FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRGA



A.   KONSEP FILSAFAT
1.    Pengantar
Kata filsafat sering ditemukan dalam berbagai konteks. Dalam sistem kenegaraan Indonesia ditemukan kalimat “Pancasila merupakan filosofi hidup bangsa Indonesia”. Dalam kehidupan sehari-hari, orang dituntut untuk mempunyai pandangan hidup dalam bentuk prinsip hidup yang didapat dari filsafat. Di masyarakat ditemukan penggambaran tentang seorang filosof, yaitu sosok dengan tubuh yang kurus kering, berkepala botak, berpakaian lusuh, berkaca mata tebal, suka menyendiri, pikirannya aneh, suka bertindak “nyleneh/aneh” dan sebagainya.
Penggunaan kata filsafat dalam konteks di atas bukan sesuatu yang asing, tetapi manakala ditanya “apa pengertian filsafat”, “bagaimana berfilsafat itu”, dan “apa saja ciri-ciri orang berfilsafat”  hampir dipastikan akan sulit memperoleh jawaban yang memuaskan. Kesulitan pertama disebabkan oleh pemahaman tentang filsafat yang masih kurang, kedua, masing-masing individu mempunyai pandangan yang berbeda tentang filsafat, yang ketiga, filsafat sendiri merupakan bidang kajian yang kompleks dan kurang memasyarakat.
Dalam dunia pendidikan dijumpai landasan filosofis yang digunakan pendidik dalam menjalankan tugasnya. Landasan filosofis ini memberikan pemahaman kepada pendidik terhadap makna pendidikan bagi manusia, pemahaman tentang tujuan pendidikan dan berbagai pandangan terhadap karakter manusia (peserta didik), sehingga dapat ditentukan “model layanan” yang sesuai dengan karakter tersebut. Secara praktis, filsafat bukan sesuatu yang asing bagi seorang pendidik, tetapi secara teoritis, masih banyak dijumpai pendidik yang “kurang bisa” memberi penjelasan tentang konsep filsafat, akibatnya pemahaman dan penghayatan pendidik tentang nilai-nilai filosofis kependidikan belum optimal. Hal yang demikian itu berakibat langsung pada rendahnya profesionalisme pendidik dalam menjalankan tugas.
2.    Pengertian Filsafat
Mendefinisikan filsafat merupakan kegiatan yang sulit. Hal itu dikarenakan masing-masing orang menggunakan pengetahuan dan sudut pandang yang berbeda-beda, dan filsafat sendiri merupakan pengetahuan  atau ilmu yang bersifat subyektif, sehingga tingkat relatifitasnya sangat tinggi. Disamping itu, filsafat merupakan bidang ilmu atau sesuatu yang abstrak dan rumit.  Abstrak berarti sulit menunjukkan wujudnya, artinya filsafat bukan ilmu konkrit yang dapat dengan mudah untuk diindera, sedangkan rumit diartikan sebagai kompleksitas pelaku filsafat dalam “bekerja” (berfilsafat), karena mencakup bidang yang sangat luas dan dengan beragam pendapat, sudut pandang dan latar belakang pelaku yang berbeda.
Menyadari kesulitan tersebut, dalam mempelajari konsep filsafat diperlukan suatu strategi yang tepat, agar filsafat dapat dipahami, dihayati, kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjalankan tugas kependidikan. Strategi yang digunakan dalam paparan ini adalah dengan cara mengkaji filsafat dari beberapa sudut pandang. Dengan strategi ini diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang komprehensif tentang konsep filsafat.
Ada tiga sudut pandang yang digunakan dalam mengkaji filsafat, pertama filsafat dipandang dari etimologinya, kedua dari arti praktis dan ketiga dari segi terminologi. Dari segi etimologi, filsafat dikaji dari asal katanya; dari segi praktis, filsafat dikaji dari aspek tindakan nyata apa yang dilakukan sesorang yang sedang berfilsafat, sedang dari segi terminologi, pengertian filsafat dihubungkan dengan berbagai konteks (situasi/keadaan) tertentu yang terjadi pada manusia.
a.    Pengertian Filsafat secara Etimologis
Dari asal katanya, filsafat  berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia.
·         Philos                        = cinta/suka/gemar
·         Shopia           = kebijaksanaan/pengetahuan/belajar
Dalam arti sempit, filsafat diartikan sebagai kecintaan/kegemaran terhadap kebijaksanaan, cinta ilmu pengetahuan, atau cinta belajar. Kalau pengertian sempit itu dijabarkan lebih lanjut, filsafat dapat diartikan sebagai kegemaran/kecintaan terhadap sesuatu yang baik/bijaksana/benar. Kebaikan/kebijaksanaan/kebenaran itu diperoleh dari proses belajar yang hasilnya berupa pengetahuan. Dalam artian lebih luas, filsafat tidak sekedar upaya menyenangi/mencintai sesuatu yang baik/bijaksana/benar, lebih dari itu, pelaku filsafat masih dituntut suatu upaya/kegiatan untuk mendapatkan kebaikan/kebijaksanaan/kebenaran, dan setelah hal itu tercapai, pelaku filsafat masih dituntut untuk menerapkan bagi dirinya sendiri dan mengamalkan untuk orang lain, dengan tujuan akhir: berfilsafat merupakan upaya untuk menjadikan manusia sebagai insan yang benar/baik/bijak.
b.    Pengertian Filsafat dalam artian Praktis
Dalam arti praktis, memahami filsafat ditinjau dari tindakan/kegiatan apa saja yang dilakukan oleh orang yang berfilsafat (kata kerja). Memahami filsafat dari arti praktis berarti mencermati perilaku seseorang selama orang tersebut berfilsafat. Berfilsafat dalam arti praktis berarti berfikir. Orang yang berpikir disebabkan oleh adanya suatu yang belum jelas, aneh, merisaukan, bahkan sesuatu yang mengagumkan, atau dapat disimpulkan adanya suatu ‘masalah’. Dengan berpikir diharapkan akan memperoleh jawaban (pemecahan) atas masalah yang dihadapi. Dalam menyadari dan menemukan sesuatu masalah, seseorang pasti berhubungan dengan lingkungannya. Untuk berhubungan dengan lingkungan diperlukan media penghubung dalam bentuk indera. Dengan mengindera lingkungan, seseorang akan menyadari dan menemukan suatu masalah. Dalam berfilsafat, proses pemecahan masalah dilakukan dengan tata urutan:
1)    Mengindera: melihat, mencium, mencercap, meraba, dan mendengar sesuatu, sehingga sadar dan dapat menemukan masalah
2)    Merenung-Bertanya: merenungkan masalah yang dijumpai, kemudian mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan masalah yang dihadapi
3)    Berpikir: dilakukan untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Hasil dari berpikir ini dapat memuaskan pelaku filsafat dikarenakan jawabannya tepat, tetapi dapat juga tidak memuaskan, karena jawabannya tidak tepat atau masih menimbulkan masalah yang baru. Dalam kenyataannya rasa tidak puas ituyang sering terjadi, sehingga dalam berfilsafat tidak akan berhenti dalam menemukan masalah, merenungkan, bertanya, berfikir untuk mencari jawaban, muncul masalah baru, direnungkan, difikirkan dan seterusnya dilakukan secara berulang-ulang.
4)    Karakteristik berpikir dalam filsafat terdiri dari rasional, kritis, sistematis, dan radikal.
·         Berpikir rasional berarti menggunakan akal pikiran dan hukum-hukum  logika tertentu yang masuk akal. Berpikir filsafat bukan wahyu atau wangsit, artinya pelaku filsafat dapat mengemukakan pikiran yang rasional tentang suatu hal, yang dapat dipahami dan diikuti prosedur oleh orang lain. Jadi, setiap orang yang melakukan kegiatan berpikir rasional tentang hal tersebut, maka akan memperoleh hasil yang relatif sama dengan yang didapat oleh pelaku filsafat.
·         Berfikir kritis artinya berpikir secara “bolak-balik”, artinya dengan hati-hati dan seksama mencermati proses dan hasil berpikir. Pelaku filsafat akan berpikir secara induktif dan deduktif secara berkesinambungan, dan tidak begitu saja menerima atau menolak informasi atau pengetahuan.
·         Berpikir sistematis artinya berpikir secara bertahap, sesuai urutan yang logis, dengan mengikuti satu aturan tertentu, memiliki alur proses yang jelas, rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.
·         Berfikir radikal berarti berpikir sampai tuntas, tidak setengah-setengah. Dalam berfilsafat, hal yang hendak dipelajari digali sampai keakar-akar sehingga pemahaman tentang hal itu menyeluruh dan mendalam. Pelaku filsafat harus diberi kebebasan yang seluas-luasnya, agar dapat menuntaskan permasalahan yang ada. Kebebasan tersebut menuntut keleluasaan berpikir yang tidak “tabu” secara agama, budaya, sosial, psikologi, dan sebagainya.


c.    Pengertian Filsafat dari Segi Terminologi
Secara terminologi, filsafat dapat diposisikan sebagai suatu sikap/prinsip/asas, suatu metode berpikir, dan kelompok teori/ilmu pengetahuan (hasil pemikiran/ajaran).
1)    Sebagai suatu sikap/prinsip/asas, filsafat dipakai sebagai dasar/pandangan hidup seseorang dalam berifikir, bersikap dan bertindak. Filsafat merupakan sesuatuyang dapat memberikan arah, pengertian dan keteguhan kepada pola hidupnya. Dengan filsafat seseorang akan memiliki prinsip hidup yang dipegang teguh dalam menghadapi suatu masalah. Filsafat merupakan sikap seorang yang cinta kebijaksanaan yang mendorong pikiran seseorang untuk terus menerus maju dan mencari kepuasan pikiran, tidak merasa dirinya ahli, tidak menyerah kepada kemalasan, terus menerus mengembangkan penalarannya untuk mendapatkan kebenaran.
2)    Filsafat sebagai metode berpikir diartikan sebagai cara/metode/strategi dalam memecahkan/mengkaji suatu  masalah. Filsafat merupakan salah satu metode dalam mencari kebenaran. Metode yang digunakan filsafat adalah dengan mengembarakan pikiran dengan melakukan analisis-sintesis terhadap masalah, sehingga dihasilkan kesimpulan. Filsafat merupakan suatu cara untuk menemukan jawaban dari pertanyaan hakiki (WHO, WHAT, WHEN, WHERE, WHY, dan HOW) dengan menggunakan prinsip- prinsip dari semua cabang ilmu pengetahuan yang berdasarkan logika dan dapat diterima dengan akal sehat tanpa didasari perasaan.
3)    Filsafat sebagai kelompok teori/ilmu pengetahuan memandang filsafat dari segi hasil pemikirannya. Filsafat berupaya mencari kebenaran yang akan dijadikan sebagai suatu “value” atau nilai tertentu, yang digunakan dalam memecahkan/mengkaji masalah. Nilai-nilai yang dihasilkan akan digunakan sebagai pedoman/pandangan/pegangan hidup seseorang dalam berpikir, bersikap dan bertindak, dengan harapan, pola pikir, sikap, dan tindakannya adalah baik/benar/bijak.



Beberapa pendapat ahli filsafat berikut ini mendukung paparan di atas.
1.    Plato (427SM - 347SM)
Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2.    Aristoteles (384 SM - 322SM)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
3.    Al-Farabi (meninggal 950M)
Seorang filusuf muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang hakiki.

Dari tiga sudut pandangan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian filsafat adalah:
1.    Sikap dan perilaku manusia dalam mencintai/menyenangi suatu kebenaran/kebijaksanaan, kemudian berupaya mencapai kebenaran/kebijaksanaan itu, selanjutnya mengamalkan kebenaran/kebijaksanaan itu bagi dirinya dan orang lain.
2.    Suatu upaya mencari kebenaran/kebijaksanaan dengan cara berpikir secara rasional, kritis, radikal, dan sistematis. Dalam memahami kebenaran/kebijaksanaan tersebut dilakukan dengan mengajukan pertanyaan mendasar: WHO, WHAT, WHEN, WHERE, WHY, dan HOW.
3.    Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan dijadikan pandangan/pegangan/prinsip hidup yang dijadikan pedoman manusia dalam berfikir, bersikap, dan bertindak menjalani kehidupan.
4.    Bagi guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, memahami filsafat sangat bermanfaat bagi landasan profesinya. Implementasi filsafat bagi guru pendidikan jasmani dapat dijumpai dalam memecahkan suatu masalah. Misalnya dalam mengkaji hakikat pendidikan jasmani dan olahraga,  filsafat dapat digunakan, yaitu dengan mengajukan pertanyaan mendasar:
a)    Apa pendidikan jasmani dan olahraga itu? Apa perbedaan dan persamaannya?
b)    Mengapa perlu menyajikan pendidikan jasmani dan olahraga bagi peserta didik?
c)    Siapa saja yang terlibat dalam pendidikan jasmani dan olahraga?
d)    Dimana pendidikan jasmani dan olahraga dilaksanakan?
e)    Bagaimana cara menyelenggarakan pendidikan jasmani dan olahraga?
f)     Kapan pendidikan jasmani dan olahraga diselenggarakan?

Dengan mengajukan pertanyaan mendasar tersebut dan berupaya menjawabnya, guru pendidikan jasmani akan memperoleh kebenaran tentang hakikat pendidikan jasmani dan olahraga. Kebenaran yang diperoleh dari hasil berfilsafat, dijadikan dasar dalam berpikir, bersikap, dan bertindak dalam mengambil keputusan tentang penyelenggaraan pendidikan jasmani dan olahraga, dengan demikian penyelenggaraan pendidikan jasmani dan olahraga dapat dipertanggungjawabkan dengan baik dan benar.

3.    Tujuan dan Manfaat Filsafat
Tujuan dan manfaat  filsafat dapat dipaparkan sebagai berikut.
a)    Memperoleh pengetahuan atau pemahaman  yang komprehensif tentang suatu hal, yang kemudian dapat dijadikan sebagai sistem nilai dalam mengkaji atau memecahkan suatu masalah terkait.
b)    Melatih sesorang untuk berpikir secara sistematis, rasional, radikal, dan universal dalam menyikapi suatu masalah. Dengan demikian seseorang/pelaku filsafat tersebut akan teruji ketajaman dan keluasan pikirannya, ketelitian dan kehati-hatian dalam berpikir, bersikap dan bertindak, kesalehan dan kesantunan dalam berinteraksi dengan sesama, serta meningkatnya kendali diri. Titik akhir dari semua itu adalah terwujudnya insan yang arif/bijaksana.
c)    Dengan berfilsafat seseorang akan dapat memperoleh kepuasan, ketenangan pikiran dan kemantapan hati karena telah mendapat kebenaran/kebijaksanaan. Tujuan  filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran yang digunakan sebagai dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik, bagaimana ia dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia.
d)    Bagi guru pendidikan jasmani, dengan berfilsafat akan menjadikannya sosok yang kritis-reflektif, yang ditandai dengan kemudahan memahami konsep-konsep yang ada, mampu menjalankan prosedur-prosedur tertentu, tidak gegabah dalam berfikir, bersikap, dan bertindak, dan mampu menghasilkan kinerja yang baik, yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional.

4.    Aplikasi Filsafat Dalam Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Berdasar definisi filsafat di atas penerapan filsafat dalam pendidikan jasmani dan olahraga dapat dipaparkan sebagai berikut.
a)    Dengan filsafat, makna hakiki pendidikan jasmani dan olahraga dapat terjelaskan. Hal itu memudahkan pelaku pendidikan jasmani dan olahraga dalam merumuskan arti, fungsi, dan tujuan dari pendidikan jasmani dan olahraga, sehingga dapat dieliminir tindakan-tindakan yang menyimpang dari makna hakiki tersebut.
b)    Dengan filsafat, bidang kajian pendidikan jasmani dan olahraga dapat terjelaskan. Hal itu membantu guru dalam menyusun serangkaian materi dan kegiatan pembelajaran/pelatihan yang relevan, dan menghindari adanya tumpang tindih cakupan dengan bidang ilmu lain.
c)    Dengan filsafat, pelaku pendidikan jasmani dan olahraga memiliki daya pikir, sikap, dan tindak yang tepat/benar dalam menghadapi suatu persoalan. Melalui pembelajaran filsafat maka seseorang akan mampu pandangan hidup sebagai pedoman hidup. Filsafat sebagai pedoman hidup memberikan semacam panduan jalan yang harus dilalui oleh seseorang sehingga ia dapat melihat hidup itu menjadi bermakna.
d)    Dengan berpikir secara filsafati maka pelaku pendidikan jasmani dan olahraga dapat memecahkan persoalan-persoalan hidup yang dihadapi. Filsafat sebagai pandangan hidup dapat digunakan oleh guru/pelatih untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang ada di sekitar dirinya.
e)    Dengan berpikir secara filsafati, guru/pelatih dengan bantuan logika tidak mudah untuk tertipu dengan pernyataan-pernyataan retoris yang bersifat menyesatkan.
f)     Dengan berpikir secara filsafati maka guru/pelatih mampu menghargai pendapat dan pemikiran orang lain, baik yang memiliki persamaan maupun perbedaan dengan dirinya. Berpikir filsafat berarti berpikir demokratis. Ini berarti bahwa dalam berpikir filsafat, orang dilatih untuk menghargai pendapat atau pemikiran orang yang berbeda dari dirinya. Orang yang memiliki kemampuan berfilsafat yang tinggi akan menghargai kebenaran berpikir yang diyakini oleh orang lain seperti juga ia menghargai kebenaran berpikir yang diyakini oleh dirinya. Dalam hal ini perbedaan pendapat dan perbedaan pemikiran dianggap sebagai suatu eksistensi wacana berpikir yang bersifat dialektika sebagai upaya manusia sebagai makhluk berpikir untuk mencari kebenaran.

B.   PENERAPAN FILSAFAT DALAM MENGKAJI PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA
1.    Konsep Pendidikan dan Pendidikan Jasmani
Pendidikan jasmani dan olahraga merupakan dua istilah yang di Indonesia penggunaannya sering silih berganti. Olahraga merupakan istilah asli Indonesia yang sebetulnya mirip dengan pengertian pendidikan jasmani “physical education”, hanya saja penggunaan istilah olahraga lebih banyak di lingkungan masyarakat, sedangkan Pendidikan jasmani (physical education) penggunaannya lebih banyak di lingkungan persekolahan.
Olahraga merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang mencerminkan nilai dan juga sebagai komponen budaya. Shields dan Bredemeier (1995: 1) menjelaskan bahwa sport merupakan “ . . . a highly symbolic and condendsed medium for cultural values,  a vehicle by which many young people come to learn about the core value.   Kata kunci dalam ungkapan tersebut adalah “highly symbolic” dan “core values”. Olahraga dianggap sebagai pengejawantahan cara hidup nyata, dan wahana bagi anak muda untuk belajar nilai-nilai inti.   Prof. Riysdorp, (dalam Lutan 2004) mengatakan bahwa konsep olahraga yang dianut oleh bangsa Indonesia sangat tepat. Olahraga, kata Riysdorp, terdiri dari dua kata, “olah” dan “raga”. Olah, seperti lazim digunakan untuk menyebut proses mengolah tanah dalam pertanian, atau mengolah bahan makanan sehingga menjadi lezat, setara dengan kata “cultivization” dalam bahasa Inggris, yang maknanya dekat sekali dengan makna kata “education” yang diterjemah ke dalam bahasa Indonesia, bermakna pendidikan.
Selanjutnya kata raga lebih menunjuk kepada makna luas, kesatuan jiwa dan raga, yang bersandar pada filsafat monism. Karena itu di bagian lain Risydorp menjelaskan misi pendidikan jasmani merupakan proses pembinaan dan sekaligus pembentukan yang diungkapkannya dalam istilah forming yang arti secara utuhnya sama dengan pengertian dari kata educating dalam istilah Physical  Education.
Implikasi dari pandangan tersebut adalah kita sering menjumpai pengertian pendidikan sebagai proses pengalihan nilai budaya dari generasi tua ke generasi muda. Dalam pembahasannya tentang landasan budaya pendidikan Pai (1990: 4) menjelaskan,  dari perspektif budaya pendidikan itu dapat ditilik sebagai “  . . . a deliberate mean by  which each society attempts to transmit and perpetuate its notion of good life, which is derived from the society’s fundamental beliefs concerning the nature of the world, knowledge, and values.” Upaya sadar dan sengaja serta bertujuan itu dimaksudkan untuk mengalihkan dan sekaligus menanamkan makna hidup yang baik, yang diangkat dari kepercayaan dan keyakinan masyarakat yang sangat mendasar tentang hakikat dunia, pengetahuan dan nilai.
Pendidikan jasmani merupakan terjemahan dari physical education. Penafsiran dan implementasi pendidikan jasmani di sekolah seringkali terjadi perbedaan. Tafsiran pertama, sering disebut sebagai pandangan tradisional, menganggap bahwa pendidikan jasmani hanya semata-mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap, penyeimbang, atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Menurut pandangan ini, pelaksanaan pendidikan jasmani cenderung mengarah kepada upaya memperkuat badan; memperhebat keterampilan fisik, atau kemampuan jasmaniahnya saja. Bahkan lebih dari itu, pelaksanaan pendidikan jasmani ini justru sering kali mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri, seperti penggunaan obat-obat terlarang untuk meraih performa yang lebih baik. Namun berdasarkan sudut pandang pendidikan, pandangan ini tidak mendapat pengakuan. Analisis kritis dan pertimbangan logis ternyata kurang mendukung terhadap pandangan dikhotomi tersebut. Fakta dan temuan lapangan cenderung memperkuat pandangan yang bersifat holistik.
Pandangan holistik mengganggap bahwa manusia bukan sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang terpilah-pilah. Manusia adalah kesatuan dari berbagai bagian yang terpadu. Oleh karena itu pendidikan jasmani tidak dapat hanya berorientasi pada jasmani saja atau hanya untuk kepentingan satu komponen saja. Sebagaimana disebutkan dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, 2006), sebagai berikut

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalam lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.


Definisi yang relatif sama, juga dikemukakan oleh Pangrazi dan Dauer (1992) sebagai berikut, “Physical education is a part of the general educational program that contributes, primarily through movement experiences, to the total growth and development of all children. Physical education is defined as education of and through movement, and must be conducted in a manner that merits this meaning”. Apabila definisi pendidikan jasmani ini dielaborasi dan dikaitkan dengan kurikulum pendidikan jasmani yang berlaku di Indonesia dewasa ini (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KTSP), penulis sering mengilustrasikannya seperti dalam gambar berikut ini.
Pendidikan jasmani adalah pendidikan melalui dan tentang aktivitas fisik atau dalam bahasa aslinya adalah Physical education is education of and through movement. Terdapat tiga kata kunci dalam definisi tersebut, yaitu 1) pendidikan (education), yang direfleksikan dengan kompetensi yang ingin diraih siswa 2) melalui dan tentang (through and of), sebagai kata sambung yang menggambarkan keeratan hubungan yang dinyatakan dengan berhubungan langsung dan tidak langsung dan 3) gerak (movement), merupakan bahan kajian (aktivitas permainan, aquatik, rithmik, uji diri, dsb) sebagaimana tertera dalam kurikulum pendidikan jasmani.

NB : INGIN VERSI LENGKAPNYA SILAHKAN REQUEST DIKOLOM KOEMNTAR.........................
 

0 Response to "FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRGA"

Post a Comment