensif dari ikatan-ikatan yang terdapat diluar dirinya atau dikatakan sebagai sesuatu yang mengikat kebebasan seseorang.
Hal ini terjadi jika pendidikan dijadikan instrumen oleh sistem penguasa yang ada hanya untuk mengungkung kebebasan individu. Secara memis pendidikan yang ada di Indonesia adalah sebagian kecil yang terdesain dan terorganisir oleh bingkai sistem. Gambaran sistem semacam itu merupakan bentuk pemaksaan kehendak dan merampas kebebasan individu, kesadaran potensi, beserta kreativitas bifurkasi. Maka pendidikan telah berubah menjadi instrumen oppressive bagi perkembangan individu atau komunitas masyarakat (Tilaar, 2004: 58).
Maka dari pada itu, pendidikan adalah merupakan elemen yang sangat signifikan dalam menjalani kehidupan. Karena dari sepanjang perjalanan manusia pendidikan merupakan barometer untuk mencapai maturasi nilai-nilai kehidupan. Ketika melihat dari salah satu aspek tujuan pendidikan nasional sebagai mana yang tercantum dalam UU RI SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003, tentang membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur melalui proses pembentukan kepribadian, kemandirian dan norma-norma tentang baik dan buruk. Sedangkan menurut Widagdho, manusia sebagai makhluk pengemban etika yang telah dikaruniai akal dan budi. Dengan demikian, adanya akal dan budi menyebabkan manusia memiliki cara dan pola hidup yang multidimensi, yakni kehidupan yang bersifat material dan bersifat spritual (2001: 8).
Begitu pentingnya pendidikan bagi setiap manusia, karena tanpa adanya pendidikan sangat mustahil suatu komunitas manusia dapat hidup berkembang sejalan dengan cita-citanya untuk maju, mengalami perubahan, sejahtera dan bahagia sebagaimana pandangan hidup mereka. Semakin tinggi cita-cita manusia semakin menuntut peningkatan mutu pendidikan sebagai sarana pencapaiannya. Hal ini telah termaktub dalam al-Qur’an surat al-Mujadalah ayat 11:
يرفع الله الدين امنوا منكم والدين اوتواالعلم درجت
Artinya :
Allah SWT akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Depag RI, 1974: 911).
Relevan dengan hal tersebut, maka penyelenggaraan pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan yang hendak dicapai. Buktinya dengan penyelenggaraan pendidikan yang kita alami di Indonesia. Tujuan pendidikan mengalami perubahan yang terus menerus dari setiap pergantian roda kepemimpinan. Maka dalam hal ini sistem pendidikan nasional masih belum mampu secara maksimal untuk membentuk masyarakat yang benar-benar sadar akan pendidikan.
Melihat fenomena yang terjadi pada saat sekarang ini banyak kalangan yang mulai melihat sistem pendidikan pesantren sebagai salah satu solusi untuk terwujudnya produk pendidikan yang tidak saja cerdik, pandai, lihai, tetapi juga berhati mulia dan berakhlakul karimah. Hal tersebut dapat dimengerti karena pesantren memiliki karakteristik yang memungkinkan tercapainya tujuan yang dimaksud.
Karena itu, sejak lima dasawarsa terakhir diskursus diseputar pesantren menunjukkan perkembangkan yang cukup pesat. Hal ini tercermin dari berbagai focus wacana, kajian dan penelitian para ahli, terutama setelah kian diakuinya kontribusi dan peran pesantren yang bukan saja sebagai “sub kultur” (untuk menunjuk kepada lembaga yang bertipologi unik dan menyimpang dari dari pola kehidupan umum di negeri ini) sebagaimana disinyalir Abdurrahman Wahid (1984 : 32) Tetapi juga sebagai “institusi kultural” (untuk menggambarkan sebuah pendidikan yang punya karakter tersendiri sekaligus membuka diri terhadap hegemoni eksternal). sebagaimana ditegaskan oleh Hadi Mulyo (1985 : 71).
Dikatakan unik, karena pesantren memiliki karakteristik tersendiri yang khas yang hingga saat ini menunjukkan kemampuannya yang cemerlang melewati berbagai episode zaman dengan kemajemukan masalah yang dihadapinya. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Ia telah memberikan andil yang sangat besar dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan Bangsa dan memberikan pencerahan terhadap masyarakat.
Menurut Rahim (2001 : 28), pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tertua yang melekat dalam perjalanan kehidupan Indonesia sejak ratusan tahun yang silam, ia adalah lembaga pendidikan yang dapat dikategorikan sebagai lembaga unik dan punya karakteristik tersendiri yang khas, sehingga saat ini menunjukkan kapabilitasnya yang cemerlang melewati berbagai episode zaman dengan pluralitas polemik yang dihadapinya. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, pesantren telah banyak memberikan andil dan kontribusi yang sangat besar dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan pencerahan terhadap masyarakat serta dapat menghasilkan komunitas intelektual yang setaraf dengan sekolah gubernemen.
Oleh karena itu tak mengherankan bila pakar pendidikan sekalas Ki Hajar Dewantoro dan Dr. Soetomo pernah mencita citakan model system pendidikan pesantren sebagai model pendidikan Nasional. Bagi mereka model pendidikan pesantren merupakan kreasi cerdas budaya Indonesia yang berkarakter dan patut untuk terus dipertahan kembangkan.
Menurut Nur Cholis Madjid, Seandainya Indonesia tidak mengalami penjajahan, maka pertumbuhan sistem pendidikan Indonesia akan mengikuti jalur pesantren sebagaimana terjadi di Barat yang hampir semua universitas terkenal cikal bakalnya adalah perguruan perguruan yang semula berorientasi keagamaan semisal univ. Harvard. Sehingga yang ada bukan UI, ITB, UGM, UNAIR dan lain sebagainya, tetapi mungkin Univ. Tremas, Univ. Krapyak, Tebuireng, Bangkalan dan seterusnya.( 1997 : 22)
Yang menarik untuk ditelaah adalah mengapa Pesantren --baik sebagai lembaga pendidikan maupun lembaga sosial-- masih tetap survive hingga saat ini ? Padahal sebelumnya banyak pihak yang memperkirakan pesantren tidak akan bertahan lama ditengah perubahan dan tuntutan masyarakat yang kian plural dan kompetitif, bahkan ada yang memastikan pesantren akan tergusur oleh ekspansi sistem pendidikan umum dan modern.
Tak kurang dari Sutan Ali Syahbana yang mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren harus ditinggalkan, menurutnya mempertahankan sistem pendidikan pesantren sama artinya dengan mempertahankan keterbelakangan dan kejumuan kaum muslimin (1997 : 11). Ada juga yang dengan sinis menyebutkan sistem pendidikan pesantren hanyalah fosil masa lampau yang sangat jauh untuk memainkan peran di tengah kehidupan global.
Penilaian psimis ini bila dilacak muncul dari ketidak akuratan melihat profil Pesantren secara utuh, artinya memang melihat pesantren “hanya sebagai lembaga tua dengan segala kelemahannya” tanpa mengenal lebih jauh watak watak barunya yang terus berkembang dinamik, akan selalu menghasilkan penilaian yang simplifikatif atau bahkan reduktif.
Dari sinilah peneliti tergelitik untuk melakukan penelitian terhadap pendidikan pondok pesantren tradisional dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia dalam rangka mencari sesuatu yang belum tersentuh dan tidak terfikirkan oleh sistem pendidikan Islam di Indonesia.
Penelitian ini bergulat dengan refleksi pendidikan Islam di Pondok Pesantren tradisional dalam bentuk deskriptif. Salah satu tujuannya untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan Islam di dunia ini serta meciptakan pemahaman pendidikan Islam yang lebih progresif konstekstual sehingga mampu menjawab tantangan zaman.
2.    ALASAN PEMILIHAN JUDUL
Alasan pemilihan judul ini berawal dari motivasi yang menyebabkan peneliti mengadakan atau melakukan penelitian dan sebagai upaya melegitimasi kreteria dalam penelitian. Peneliti akan menguraikan beberapa alasan argumentatif mengapa peneliti memilih judul “Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional dalam Perspektif Pendidikan Islam Indonesia” yang kemudian diasimilasikan dengan beberapa faktor yang harus dipenuhi oleh peneliti.
Dalam ranah penelitian Tarbiyah (ilmu pendidikan), pemilihan judul ini sebenarnya terdapat beberapa alasan fundamental yang menjadi latar wacana kajiannya, sehingga penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan secara akademis dan intelektual progresif. Adapun alasan-alasan tersebut sebagai berikut :
1.    Alasan Objektif
1.    Judul ini menjadi salah satu yang dipilih mengingat peserta didik merupakan salah satu subjek pendidikan Islam dan merupakan subjek dari sebuah pondok pesantren.
2.    Pentingnya pendidikan Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebab bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling banyak muslimnya.
3.    Pentingnya pendidikan Islam di Indonesia bagi kehidupan pluralitas dalam rangka mengubah paradigma eksklusif menuju paradigma inklusif, demokratis dan progresif sesuai nilai-nilai agama Islam.
4.    Pentingnya pendidikan Islam yang ada di pondok pesantren tradisional bagi kehidupan keberagaman dalam rangka mengubah paradigma apatis menuju paradigma kemandirian, kesederhanaan, keikhlasan, kebersamaan, dan kebebasan serta sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.
5.    Pentingnya memperkenalkan pendidikan pondok pesantren tradisional terhadap peserta didik, supaya nantinya menjadi manusia yang kreatif, inovatif, kompetitif, dan penuh semangat progresifitas.
1.    Alasan Subjektif
1.    Judul di atas sangat menarik dan relevan untuk diteliti serta tidak menyimpang dari spesialisasi keilmuan dari peneliti pada Jurusan Tarbiyah Program Studi Pendidikan Agama Islam
2.    Tersedianya literatur-literatur sebagai refrensi untuk dijadikan rujukan penelitian.
3.    Kesediaan dan kesiapan peneliti untuk mengkaji Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional dalam Perspektif Pendidikan Islam Indonesia analisa secara teoritik, reflektif, dan konsepsional serta hermeneutik.
4.    Adanya manfaat bagi peneliti ataupun pihak lain
5.    Adanya kesediaan dosen pembimbing untuk memberikan arahan, pemikiran dan motivasi dalam penyusunan skripsi.
6.    Adanya kesanggupan peneliti dan dukungan teman-teman seperjuangan untuk berdiskusi dalam meneliti Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional dalam Perspektif Pendidikan Islam Indonesia
3.    PENEGASAN JUDUL
Guna menghindari kesalah pahaman penafsiran terhadap judul penelitian yang akan dilaksanakan, berikut ini akan ditegaskan makna setiap kata dalam judul penelitian antara lain :
1.    Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional
Secara realistis pondok pesantren tradisional masih tetap eksis mempertahankan aslinya dengan semata-mata mengajarkan kitab kuning yang ditulis oleh ulama’ abad XV dengan menggunakan bahasa arab.
Banyak pakar merumuskan mengenai apa yang dimaksud dengan pendidikan pondok pesantren. Menurut pendapat Djamil Suherman dan Umi Kulsum, pendidikan pondok pesantren adalah institusi-institusi yang terkenal dengan ajaran-ajaran agama Islam melalui kitab kuning (klasik) yang metode pengajarannya memakai sistem sorogan, wetonan, bandongan, dan hapalan. (Al-‘Adalah,2003:17)
Sebagaimana telah diketahui, pondok pesantren tradisional adalah lembaga pendidikan Islam yang selalu mengalami perkembangan bentuk sesuai dengan perubahan zaman. Terutama adanya dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa trasformasi terhadap pondok pesantren. Dalam hal ini pondok pesantren bukan berarti telah hilang kekhasannya. (Al-‘Adalah,2003:18)
Maka dalam hal ini, pendidikan pondok pesantren tradisional merupakan suatu wadah untuk mengembangkan pola pendidikan yang seluruh aturan mainnya tergantung kepada sosok figur seorang kiai, baik kurikulum, metode dan pengajarannya. Sedangkan penerapan nilai-nilainya tidak pernah mengalami pergeseran, meskipun terjadi perubahan pengetahuan dan teknologi.
2.    Perspektif
Perspektif adalah suatu cara untuk melukiskan benda pada permukaan yang mendatar sebagaimana terlihat oleh mata dengan tiga dimensi (panjang, lebar dan tinggi), sudut pandang.
3.    Pendidikan Islam Indonesia
Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya, sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.
Pendidikan Islam bila dilihat dari segi kehidupan kultural umat manusia tidak lain adalah merupakan salah satu alat pembudayaan (enkulturasi) masyarakat manusia itu sendiri. Pendidikan Islam adalah proses membimbing dan mengarahkan pertumbuhan serta perkembangan anak didik agar menjadi manusia dewasa. (Arifin,2000:10-16)
Sedangkan menurut Zakiah Daradjat, pendidikan Islam adalah sebagai suatu bentuk perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain, dan bukan sekedar bersifat teoritis akan tetapi juga praktis, serta merupakan suatu kolaborasi antara pendidikan iman dan pendidikan amal. (1996:28)
Pendidikan Islam di Indonesia merupakan warisan peradaban Islam dan sekaligus aset bagi pembangunan pendidikan nasional, serta sebagai amanat sejarah untuk dipelihara dan dikembangkan oleh umat Islam dari masa kemasa.
Sejalan dengan proses penyebaran Islam di Indonesia, pendidikan Islam sudah mulai tumbuh meskipun masih individual. Maka dari pada itu pendidikan Islam di Indonesia dimulai oleh para tokoh agama dengan mendekati masyarakat secara persuasif dan memberikan pengertian tentang dasar-dasar agama Islam yang memanfaatkan lembaga-lembaga masjid, surau, dan langgar mulailah secara bertahap berlangsung pengajian umum mengenai tulis baca al-Qur’an serta wawasan keagamaan.
Namun demikian, pelembagaan khusus untuk pelaksanaan pendidikan bagi umat Islam di Indonesia baru terjadi dengan pendirian pesantren. (muncul pada abad XIII dan mencapai perkembangannya yang optimal pada abad XVIII). (Rahim,2001:06)
Pendidikan Islam di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya Islam ke Indonesia. Pada tahap awal pendidikan Islam dimulai dari kontak-kontak pribadi maupun kolektif antara mubalig (pendidik) dengan peserta didiknya. Setelah komunitas muslim terbentuk disuatu daerah tersebut tentu mereka membangun tempat peribadatan dalam hal ini masjid.
Sesuai dengan gencarnya pembaruan pemikiran Islam yang dicanangkan oleh para pembaharu muslim diberbagai negara sampai juga gaung pembaruan itu di Indonesia. Dalam hal ini ide-ide pembaruan pendidikan di Indonesia mulai muncul diawal abad ke XX, disebabkan banyaknya orang yang tidak puas dengan sistem pendidikan yang berlaku saat itu. Karenanya ada beberapa sisi yang perlu diperbaharui, yakni dari segi isi (materi), metode, sistem dan manajemen. (Daulay,2004:45-46)
4.    PERUMUSAN MASALAH
Maka untuk merumuskan permasalahan tersebut, perlu adanya sistematika analitik untuk mencapai sasaran yang menjadi objek kajian, sehingga pembahasan akan lebih terarah pada pokok masalah. Hal ini dimaksudkan agar terhindar dari pokok masalah dengan pembahasan yang tidak fokus dan tidak ada relevansinya. Dengan demikian penelitian apapun dilaksanakan karena terdapat permasalahan yang membutuhkan solusi, sebab tanpa adanya permasalahan tidak ada akan mungkin melakukan suatu penelitian.
Berdasarkan pernyataan di atas penelitian ini dilaksanakan karena peneliti melihat pentingnya pendidikan pondok pesantren tradisional berkembang sesuai dengan perubahan pengetahuan dan teknologi. Agar lebih mudah dan sistematis, serta dipahami maka peneliti akan merumuskan beberapa kerangka permasalahan antara lain :
1.    Pokok Masalah
Bagaimanakah Pendidikan Pesantren Tradisional dalam Perspektif Pendidikan Islam Indonesia ?
1.    Sub Pokok Masalah
1.    Bagaiamanakah visi dan misi pendidikan pondok pesantren tradisional?
2.    Bagaiamana kurikulum pendidikan pondok pesantren tradisional?
3.    Bagaimana managemen pendidikan pondok pesantren tradisional?
5.    TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian secara substansial adalah memecahkan masalah-masalah sebagaimana yang telah dirumuskan sebelumnya (STAIN, 2002: 10). Maka dari rumusan itulah akan terdapat sesuatu yang menunjukkan perolehan pasca penelitian. Secara umum, karena objek penelitian adalah pendidikan yang mengarah terhadap nilai-nilai Islam. Maka yang menjadi tujuan untuk mengetahui dan memahami yang kemudian di deskripsikan rumusan tersebut, sehingga akan menghasilkan yang orisinil dan dapat menghasilkan solusi yang baik dan positif (Bisri, 2004: 203).
Berdasarkan pada perumusan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian pada dasarnya harus sinkron antara tujuan dengan upaya-apaya pemecahan problematika yang telah dirumuskan. Maksudnya adalah agar tidak ada penyimpangan dalam menciptakan problem solver yang telah disistematikan dengan tujuan penelitian (STAIN, 2002: 10). Maka dalam tujuan penelitian ini penulis membagi menjadi beberapa bagian, yaitu :
1.    Tujuan Umum
Untuk mendiskripsikan bagaimanakah Pendidikan Pondok Pesantren Tradisional dalam Perspektif Pendidikan Islam Indonesia
2.    Tujuan Khusus
1.   Ingin mendiskripsikan visi dan misi pendidikan pondok pesantren tardisional
2.   Ingin mendiskripsikan kurikulum pendidikan pondok pesantren tradisional
3.   Ingin mendiskripsikan managemen pendidikan pondok pesantren tradisional
6.    MANFAAT PENELITIAN
Dalam penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat yang baik bagi peneliti, pihak STAIN Jember, praktisi, pengelola pendidikan dan masyarakat pada umumnya. Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.   Bagi Peneliti
1.    Untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang pendidikan Islam yang mengacu kepada realitas empiris
2.    Sebagai modal dasar penelitian pendidikan pada tataran lebih lanjut.
1.   Bagi Lembaga STAIN Jemebr
1.    Sebagai Barometer interdisipliner keilmuan dan kualitas mahasiswa dalam bidang pendidikan
2.    Untuk menambah perbendaharaan kepustakaan Tarbiyah
3.   Bagi Praktisi Pendidikan
Menjadi bahan pijakan dalam merumuskan konsep atau format pendidikan yang mengacu pada realitas yang berkembang di tengah-tengah masyarakat
1.   Bagi Pengelola Pendidikan
1.    Terciptanya pola pendidikan yang sesuai dengan agama Islam
2.    Menjadi bahan masukan dalam merumuskan konsep atau format pendidikan yang memahami realitas, sosio-kultur di tengah pendidikan.
1.   Bagi Masyarakat
1.    Untuk menciptakan tatanan masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan Islam
2.    Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi lapisan masyarakat sebagai wawasan pengetahuan pendidikan yang memanusiakan manusia
3.    Adanya interaksi yang sehat antara masyarakat mayoritas dan minoritas dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

7.    ASUMSI DAN KETERBATASAN
1.    Asumsi
Pendidikan pada saat ini masih diyakini sebagai satu-satunya sarana dalam menanamkan moral, budi pekerti, dan emosional pada calon generasi penerus bangsa. Pendidikan pondok pesantren tradisional merupakan suatu wadah pendidikan yang berciri khas unik dan merupakan pendidikan asli Indonesia.
Maka dari itu, pendidikan pondok pesantren tradisional sangat signifikan adanya di dalam menanamkan kesadaran, baik secara nyata, potensi dan kultural. Melalui pendidikan pondok pesantren tradisional peserta didik diajak untuk mampu memahami realitas pendidikan Islam pada dasarnya dengan berbagai tahapan dan sesuai dengan perubahan pengetahuan dan teknologi. Secara tidak langsung pendidikan pondok pesantren tradisional mengajarkan beberapa pelajaran yang bernuansakan bahasa arab dengan memakai kitab klasik (kuning) ini tidak terlepas dari suatu tuntutan di dalam memahami ajaran agama Islam.
Secara substansial untuk bisa memahami al-Qur’an dan al-Hadist ini harus mampu, mengetahui dan memahami instrumennya terlebih dahulu (ilmu sorrof dan nahwu), juga agar lebih mudah mengkaji, serta mendiskripsikan sesuatu yang relevan antara realitas dengan al-Qur’an dan al-Hadist.
Lebih dari itu, dalam proses penanaman kesadaran pada peserta didik semua elemen berperan penting, baik di dalam maupun di luar pesantren. Oleh karena itu, peserta didik dituntut untuk mampu berinteraksi, komunikasi dan mampu memahami kebutuhan yang muncul di dalam maupun di dalam pesantren.
Dalam hal ini sosok seorang figur kiai atau ustadz dan orang tua dituntut untuk mampu memberikan bimbingan, kontrol, pengawasan dan mampu bersikap objektif dalam memberikan pemahaman terhadap peserta didik.
Dengan demikian, peranan pendidikan pondok pesantren tradisional ini adalah merupakan suatu wadah warisan yang harus dipelihara dan dikembangkan, karena pendidikan pondok pesantren tradisional sebagai cerminan munculnya pendidikan Islam di Indonesia.
2.    Keterbatasan
Dalam melaksanakan penelitian, banyak sekali kendala yang hal tersebut berpengaruh terhadap jalannya proses penelitian. Kendala tersebut antara lain :
1.    Hasil penelitian belum teruji mengingat masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam rangka mengimplementasikan konsep pendidikan pondok pesantren tradisional dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia, sebagai contoh : implementasi pendidikan pondok pesantren tradisional dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia di sebuah lembaga pendidikan, secara otomatis merubah kurikulum yang telah ada dan telah dijadikan acuan dalam proses belajar mengajar.
2.    Kurangnya refrensi atau literatur yang berkenaan dengan teori pendidikan pondok pesantren tradisional, hal itu sangat penting sekali sebagai pijakan dan pedoman dalam merumuskan suatu konsep pemikiran.
8.    METODE DAN PROSEDUR PENELITIAN
Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif. Hal ini merupakan salah satu jenis metode yang menitik beratkan pada penalaran yang berdasarkan realitas sosial secara objektif dan melalui paradigma fenomenologis, artinya metode ini digunakan atas tiga pertimbangan: pertama, untuk mempermudah pemahaman realitas ganda. Kedua, menyajikan secara hakiki antara peneliti dan realitas; ketiga, metode ini lebih peka dan menyesuaikan diri pada bentuk nilai yang dihadapi. (Moleong, 2001:5)
1.    Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah liberary research (kajian pustaka), yaitu jenis penelitian yang menjadikan data-data kepustakaan sebagai teori untuk dikaji dan di telaah dalam memperoleh hipotesa dan konsepsi untuk mendapatkan hasil yang objektif. Dengan jenis ini informasi dapat diambil secara lengkap untuk menentukan tindakan ilmiah dalam penelitian sebagai instrumen penelitian memenuhi standar penunjang penelitian (Subagyo, 1999: 109).
Peneliti dalam jenis penelitian ini mengambil asumsi-asumsi yang di dasarkan pada data-data yang mendukung untuk memperoleh wawasan kreatif dan imajinatif. Hal ini sebagai bentuk komparasi terhadap satu konsepsi pemikiran dengan yang lain secara produktif dengan tidak meninggalkan dasar ilmiah.
Dalam liberary reseach peneliti lebih terfokus dan berhadapan langsung dengan teks literatur yang relevan tanpa mencari data kemana-mana. Sehingga peneliti hanya melakukan penelitian melalui literatur-literatur yang ada di perpustakaan (Zed, 2004: 4).
2.    Pendekatan Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, yaitu jenis pendekatan penelitian yang tidak melibatkan perhitungan (Moleong, 2001: 2), atau diistilahkan dengan penelitian ilmiah yang menekankan pada karakter alamiah sumber data. Sedangkan menurut Bagdan dan Taylor dalam buku panduan STAIN “pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati” (2002:19)
Metode kualitatif digunakan berdasarkan pertimbangan apabila terdapat realitas ganda lebih memudahkan penelitian dan dengan metode ini penajaman pengaruh dan pola nilai lebih peka disesuaikannya. Sehingga objek penelitian dapat dinilai secara empirik melalui pemahaman intelektual dan argumentasi logis untuk memunculkan konsepsi yang realistis (Moleong, 2001: 5). Berbeda dengan penelitian kuantitatif yang bekerja berdasarkan pada perhitungan prosentasi, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya.

3.    Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif yang bersifat tektual berupa konsep dan tulisan. Aspek-aspek yang akan diteliti adalah seputar apa dan bagaimana definisi, konsep, persepsi, pemikiran dan argumentasi yang terdapat di dalam literatur yang relevan dengan pembahasan. Oleh karena itu, data yang akan diambil dan dikaji berasal dari data verbal yang abstrak kualitatif. Sedangkan data yang digunakan antara lain :
1.    Data Primer
Sumber data primer, ialah sumber data yang diperoleh melalui pengamatan dan analisa terhadap literatur-literatur pokok yang dipilih untuk dikaji kembali kesesuaiannya antara teks dengan realitas berdasarkan berbagai macam tinjauan ilmiah.
2.    Data Sekunder
Sumber data sekunder, ialah sumber data yang di peroleh dari sumber-sumber bacaan yang mendukung sumber primer yang di anggap relevan, hal tersebut sebagai penyempurnaan bahan penelitian terhadap bahasan dan pemahaman peneliti
4.    Metode Analisis Data
Analisa data secara umum di lakukan dengan cara menghubungkan apa yang di peroleh dari suatu proses kerja awal. hal ini di tujukan untuk memahami data yang terkumpul dari sumber, yang kemudian untuk di ketahui kerangka berfikir peneliti ( Bisri, 2004: 228).
Adapun metode analisis data yang di gunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1.    Analisis Reflektif
Metode analisa data yang berpedoman pada cara berfikir reflektif. Pada dasarnya metode ini adalah kombinasi yang kuat antara berfikir deduktif dan induktif atau dengan mendialogkan data teoritik dan data empirik secara bolak balik kritis ( STAIN, 2002: 16).
Dalam metode analisa ini peneliti akan memecahkan masalah dengan pengumpulan data-data dan informasi untuk di bandingkan kekurangan dan kelebihan dari setiap literatur atau alternatif tersebut. sehingga pada penyimpulan akan di peroleh data yang rasional dan ilmiah.
2.    Content Analisis
Content analisis atau di sebut dengan analisis isi adalah suatu metode untuk memahami wacana atau problem dengan mencari inti dari wacana tersebut ( Musyarofah, 2002: 15). Maka berkenaan dengan pengolahan dan analisis data, content analisis di artikan pula dengan analisis data deskriptif berdasarkan isinya ( Suryabrata, 1998: 85).
Jadi peneliti dalam metode ini akan menganalisa data berdasarkan fenomena yang terjadi dalam pendidikan pondok pesantren tradisional.
  
9.    SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Guna mensistematiskan pembahasan berikut ini adalah sistematika pembahasan, antara lain :
BAB I, Memuat tentang latar belakang dilaksanakannya penelitian ini beserta seperangkat prosedur dan metode penelitian.
BAB II, Memuat tentang kerangka teoritik yang selanjutnya menjadi frame work dalam perumusan konsep pemikiran
BAB III, Membahas tentang konsep pendidikan pondok pesantren tradisional dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia
BAB IV, Memuat kesimpulan tentang pendidikan pondok pesantren dalam perspektif pendidikan Islam Indonesia.


NB : INGIN VERSI LENGKAPNYA , SILAHKAN SOBAT  REQUEST  DI KOLOM KOMENTAR,,,,,,,,,

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH SKRIPSI AGAMA ISLAM PENDIDIKAN PONDOK PESANTREN TRADISONAL DALAM PERSEPKTIF PENDIDIKAN ISLAM INDONESIA"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top