iklan

CONTOH SKRIPSI SEJARAH HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN LINGKUNGAN DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN SITU



BAB I
PENDAHULUAN 

A.     Latar Belakang

Berbagai persoalan mengenai pelestarian lingkungan hidup kita mendapat persoalan utama yaitu hubungan antara manusia dan lingkungannya yang semenjak dahulu sudah terjalin sangat erat. Dengan kata lain, manusia akan bisa mempengaruhi lingkungan hidupnya, sebenarnya lingkungan hidup juga bisa mempengaruhi watak dan manusia. Manusia mendapatkan kebutuhan yang diperlukan dalam hidupnya dari lingkungan. Makin tinggi kebudayaan manusia, makin beraneka ragam kebutuhan hidupnya. Makin besar jumlah kebutuhannya diambil dari lingkungan, maka berarti makin besar perhatian manusia terhadap lingkungan. Manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang memiliki daya pikir dan daya nalar tertinggi bila dibandingkan makhluk lainnya.
Cara yang dilakukan agar manusia dapat menyadari pentingnya lingkungan adalah memberikan penghargaan kepada seseorang maupun masyarakat. Manusia secara aktif dapat mengelola dan mengubah ekosistem sesuai dengan apa yang di kehendaki. Pelestarian sumber daya alam merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh manusia agar lingkungan tempat tinggalnya masih tetap seimbang ekosistemnya. Pelestarian ini perlu adanya partisipasi dari masyarakat sekitar Situ itu sendiri, apabila masyarakat sekitar Situ ingin ekosistemnya tetap seimbang maka masyarakat harus dapat melakukan pelestarian lingkungan dengan baik. Kegiatan partisipasi yang dapat dilakukaan seperti membersihkan kawasan Situ, tidak membuang sampah kedalam Situ, menyediakan tempat sampah di sekitar Situ mengikuti berbagai macam kegiatan yang diadakan oleh lingkungan sekitar yang bertujuan untuk melestarika sumber daya alam yang ada. Partisipasi dalam pelestarian lingkungan  harus ditanamkan sejak dini pada anak-anak, remaja, dewasa maupun orang tua. Pelestarian lingkungan ini dapat ditanamkan mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, sampai terjun kemasyarakat kelak.
Pada kenyataannya partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ itu sendiri masih rendah. Hal ini terbukti pada saat melakukan observasi di lapangan masih adanya warga sekitar situ yang memanfaatkan situ sebagai tempat mencuci piring, mencuci baju, membuat areal persawahan di pinggir perairan situ dan membangun rumah makan di pinggir situ. Kegiatan-kegiatan seperti ini dapat mengganggu kelestarian situ, contohnya limbah sabun cuci dan sampah yang ikut terbuang dari kegiatan mencuci piring dan baju dapat membuat perairan situ menjadi tercemar karena akan menyebabkan ikan-ikan mati dan akan banyak tumbuhnya lumut di periran situ. Keberadaan  bahan  pencemar  tersebut  dapat  menyebabkan  terjadinya penurunan  kualitas air situ itu sendiri,  sehingga  tidak  sesuai  lagi  dengan  jenis peruntukannya  sebagai  sumber  air  baku  air  minum,  perikanan,  pariwisata dan sebagainya.  Selain itu,  pencemaran  juga  dapat  menyebabkan  hilangnya keanekaragaman hayati, khususnya spesies endemik situ tersebut.  Dampak  negatif  lain  dari  pencemaran  perairan situ  tidak  hanya  dapat  menimbulkan  kerugian  secara  ekonomis  dan  ekologis berupa penurunan produktivitas hayati perairan, tetapi juga dapat menyebabkan timbulnya becana dan selain itu membahayakan kesehatan  bahkan  dapat  menyebabkan  kematian  manusia  yang  memanfaatkan perairan danau untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu membangun areal persawahan di pinggir perairan situ dapat menyebabkan perairan situ menjadi sempit.
Manusia adalah penentu kualitas lingkungan, sehingga dalam pemanfaatan sumber daya lingkungan hidup, manusia dapat melakukan aktifitas yang berdampak positif atau negatif terhadap lingkungan.  Manusia juga mempunyai pengaruh yang paling kuat dalam mengubah ekosistem, baik langsung maupun tidak langsung aktifitas manusia seringkali dapat mengubah volume, susunan dan struktur komponen organik lingkungan dengan mengubah bahan organik yang ada.

B.     Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian diatas dengan memperhatiakn latar belakang, maka diidentifikasi sejumlah masalah sebagai berikut:
1.      Apakah  terdapat hubungan antara komitmen lingkungan dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian Situ?
2.      Apakah terdapat hubungan antara kondisi tempat tinggal masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan Situ?
3.      Apakah terdapat hubungan antara  peran masyarakat dengan partisipasi dalam pelestarian Situ?
4.      Apakah terdapat hubungan antara  minat masyarakat dengan partisipasi dalam pelestarian Situ?
5.      Apakah terdapat hubungan antara kebiasaan masyarakat untuk menjaga kebersihan dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan?
6.      Apakah terdapat hubungn antara latar belakang pendidikan dengan partisispasi masyarakat dalam pelestarian Situ?
7.      Apakah terdapat hubungan antara latar belakang ekonomi dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian Situ?
8.      Apakah terdapat hubungan antara sikap masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan?

C.     Pembatasan Masalah

Pembatasan masalah dalam penelitian perlu dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan menghindari penafsiran yang menyimpang, pembatasan masalah tersebut antara lain:
1.         Penelitian ini terdiri dari dua variabel, yang satu variabel bebas komitmen lingkungan  dan satu variabel terikat partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ.
2.         Penelitian ini hanya membahas hubungan hubungan antara komitmen lingkungan dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ pada masyarakat yang bertempat tinggal dekat daerah situ di Bogor.
3.         Unit analisis dalam penelitian komitmen lingkungan dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ ini adalah kepala rumah tangga.

D.     Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas dapat dirumuskan bahwa “apakah terdapat hubungan yang positif antara komitmen lingkungan dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ?”



E.     Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 
1.         Manfaat Teoritis
a)         Dapat memberikan manfaat sebagai bahan referensi.
b)         Dapat memberikan konstribusi  bagi pengembangan khazanah keilmuan khususnya yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan.
c)         Dapat dijadikan konstribusi pemikiran yang bermanfaat dan positif dalam rangka peningkata pelestarian lingkungan.
2.         Manfaat Praktis
a)         Dapat menambah informasi dan pengetahuan antara komitmen lingkungan dengan partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ.
b)         Dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam mengikuti kegiatan partisipasi pelestarian situ.
c)         Dapat memberiakan informasi tentang pengetahuan dan pengelolaan sumber daya alam hayati, dan memeberikan wawasan tentang pentingnya pelestarian situ.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A.  Tinjauan Pustaka

1.       Partisipasi Masyarakat Dalam Pelestarian Situ

a.       Hakikat Partisipasi
Menurut Tjokroamidjojo (1994), partisipasi merupakan keterlibatan aktif seseorang maupun kelompok terhadap suatu kegiatan partisipasi masyarakat proses dimana masyarakat turut serta mengambil satu bagian dalam mengambil keputusan. Dengan kata lain partisipasi adalah ikut sertanya seseorang dalam perencanaan serta memikul beban dan tanggung jawab pada tahap pelaksanaan maupun pada saat memetik hasil dan manfaat serta memberikan penilaian terhadap suatu kegiatansesuai dengan tingkat kematangannya atau tingkat kewajibannya.
Partisipasi masyarakat dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup sering diartikan sebagai proses yang didalam masyarakat turut serta mengambil bagian dalam mengambil kaputusan. Upaya perlindungan lingkungan akan lebih efektif bila partisipasi dengan kelompok-kelompok masyarakat bersangkutan sungguh-sungguh dilakukan. Partisipasi politisi dan pejabat konseling. Secara umum partisipasi dapat diartikan sebagai keikutsertaan dalam mengambil peran tertentu dalam suatu kegiatan. (Van Den Ban, 1999).
            Menurut Sujana (2004), partisipasi merupakan proses suatu kelompok atau lebih yang terlibat dalam penyelenggaraan program, berinisiatif untuk melaksanakan kegiatan pengembangan program. Kegiatan pengembangan dilakukan karena adanya rangsangan dari pihak pengambil keputusan (dari pimpinan tingkat lebih atas) atau karena kehendak kelompok yang bersangkutan didasarkan atas tuntutan kebutuhan baru dan kebutuhan lingkungan. Dalam proses ini setiap pihak yang terlibat dalam program secara terkoordinasi, melakukan kegiatan bersama secara efektif dan efisien dalam mengembangkan program yang telah atau yang sedang dilaksanakan. (Santoso Sastroputro, 1998)
            Menurut Sudharto (1995), menyatakan partisipasi masyarakat merupakan proses dimana masyarakat turut serta mengambil bagian dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dikatakan partisipasi adalah ikut sertanya seseorang didalam perencanaan dan juga ikut serta memikul beban dan tanggung jawab pada tahap pelaksanaan maupun pada saat memetik hasil dan manfaat serta memberikan penilaian terhadap suatu kegiatan sesuai dengan tingkat kematangan atau tingkat kewajibannya.
Partisipasi dapat ditinjau dari segi kualitas mempunyai 5 arti penting berikut ini, yakni sebagai : (1). masukan lebijakan, (2). strategi, (3). komunikasi, (4). media pemecahan masalah publik, (5). terapi sosial dalam arti cara menghilangkan keterasingan dari warga masyarakat dalam suatu kegiatan pembangunan (Arimbi dan Achmad Santosa, 1993)
            Partisipasi dapat diukur dari kadar kontak dengan publik dan kadar dampaknya pada pengambilan keputusan. Aspek edukasi diukur dari bagaimana partisipasi itu menginformasikan, mengidentifikasi masalah, memperoleh ide-ide dari publik, memecahkan konflik dan menerapkan konsensus (Sutaryono, 1989).
            Berdasarkan beberapa teori diatas partisipai merupakan proses turut serta dalam pengambilan keputusan, perencanaan, bertanggung jawab pada tahap pelaksanaan dan memberikan penilaian terhadap hasil suatu kegiatan sesuai dengan tujuan.
            Partisipasi masyarakat diukur dari jumlah orang yang hadir dalam sebuah pertemuan umum. Tetapi ukuran efektif tidaknya partisipasi tidak hanya sekedar dari jumlah kehadiran saja. Kepercayaan komunikasi, kesempatan dan fleksibilitas merupakan elemen penting yang menentukan efektif tidaknya program-program partisipasi masyarakat (Bruce Mitchell, 2007).
            Konsep yang terkandung dalam partisipasi masyarakat adalah bahwa masyarakat ikut serta, artinya masyarakat mengikuti dan menyertai pemerintah dalam memberi bantuan guna meningkatkan, memperlancar dan menjamin keberhasilan usaha pembangunan. Setiap orang mempunyai hak dan kewajiban untuk berpartisipasi dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup.
            Adapun bentuk-bentuk partisipasi meliputi: 1). partisipasi dalam/melalui kontak dengan pihak lain sebagai salah satu titik awal perubahan sosial, 2). partisipasi dalam memperhatikan, menyerap (mentaati, mematuhi, melaksanakan), menerima dengan syarat, maupun dalam arti menolaknya, 3). partisipasi dalam tahap perencanaan, termasuk pengambilan keputusan suatu kegiatan, 4). partisipasi dalam pelaksanaan kegiatan, 5). partisipasi dalam menerima, memelihara dan mengembangkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan, 6). partisipasi dalam tahap penilaian apakah kegiatan sesuai dengan rencana dan apakah hasilnya memenuhi kebutuhan pihak yang bersangkutan (Talijudhu, 1990).
            Pembangunan akan sukses jika digerakan oleh partisipasi masyarakat yang dilakukan secara aktif, agar efektif partisipsi masyarakat perlu didukung oleh suatu tingkat keterampilan masyarakat yang hanya akan dicapai melalui sebuah mekanisme penyuluhan yang terencana. Partisipasi masyarakat terutama pedesaan dalam pembangunan menyangkut dua tipe, yaitu:1). Partisipasi dalam aktifitas-aktifitas bersama dalam proyek-proyek pembangunan yang khusus, 2). Partisipasi sebagai individu diluar aktifitas-aktifitas bersama dalam pembangunan (Chambers, 1996).
            Menurut Rahardjo Sasmita (2006) partisipasi anggota masyarakat adalah keterlibatan dan pelibatan anggota masyarakat dalam pembangunan, meliputi kegiatan perencanaan dan pelaksanaan (implementasi) program/proyek pembangunan yang dikerjakan di masyarakat lokal. Partisipasi masyarakat merupakan aktualisasi dari ketersediaan dan kemauan anggota masyarakat untuk berkorban dan berkontribusi dalam implementasi program pembangunan. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan pambangunan akan memberi arah pembangunan yang sesuai dengan prioritas kebutuhan dengan demikian pelaksanaan pembangunan dapat dilakukan secara efektif dan efisien.
            Menurut Keith Davis partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional seseorang kedalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk bersedia sumbangkan tenaga untuk tercapainya tujuan kelompoknya. Ada 3 faktor utama yang terdapat dalam partisipasi adalah: (1) partisipasi adalah keterlibatan mental dan emosional lebih dari kegiatan fisik, (2)  partisipasi adalah adanya dorongan seseorang untuk memberikan sumbangan untuk situasi kelompok, (3) partisipasi itu mendorong orang-orang untuk bersedia bertanggung jawab dalam suatu kegiatan (Davis, 1985).
            Mengingat peningkatan partisipasi masyarakat juga merupakan tanggungjawab masyarakat, sektor publik, serta sektor-sektor lain yang terkait, maka upaya peningkatan partisipasi masyarakat seyogyanya tidak hanya dilakukan oleh aparatur negara, tetapi juga oleh lembaga swadaya masyarakat yang lainnya. Kesemuannya dilakukan dengan memperhatikan faktor-faktor sosial budaya dan politik yang ikut mempengaruhi partisipasi masyarakat. Fakta membuktikan bahwa partisipasi masyarakat juga menghadapi kendala yang diakibatkan antara lain oleh kemiskinan, ke tidak tahuan, serta perilaku masyarakat yang kurang menunjang pelaksanaan program-program pembangunan, serta belum samanya pemahaman terhadap arah pembangunan (Kristiadi Pujosukanto, 1997)
            Berdasarkan teori-teori yang sudah dipaparkan diatas tentang partisipasi, terdapat beberapa unsur penting yang merupakan eksistensi dari partisipasi yaitu: (1). dalam partisipasi terdapat unsur kemampuan, (2). unsur kesediaan atau komitmen untuk memberikan kontribusi atau sumbangan untuk mencapai tujuan bersama, dan (3). harus ada kesempatan.
            Partisipasi merupakan implikasi keanggotaan dan peranan di dalam kelompok sosial dan aktivitas-aktivitas yang bersifat kultural. Menurut Davis pengertian partisipasi adalah keterlibatan mental atau pikiran dan emosi perasaan seseorang dalam kelompok dalam usaha mencapai tujuan serta bertanggung jawab terhadap usaha yang bersangkutan (Sastroputro, 1998).
            Keikutsertaan dalam suatu partisipasi bukan hanya sekedar ikut aktif secara tidak menentu melainkan benar-benar ikut membantu kelancaran suatu aktifitas dalam menjalankan program tertentu untuk mencapai cita-cita bersama. Pada bagian lain  Davis mengemukakan tiga gagasan yang perlu diperhatikan dalam penerapan partisipasi, yaitu:
1)            Partisipasi/keikutsertaan/ keterlibatan/peran serta, merupakan keterlibatan mental dan perasaan lebih dari semata-mata atau hanya keterlibatan secara alamiah.
2)            Kesiapan memberikan sumbangan kepada usaha mencapai tujuan kelompok, hal ini berarti terdapat perasaan senang, sukarela dalam membantu kelompok.
3)            Unsur tanggungjawab (Sudharto, 1985) .
Peran serta masyarakat sebagai proses komunikasi dua arah yang terus menerus untuk meningkatkan pengertian masyarakat atas suatu proses tentang suatu permasalahan dan kebutuhan lingkungan yang sedang dianalisa. Dari pengertian tersebut maka secara sederhana serta didefinisikan sebagai feed- forward information (komunikasi dari pemerintah kepada masyarakat tentang suatu kebijakan) dan feedback information (komunikasi dari masyarakat kepada pemerintah tentang suatu kebijakan) (Arimbi dan Achmad Santosa, 1993).
            Partisipasi masyarakat adalah keadaan individu, keluarga, dan masyarakat ikut serta bertanggung jawab terhadap kesejahteraan diri, keluarga, maupun kesejahteraan masyarakat dengan jalan ikut berperan serta dalam kegiatan-kegiatan pembangunan. Tahapan partisipasi dapat dikelompokan menjadi (1). Partisipasi dalam tahap pengenalan dan penentuan prioritas masalah (2). Partisipasi dalam tahap penentuan cara pemecahan masalah alias tahap perencanaan (3). Partisipasi dalam tahap pelaksanaan, termasuk penyediaan sumberdaya (4). Partisipasi dalam tahap penilaian dan pemantapan (Sutaryono, 1989).
            Menurut Chambers (1996), bahwa dalam partisipasi terdapat prinsip-prinsip :
a.          Pemberian fasilitas, artinya memberikan fasilitas penyelidikan, analisis penyajian, dan pemahaman oleh masyarakat itu sendiri, sehinga masyarakat dalam menyajikan dan memiliki hasilnya.
b.         Kesadaran dan tanggungjawab diri yang kritis, artinya fasilitator secara terus menerus menguji tingkah laku dan mencoba melakukannya secara lebih baik. Termasuk merangkul kesalahan, menerima kesalahan sebagai suatu kesempatan untuk belajar melakukan lebih baik, dan setiap saat menggunakan penilaian orang yang paling baik, yang berarti dapat meneripa tanggungjawab pribadi
c.          Saling berbagi informasi dan gagasan antar masyarakat, antara masyarakat dengan fasilitator, antara fasilitator yang berbeda, saling berbagai wilayah kegiatan, dan pengalaman antar organisasi yang berbeda.
Berdasarkan kajian teori diatas maka dapat disimpulkan partisipasi adalah keterlibatan mental, emosional dan fisik dalam pelaksanaan suatu kegiatan individual atau kelompok mulai tahap perencanaan, pengambilan keputusan, pelaksanaan suatu kegiatan, merasakan hasilnya melalui penilaian dan bertanggungjawab atas keputusan yang diambil.

b.      Pelestarian (Konservasi)
Menurut Rijksen dalam Widada (2001), pelestarian merupakan bentuk evolusi kultural, dimana pada saat dulu upaya pelestarian (konservasi) lebih buruk dari pada saat sekarang. Konservasi juga dapat dipandang dari segi ekonomi berarti mencoba mengalokasikan sumber daya untuk sekarang (SDA) untuk sekarang, sedangkan dari segi ekologi konservasi merupakan sumberdaya alam untuk sekarang dan yang akan datang.
Menurut Widada (2001), pelestarian juga didefinisikan dalam beberapa batasan sebagai berikut:
1)            Pelestarian adalah menggunakan SDA untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama. (American Dictionary).
2)            Pelestarian adalah alokasi SDA antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randal, 1992).
3)            Pelestarian adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).
4)            Pelestarian merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral, mikroorganisme hidup, termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusiayang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survei, penelitian, administrasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (UCN, 1968).
Menurut Manik (2007) bahwa pelestarian mengandung   dua arti, yaitu:
1)            Pelestarian adalah pemanfaatan fungsi lingkungan hidup itu sendiri. Suatu lingkungan bisa saja berubah karena adanya pembangunan, tetapi fungsi lingkungan itu tetap dipertahankan. Misalnya, suatu areal yang ditumbuhi pohon-pohonan akan dibangun menjadi kawasan industri, pohon boleh ditebang, tetapi dalam perencanaan harus disediakan areal terbuka  dan lokasi tanaman penghijauan.
2)            Pelestarian adalah mendayagunakan lingkungan itu sendiri. Sebagai contoh adalah keberadaan hutan lindung, Taman Nasional dan Cagar Alam yang harus tetap dipertahankan (tidak boleh diganggu). Artinya, kegiatan pembangunan tidak boleh itu karena fungsinya tidak mungkin dilestarikan dengan adanya lingkungan pembangunan.
Berdasarkan teori-teori tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pelestarian merupakan pemberdayaan sumber daya alam secara optimal meliputi berbagai jenis lingkungan biotik dan lingkungan abiotik untuk masa sekarang dan masa yang akan datang.
c.       Situ
Air merupakan kebutuhan dasar bagi kehidupan, kesehatan, dan eksistensi manusia serta bagi berkembangnya makhluk hidup lainnya. Menurut Asdak (2002) sumberdaya air mengalami siklus yang dikenal dengan siklus hidrologi. Akibat energi matahari terjadi proses evaporasi pada permukaan bumi yang menghasilkan uap air. Uap air ini akan mengalami kondensasi dan turun sebagai hujan. Air hujan sebagian tertahan ditajuk tumbuhan dan sebagian lagi jatuh ke tanah. Di permukaan tanah, hujan terbagi menjadi air aliran permukaan (run off), evaporasi dan infiltrasi. Sedangkan aliran permukaan dan air infitrasi akan mengalir ke sungai sebagai debit aliran. Hutan mempunyai daya serap air hujan yang besar serta mencegah terjadinya aliran permukaan yang berlebihan. Sebagian besar dari aliran permukaan, air hujan langsung dan sebagian dari air mata air memasok air untuk danau, rawa, waduk, situ dan badan air lainnya seperti sungai. Sungai pada akhirnya bisa bermuara pada danau, waduk, situ, rawa, laut dan perairan lainnya. Daerah pedesaan banyak memiliki lahan yang memiliki vegetasi yang rapat bila dibandingkan dengan perkotaan. Kalau daerah pedesaan berubah menjadi daerah perkotaan maka akan terjadi perubahan lingkungan yang besar. Banyak tempat-tempat yang mengalami pengerasan, seperti pembangunan perumahan, infrastruktur dan bangunan lainnya merubah struktur tanah terutama pada permukaannya dan keadaan vegetasi semula. Dalam kondisi seperti ini laju infiltrasi air hujan masuk ke dalam tanah menjadi rendah. Sebaliknya, air permukaan akan lebih banyak dibandingkan dengan air yang masuk ke dalam tanah melalui infiltrasi (Sudarmadji, 1988).
Situ adalah suatu wadah atau genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk secara alami maupun buatan yang airnya berasal dari air tanah atau air permukaan sebagai siklus hidrologi yang potensial. (Anonimous, 1998). Kawasan situ adalah wilayah yang mencakup daerah tangkapan air bagi situ (catchment area).
Keterbatasan pengelolaan situ oleh pemerintah daerah, ditambah rendahnya partisipasi masyarakat menjaga lingkungan, mengakibatkan tempat penampungan air raksasa itu tidak berfungsi optimal. Pendekatan etnohidrolik dipandang mampu menangani masalah ini.
Situ atau danau merupakan wadah genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk secara alami maupun buatan. Air situ berasal dari air tanah atau air permukaan sebagai bagian dari siklus hidrologis dan merupakan salah satu bentuk kawasan lindung. Situ terbentuk alami dari sisa rawa atau lahan basah. Beberapa situ alami memunyai mata air, sehingga tidak kering di musim kemarau. Sedangkan situ buatan berasal dari dam pengendali sistem irigasi sawah, bekas galian lio-bata (pembuatan batu-bata), bekas galian pasir, atau waduk resisten yang dibuat sebagai pengendali banjir.
Menurut Peneliti Utama bidang Hidrologi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Sutopo Purno Nugrojio, situ merupakan tipe ekosistem perairan tawar yang relatif tergenang dan dangkal dengan ukuran kecil. Situ juga merupakan kesatuan sistem drainase dan tata aliran air setempat.
Menurut Bappeda Tangerang (1987), situ adalah suatu wadah genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk baik secara alami maupun buatan yang airnya berasal dari tanah atau air permukaan, sebagai siklus hidrologi yang potensial dan berfungsi antara lain sebagai sumber air untuk keperluan irigasi, air baku, air minum, pengendalian banjir dan kegiatan lain.
Menurut Aboejoeno (1999), situ merupakan salah satu sumberdaya air yang mempunyai fungsi dan manfaat sangat penting bagi kehidupan dan lingkungannya, sehingga keberadaan situ-situ dalam suatu wilayah sangat potensial untuk menciptakan keseimbangan hidrologi dan keanekaragaman hayati serta potensial meningkatkan kesejahteraan kehidupan masyarakat. Alikodra (1999) menjelaskan beberapa fungsi penting situ yaitu :
1.       Sebagai sumber air bagi kehidupan            
Situ-situ terutama di Jabotabek yang dimanfaatkan sebagai sumber air oleh masyarakat. Masyarakat di sekitar situ umumnya memanfaatkan situ untuk keperluan MCK dan sebagian lagi menggunakan situ sebagai sumber air minum. Selain itu, situjuga dimanfaatkan sebagai sumber air untuk irigasi maupun industri.
2.       Pengaturan tata air dan pemasok air tanah
Pengaturan tata air (fungsi hidrologi) situ merupakan tempat penampungan air, baik yang berasal dari hujan maupun sumber air mengalir (sungai). Air yang tertampung di dalam suatu situ merupakan pemasok air ke aquifer, air tanah atau situ lainnya yang letaknya lebih rendah. Dengan demikian keberadaan situ sangat penting dalam mempertahankan air tanah dangkal yang merupakan sumber air bagi masyarakat sekitarnya.
3.       Pengendali banjir
Waktu musim hujan situ-situ dapat menyimpan kelebihan air, baik air yang berasal dari air hujan maupun dari sungai. Pada waktu musim hujan sungai akan kelebihan air dan meluap masuk ke dalam situ yang ada dan dalam waktu tertentu air akan tersimpan. Dengan demikian situ-situ akan dapat mengurangi volume air pada waktu musim hujan sehingga mengurangi terjadinya banjir sekaligus mempertahankan persediaan air pada musim kemarau. Salah satu penyebab terjadinya banjir di DKI Jakarta diduga adanya penimbunan situ/rawa sehingga kelebihan volume air hujan meluap ke daerah pemukiman.
4.       Pengatur iklim makro
Proses evapotranspirasi yang terjadi di sebuah situ dapat menjaga kelembaban di daerah sekitarnya. Selain itu, situ yang luas dan memiliki hutan/pepohonan yang baik akan mampu menyimpan air hujan dan kelembaban dapat dipertahankan sepanjang waktu.

5.       Pengendap lumpur dan pengikat zat pencemar
Vegetasi yang tumbuh di Situ-situ akan memperlambat aliran air. Hal ini menyebabkan air akan tertahan lebih lama dan menyebabkan terjadinya pengendapan lumpur-lumpur yang terbawa aliran air. Selain itu, adanya vegetasi, melalui sistem perakarannya, dapat menyerap unsur hara dan mengikat polutan-polutan terutama limbah .
6.       Habitat berbagai jenis flora/fauna
Situ dalam satu kesatuan ekosistem merupakan habitat berbagai jenis flora dan fauna. Berbagai jenis flora dan fauna kehidupannya sangat tergantung dengan adanya situ. Berbagai jenis burung dan tumbuhan tertentu serta hewan-hewan air dapat hidup dan berkembang biak tergantung dari keberadaan situ, sehingga situ turut membantu melestarikan keanekaragaman hayati.
7.       Tempat rekreasi/wisata
Situ di wilayah Jabotabek banyak  yang digunakan untuk memelihara ikan dan taman pemancingan. Situ-situ yang cukup luas biasanya dikelola secara komersial sebagai tempat rekreasi yaitu sebagai tempat olah raga air dan taman perahu. Dengan demikian keberadaan situ secara ekonomi mampu menunjang pendapatan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.
8.       Budidaya perikanan
Situ di wilayah Jabotabek khususnya banyak yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk budidaya ikan. Jenis ikan yang dibudidayakan umumnya adalah ikan mas atau tawes dengan sistem keramba.
Menurut Suryadiputra (1999) bahwa terdapat kaitan antara eksistensi situ dengan perubahan penggunaan lahan yang berada di sekitar situ. Akibat percepatan pertumbuhan penduduk di Jabotabek menyebabkan ekosistem perairan (lahan basah) terganggu. Gangguan paling utama adalah semakin kecilnya luas situ (water body) akibat pendangkalan. Pendangkalan terjadi akibat proses sedimentasi yang cepat sehingga memperkecil luas situ yang ada.
Berdasarkan teori-teori tersebut bahwa partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ adalah keterlibatan mental, emosional dan fisik masyarakat dalam pelaksanaan suatu kegiatan  pemberdayaan sumber daya alam khususnya dalam pengelolaan Situ yang dilakukan secara optimal untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Dengan adanya kegiatan partisipasi juga dapat membuat lingkungan ini bersih, indah, sehat dan nyaman. Dari kesimpulan tersebut dapat ditarik beberapa indikator tentang partisipasi dalam pelestarian situ ini diantaranya adalah keterlibatan masyarakat terhadap suatu kegiatan, menjaga pelestarian lingkungan dan rasa tanggung jawab dalam setiap individu.
2.       Komitmen Lingkungan
a.     Pengertian Komitmen
Menurut Suharyanto dan Tata Iryanto (1996), Komitmen adalah parjanjian keterikatan untuk melaksanakan sesuatu. Jadi komitmen bukan hanya janji yang harus ditepati dan diwujudkan, tetapi didalamnya terkandung kesungguhan dan tanggung jawab, kesungguhan untuk melakukan apa yang sudah diputuskan atau di ikrarkan, dan tanggung jawab untuk melaksanakan dengan baik.
Konsep komitmen, telah dirumuskan oleh para ahli. Pendapat yang pertama dikemukakan oleh Zainun, bahwa komitmen dapat diartikan dan ditafsirkan berbeda oleh setiap orang sesuai dengan tempat dan keadaan itu. Zainun menyatakan sebagai berikut, konsep komitmen adalah untuk menggambarkan hubungan antara harapan dan tujuan. Setiap orang dan organisasi ingin dapat mencapai sesuatu atau beberapa tujuan dalam kegiatan-kegiatannya. Pendapat ini mengukakan bahwa komitmen adalah proses  menemukan tujuan organisasi.
Menurut Onong Uchyana Effendi, yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan komitmen adalah kegiatan mendirikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil suatu tindakan yang dikehendaki.
Menurut Steers sebagaimana dikutip Effendi mendefinisikan komitmen sebagai kekuatan kecenderungan seseorang individu melibatkan diri dalam kegiatan yang berarahkan sarana dalam pekerjaan. Selanjutnya mendefinisikan komitmen sebagai berikut, komitmen sebagai suatu keadaan dalam diri seseorang yang mendorong mengaktifkan atau menggunakan dan yang mengarahkan atau menyalurkan perilaku kearah tujuan.
Selanjutnya Kaloh, mengemukakan batasan pengertian komitmen sebagai berikut :
1.         Apa-apa yang mendasari seseorang untuk berbuat sesuatu
2.         Alasan- alasan mengapa seseorang berbuat sesuatu
3.         Latar belakang mengapa seseorang berbuat sesuatu
4.         Dorongan yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu.
Arikunto, mengartikan komitmen bukan sekedar keterlibatan saja, kommitmen adalah kesediaan seseorang untuk terlibat aktif dalam suatu kegiatan dengan rasa tanggung jawab.
Secara alamiah semua orang memiliki komiten. Bedanya ada orang yang mempunyai komitmen tinggi dan ada pula orang yang tingkat komitmennya rendah. Komitmen sesseorang itu dapat naik atau menurun terhadap tugasnya sangat dipengaruhi oleh sikap.
Alasan klasik tentang dorongan terhadap seseorang berbuat sesuatu tentunya kembali pada faktor kebutuhan, atau dengan kata lain kebutuhan adalah faktor yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu.
Dengan demikian, komitmen berarti membangkitkan komitmen, dimana kondisi seseorang yang mendorong untuk mencari sesuatu kepuasan atau mencapai suatu tujuan. Suatu komiten akan timbul berdasarkan kebutuhan hidup. Sedangkan kebutuhan hidup manusia ada dua jenis, kebutuhan primer, dan kebutuhan sekunder.
Berdasarkan teori-teori tersebut  secara konsepsional komitmen mengandung pengertian sebagai suatu dorongan yang ada dalam diri seseorang untuk dapat melakukan perbuatn atau tingkah laku untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
b.     Lingkungan
Menurut Amsyari (1996) lingkungan pada umumnya adalah uraian umum tentang apa-apa yang ada disekitar manusia. Sekitar manusia itu sesungguhnya maha luas, yaitu biasa meliputi bumi-planet-bintang serta segala isinya.
Lingkungan hidup adalah sistem kehidupan dimana terdapat campur tangan manusia terhadap tindakan ekonomi. Lingkungan hidup didefinisikan sebagai kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi perikehidupan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Manik, 2007).
Menurut Otto Soemarwoto (2001), lingkungan hidup adalah ruang yang ditempati oleh mahluk hidup bersama dengan benda hidup maupun tak hidup.
Menurut Mc Naughton (1992), lingkungan merupakan suatu kombinasi khusus dari keadaan luar yang mempengaruhi organisme. Lingkungan pada umumnya dibagi menjadi faktor-faktor yang bersifat fisik dan abiolotik. Faktor fisik atau abiotik, yaitu faktor yang bersifat  fisik biologis, seperti air dan temperatur. Faktor yang bersifat biologis atau biotik, yaitu organisme yang berpengaruh terhadap organisme lain, sebagai cintoh predator dan sumber makanan.
Menurut Sastrawijaya (2000), bahwa lingkungan ialah jumlah semua benda yang hidup dan tidak hidup serta kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati. Manusia disekitar kita adalah bagian dari lingkungan hidup kita masing-masing. Oleh karena itu manusia dan kondisi sosial merupakan unsur lingkungan hidup kita.
Laksmi Prihantoro (1998), pada dasarnya lingkungan hidup terdiri atas tiga bagian, yaitu:
1)      Lingkungan Hidup Alami
Lingkungan hidup alami lingkungan hidup yang telah ada di alam tanpa memperoleh gangguan dan tidak dimodofikaasi oleh manusia.
Lingkungan hidup alami terbagi menjadi dua:
a.       Komponen biotik, merupakan bagian dari lingkungan yang terdiri dari komponen bukan makhluk hidup.
b.       Komponen abiotik, merupakan bagian dari lingkungan yang terdiri dari makhluk hidup.
2)      Lingkungan Hidup Binaan
Lingkungan hidup binaan adalah lingkungan hidup yang dibentuk, dimodifikasi, dikelola dan tingkatkan kondisinya oleh manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan manusia membentuk lingkungan hidup binaan agar manusia lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan hidup yang semakin banyak jumlah dan beraneka ragam bentuknya.
Ciri lingkungan hidup binaan:
a.       Perubahan mekanisme tekhnologi dan efeknya yang bersifat fisik diukur secara kualitatif.
b.       Banyaknya jumlah individu, biomassa maupun energi, tidak terdapat perbandingan yang serasi pada setiap tindakan trofik dengan ekosistem bianaan.
3)      Lingkungan Hidup Sosial
Lingkungan hidup sosial adalah suatu kesatuan ruang dengan sejumlah manusia yang hidup berkelompok sesuai dengan sesuatu keteraturan sosial dan kebudayaan bersama. Materi lingkungan hidup menyangkut delapan hal, yaitu:
a.       Manusia dan kebutuhan
b.       Manusia dengan sistem lingkungannya
c.       Ekologi sebagai dasar ilmu lingkungan
d.      Lingkungan hidup alam
e.       Lingkungan hidup sosial
f.        Kependudukan
g.       Interaksi kependudukan lingkungan hidup dan pembangunan
h.       Pengembangan dan kemasyarakatan.
Berdasarkan teori-teori diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan merupakan semua benda yang hidup dan tidak hidup serta kondisi yang ada dalam ruang yang kita tempati.
Komitmen lingkungan adalah perjanjian keterikatan untuk melaksanakan sesuatu mengenai uraian umum tentang apa-apa yang ada disekitar manusia yang didalamnya terkandung kesungguhan untuk melakukan apa yang sudah diputuskan atau di ikrarkan, dan tanggung jawab untuk melaksanakan dengan baik.
B.     Kerangka Berpikir dan Pengajuan Hipotesis
1.      Kerangka Berpikir
Hubungan antara Komitmen Lingkungan dengan Partisipasi Masyarakat Dalam Pelestarian Situ
Partisipasi masyarakat adalah keikutsertaan masyarakat secara aktif dalam melakukan tindakan nyata sebagai upaya menjaga dan memperhatikan kualitas lingkungan. Partisipasi sangat dipengaruhi oleh faktor pengetahuan (kemampuan), minat (kemauan), serta kesempatan pada masing-masing individu atau masyarakat  terhadap lingkungan itu sendiri. Partisipasi sebagai salah satu model interaksi sosial merupakan keterlibatan seseorang secara sadar, baik secara individu maupun secara kelompok terhadap pihak lain atau organisasi dalam suatu kegiatan.
Kegiatan partisipasi ini dapat dilakukan dalam berbagai hal, diantaranya mengikuti program penanaman pohon, menyadari dan mentaati peraturan untuk tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak menebang pohon sembarangan.
Masalah yang terjadi sekarang ini yaitu pencemaran situ yang dapat menimbulkan keadaan kurang optimum dan kadang kesemuanya terjadi karena salahnya persepsi mengenai komitmen lingkungan yang menimbulkan kurangnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ. Dengan adanya persepsi yang positif mengenai komitmen lingkungan diperkirakan akan membantu dalam partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ. Sebaliknya, apabila timbul persepsi yang negatif mengenai komitmen lingkungan diperkirakan akan menghambat atau mengurangi partisipasi masyarakat dalam pelestarian situ.
2.      Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir diatas, maka akan dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut:
Ha     : Terdapat hubungan positif antara komitmen lingkungan dengan partisipasi       masyarakat dalam pelestarian situ.
Ho     : Tidak terdapat hubungan  antara Komitmen lingkungan dengan partisipasi  masyarakat dalam pelestarian situ.
 
NB : INGIN VERSI LENGKPANYA,,, SILAHKAN SOBAT REQUEST DIKOLOM KOMENTAR,,,,

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH SKRIPSI SEJARAH HUBUNGAN ANTARA KOMITMEN LINGKUNGAN DENGAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN SITU"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top