iklan

SKRIPSI MANAJEMEN REKAYASA ULANG PROSES BISNIS PADA DEPARTEMEN PENJUALAN, LOGISTIK, DAN AKUNTING (STUDI KASUS: PT GRAMA BAZITA)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Dewasa ini untuk bisa bertahan dalam persaingan dunia usaha, perusahaan membutuhkan efiensi dan melakukan inovasi-inovasi untuk mempertahankan pangsa pasar yang sudah ada maupun untuk merebut pangsa pasar baru. Keadaan di negara ini yang makin tidak kondusif, kekerasan semakin meningkat, suhu politik yang memanas membuat iklim perekonomian negeri ini menjadi tidak menentu. Untuk itu, perusahaan harus melakukan efisiensi di segala bidang agar dapat menekan biaya untuk dapat meningkatkan daya saing.
Perkembangan teknologi dan komunikasi telah memungkinkan perusahaan untuk dapat mengevaluasi mekanisme koordinasi baik di dalam maupun di luar perusahaan. Saat ini, perusahaan tidak dapat lagi bekerja secara tradisional. Dengan penggunaan teknologi yang tepat dapat mengurangi beban pekerjaan yang tidak diperlukan sehingga jumlah karyawan pun dapat dikurangi. Selain itu, karyawan pun pada akhirnya akan tidak akan terbebani dengan pekerjaan yang berlebihan.
Selain pengadaan dan penjualan barang, perusahaan trading juga didukung oleh administrasi and support dari bagian lain. Proses ini melibatkan finance, accounting, logistik, sales, human resource dan information system. Berbagai departemen ini harus saling bekerja sama untuk dapat menghasilkan suatu bisnis proses yang efisien.
Bisnis proses yang sekarang berjalan pada PT. Grama Bazita adalah bisnis proses yang kurang efisien karena masih berjalan secara manual, membutuhkan berbagai birokrasi yang lebih rumit sehingga menyebabkan bisnis proses tidak efisien. Dengan menulis thesis ini, penulis berharap untuk dapat membantu PT. Grama Bazita menganalisa dan membantu memperbaiki proses bisnis yang ada sehingga dapat meningkatkan daya saing perusahaan. Walaupun secara global, penulis sadar bahwa thesis ini merupakan kontribusi kecil dari seluruh persoalan makro yang ada di dalam perusahaan.
Berkantor di Gedung Multika di Jl. Mampang Prapatan Raya kav 73-76, Jakarta Selatan, PT Grama Bazita merupakan perusahaan trading yang bergerak di bidang engineering, procuring, konstruksi, dan melayani kebutuhan akan proses industri di Indonesia. PT Grama Bazita berdiri sejak tahun 1986.  Kepemilikan sahamnya terbagi mejadi 2 pemilik yaitu 67% dimiliki oleh PT Pratama Energi Konstruksi Teknologi Indonesia dan sisanya 33% dimiliki oleh Bpk. M.S. Mennon. PT Grama Bazita memiliki motto perusahaan yaitu “Provide responsive engineering that meets and axceeds user expectations through the use of state-of-the-art engineering and man machine interface technologies”. Mewakili beberapa produsen peralatan yang memiliki reputasi yang baik, PT Grama Bazita membangun kekuatan ini dengan mengembangkan dan menyediakan jasa layanan engineering secara lengkap. Dengan pelatihan memadai untuk user, konsultan engineering dengan aplikasi dan pengetahuan engineering yang detail dan lengkap, PT Grama Bazita memiliki berbagai klien dari beberapa jenis industri yang berbeda seperti pulp and paper, chemical, petrochemical, viscose, iron and steel, animal feeds, dan edible oils. PT Grama Bazita berdedikasi untuk menyediakan layanan yang berkualitas tinggi and fleksibel untuk mengakomodasi keperluan khusus dari masing-masing kliennya supaya dapat membangun hubungan jangka panjang yang baik.
Staf yang kompeten dan memiliki pengetahuan yang detail adalah sebagai fondasi untuk menyediakan pelayanan yang memuaskan bagi kliennya. Dengan staf teknik yang berpengalaman pada produk dan segala aplikasinya akan dapat menyediakan solusi yang efektif bagi user. Masalah proses dan aplikasi didiskusikan bersama untuk menentukan solusi yang terbaik. PT Grama Bazita mewakili produsen peralatan yang terkenal. Produk yang dipasarkan dikenal sebagai penguasa pangsa pasar dan dipakai oleh banyak perusahaan diseluruh dunia. Ini memberikan kepercayaan kepada user bahwa mereka memakai produk yang bagus dengan layanan yang baik untuk mendukung mereka. Dari proses yang kecil sampai besar termasuk proses yang rumit, PT Grama Bazita sudah berhasil menyelesaikan begitu banyak proyek. PT Grama Bazita telah memiliki pengalaman untuk menyelesaikan banyak proyek sebagi kontraktor utama atau sebagai sub-kontraktor, dengan berbasis EP atau EPC dan memiliki tanggung jawab untuk menyusun jadwal, budget, dan tindakan-tindakan teknis.



1.2              Rumusan Permasalahan
Penulis memilih topik ini karena permasalahan yang terjadi di PT. Grama Bazita terjadi lebih karena adanya proses bisnis yang kurang efektif. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk berpindah dari satu aktifitas ke aktifitas lain yang membutuhkan pertukaran data antar departemen. Seringkali terjadi kesalahpahaman antar departemen dalam menginstruksikan suatu tugas. Departemen accounting juga terbebani dengan begitu banyaknya dokumen yang harus disimpan. Untuk mencari dokumen-dokumen lama yang dibutuhkan pun perlu waktu yang tidak sedikit, juga dibutuhkan ruangan yang cukup untuk menyimpan dokumen-dokumen tersebut.
Situasi ini mengakibatkan kinerja perusahaan tidak efektif, dan akan timbul biaya yang diakibatkan dari proses yang tidak efisien. Secara singkat, masalah-masalah yang terjadi dapat dirumuskan seperti dibawah ini:
·               Sebenarnya seberapa besar waktu yang terbuang sia-sia karena proses bisnis yang tidak efisien ini ?
·               Dimana letak proses yang tidak efisien ?
·               Bagaimana cara memperbaiki proses yang tidak efisien tersebut ?

1.3              Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari penulisan thesis ini adalah:
·         Mengurangi waktu yang dibutuhkan dalam aktivitas pemesanan barang, penerimaan barang, serta penerimaan invoice
·         Penyederhanaan book keeping oleh departemen logistik dan accounting
·         Mengurangi biaya
·         Merancang suatu sistem yang dapat mempermudah para karyawan untuk dapat berkomunikasi dan bertukar data satu sama lain secara elektronik dengan menggunakan fasilitas intranet

Manfaat yang dapat diperoleh:
·         Mempermudah pencarian data-data yang dibutuhkan oleh departemen accounting, sales, serta logistik
·         Biaya yang dibutuhkan oleh proses yang baru diharapkan lebih sedikit daripada proses yang lama
·         Waktu yang dibutuhkan oleh proses yang baru diharapkan lebih sedikit daripada proses yang lama

1.4              Ruang Lingkup
Penulisan thesis ini hanya dibatasi pada masalah-masalah seperti tersebut di bawah ini:
·         Penulis hanya berfokus pada kegiatan-kegiatan yang terdapat pada departemen accounting, sales, dan logistik
·         Kegiatan yang diamati oleh penulis adalah pembuatan incoming PO oleh sales sampai pengiriman outgoing purchase order kepada vendor, penerimaan barang dan pengecekan dengan outgoing purchase order serta penerimaan invoice dari vendor.
·         Penulis hanya berfokus pada masalah-masalah yang terjadi pada internal perusahaan saja.

1.5              Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan tesis ini terdiri dari lima bab yaitu:
BAB I             PENDAHULUAN
Membahas mengenai latar belakang, rumusan permasalahan, tujuan dan manfaat, ruang lingkup, serta sistematika penulisan.
            BAB II                        LANDASAN TEORI
Membahas mengenai konsep dari bisnis proses, definisi teknologi informasi dan perannya dalam rekayasa ulang, tahapan dalam rekayasa ulang, serta faktor-faktor pendukung dilaksanakannya rekayasa ulang.
            BAB III          METODOLOGI PENELITIAN
Membahas mengenai kerangka berpikir, tahapan dalam rekayasa ulang serta uraian tugas dari masing-masing departemen.
            BAB IV          ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Membahas mengenai proses-proses yang ada, proses baru yang diusulkan, simulasi proses dan analisa hasil simulasi.
            BAB V            SIMPULAN DAN SARAN
Memuat simpulan dan saran-saran.




BAB II
LANDASAN TEORI


2.1              Definisi Proses dan Bisnis
Sangatlah penting memahami apa arti bisnis proses sebab PT. Grama Bazita memiliki beberapa departemen dengan bisnis proses yang berkaitan satu sama lain. Demikian pula halnya, perlu diketahui input apa saja yang diperlukan oleh proses tersebut, aktivitas yang terdapat dalam proses tersebut serta output yang dihasilkan oleh proses tersebut.
            Menurut Manuel Laguna dan Johan Marklund (2005,p.2) definisi bisnis adalah organisasi sebagai suatu kesatuan yang menyebarkan sumberdaya untuk menyediakan jasa dan produk yang diinginkan oleh pelanggan.
Sementara itu, definisi proses masih menurut Laguna dan Marklund (2005,p.2) adalah sesuatu dengan konsep ambiguitas dengan makna yang berbeda-beda, tergantung pada konteksnya dimana kalimat itu dipakai. Sebagai contohnya, seorang biologist atau dokter menganggap bahwa bernafas adalah sebuah proses untuk menopang hidup.
Menurut Davenport (1993) proses merupakan struktur/aturan yang dipergunakan untuk mengukur aktivitas yang dilakukan untuk pelanggan atau market atau dengan kata lain bagaimana pekerjaan dilaksanakan di dalam organisasi.

2.2              Definisi Business Process Reengineering (BPR)
Banyak yang salah persepsi atas pengertian BPR dan mengartikan bahwa BPR sama dengan restrukturisasi. Sesungguhnya, konsep BPR bukanlah dengan maksud untuk mengurangi jumlah karyawan, ataupun mengurangi pekerjaan yang ada tetapi lebih kepada ‘melakukan sesuatu yang lebih dengan sumberdaya yang sudah ada’. Jadi BPR tidaklah sama dengan restrukturisasi.
Menurut Hammer dan Champy (1993, p32) rekayasa ulang adalah pemikiran fundamental dan perancangan ulang secara radikal atas proses-proses bisnis untuk mendapatkan perbaikan secara dramatis dalam tolak ukur performance seperti biaya, kualitas, pelayanan, dan kecepatan.
Kata-kata kunci yang memegang arti dalam definisi tersebut dapat dibagi menjadi empat golongan yaitu:
1.                  Fundamental
Dalam melakukan rekayasa ulang, sebagai orang bisnis harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar yang berkaitan dengan perusahaan dan bagimana cara mengoperasikannya. Pertanyaan pertama adalah mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan dan pertanyaan kedua adalah mengapa kita melakukan hal tersebut dengan cara yang kita lakukan sekarang. Pertanyaan-pertanyaan yang paling mendasar tersebut akan memaksa orang untuk melihat aturan-aturan tak tertulis dan asumsi-asumsi yang berlaku dan menjadi dasar dalam penyelenggaraan bisnisnya. Perusahaan harus mampu menemukan apa yang harus dilakukan oleh perusahaan dan kemudian menentukan bagaimana melakukannya. Sering terjadi bahwa aturan-aturan dan asumsi yang dimiliki oleh perusahaan sudah usang, salah atau tidak sesuai lagi dengan proses bisnis yang ada.
2.                        Radikal
Merancang ulang secara radikal berarti mulai dari akar permasalahan bukannya membuat perubahan-perubahan yang superfacial atau berkutat dengan apa yang sudah ada, tetapi melempar jauh-jauh yang lama. Mengesampingkan semua struktur dan prosedur yang ada dan menciptakan cara-cara yang sama sekali baru dalam menyelesaikan pekerjaan.
3.                  Dramatis
Rekayasa ulang bukanlah tentang upaya mencapai peningkatan secara inkremental, tetapi tentang pencapaian suatu lompatan besar (quantum leaps) dalam hal kinerja perusahaan secara dramatis. Terdapat tiga jenis perusahaan yang diidentifikasi perlu mengadakan rekayasa ulang yaitu:
a)                  Perusahaan-perusahaan yang sedang menghadapi masalah besar dan tidak memiliki pilihan lain
b)                  Perusahaan-perusahaan yang belum atau sedikit mengalami kesulitan tetapi manajemen mereka mempunyai pandangan ke depan melihat masalah yang segera akan datang
c)                  Perusahaan-perusahaan yang berada dalam kondisi puncak, belum ada kesulitan yang nampak, baik sekarang atau yang akan datang, tetapi manajemen sangat ambisius dan agresif
4.                  Proses merupakan yang paling penting di dalam definisi oleh James Champy dan Michael Hammer, yaitu merupakan sekumpulan aktivitas yang memerlukan satu atau beberapa jenis masukan (input) dan menghasilkan keluaran (output) yang mempunyai nilai bagi customer. Sebagian besar praktisi bisnis tidak berorientasi terhadap proses, melainkan mereka memusatkan perhatiannya pada tugas-tugas, pekerjaan, sumber daya manusia maupun struktur.
Sedangkan Lowenthal (1994) mendeskripsikan rekayasa ulang sebagai dasar/fundamental untuk berpikir ulang dan melakukan desain ulang terhadap proses operasi dan struktur organisasi; memfokuskan kepada kemampuan inti organisasi untuk mendapatkan peningkatan secara dramatis dalam kinerja organisasi.
Manganelli dan Klein (1994) mendefinisikan BPR sebagai proses mendesain ulang yang cepat dan radikal dan  perubahan dari strategi, bisnis proses serta sistem yang memiliki nilai tambah, aturan dan struktur organisasi yang mendukung mereka – untuk mengoptimalkan work flows dan produktifitas di dalam organisasi.

2.3              Definisi Teknologi Informasi
Teknologi informasi mencakup komponen teknologi yang dibutuhkan untuk mengolah, menyimpan dan menyampaikan informasi (Luhukay, 1994)


1.            Teknologi Pengolahan
Komponen-komponen elektronik, mekanis dan logis program yang dibutuhkan mengolah informasi
a)      Teknologi Perangkat Keras : Elektronik, Optik, Mekanis (Kasat-Mata)
b)      Teknologi Perangkat Lunak : Program
2.            Teknologi Penyimpan
Teknologi medium penyimpan informasi dan komponen pengelolaannya:
a)      Teknologi Media: Komponen elektomagnetik dan optik untuk menyimpan data
b)      Teknologi Data: Representasi informasi yang terhimpun dalam rangkuman yang punya makna bagi pihak-pihak terkait.
3.            Teknologi Komunikasi
a)      Teknologi Komunikasi Data : Komponen dan kemudahan yang mendukung penyampaian dan penyajian data diantara dua atau lebih piranti pengolah
b)      Teknologi Penyajian Informasi : teknik tampilan dan antarmuka antara piranti teknologi dan manusia

2.4              Faktor-faktor Pendorong Rekayasa Ulang
Faktor-faktor yang mendukung dilaksanakannya proses rekayasa ulang di bisnis menurut Grant Thornton (1994) adalah:

·         Reduced cost                                             84%
·         Improve Quality                                        79%
·         Increase speed (throughput)                      62%
·         Overcome a competitive threat                 50%
·         Change the organization structure            35%
·         Others                                                       9%

Menurut Johansson, McHugh, Pendlebury dan Wheeler (1995, p58) suatu ukuran kinerja yang menjadi tujuan utama dari reka ulang dapat berupa:
·                     Pengurangan waktu siklus
·                     Pengurangan biaya dan peningkatan laba
·                     Meningkatkan efisiensi melalui peningkatan produktivitas dan beban kerja dari sumber daya

Untuk mencapai tujuan utama dari reka ulang maka perlu melakukan perubahan terhadap proses yang ada dengan cara:
·               Menghilangkan bagian proses yang tidak penting
·               Menerapkan teknologi pada bagian yang memungkinkan
·               Pemberdayaan dengan mengalihkan tanggung jawab pengambilan keputusan dan kontrol kepada level dimana pekerjaan dilakukan
·               Memperbaiki alur kerja dengan penekanan pada fungsi yang memberikan nilai tambah
·               Menetapkan kriteria pengukuran yang berguna untuk analisis dan pembuatan rencana strategis.
2.5              Tahapan-tahapan Rekayasa Ulang
Menurut Davenport (1993), tahapan-tahapan yang akan dilakukan dalam rekayasa ulang proses bisnis adalah:
1.            Membuat visi bisnis dan menetapkan tujuan, mencakup prioritas dari obyektif dan mengevaluasi kemampuan dari perusahaan dalam melakukan suatu perubahan
2.            Memahami proses yang ada yaitu dengan membuat suatu model dan mengukurnya untuk dijadikan sebagai basis dan mengetahui letak terjadinya permasalahan.
3.            Mengindentifikasikan proses yang akan dirubah, dengan fokus pada critical success factors yang paling memungkinkan untuk dirubah.
4.            Mencari peluang pemakaian teknologi informasi pada bagian-bagian yang sesuai. Penentuan dimana teknologi informasi dapat diterapkan pada proses bisnis yang ada serta kemampuan departemen teknologi informasi didalam perusahaan untuk terlibat secara aktif di dalam proses rekayasa.
5.            Membuat model/prototype dari proses baru yang lebih ramping, efisien dan efektif serta mensimulasikannya untuk memperkirakan kinerja kerjanya.

Rekayasa ulang memiliki fokus pada inovasi, kecepatan, pelayanan dan kualitas. Rekayasa ulang menyediakan proses yang super efisien yang membawa pada peningkatan yang radikal. Lima tahap dalam melakukan rekayasa ulang menurut Victor S.L. Tan (1994, p37-41) adalah:

1.            Memahami proses yang sedang berlangsung
Langkah pertama adalah mendokumentasikan alur proses bisnis yang terjadi saat ini, sampai dengan melakukan interaksi dari unit-unit yang melakukan proses dalam level organisasi. Alur proses dapat menggambarkan hubungan masukan dan keluaran antara supplier, unit organisasi dan pelanggan. Pemahaman secara menyeluruh terhadap proses yang berlaku saat ini akan menjadi dasar dalam membuat rancangan proses baru yang lebih baik.
2.            Mencari titik lemah proses saat ini
Tahap ini merupakan tahap kritis dimana penerimaan asumsi terdahulu akan dipertanyakan. Dalam kenyataannya, untuk mendorong solusi yang kreatif, serangkaian pertanyaan perlu ditanyakan: mengapa prestasi proses yang sedang berlangsung hanya seperti sekarang? Apakah ada kegiatan dalam proses sekarang yang tidak memberikan nilai tambah? Apakah ada aktifitas yang hilang dalam proses yang dapat memberi nilai tambah? Unit organisasi mana yang seharusnya terlibat atau tidak terlibat dalam proses?
3.            Menyelidiki alternatif rancangan ulang
Pencarian proses revolusional yang dapat memberikan peningkatan performa secara signifikan memerlukan pendekatan yang kreatif. Hal ini berarti melanggar dan mengabaikan model-model kuno, peraturan dan perintah yang berlaku. Kecuali kalau perusahaan meninggalkan paradigma yang lama, proses baru akan dengan sederhana memberikan peningkatan perbaikan terhadap proses kerja normal. Dalam memikirkan alternatif-alternatif, harus dilakukan usaha untuk menilai apakah proses saat ini dapat dirancang secara berbeda. Pengaruh proses baru harus dapat dinilai sebagai alternatif yang diusulkan.
4.            Mencari informasi yang diperlukan untuk mendukung proses rekayasa ulang.
Informasi merupakan kunci dalam menjalankan fungsi pada proses baru. Maka sangat penting untuk menguji perubahan informasi yang diperlukan untuk mendukung proses baru. Penilaian harus dilakukan sepanjang informasi yang dibutuhkan antara unit organisasi, sehingga saluran komunikasi terbaik untuk informasi ini harus dipertimbangkan
5.            Melakukan tes kelayakan terhadap rancangan proses yang baru
Langkah akhir dari proses rekayasa ulang adalah mengidentifikasi sumber-sumber tambahan seperti sumber daya manusia dan sumber daya keuangan. Hal ini diperlukan untuk memastikan keberhasilan proses yang baru. Walaupun formulasi dari proses baru seharusnya tidak dihambat dengan kekurangan sumber-sumber daya, dalam kenyataannya adalah bahwa sebagian besar organisasi kemungkinan besar menilai kelayakan implementasi berdasar ketersediaan sumber daya. Karena itu sangat penting untuk mengadakan tes kelayakan sebelum memberi rekomendasi proses baru itu diimplementasikan.

2.6              Peran IT Dalam Rekayasa Ulang
Hammer (1990) menganggap informasi teknologi (IT) sebagai kunci utama untuk penerapan Bisnis Rekayasa Ulang yang menurut Hammer sebagai perubahan yang radikal. Hammer menulis bahwa penggunaan IT untuk menantang asumsi yang masih melekat dalam proses kerja yang telah ada sejak lama sebelum adanya komputer modern dan teknologi komunikasi.
Davenport dan Short (1990) beragumentasi bahwa BPR membutuhkan pandangan yang luas antara IT dengan aktivitas bisnis, dan hubungan antara keduanya. IT harus dilihat lebih dari sekedar otomatisasi atau kekuatan mesin: untuk secara fundamental mempertajam cara bisnis dilakukan. Kapasitas IT harus mendukung proses bisnis, dan bisnis proses harus berada dalam kapasitas yang dapat diberikan oleh IT.
Kemajuan teknologi informasi yang pesat telah menjadikan teknologi informasi sebagai salah satu komponen utama dalam format perusahaan baru sebagai hasil BPR (Richardus Eko Indrajit, 2000). Perkembangan teknologi informasi seperti local area network, wide area network, multimedia, data warehouse, intranet, dan internet telah membuat perusahaan mendefinisikan kembali visi dan misi bisnisnya, terutama yang berkaitan dengan strategi pelaksanaan bisnis.
Ada empat cara improvisasi yang dapat dilakukan terhadap proses-proses dalam perusahaan yang ditawarkan oleh teknologi informasi (Peppard, 1995) yaitu:
1.      Eliminate
Menghilangkan proses-proses yang dianggap tidak perlu lagi dilakukan jika sistem komputer diimplementasikan, misalnya karena alasan efisiensi. Proses-proses seperti pengecekan secara manual terhadap kalkulasi-kalkulasi rumit yang tidak perlu lagi dilakukan setelah program berbasis spreadsheet dikembangkan merupakan salah satu contoh dari kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi. Demikian pula dalam hal proses pembuatan laporan-laporan beragam, baik yang bersifat periodik maupun ad hoc yang biasanya memakan waktu berjam-jam jika harus dikerjakan secara manual, akan hilang dengan sendirinya karena diinstalasinya suatu laporan generator berbasis komputer.
2.      Simplified
Penyederhanaan proses-proses tertentu atau pengurangan rantai proses untuk tujuan pelaksanaan aktifitas yang lebih cepat dan murah. Kasus klasik yang paling sering dilakukan oleh perusahaan adalah dengan melakukan simplifikasi terhadap formulir-formulir yang biasa dipergunakan untuk tujuan kontrol internal perusahaan (karena berdasarkan filosofi lama yang mengatakan bahwa semakin banyak SDM yang terlibat dalam melakukan kontrol terhadap suatu proses, akan semakin baik karena memperkecil kemungkinan terjadinya kolusi). Fasilitas komunikasi e-mail dan workflow yang ditawarkan pada konsep intranet merupakan salah satu alternatif yang paling efisien dan efektif untuk mempersingkat prosedur pengajuan dan persetujuan kredit di bank. Apalagi jika teknologi tersebut dilengkapi oleh sistem keamanan komputer yang canggih.
3.      Integrate
Adalah berupa kemungkinan diintegrasikannya beberapa proses yang biasanya ditangani oleh beberapa karyawan dari berbagai divisi yang terpisah menjadi sebuah proses yang lebih sederhana. Dengan diimplementasikannya jaringan komputer berskala WAN, proses pengecekan barang di gudang yang biasanya harus melalui prosedur pada bagian logistik dapat dilakukan pula oleh seorang salesman sehingga dapat mencegah terjadinya overcommitted atau shortage terhadap pesanan pelanggan.
4.      Automate
Adalah mengubah hal-hal yang biasanya dilakukan secara manual menjadi aktivitas mengunakan komputer.
Pada kenyataannya, tidak semua perusahaan secara penuh menggunakan keempat cara diatas, karena pada akhirnya faktor manusialah yang menjadi faktor penentu keberhasilan proses BPR, dimana kegagalan terbesar diakibatkan oleh fenomena “people don’t like to change”

NB : INGIN VERSI LENGKPANYA,, SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOMENTAR,, TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG,,,,

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "SKRIPSI MANAJEMEN REKAYASA ULANG PROSES BISNIS PADA DEPARTEMEN PENJUALAN, LOGISTIK, DAN AKUNTING (STUDI KASUS: PT GRAMA BAZITA)"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top