iklan

CONTOH MAKALAH MONITORING DAN EVALUASI PERKEMBANGAN PEMBINAAN KLUB OLAHRAGA SEKOLAH



BAB I
ASESMEN OLAHRAGA
(“HASIL LATIHAN ATLET”)

A.  Pendahuluan
       Dalam manejemen mengadung unsur perencanaan, implementasi, organisasi dan evaluasi. Maka dalam manejemen pembinaan olahraga klub di sekolah dasar evaluasi merupakan salah satu unsur penting dalam program pembinaan olahra-ga. Sebab dengan evaluasi dapat diketahui perkembangan pembinaan olahraga di sekolah dasar.
         Atas dasar hal tersebut, maka dibutuhkan keberadaan evaluasi dan ases-men dalam pembinaan olahraga klub sekolah dasar. Selain dari istilah evaluasi dan asesmen dikenal pula beberapa istilah yaitu pengukuran dan tes. Diantara keempat istilah tersebut, tes merupakan istilah yang paling akrap dengan guru dan pelatih. Hal tersebut disebabkan tes prestasi hasil belajar dan latihan sering digunakan sebagai satu-satunya alat untuk menilai hasil latihan dan belajar atlet. Padahal tes sebenarnya hanya merupakan salah satu alat ukur hasil latihan dan belajar. Tes sering juga dipertukarkan pemakaiannya oleh guru dengan konsep pengukuran hasil belajar. Diantara peristilahan tersebut, asesmen merupakan istilah yang kurang dikenal secara umum. Para guru sering salah dalam menafsirkan makna asesmen yang sesungguhnya
       Istilah asesmen perlu diperkenalkan pada guru dan pelatih. Hal ini disebab-kan karena asesmen telah menjadi khazanah dalam dunia pendidikan kita. Selain itu, pemahaman tentang asesmen juga dapat mendukung keberhasilan guru dalam melaksanakan pratek penilaian.  Berikut ini berturut-turut akan dikemuka-kan tentang konsep dasar asesmen, teknik-teknik asesmen berbasis kinerja (performent-base assesment).

B.  Konsep Dasar Asesmen
1.    Pengertian Evalusi, Asesmen, Pengukuran dan Tes
       Pengertian evaluasi, penilaian (assessment), pengukuran, dan tes Banyak orang mencampuradukkan pengertian antara evaluasi, pengukuran (measure-ment), tes, dan penilaian (assessment), padahal keempatnya memiliki pengertian yang berbeda.
        Evaluasi menurut Zainul dan Nasution (2001) adalah sebagai suatu proses pengambilan keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui asesmen dan pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrumen tes maupun non tes.  Asesmen (assessment) diartikan oleh Stiggins (Lund, 2010) se-bagai penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Semen-tara itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai the process of collecting data which shows the development of learning”. Berarti, asesmen adalah mem-peroleh informasi proses belajar melalui pengukuran dan tes maupun non tes.
       Pengukuran (measurement) menurut Cangelosi (dalam Lund, 2010) adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan dan tes untuk mengum-pulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan. Tes menurut Arikunto dan Jabar (2004) merupakan alat atau prosedur yang digunakan mengu-kur untuk memperoleh informasi tentang individu atau obyek. Terdapat perbedaan pengertian antara tes, testing, testee, tester. Testing adalah saat pada waktu tes tersebut dilaksanakan (saat pengambilan tes). Sementara itu Gabel dalam Lund (2010) menyatakan bahwa testing menunjukkan proses pelaksanaan tes. Testee adalah responden yang mengerjakan tes. Tester adalah sesorang yang diserahi tugas untuk melaksanakan pengambilan tes kepada respoden.
2.  Hubungan dan Perbedaan Evaluasi, Asesmen, Pengukuran dan Tes
        Berdasarkan pengertian di atas penulis menyimpulkan bahwa penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui asesmen dan pengukuran hasil belajar berlatih baik yang menggunakan tes maupun nontes. Menilai (asesmen) adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-banding-kan dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Penilaian bersifat kualitatif. Sedangkan pengukuran adalah membandingkan hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif. Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk pengertian masing-masing:

·           Evaluasi merupakan penilaian terhadap data yang dikumpulkan melalui kegiatan  asesmen untuk membuat keputusan.
·           Penilaian (asesmen) adalah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh tentang proses dan hasil dari kegiatan belajar dan berlatih (penilaian proses)
·           Pengukuran atau measurement adalah proses pengumpulan data melalui tes dan non tes.
·           Tes adalah alat untuk mengumpulkan data atau informasi
Hubungan antara evaluasi, asesmen, pengukuran dan tes dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
                                                              
                                                                                Evaluasi
                                                       Tes
                   

Pengukuran



 

Asesmen




Gambar1. Diagram Hubungan Antara Tes, Pengukuran, Asesmen dan Evaluasi.


3.  Tujuan Asesmen
Tujuan asesmen untuk
a.  Memonitor kemajuan atlet
b. Mendiagnosa kelebihan dan kelemahan-kelemahan atlet beserta faktor-faktor
penyebabnya.
c. Memberi umpan balik tentang kemajuan belajar berlatih atlet dalam kaitannya dengan kompetensi selama proses belajar dan berlatih
d. Memberi informasi pada para pelatih, orang tua dan atlet mengenai demonstrasi kompetensi atlet
e. Meningkatkan motivasi berlatih atlet

4.  Manfaat Asesmen
         Manfaat asesmen adalah sebagai berikut:
a.  Bagi Atlet
1)  Dengan mengetahui hasil latihan, atlet akan termotivasi untuk latihan
2)  Dengan mengetahui hasil latihan dapat menjadi input kesadaran diri atlet dalam menuju perkembangan kedewasaan dan rasa percaya diri untuk berprestasi.
b.  Bagi Pelatih
1)  Sebagai salah satu input untuk menyempurnakan program latihan
2)  Sebagai dasar pelatih mengelompokan atlet
3)  Sebagai dasar melaksanakan program pengayaan dan remedial
4)  Sebagai dasar untuk mengikuti perkembangan berlatih atlet.
c.   Bagi Orang Tua
1)  Sebagai informasi kemajuan putra-putrinya.
2)  Sebagai dasar untuk membimbing putra-putrinya latihan dirumah.

5.  Prinsip-Prinsip Asesmen
         Prinsip-prinsip penilaian (asesmen) adalah: sahih, obyektif, adil, terpadu, menyeluruh, berkesinambungan, sistematis, beracuan kriteria dan akuntabel.
      Sahih berarti penilaian di dasarkan pada  data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.
      Obyektif berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi oleh unsur subyektifitas penilai.  
      Adil berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena agama, suku, budaya, adat istiadat, status ekonomi dan gender.
         Terpadu berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen  yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran
      Sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.
      Menyeluruh, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi.
      Beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada  ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
      Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya
6.  Langkah –langkah dalam Melaksanakan Asesmen
        Asesmen merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang guru atau pelatih  dalam kegiatan pembelajaran dan pelatihan. Dengan penilaian, guru dan pelatih akan mengetahui perkembangan hasil belajar berlatih siswa atau atlet. Adapun langkah-langkah pokok dalam penilaian secara umum terdiri dari: (1) perencanaan, (2) pengumpulan data, (3) verifikasi data, (4) analisis data, dan (5) interpretasi data.
C.  Teknik-Teknik Asesmen Berbasis Kinerja (performance- base asssesmet).
       Mueller (2008) dan Lund (2010) menyatakan bahwa performance base assessment (penilaian berbasis kinerja) yang meminta siswa untuk mendemon-trasikan keterampilan dan kompetensi tertentu yang merupakan penerapan pe-ngetahuan yang dikuasai. Teknik penilaian berbasis kinerja ada dua yaitu (1) teknik penilaian non tes (kualiitatif) dan (2) teknik penilaian tes komponen fisik (kuantitatif), (3) Teknik tes keteramplan olahraga.
1.  Teknik Penilaian Non tes
         Teknik penilaian non tes berarti tehnik penilaian dengan tidak menggunakan tes. Tehnik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian, kinerja (performance), sikap, tingkah laku dan lain-lain. Teknik penilaian non-test, yang biasanya menyertai atau inheren dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat banyak macamnya. Teknik non tes antara lain bisa disebutkan adalah observasi (pengamatan), portofolio dan sebagainya. Keberhasilan siswa dan atlet dalam proses belajar-berlatih tidak dapat diukur dengan alat tes. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa dan atlet yang sulit diukur.
1)  Pengamatan (observasi)
        Pengamatan observasi adalah suatu tehnik yang dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang dijadikan objek pengamatan.
          Observasi sebagai alat menilai banyak digunakan untuk menilai kinerja (performance) atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat diamati. Observasi yang dapat menilai atau mengukur hasil belajar adalah kinerja para siswa atau atlet ketika guru sedang mengajar atau pelatih sedang melatih.
2)  Tujuan Pengembangan Observasi
        Sebagai alat evaluasi, observasi digunakan untuk:
a) Menilai minat, sikap dan nilai yang terkandung dalam diri atlet.
b) Melihat proses kegiatan keterampilan olahraga yang dilakukan oleh siswa maupun atlet.
c) Suatu tes keterampilan (yang ada dalam buku tes dan pengukuran) belum dapat menunjukan  kemampuan keterampilan bermain atlet
3) Jenis-Jenis Observasi
Observasi atau pengamatan dapat dilakukan dalam berbagai cara. Berdasarkan cara dan tujuan, observasi dapat dibedakan menjadi 3 yaitu:
a)  Observasi partisipatif dan nonpartisipatif
         Observasi partisipatif adalah yaitu observasi yang dilakuakan oleh pengamat diamna pengamat sendiri memasuki atau mengikuti kegiatan kelompok yang sedang diamati. Sedangkan observasi nonpartisipatif, observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka.
Contoh observasi partisipatif: Misalnya guru mengamati setiap anak. Kalau obser-vasi nonpartisipatif, guru hanya sebagai pengamat, dan tidak ikut bermain.
b)  Observasi sistematis dan observasi nonsitematis
         Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan, observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau kriteria, masalah yang akan diamati Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati.
        Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mengamati anak-anak menanam bunga. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati, misalnya tentang: kerajinan, kesiapan, kedisiplinan, ketangkasan, kerjasama dan kebersihan. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga. Kalau observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas, tetapi langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga.
c)     Observasi experimental, yaitu observasi yang dilakukan dalam situasi yang dibuat atau dirancang oleh observer.

3) Kelebihan Observasi
Observasi sebagai alat penilain non tes, mempunyai beberapa kelebihan, antara lain:
a) Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak.
b) Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting
c) Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari teknik lain, misalnya wawancara atau angket.
d) Observer tidak perlu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati, kalaupun menggunakan, maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran.

 4) Kelemahan observasi adalah:
a). Observer tiidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorag yang sangat dirahasiakan.
b). Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat, agar observer merasa senang.
c). Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol sebelumya.

5) Langkah-langkah Pengembangan Observasi
a) Merumuskan tujuan
b)  Merumuskan kegiatan
c)  Menyusun langkah-langkah
d)  Menyusun kisi-kisi
e)  Menyusun panduan observasi
g)  Menyusun alat penilaian

6) Panduan Pengembangan Instrumen Non Tes
a)    Penyusunan Kisi-kisi
Kisi-kisi merupakan matriks yang berisi spesifikasi soal-soal yang akan dibuat. Kisi-kisi merupakan acuan bagi penulis soal, sehingga siapapun yang menulis soal akan menghasilkan soal yang isi dan tingkat kesulitannya relatif sama. Contoh kisi-kisi soal kinerja adalah sebagai berikut.

CONTOH KISI-KISI PENILAIAN
Jenis Klub            :          
Cabang                 : Atletik
Waktu                    :30 menit       
Standar Kompetensi : 1. Mempraktikkan lari cepat dengan teknik yang benar
 Kompetensi Dasar
Materi /Kinerja
Indikator
Teknik tes
Nomor soal

1.3 Mempraktikkan lari cepat dengan teknik yang benar

Lari cepat 100 meter

- starting position
- Starting action
-  sprinting action
- finishing action

Non tes   (pengamatan)


1

b)  Penyusunan Instrumen Penilaian Keterampilan Atletik
        Instrumen Penilaian keterampilan atletik terdiri atas soal atau perintah dan  pedoman penskoran untuk menilai unjuk kerja atlet dalam melakukan perintah/soal tersebut. 
c)  Penyusunan soal
Langkah pertama yang harus dilakukan oleh penulis soal adalah mencermati kisi-kisi instrumen yang telah dibuat. Soal harus dijabarkan dari indikator dengan memperhatikan materi pembelajaran. Pada contoh kisi-kisi di atas, dapat dibuat soal sebagai berikut:
”Demonstrasikan/lakukan lari cepat 100 meter dengan teknik yang benar. Perhatikan posisi start, teknik strat, teknik lari, dan teknik memasuki garis finish”.

d)   Pedoman penskoran
      Pedoman penskoran dapat berupa daftar periksa observasi atau skala penilaian yang harus mengacu pada soal. Soal/lembar tugas/perintah kerja ini selanjutnya dijabarkan menjadi aspek-aspek keterampilan yang diamati. Untuk soal dari contoh kisi-kisi di atas, cara menuliskan daftar periksa observasi atau skala penilaiannya sebagai berikut.
(1)     Mencermati soal ( dalam hal lari cepat 100 m)
(2)      Mengidentifikasi aspek-aspek keterampilan kunci dalam lari 100 m; dalam hal ini aspek–aspek keterampilan kunci itu adalah : (1) posisi mulai (starting position), (2) teknik mulai (starting action), (3) teknik lari (sprinting action), dan (4) teknik memasuki garis finish (finishing action).
(3)      Mengidentifikasi aspek-aspek keterampilan dari setiap aspek keterampilan kunci (dalam hal ini aspek keterampilan kunci posisi mulai/starting position dirinci menjadi aspek keterampilan memposisikan kaki, tangan, badan, pandangan mata, dan posisi tungkai pada saat aba-aba “siap”).
(4)       Menentukan jenis instrumen untuk mengamati kemampuan atlet, apakah daftar periksa observasi atau skala penilaian.
(5)      Menuliskan aspek-aspek keterampilan dalam bentuk pertanyaan/ pernyataan ke dalam tabel
(6)      Membaca kembali skala penilaian atau daftar periksa observasi untuk meyakinkan bahwa instrumen yang ditulisnya sudah tepat
(7)      Meminta orang lain untuk membaca atau menelaah instrumen yang telah ditulis untuk meyakinkan bahwa instrumen itu mudah dipahami oleh orang lain.
Langkah (9) adalah upaya penulis agar instrumen memiliki validitas isi tinggi, sedangkan langkah (10) adalah upaya penulis agar instrumen memiliki reliabilitas tinggi.
7) Penilaian Keterampilan Olahraga     
a) Kriteria (Rubrics)
Kriteria atau rubrik adalah pedoman penilaian kinerja atau hasil kerja atlet. Dengan adanya kriteria, penilaian yang subjektif atau tidak adil dapat dihindari atau paling tidak dikurangi, guru menjadi lebih mudah menilai prestasi yang dapat dicapai atlet, dan atlet pun akan terdorong untuk mencapai prestasi sebaik-baiknya karena kriteria penilaiannya jelas.
Rubrik terdiri atas dua hal yang saling berhubungan. Hal pertama adalah skor  dan hal lainnya adalah kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai skor itu. Banyak sedikitnya gradasi skor (misal 5, 4, 3, 2, 1) tergantung pada jenis skala penilaian yang digunakan dan hakikat kinerja yang akan dinilai. Contoh rubrik dan penggunaannya pada lembar skala penilaian sebagai berikut.


Kriteria (rubrik)
Nomor
Butir
Aspek Keterampilan
Skor
5
4
3
2
1
Starting Position





01
Waktu jongkok lutut kaki belakang ada di depan ujung kaki lainnya





02
Kedua tangan di tanah, siku lurus, empat jari agak rapat mengarah ke samping luar.





03
Waktu jonkok posisi punggung segaris dengan kepala





04
Pandangan kira-kira 1 meter di depan garis start





05
Waktu aba-aba siap, posisi tungkai depan ± 90° dan tungkai belakang 100°-120°





Starting Action





06
………………………………………………





07
………………………………………………






      Tampak dalam skala penilaian di atas bahwa penilai harus bekerja keras untuk menilai apakah aspek keterampilan yang muncul itu sangat tepat sehingga harus diberi skor 5, atau agak tepat sehingga skornya 3. Oleh karena itu, dalam menggunakan skala penilaian ini harus dilakukan secermat mungkin agar skor yang didapat menunjukkan kemampuan atlet yang sebenarnya. Dalam pelaksanaan observasi agar lebih cermat menggunakan Handycam untuk merekam lari 100 meter. Setelah di rekam gerakan atlet kemudian dilakukan pengamatan.
       Sedikit berbeda dengan skala penilaian, skor yang ada di lembar daftar periksa observasi tidak banyak bervariasi, biasanya hanya dua pilihan, yaitu: ada atau “ya” dengan skor 1 dan “tidak” dengan skor 0. Kriteria (rubrik)  dan penggunaannya pada datar periksa observasi dapat dilihat pada contoh berikut.


Berilah centang (√) di bawah kata “ya” bila aspek keterampilan yang dinyatakan itu muncul dan benar, dan berilah centang di bawah kata “tidak” bila aspek keterampilan itu muncul tetapi tidak benar  atau aspek itu tidak muncul sama sekali. Kata “ya” diberi skor 1, dan kata “tidak” diberi skor 0.



Kriteria (rubrik)
No
Butir
Aspek keterampilan
Jawaban
Ya
Tidak
Starting Position


01
Waktu jongkok lutut kaki belakang ada di depan ujung kaki lainnya


02
Kedua tangan di tanah, siku lurus, empat jari agak rapat mengarah ke samping luar.


03
Waktu jonkok posisi punggung segaris dengan kepala


04
Pandangan kira-kira 1 meter di depan garis start


05
Waktu aba-aba siap, posisi tungkai depan ± 90° dan tungkai belakang 100°-120°


Starting action


06
……………………………………


07
……………………………………









b)  Penskoran dan Interpretasi Hasil Penilaian
Hal pertama yang harus diperhatikan dalam melakukan penskoran adalah ada atau tidak adanya perbedaan bobot tiap-tiap aspek keterampilan yang ada dalam skala penilaian atau daftar periksa observasi. Apabila tidak ada perbedaan bobot maka penskorannya lebih mudah. Skor akhir sama dengan jumlah skor tiap-tiap butir penilaian.
Selanjutnya untuk menginterpretasikan, hasil yang dicapai dibandingkan dengan acuan atau kriteria. Oleh karena pembelajaran ini menggunakan pendekatan belajar tuntas dan berbasis kompetensi maka acuan yang digunakan untuk menginterpretasikan hasil penilaian kinerja dan hasil kerja atlet adalah acuan kriteria. 
Untuk contoh lembar penilaian  “Lari cepat 100 meter” yang butirnya ada 20 dengan rentang skor tiap butir 1 sampai dengan 5, maka skor minimalnya 20 dan skor maksimalnya 100. Ini berarti bahwa atlet yang mendapat skor 20 diartikan gagal total, sedangkan atlet yang mendapat skor 100 diartikan berhasil secara sempurna. Sebagai contoh perhatikan tabel dan penjelasan berikut.

No
Pernyataan
Skor hasil Penilaian
Skor Butir
1
2
3
4
5
1




Starting Position







Posisi tangan waktu jongkok


v


3
Posisi lutut waktu jongkok


v


3
Posisi punggung waktu jongkok


v


3
Pandangan mata saat start



v

4
Posisi tungkai saat aba-aba siap



v

4
2




Starting action







Gerakan kaki dan tangan saat mulai lari


v


3
Posisi lutut saat kaki kiri menolak pada waktu lari dimulai


v


3
Kecepatan gerakan kaki kanan setelah kaki kiri digerakkan


v


3
Jangkauan ayunan dan ketinggian kaki kanan


v


3
Posisi lutut saat kaki kanan mendarat di tanah


v


3
3


Sprinting action








Keadaan lutut kaki belakang saat menolak ke depan


v


3
Keadaan telapak kaki saat kaki depan menapak ke tanah



v

4
Sumber ayunan lengan saat lari



v

4
Posisi siku saat lari


v


3
Posisi badan saat lari


v


3
4

Finishing Action







Gerakan kaki saat masuk finish


v


3
Pandangan mata saat masuk finish



v

4
Kecepatan saat masuk finish



v

4
Posisi badan saat masuk finish

 




v

4
Kecepatan lari setelah masuk finish



v

4

Jumlah





78

Apabila ditetapkan batas kelulusan 80% dari skor maksimal maka atlet yang mendapat skor 80 ke atas dikatakan lulus sedangkan atlet yang mendapat skor kurang dari 80 diharuskan mengikuti program remedial. Dalam contoh ini, karena skor yang dicapai atlet adalah 78, maka atlet itu masih perlu remedi.
Apabila tiap-tiap aspek keterampilan tidak sama bobotnya, maka skor akhir yang dicapai atlet sama dengan jumlah skor tiap-tiap butir yang sudah ditentukan bobotnya. Skor tiap-tiap butir sama dengan skor yang dicapai dibagi banyaknya pilihan jawaban kemudian dikalikan dengan bobot masing-masing butir.
Pada contoh lembar penilaian “Lari cepat 100 meter” dengan bobot untuk kelompok starting position = 25%, starting action = 25%, sprinting action = 30%, dan kelompok finishing action 20% dari skor maksimal, bobot tiap-tiap butir sama dengan bobot kelompok itu dibagi dengan jumlah butir, jadi   bobot tiap-tiap butir dalam kelompok aspek keterampilan starting position adalah 5%, starting action = 5%, sprinting action = 6%, dan finishing action 4% dari skor maksimal. Oleh karena skor maksimalnya 100 maka bobot tiap-tiap butir dalam kelompok aspek keterampilan starting position adalah 5, starting action = 5, sprinting action = 6, dan finishing action 4. Dengan demikian, skor tiap-tiap butir yang sudah ditentukan bobotnya sama dengan skor butir sebelum ditentukan bobotnya dibagi banyaknya pilihan jawaban dikalikan bobot tiap-tiap butir. Misal: untuk butir nomor 1 dari contoh di atas, skor butir yang sudah ditentukan bobotnya = (3/5) x 5 = 3. Secara lengkap, untuk contoh di atas, dapat dijelaskan sebagai berikut.

                        Skor butir = 
No
Pernyataan
Skor hasil Penilaian
Skor Butir
1
2
3
4
5
1



Starting Position (25%)







Posisi tangan waktu jongkok


v


3
Posisi lutut waktu jongkok


v


3
Posisi punggung waktu jongkok


v


3
Pandangan mata saat start



v

4
Posisi tungkai saat aba-aba siap



v

4
2

Starting action (25%)







Gerakan kaki dan tangan saat mulai lari


v


3
Posisi lutut saat kaki kiri menolak pada waktu lari dimulai


v


3
Kecepatan gerakan kaki kanan setelah kaki kiri digerakkan


v


3
Jangkauan ayunan dan ketinggian kaki kanan


v


3
Posisi lutut saat kaki kanan mendarat di tanah


v


3
3


Sprinting action (30%)







Keadaan lutut kaki belakang saat menolak ke depan


v


3.6
Keadaan telapak kaki saat kaki depan menapak ke tanah



v

4.8
Sumber ayunan lengan saat lari



v

4.8
Posisi siku saat lari


v


3.6
Posisi badan saat lari


v


3.6
4

Finishing Action (20%)







Gerakan kaki saat masuk finish


v


2.2
Pandangan mata saat masuk finish



v

3.2
Kecepatan saat masuk finish



v

3.2
Posisi badan saat masuk finish



v

3.2
Kecepatan lari setelah masuk finish



v

3.2

Jumlah







Ternyata ada perbedaan sedikit antara jumlah skor yang menggunakan bobot dan jumlah skor yang tidak menggunakan bobot. Jumlah skor setelah memperhatikan bobot adalah 67,4. Selanjutnya, apabila batas kelulusan itu 80 maka atlet ini dikategorikan belum lulus.
Daftar periksa observasi yang bobot tiap-tiap aspek keterampilannya sama,  penskorannya lebih mudah. Untuk contoh daftar periksa observasi  “Lari cepat 100 meter” yang butirnya 20 dengan skor tiap-tiap butir 1 untuk jawaban “ya”  dan 0 untuk jawaban “tidak” maka skor minimalnya 0 dan skor maksimalnya  20. Ini berarti bahwa atlet yang mendapat skor 0 diartikan gagal total, sedangkan atlet yang mendapat skor 20 diartikan berhasil secara sempurna.
Khusus untuk contoh di atas, apabila rentang skor yang digunakan 0 sampai dengan 100 maka skor akhir yang diperoleh atlet dikalikan dengan 5, yaitu angka konversi dari skor maksimal 20 menjadi skor maksimal 100. Sebagai contoh perhatikan penjelasan berikut.

No
Aspek Keterampilan
Hasil Obsrvasi
Skor Butir
Ya
Tidak
1

Starting Position


v
0
Posisi tangan waktu jongkok
v

1
Posisi lutut waktu jongkok
v

1
Posisi punggung waktu jongkok
v

1
Pandangan mata saat start
v

1
Posisi tungkai saat aba-aba siap



2




Starting action




Gerakan kaki dan tangan saat mulai lari
v

1
Posisi lutut saat kaki kiri menolak pada waktu lari dimulai

v
0
Kecepatan gerakan kaki kanan setelah kaki kiri digerakkan

v
0
Jangkauan ayunan dan ketinggian kaki kanan
v

1
Posisi lutut saat kaki kanan mendarat di tanah
v

1
3

Sprinting action




Keadaan lutut kaki belakang saat menolak ke depan

v
0
Keadaan telapak kaki saat kaki depan menapak ke tanah
v

1
Sumber ayunan lengan saat lari

v
0
Posisi siku saat lari
v

1
Posisi badan saat lari
v

1

Finishing Action




Gerakan kaki saat masuk finish

v
0
Pandangan mata saat masuk finish
v

1
Kecepatan saat masuk finish

v
0
Posisi badan saat masuk finish
v

1
Kecepatan lari setelah masuk finish
v

1

Jumlah


13

Jumlah skor hasil pengamatan = 13. Jika digunakan rentang skor 0 sampai dengan 100, maka skor yang diperoleh atlet itu adalah 13 x 5 = 65.  Selanjutnya, apabila batas kelulusan 80 maka atlet ini dikategorikan belum lulus.
Sedikit berbeda apabila tiap-tiap aspek keterampilan itu tidak sama bobotnya. Skor akhir yang dicapai atlet sama dengan jumlah skor tiap-tiap butir yang sudah ditentukan bobotnya, sedangkan skor tiap-tiap butir yang sudah ditentukan bobotnya sama dengan skor tiap-tiap butir yang belum ditentukan bobotnya dikalikan dengan bobot masing-masing butir.
Untuk contoh daftar periksa observasi “Lari cepat 100 meter” dengan bobot starting position = 25%, starting action = 25%, sprinting action = 30%, dan finishing action 20% dari skor maksimal, bobot tiap-tiap butir sama dengan bobot kelompok itu dibagi dengan jumlah butir, sehingga bobot tiap-tiap butir dalam kelompok aspek keterampilan starting position adalah 5%, starting action = 5%, sprinting action = 6%, dan finishing action 4% dari skor maksimal. Oleh karena skor maksimalnya sama dengan 20 maka bobot tiap-tiap butir dalam kelompok aspek keterampilan starting position adalah 1 (yaitu : 5/100 x 20 = 1), starting action = 1, sprinting action = 1,2, dan finishing action 0,8. Untuk jelasnya perhatikan penjelasan berikut.
No
Aspek Keterampilan
Hasil Obsrvasi
Skor Butir
Ya
Tidak
1

Starting Position


v
0
Posisi tangan waktu jongkok
v

1
Posisi lutut waktu jongkok
v

1
Posisi punggung waktu jongkok
v

1
Pandangan mata saat start
v

1
Posisi tungkai saat aba-aba siap



2

Starting action




Gerakan kaki dan tangan saat mulai lari
v

1
Posisi lutut saat kaki kiri menolak pada waktu lari dimulai

v
0
Kecepatan gerakan kaki kanan setelah kaki kiri digerakkan

v
0
Jangkauan ayunan dan ketinggian kaki kanan
v

1
Posisi lutut saat kaki kanan mendarat di tanah
v

1
3





Sprinting action




Keadaan lutut kaki belakang saat menolak ke depan

v
0
Keadaan telapak kaki saat kaki depan menapak ke tanah
v

1.2
Sumber ayunan lengan saat lari

v
0
Posisi siku saat lari
v

1.2
Posisi badan saat lari
v

1.2





Finishing Action




Gerakan kaki saat masuk finish

v
0
Pandangan mata saat masuk finish
v

0.8
Kecepatan saat masuk finish

v
0
Posisi badan saat masuk finish
v

0.8
Kecepatan lari setelah masuk finish
v

0.8

Jumlah


13

Ternyata jumlah skor setelah memperhitungkan bobot juga = 13.  Bila digunakan rentang skor 0 sampai dengan 100, maka skor yang diperoleh atlet itu adalah 13 x 5 = 65.  Selanjutnya, apabila batas kelulusan  80 maka atlet ini dikategorikan belum lulus.
Setelah skor tiap-tiap atlet diperoleh, langkah selanjutnya adalah menghitung atlet yang telah lulus dan atlet yang belum lulus, kemudian dibuat persentase, misal: sekitar 70 % atlet sudah lulus dalam “lari 100 meter”.  
Batas kelulusan 80 dapat dipenuhi secara bertahap. Misalkan, untuk program latihan ini batas kelulusan ditetapkan 80, harus ada usaha untuk menaikkan batas kelulusan dari program latihan ke program latihan berikutnya sehingga mencapai angka 80.
2.  Penilaian Teknik Tes
        Penilaian teknik tes dalam pembinaan olahraga terdiri dari dua yaitu tes untuk komponen  fisik dan tes untuk  keterampilan olahraga.
        Tes dapat diartikan sebagai suatu bentuk pertanyaan untuk menilai pengetahuan. Dalam konteks aspek fisik, tes merupakan suatu bentuk pengukuran untuk menilai kemampuan aktivitas fisik. Sedangkan pengukuran kondisi fisik merupakan proses pengumpulan data atau informasi dari suatu objek tertentu. Dalam proses pengukuran diperlukan suatu alat ukur yang meliputi :
Aspek-aspek pengukuran komponen fisik, yaitu:
a.    Daya tahan jantung dan paru-paru (endurance)
b.    Kekuatan otot
c.    Daya tahan otot
d.   Fleksibilitas
e.    Kecepatan
f.     Daya ledak (power)
g.    Keseimbangan
h.    Ketepatan
i.      Kelincahan
j.      Koordinasi

Bentuk tes fisik adalah sebagai berikut:

a.  TES ENDURANCE (Daya tahan jantung dan paru-paru)
Tes endurance biasanya lebih dikenal dengan tes daya tahan tubuh seseorang. Tes ini sangat penting sekali dan biasanya sering sekali dipaki para pelatih untuk pengembangan fisik atau evaluasi perkembangan dan pelatihan seorang atlet. Bermacam- macam jenis tes yang dilakukan para pelatih untuk melakukan tes endurance ini. Dan dari masing-masing jenis tes akan mempunyai hasil dari tujuan yang berbeda-beda pula. Beberapa macam Tes Endurance :

a)    2,4 Km Lari
b)    600 m (TKJI, usia 6-9 th dan usia 10 -12 th)
c)    4,8 Km Jalan
d)    Lari 12 menit
e)    lari 15 menit
f)     lari 1,6 km
g)    harvard Test ( bangku )
h)   MFT ( Multi Fitnes Test )
Tes Daya Tahan Kardiovaskular (Lari 600m)
Lari jarak sedang dilakukan untuk mengukur daya tahan paru, jantung, dan pembuluh darah. Jarak yang ditempuh bergantung pada kelompok umur masing-masing

Kelompok Umur
Jarak
Putra
Putri
6 s/d 9 Tahun
600 Meter
600 Meter
10 s/d 12 Tahun
600 Meter
600 Meter



Norma penilaian lari 600 m
Umur 6 s/d 9 tahun
Nilai
Umur 10 s/d 12 tahun
Putra
Putri
Putra
Putri
Sd 2’39”
Sd 2’53”
5
Sd 2’09”
Sd 2’32”
2’40”-3’00”
2’54”-3’-23”
4
2’10”-2’30”
2’33”-2’54”
3’01”-3’45”
3’24”-4’08”
3
2’31”-2’45”
2’55”-3’28”
3’36”-4’48”
4’09”-5’03”
2
2’46”-3’44”
3’29”-4’22”
Dibawah 4’48”
Dibawah 5’03”
1
Dibawah 3’44”
Dibawah 4’22”

b.  TES KEKUATAN DAN DAYA TAHAN OTOT LENGAN
Menggunakan tes Tes Kebugaran Jasmani Indonesia yaitu Gantung Siku Tekuk
a) Tujuan
Untuk mengukur daya tahan dan kekuatan otot lengan dan bahu
b). Alat dan fasilitas
1) Palang tungal yang dapat diturunkan dan dinaikan
2) Stopwatch
3) Formulir tes dan alat tulis
4) Serbuk kapur
c). Pelaksanaan
Palang tunggal dipasang dengan ketinggian sedikit di atas kepala peserta
1). Sikap permulaan; peserta berdiri dibawah palang tunggal, kedua tangan berpegangan pada palang tunggan selebar bahu. Pegangan telapak tangan menghadap ke belakang
2). Gerakan; dengan bantuan tolakan kedua kaki, peserta melompat ke atas sampai mencapai  ikap bergantung siku tekuk, dagu berada di atas palang tunggal. sikap tersebut  dipertahanan selama mungkin.
d). Penilaian
Hasil yang dicapai adalah waktu yang dicapai oleh peserta untuk mempertahankan sikap tersebut di atas, dalam satuan detik.

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "CONTOH MAKALAH MONITORING DAN EVALUASI PERKEMBANGAN PEMBINAAN KLUB OLAHRAGA SEKOLAH "

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top