iklan

MAKALAH OLAHRAGA PENGERTIAN RENANG DAN TEKNIK DASAR



A.  PENGERTIAN RENANG
Olahraga renang merupakan aktivitas yang dilakukan di air dengan berbagai macam bentuk dan gaya yang sudah sejak lama dikenal banyak memberikan manfaat kepada manusia. Manfaat yang ada pada aktivitas olahraga renang tersebut antara lain adalah untuk memelihara dan meningkatkan kebugaran, menjaga kesehatan tubuh, untuk keselamatan diri, untuk membentuk kemampuan fisik seperti daya tahan, kekuatan otot serta bermanfaat pula bagi perkembangan dan pertumbuhan fisik anak, untuk sarana pendidikan, rekreasi, rehabilitasi serta prestasi.
Renang telah dikenal sejak zaman pra-sejarah yang dapat dilihat bukti-bukti dari pahatan-pahatan batu berbentuk gambar orang sedang berenang baik dimakam-makam maupun di candi-candi orang Assyria, Yunani dan Roma Purba.Gerakan renang merupakan salah satu gerakan tertua di dunia (disamping gerakan jalan, lari, lompat, lempar dan memanjat).Gerakan renang tersebut muncul sebagai tuntutan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk mempertahankan diri. Pada umumnya gerakan renang ini sudah ada pada manusia yang tinggal di dekat laut, danau, dan sungai.
Olahraga renang adalah kegiatan olahraga yang dilakukan baik oleh putra maupun putri yang dilakukan secara individual maupun beregu, terdiri dari empat gaya yang diperlombakan dalam setiap perlombaan baik itu Nasional, Regional maupun Internasional yaitu: gaya bebas (freestyle), gaya punggung (backstroke), gaya dada (breatstroke) dan gaya kupu-kupu (butterfly), terdiri atas 40 nomor perlombaan yang terdiri dari 20 nomor untuk putra dan 20 nomor untuk putri. Perserikatan berenang seluruh Indonesia  (PBSI) dibentuk pada tanggal 24 maret 1951.Pada tahun 1952 PBSI menjadi anggota resmi Federasi renang dunia, Federation  Internasionale de Natation Amateur (FINA) dan menjadi anggota resmi internasional olympic commite(IOC).Tahun 1959 PBSI menjadi PRSI (persatuan renang seluruh Indonesia) agar tidak sama dengan persatuan bulutangkis Indonesia. Federasi Renang Internasional (Fédération Internationale de Natation, disingkat FINA) merupakan induk organisasi internasional olahraga renang. Organisasi ini diakui oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Selain renang, FINA juga merupakan induk organisasi internasional polo air, selam, renang indah, dan renang perairan terbuka. Markas besar FINA berada di Lausanne, Swiss. Induk organisasi olahraga renang, renang perairan terbuka, selam, polo air, dan renang indah di setiap negara dan teritori berhak menjadi anggota FINA. Selain mengadakan kejuaraan internasional dan regional, FINA berusaha memajukan olahraga renang di seluruh dunia, antara lain dengan menambah jumlah fasilitas olahraga renang. FINA bertugas membuat peraturan internasional untuk kejuaraan renang, renang perairan terbuka, selam, polo air, dan renang indah.

B. MEKANIKA DALAM RENANG
Di dalam olahraga renang terdapat suatu prinsip ekonomi mengeluarkan modal sekecil mungkin dan memperoleh untung sebesar mungkin. Demikian pula dalam renang memiliki prinsip yang sama mengeluarkan tenaga sekecil mungkin, dan memperoleh daya laju yang seoptimal mungkin. Karena dalam gerakan renang melalui  momentum di air sebagai akibat dari penyelaman dan dorongan. Tujuan berenang yang efiseien adalah menjaga momentum sekonstan mungkin. Ketika perenang menggunakan kekuatan pada air, menyebabkan tubuh melaju dan secara simultan menghasilkan friksi resistensi pada air sehingga menyebabkan daya laju melambat. Momentum lebih besar, akan lebih mempercepat laju perenang, dan lebih mengefisienkan tenaga perenang sehingga tuntutan pengeluaran energi menjadi lebih rendah. Untuk mengimplementasikan prinsif tersebut, diperlukan penerapan pengetahuan khusus yaitu teori mekanika (hydrodinamika) renang.
Prinsip-prinsip mekanika renang ini perlu dipahami oleh pelatih selain untuk diterapkan bagi dirinya sendiri untuk mempermudah mempelajari praktek keterampilan renang dalam perkuliahan, juga sebagai bahan pengetahuan untuk mengajar atau melatih. Ada beberapa prinsip mekanika yang harus diperhatikan dan dipahami dalam renang: Daya Apung (buoyancy), dorongan (propulsion), dan hambatan (resistance). Pembahasannya sebagai berikut:

1.  Daya Apung (Buoyancy)
            Dalam olahraga renang dituntut tubuh untuk dalam kondisi terapung. Untuk mempertahankan daya apung dalam air perlu memperhatikan prinsip atau hukum Archimedes. Hukum archimedes menyatakan: Bila sebuah benda berada dalam air, benda akan mendapatkan tekanan ke atas yang besarnya sama dengan berat air yang dipindahkan oleh benda tersebut.
·      Jika berat jenis = 1, artinya gaya berat dan gaya apung sama seimbang, maka tubuh berada di tengah-tengah dalam permukaan air (melayang).
·      Jika berat jenis > 1, artinya gaya berat lebih besar dari gaya apung, maka tubuh akan turun tenggelam sampai ke dasar kolam. Lihat (Gambar 1)

Gambar 1. Posisi dan Kondisi Tubuh Didalam Air.

Ada tiga macam tipe bentuk tubuh manusia yaitu: endomorph, mesomorph, dan ectomorph. Adapun ciri-ciri ketiganya sebagai berikut:   1) Endomorph yaitu: pendek, gemuk, bulat; 2) Mesomorph yaitu: atletis, otot-otot bahu kuat, berdada bidang; 3) Ectomorph yaitu: tinggi, ramping, berotot kecil.

2. Titik Berat dan Titik Apung
Selain oleh faktor komposisi atau tipe tubuh seseorang, kemampuan seseorang dapat mengapung ke atas permukaan air, juga ditentukan oleh letak titik berat dan titik apung.  (Perhatikan gambar 2) berikut:







Gambar (2.a) menunjukkan titik berat berada di bawah titik apung, orang tersebut kakinya cenderung turun ke bawah.Gambar (2.b) menunjukkan titik berat dan titik apung sama sejajar berhimpitan, orang tersebut dapat terapung datar di atas permukaan air.Gambar (2.c) menunjukkan titik berat berada di atas titik apung, orang tersebut cenderung kepalanya akan turun ke bawah.

Untuk dapat mengontrol keseimbangan agar tubuh dapat mengapung ke atas permukaan air, maka seluruh kondisi tubuh harus benar-benar rileks dari mulai ujung kaki hingga kepala dan membentuk posisi tubuh sehorizontal mungkin. Bila kaki tegang atau lutut membengkok, maka tubuh bagian bawah anda akan turun. Bila pinggul anda membengkok, maka tubuh bagian tengah anda akan turun. Dan bila kepala anda terlalu menekan ke belakang atau menunduk, maka tubuh bagian atas anda akan turun.

3.  Dorongan (Propulsion)
Untuk menghasilkan daya dorong tubuh maju ke depan, dalam renang dihasilkan dari dua daya kekuatan (power force yaitu: yang dihasilkan dari kekuatan tarikan gerakan lengan, dan dari gerakan cambukan atau dorongan kaki). Kedua daya kekuatan dilakukan bergerak secara simultan, seirama, dan sinkron, akan menghasilkan daya dorong tubuh bergerak maju secara optimal. Daya dorong yang dihasilkan dari tarikan lengan mengalami beberapa fase perkembangan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan (science). Adapun penggunaan  pendekatan teorinya berdasarkan pada aspek-aspek berikut:
Mekanisme drag propulsion. Secara teoritis pendekatannya menggunakan hukum Newton III, (aksi-reaksi). Adanya aksi akan menghasilkan reaksi yang berbanding lurus. Besarnya tolakan yang dilakukan dengan lengan atau kaki ke belakang menyebabkan reaksi dorongan tubuh kita maju ke depan yang sama besarnya dengan aksi yang di keluarkan. Untuk lebih jelasnya (lihat gambar 3) di bawah ini.

Gambar 3. Teori Drag-Propulsion (Aksi dan reaksi)

·      Mekanisme pola gerak renang tradisional.
Sebagai ilustrasi contoh pada roda kincir air dan posisi gerakan lengan pada gaya bebas perhatikan (gambar 4) berikut:

Gambar 4. Pola Gerak Renang Tradisional

Pada saat melakukan kayuhan, posisi tangan lurus. Dengan posisi tangan seperti ini, aksi yang terjadi ke bawah, serong, dan ke atas. Akibatnya akan menghasilkan reaksi sebaliknya ke atas, serong, dan ke bawah. Sehingga akan terjadi tubuh bergerak melaju dengan naik-turun bergelombang. Dalam mekanisme tersebut daya dorong (propulsive force) tidak mengarah lurus ke depan menyebabkan berenang tidak efektif dan efisien.
Kerugian:
a)    Lengan dengan posisi lurus akan memperbesar drag, sehingga sulit untuk mempercepat frekuensi perputaran lengan. Bila frekuensi perputaran lengan berkurang, maka kecepatan renang berkurang.
b)    Karena dragnya besar, maka memerlukan pengeluaran tenaga yang besar. Dengan mengeluarkan tenaga yang besar secara terus menerus, menyebabkan tenaga cepat terkuras sehinggan akan lebih cepat kehabisan tenaga.
Pada masa tradisional, pngembangan teknik renang terus ditingkatkan untuk mendapatkan renang yang efiseien. Pola tarikan lengan posisi lurus untuk menghilangkan aksi ke atas, ke samping, dan ke bawah, sehingga arah gerak tubuh lebih terfokus ke depan, dengan cara merubah bentuk posisi tangan menjadi ditekuk ke dalam. Ilustrasinya bisa dilihat pada contoh (Gambar 5) berikut: 


Gambar 5. Perbaikan Bentuk Lengan Gaya Bebas,
Lengan Ditekuk ke Dalam.

Pada mekanisme pola gerak renang seperti di atas, dengan cara membengkokkan lengan ke dalam, sementara drag dapat diminimalisir dan frekuensi putaran lengan dapat ditingkatkan atau diperbanyak sehingga kecepatan meningkat dan arah aksi dorongan (propulsive action) lebih terfokus ke depan. Dengan cara melakukan tarikan tangan berada pada jalur yang sama, akan terjadi melakukan tarikan tangan pada arus air yang mengalir ke belakang apalagi jika pada frekuensi tangan yang cepat arus air (laminar) makin cepat. Jika terjadi demikian, tarikan tangan berikutnya akan menemukan tarikan yang hampa atau selip disebabkan air sebagai tumpuan atau dragnya menjadi berkurang. Demikian pula pada saat memulai tarikan tangan di depan, menghasilkan cekungan (Curvature) air. Ini akan menimbulkan daya isap (suction of force) dan juga dapat memperberat gerak mendayung. Masalah lain juga timbul ketika tarikan tangan berakhir di belakang, terjadi pusaran air (turbulance) dan ini menimbulkan hambaatan (resistance). Untuk lebih jelasnya lihat (gambar 6) berikut:

Gambar (6a). Menunjukkan Terjadinya Pusaran (Turbulance) Air di Depannya Saat Tangan Menarik ke Belakang.  Gambar (6b). Menunjukkan Ruang Kosong atau
 Terjadinya Ruang Hampa (Kurvature) Air di Depan.


Gambar 7. Gaya Angkat Pada Posisi Telapak Tangan Perenang
Pada Saat Melakukan Gerakan Sapuan Kurang Lebih Kemiringan 45º.

Hasil pembaharuan dari teori Lift atau daya angkat sebagai berikut:
1.  Pola gerakan tangan tidak lurus dari depan ke belakang, tetapi melengkung berbentuk ellips.
2.  Posisi lengan tidak lurus, tetapi ditekuk ke dalam dan memanfaatkan bagian-bagian (segmen) anggota lengannya yang berputar pada poros longitudinalnya.
3.  Kayuhan (stroke) tidak mendorong ke belakang, (push), tetapi menyisir (sweep) ke samping kiri, kanan – atas, bawah, sedikit ke belakang.
4.  Kayuhan tidak lagi pada air yang bergerak ke belakang, tetapi pada air yang diam.
5.  Daya angkat (lift) terjadi berdasarkan prinsip atau efek bernouille.

4. Hambatan (Resistance)
Dalam berenang disamping berupaya mendorong tubuh untuk melaju, juga kita harus mampu menghindari atau meminimalisir tahanan atau hambatan air yang dapat menimbulkan daya laju tubuh menjadi terhambat. Karena substansi peningkatan kemampuan renang adalah meningkatkan renang yang efisien dengan cara meningkatkan kemampuan daya dorong ke depan dan mengurangi hambatan kontra dari air terhadap tubuh seminimal mungkin. Hambatan dapat terjadi akibat dari bentuk aliran air dan karena tubuh perenang.
Pertemuan drag dengan tubuh perenang akan menghasilkan sejumlah pusaran air (turbulance) yang berbanding lurus dengan bentuk tubuh yang diciptakannya.  Ketika air sedikit yang berputar, hanya sedikit arus air yang diganggu dengan demikian sejumlah hambatan yang menarik jadi sedikit.  Apabila pusaran air besar, sejumlah arus air yang mengalir banyak yang terganggu sehingga memperbesar daya lambat.  Apabila pusaran air telah selesai, kemudian aliran air dibentuk kembali.  Perenang harus membuka lubang air agar tubuhnya dapat melewati air.  Lubang ini akan menghasilkan bagian yang kosong dan akan menghasilkan putaran yang deras.  Putaran molekul ini disebut eddy currents“ (arus eddy).  (Lihat gambar 8).

Gambar (8a) Menunjukkan Aliran Air Bertemu Dengan Bentuk Yang Bagus karena kedua ujungnya lonjong. Gambar (8b). Aliran Air Ketika Bertemu Dengan Bentuk Persegi Empat Sehingga Menghasilkan
Pusaran Air (Turbulance).


Gambar (8c). Menunjukkan Aliran Air laminar dan Turbulance Yang Dihasilkan Dari Gerakan Tubuh Perenang.

Pengaruh ukuran, bentuk dan kecepatan melawan drag menimbulkan aliran air terganggu antara lain: 1) Tempat/ruang atau ukuran dia ketika berada di dalam air; 2) Bentuk tubuh yang ditampilkan ketika di air; 3) Kecepatan pergerakan perenang.

5. Pengaruh Ruang atau Ukuran
Ruang yang diciptakan oleh perenang dapat berbentuk lateral dan vertikal.  Perenang yang berenang dengan posisi tubuh meliuk-liuk ke sisi kiri atau kanan akan menciptakan ruang ke arah lateral. (lihat Gambar 9).  Perenang yang melakukan gerakan kakinya terlalu ke bawah misalnya pada gaya bebas, akan menciptakan ruang ke atas ke bawah,  menyebabkan tubuh tidak horizontal.


Gambar (9a).  Menunjukkan gerakan perenang yang  benar lurur tidak mengambil banyak ruang.  Gambar (9b) Gerakan perenang yang megambil ruang ke sisi kiri dan ke kanan.Gambar (9c) menunjukkan gerakan perenang yang mengambil ruang secara vertikal ke atas dan ke bawah.  Gambar (9d) menunjukkan sikap posisi badan yang benar atau lurus.

6. Pengaruh Bentuk
Tubuh perenang sudah terbentuk tidak seperti perahu atau pesawat namun dalam melakukan aktivitas renang, si perenang dalam mengatur tubuhnya ketika di air harus dapat menerapkan prinsip hydrodinamik atau aerodinamik, dengan cara mengatur teknik gerak (technicomotor) yang benar. Posisi tubuh dan teknik-teknik gerak yang benar dapat mengurangi terjadinya ruang atau bentuk tubuh yang tidak beraturan. Misalnya, melunjurkan (strech) lengan ke depan setelah entry pada gaya bebas, gaya dada atau gaya yang lainnya. (Lihat gambar 10).

Gambar (10a)  Menunjukkan Perenang membentuk tubuhnya Seperti kapal Laut.  Gambar (10b). Menunjukkan Bentuk Kapal Laut
Berbentuk Hydrodinamis.

7. Pengaruh Kecepatan
Pengaruh lainnya dapat menimbulkan drag adalah, kecepatan perenang melalui air. Perenang pemula yang masih belum mahir berenang atau dengan cara berenang yang sederhana, akan memiliki drag yang lebih besar, dibandingkan dengan perenang yang sudah mahir.  Kecepatan berenang akan membuat aliran air mengalir secara mulus.
Menurut para akhli terdapat tiga macam drag yang dapat mempengaruhi penampilan perenang yaitu:  bentuk (form), gelombang (wave), dan gesekan (friction), sebagai berikut:
1.    Form drag adalah jenis tahanan yang dihasilkan akibat bentuk orientasi  tubuh perenang ketika bergerak ke depan melewati air. Seperti telah disebutkan bahwa perenang harus membentuk tubuh mereka sehorizontal atau seramping mungkin. 
2.    Wave drag adalah, gelombang air yang terjadi karena konstruksi kolan yang kurang baik, atau karena diakibatkan oleh pergerakan yang diciptakan perenang lain. Gelombang ini bisa diciptakan dengan cara menundukkan ke pala ke atas- ke bawah, atau karena gerakan lengan pada saat recovery atau oleh gerakan kaki perenang. Gelombang air yang besar disekitar perenang dapat menghasilkan drag dari berbagai arah dan dapat mempengaruhi daya laju.
3.    Frictional drag adalah tahanan yang terjadi karena adanya gesekan kulit perenang dengan air.  Hal ini dapat menyebabkan menghasilkan beberapa molekul-molekul air yang panjang di sekitar tubuh mereka.  Molekul-molekul ini saling bertabrakan dengan cepat di depan dan memantul ke luar dengan arah yang tidak beraturan. Molekul ini dapat mengganggu aliran air (laminar) yang menyebabkan membentuk pusaran besar (turbulance) sehingga meningkatkan drag.  

8. Beberapa Prinsip Dalam Renang Yang Harus Diperhatikan yaitu:

a. Prinsip Hukum Kuadrat Teoritis
Hambatan badan yang timbul dalam air akan berubah  menurut kuadrat dari kecepatannya. Suatu contoh langsung menurut hukum ini adalah terlalu cepatnya seorang perenang melakukan entry setelah recovery. Bila seorang perenang memasukan tangannya ke air dua kali kecepatan sebelumnya, akan menyebabkan hambatan maju ke depan sebesar empat kali.  Karena itu melakukan recovery  dan entry yang tergesa-gesa, bukan hanya akan mengganggu ritme, melainkan juga akan menambah resisten majunya tubuh.

b. Prinsip Pemindahan Momentum
Prinsip momentum adalah, mengalihkan momentum dari satu gerak tubuh ke bagian tubuh yang lainnya. Dalam mekanisme gerakan renang prinsip momentum banyak dipergunakan.  Misalnya momentum yang dilakukan oleh lengan  untuk dapat menjangkau sejauh mungkin saat melakukan entry pada gaya bebas, dapat dibantu dengan cara menaikan bahu  ke permukaan air.

C. PENGENALAN AIR DAN PERMAINAN AIR
Dalam kegiatan ini melatih pengenalan air dan permainan di air yang meliputi, bentuk pengenalan air dan bentuk permainan di air. Bentuk-bentuk latihan pengenalan air dan permainan di air ini sebagai dasar dari latihan latihan renang, seperti sikap tubuh, gerak tungkai/kaki, gerak lengan/tangan, gerak mengambil nafas, dan koordinasi gerak. Jika latihan pengenalan air dan permainan di air ini kurang dikuasai dengan baik, maka dalam melatih sikap tubuh, gerak tungkai/kaki, gerak lengan/tangan, gerak mengambil nafas, dan koordinasi gerak tidak akan berhasil dengan baik.

1. Pengenalan Air
Bentuk-bentuk pengenalan terhadap air dapat dibagi daIam beberapa pokok kegiatan, disesuaikan dengan tujuannya.
Masuk ke dalam air:
1)    Rendam tubuh sebatas leher, kemudian basahi muka dengan kedua tangan berulang-ulang.
2)    Duduk di dasar kolam, kepala tetap di atas permukaan air,telapak tangan letakkan di samping kiri dan kanan paha.
3)    Melompat-lompat di dalam air dengan kedua kaki rapat, gerakannya pendek, dan lakukan secara berulang-ulang di tempat.
a. Berjalan
1)    Berjalan dengan lutut ditekuk dan tangan diayun di dalam air, lakukan ke arah depan berulang-ulang.
2)    Berjalan biasa ke arah depan dan belakang, lakukan berulang-ulang secara berpasangan atau bergandengan.
3)    Berjalan dengan langkah panjang dan pendek ke arah depan dan belakang, lakukan sendiri-sendiri secara berulang-ulang.
4)    Berjalan ke arah depan dengan menendangkan kaki secara bergantian, dan lakukanlah secara berulang-ulang.
b. Mengambil Nafas
1)    Badan dibungkukkan ke depan, mulut di bawah permukaan air, tiupkan udara dari mulut sehingga tampak ada riakan air.
2)    Tiupkan bola pingpong di permukaan air, lakukan terus-menerus sambil berjalan membungkuk.
3)    Tarik napas sedalam-dalamnya dengan mulut dibuka selebar-lebarnyanya, tahan nafas, masukkan muka ke bawah permukaan air, tiupkan udara ke dalam air dengan membuka mulut setengahnya, lakukan secara berulang kali.
4)   Lakukan mengambil nafas naik turun di atas dan di bawah permukaan air sebanyak 5 -10 kali dengan mata di dibuka.
5)   Tarik nafas sedalam-dalamnya, kemudian menyelam dan keluarkan melalui mulut dan hidung sedikit demi sedikit, lakukan selama 5 detik. Lakukan secara berulang-ulang.
6)   Cara mengeluarkan udara di dalam air ada dua, yaitu secara sedikit demi sedikit (trickle) dan sekaligus (explosive).
7)   Saling berhadapan dengan partner, berpegangan tangan, bergerak naik turun ke dalam air secara bergantian.
8)   Lama-lamaan menyelam secara bergantian dan mencoba menghitungnya, berapa banyak jumlah hitungannya.
c. Mengapung
     Belajar mengapung berkaitan dengan hukum Archimedes
1)    Mengapung merupakan latihan keterampilan penyelamatan diri yang sangat penting di air. Kemampuan mengapung dalam posisi telentang dan telungkup sangat penting dalam pembentukan rasa percaya diri.
2)    Saling berhadapan dengan partner, condongkan badan ke depan secara perlahan-lahan, buka keduatungkai kaki dan lengan sehingga mengapung seperti bentuk bintang. Partnernya memberi bantuan dengan menyambut telapak tangannya bilamana mengalami kesulitan, kemudian lakukan latihan seperti itu secara sendiri-sendiri.
3)    Saling berhadapan dengan partner, latihan seperti tadi hanya sekarang posisi badan telentang, partnernya menahan bagian belakang kepala, jika temannya mengalami kesulitan pada saat latihan, atau pada saat sulit bangun ke posisi berdiri kembali.
Latihan diulang-ulang sampai latihan betul-betul dikuasai.
4)    Latihan mengapung dengan mengubah sikap telentang ke sikap telungkup. Gerakan kepala ke atas atau tekuk lutut dan tarik tumit ke belakang.
d. Meluncur
1)    Berdiri tegak, kedua lengan lurus ke atas dirapatkan.
2)    Bungkukkan tubuh ke depan, dada sampai mengenai permukaan air.
3)    Tolakan salah satu kaki ke dinding tembok, pertahankan sikap moluncur sampai berhenti. Ulangi laiihan ini sampai 8 kali. Bila dengan jumlah latihan itu belum mahir, terus diulangi lagi.
4)    Pada saat meluncur, tubuh dikatakan seimbang jika titik gaya berat dan titik gaya apung terletak pada satu garis vertikal.
e. Melompat
Bentuk latihan melompat, dapat dilakukan jika latihan mengapung di tempat sudah dikuasai dengan baik. Caranya dapat dilakukan pada posisi berdiri, kemudian condongkan badan ke belakang kemudian melompat dengan  mempertahankan  sikap mengapung. Lakukan  latihan ini sampai rasa takutnya hilang, dan dapat mengatasi supaya air tidak masuk ke hidung.

2. Permainan di Air
Permainan di air bertujuan untuk pengenalan siswa terhadap air dengan  tanpa disadari. Dalam bermain siswa akan berjalan, berlari, meloncat ke depan, ke belakang, ke samping, dan kadang-kadang jatuh ke air. Dengan permainan siswa merasa  gembira, lupa, bahkan hilang rasa takutnya terhadap air. Tanpa disadari siswa telah mengenal sifat air, diantaranya dingin, benda air, memberikan tahanan baik ke atas atau ke depan yang cukup besar.
Dengan permainan ini perasaan takut terhadap air perlahan-lahan akan hilang dan timbulah percaya diri, sehingga akan mudah menerima bentuk-bentuk pelajaran berikutnya. Permainan ini dilakukan di kolam renang dengan kedalaman antara 1-1, 25 meter. Untuk keamanan, daerah permainan   ada pembatasnya, sehingga siswa tidak   ke luar dari batas permainan atau bergerak ke arah yang dalam.Macam-macam bentuk permainan di air. Diantaranya sebagai berikut:
a.   Lomba berjalan menggendong temannya
      Tujuan: Untuk melatih perasaan takut terhadap air.
      Cara pelaksanaan:
1)    Berpasangan dengan berat tubuh yang seimbang.
2)    Posisi siap di mana pasangan sudah digendong.
3)    Peluit dibimyikan, segera berlomba berjalan sampai ke ujung kolam 
4)    Penilaian,  siapa yang paling duluan sampai,  mereka menjadi juara, dan yang  paling belakangan sampai dihukum dengan tahan nafas di dalam air selama 10 hitungan. Supaya lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 11.
Lomba Menggendong di Air

b.   Permainan Hitam-Hijau
Tujuan: Untuk melatih kecepatan reaksi di air
      Cara pelaksanaan:
1)    Bentuk dua baris, saling berhadapan. Baris yang satu hitam, baris
yang lainnya hijau. Bila guru mengatakan hitam maka dengan
segera baris hitam lari, sedangkan baris yang hijau mengejar dan berusaha menepuk bahunya.
2)    Peraturan lari harus lurus ke depan.
3)    Jika tertepuk bahunya, maka yang hitam kalah
4)    Latihan diulang beberapa kali secara bergantian. Supaya lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.
Gambar 12.
Permainan Hijau-hitam

c.  Permainan Kucing dan Ikan
Tujuan: Untuk memupuk kerja sama dan melindungi yang lemah
     Cara pelaksanaan:
1)    Para siswa membuat Iingkaran di dalam air, saling berpegangan
tangan. Salah seorang siswa menjadi kucing  dan seorang lagi jadi ikan.
2)    Ikan diperbolehkan keluar-masuk Iingkaran, sedangkan  kucing   akan dihalang-halangi para siswa yang membuat Iingkaran.
3)    Sebelum permainan dimulai, kucing berada di luar Iingkara,
sedangkan ikan ada di dalam. Kucing   mencoba menangkap ikan.
4)    Bila ikan tertangkap permainan selesai, kucing dan ikan dipilih
siswa yang mahir bergerak. Supaya lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 13.
Permainan Kucing dan Ikan
d.   Permainan Berebut Mengambil Koin
Tujuan: Untuk Melatih Keberanian Menyelam di dalam air.
Cara pelaksanaan:
1)    Buat Iingkaran besar yang menghadap ke dalam.
2)    Guru akan melemparkan koin  ke tengah Iingkaran.
3)    Setelah peluit dibunyikan, sambil menyelam berebut mengambil koin. Supaya lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 14.
Permainan Berebut Koin
e.   Permainan Menghalau Racun
Tujuan: permainan ini agar mampu mengbadapi percikan air yang mengenai muka dan membiasakan membuka mata meskipun mata kena percikan air.
    Cara pelaksanaan:
1)    Buat lingkaran  masing-masing jumlahnya   10 orang.   Di  tengah
lingkaran diletakkan sebuah bola pingpong (sebagai racun).
2)    Keduatangan di samping badan siap untuk menyemburkan air ke
arah bola pingpong agar menjauhi.
3)    Peluit  dibunyikan,  serempak  menyemburkan   air  ke  arah   bola
pingpong. Siapa yang kena bola pingpong (kena racun) dihukum dengan tahan nafas didalam air selama 10 hitungan. Supaya lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 15. Permainan Menghalau Racun

f.    Permainan Lomba Motor Boat
Tujuan: Untuk mencoba keberanian mengapung sambil menggerak kaki.
     Cara pelaksanaan:
1)    Buat barisan 5 bersaf, masing-masing saf berjumlah 4 sampai 6 orang.
2)    Ketika peluit dibunyikan saf pertama meluncur dengan
menggerakkan kedua kakinya sehingga membuat buih putih di
belakang kakinya seperti buih dari motor boat.
3)    Selesai saf pertama dilanjutkan dengan saf berikutnya secara
bergiliran.
4)    Peraturan, siapa yang paling dahulu sampai itulah yang menang. Supaya lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.


Gambar 16.
Permainan Lomba Motor Boat
g.   Permainan Mendorong Buaya
Tujuan: mencoba keberanian meluncur dengan bantuan orang lain.
Cara pelaksanaan:
1)    Saling berpasangan, yang seorang mengapung dengan posisi
badan lurus, kedualengan lurus ke depan.
2)    Begitu peluit dibunyikan partnernya memegang keduapergelangan kaki sambil mendorong melepaskan pegangannya, partnernya meluncur terus ke depan, layaknya seekor buaya yang sedang berenang.
3)    Peraturan, siapa yang terjauh itulah yang menang.
4)    Lakukan berulang-kali sampai semuanya pernah merasakan  meluncur. Supaya lebih jelas perhatikan gambar di bawah ini.

Gambar 17. Permainan Mendorong Buaya


h.   Permainan Sendok dan Bola Pingpong
Tujuan: mencoba keberanian untuk belajar berenang.
Cara pelaksanaannya:
1)    Satu regu empat orang.
2)    Setiap siswa membawa bola pingpong di atas sendok yang digigit
3)    Begitu peluit dibunyikan segera berenang.
4)    Peraturan, siapa yang duluan berhasil berenang membawa bola pingpong tanpa jatuh sampai batas yang ditentukan, itu yang menang.

D.    Gerak Dominan dan Teknik Dasar Renang, Start dan Pembalikan

1.  Gerak Dominan Olahraga Renang
Olahraga renang adalah Salah satu cabang olahraga yang diperlombakan dalam at O2SN Sekolah Dasar. Dalam nomor yang diperlombakan teridentifikasi gerakan yang dominan dilakukan oleh atlet adalah:
a)    mengapung
b)    meluncur
c)    Gerakan melompat
d)    Gerakan memutar
Gerakan yang dimaksud di atas harus dikuasai oleh seorang perenang. Oleh karena itu seorang pelatih perlu memberikan pelatihan pada atlet agar gerakan-gerakan tadi dapat dikuasai dengan baik dan mampu  memanipulasi gerakan-gerakan tersebut dalam latihan dapat disajikan dalam bentuk permainan-permainan yang menyenangkan.

2.  Teknik Dasar Renang
a.  Renang Gaya Bebas (Crawl)
Gaya ini diambil dari gaya cara berenang seekor binatang. Oleh sebab itu gaya ini juga disebut gaya Crawl, yang berarti merangkak, nama lain gaya ini juga disebut gaya "renang anjing" (dog style)dan "renang rimau" (harimau).

Gambar 18. Renang Gaya Bebas

b.  Teknik Dasar Renang Gaya Bebas (Crawl)
1). Variasi gerakan lengan gaya crawl
Menurut Cecil Colwin (1977) ada 3 macam gerakan lengan gaya crawl  yaitu:
a. Ketepatan gerakan lengan dengan tipe “sudut siku-siku”. Gerakan ini paling umum digunakan. Ketika salah satu lengan masuk, lengan yang lain sedang melalui setengah jalan.

Gambar 19. Tipe Sudut Siku-siku

b. Gambar menunjukan suatu ketepatan gerak yang mana lengan mencapai posisi sudut yang benar seperti dalanm gambar 19. Tipe ini pada umumnya banyak digunakan oleh perenang-perenang dengan sifat mengapung alamiah, gerakan tungkai kuat dan tipe bangunan tubuh yang rata-rata air sehingga memberi perenang kemudahan “meluncur” dalam air.

Gambar 20. Ketepatan Lengan Pada Posisi Sudut
c. Variasi yang ketiga dilakukan ketika satu lengan masuk, lengan yang berlawanan telah melewati titik tengah tarikan. Gerakan ini cocok dengan perenang yang menggunakan pernapasan timbal balik (dua belah pihak) dan dua pukulan gerakan tungkai, kadang-kadang disertai juga dengan kecepatan tinggi dari pergantian gerakan lengan.

Gambar 21. Lengan melewati Sudut Tarikan

Pelatih/pengajar harus memperhatikan aspek ini dengan teliti, sebab jika ketepatan gerak tidak sesuai akan merugikan penerapan tenaga. Variasi ini dalam kecepatan mungkin menyebabkan perbedaan tajam di dalam ketepatan gerak.
Sebagai contoh, seorang perenang yang menggunakan tipe “sudut siku” diperlihatkan dalam gambar 19, mungkin membolehkan masuknya tangan yang terdahulu dalam air melalui sudut 45° ketika berenang pada kecepatan lambat.
Mungkin yang sering dikemukakan adalah ketepatan gerak yang diperlihatkan pada gambar 20, hasilnya akan lancar dan gayanya kelihatan lebih lancar. Ketepatan gerak yang diperlihatkan dalam gambar 19, mungkin menghasilkan ketidak lancaran tipe dari gaya bebas.
Sementara ketepatan gerak dalam gambar 21 menghasilkan gerakan berombak. Bagaimanapun, penampilan suatu gaya selalu merupakan pedoman yang terpenting sesuai dengan struktur tubuhnya. Beberapa perenang tidak akan dapat berenang dengan lancar, dengan gerakan terbaik. Yang terpenting bahwa perenang menggunakan sifat-sifat individu sebagai efek terbaik.
2). Fase Menarik
- Masuknya tangan dalam air
Tangan masuk dalam air dengan segera sebelum siku diulurkan sepenuhnya.
- Masuknya ujung jari tangan
Tangan diruncingkan sehingga telapak tangan menghadap kearah luar diagonal. Jika masuknya tangan dalam air tetap mendatar dalam posisi horizontal, hal itu akan menimbulkan tahanan gelembung udara di bawah air. Banyak terjebak gelembung udara akan mengurangi efisiensi tarikan dan hal ini harus dihindari. Posisi tangan pada waktu masuk ke dalam air dengan telapak tangan kira-kira membentuk sudut 45° kepermukaan dengan ibu jari tangan masuk pertama, tangan dapat masuk di bawah permukaan air tanpa banyak tahanan udara.

Gambar 22. Masuknya Ujung Jari Tangan Kanan.

 - Tarikan di bawah air.
Dalam membicarakan proses tarikan, perlu menghilangkan konsep umum yang salah, bahwa tangan dan lengan akan menarik dalam garis lurus disebelah bawah badan.
Para perenang banyak menggunakan keanekaragaman dari pola tarikan elip, mereka tidak pernah menarik dalam pola garis lurus. Banyak perenang mempergunakan variasi dari pola ini yang boleh dianggap satu pola bentuk S (es). Keluasan gerak dari pola ini juga sedikit berubah-ubah dari perenang satu ke yang lain, barangkali disebabkan variasi dalam kekuatan, kelentukan atau faktor-faktor lain yang tidak diketahui.
Kesalahan pada umumnya bahwa siku akan dipertahankan lurus selama menarik. Mulai tarikan dengan siku lurus atau hampir lurus, tetapi selama fase menarik siku dibengkokan.

Gambar 23. Pola Kayuhan Tangan Gaya Crawl

- Permulaan tarikan lengan
Ketika satu tangan dan lengan sama sekali telah berada di bawah permukaan air, telapak tangan diputar dari posisi diagonal dengan putaran lengan bawah, terjadinya gerakan ini antara tulang radius dan tulang ulna. Setelah perenang mulai menarik harus memusatkan pikirannya dengan segera untuk membengkokan siku.
Kedudukan telapak tangan dalam posisi yang menguntungkan untuk mendorong air ke belakang pada waktu flexsi pergelangan tangan, sudut yang terbaik jika pergelangan tangan tetap satu garis lurus dengan lengan bawah.
- Lamanya tarikan siku bengkok.
Ketika lengan ke belakang, dalam membengkokkan siku sampai mencapai bengkok maksimum dimana tangan tepat di bawah badan dan lengan atas pada sudut 90º dengan badan.

3). Fase Mendorong.
Dimulai ketika tangan di bawah badan dan lengan atas pada sudut 90º dengan badan, selanjutnya dan titik ini ke belakang tangan didorongkan dengan perluasan siku sampai dorongan berakhir dimana siku hampir mencapai perluasan seluruhnya.
4). Fase Istirahat
Dalam istirahat yang perlu diperhatikan bahwa istirahat lengan dimulai ketika tangan dan lengan bawah masih dalam air. Masih banyak yang percaya bahwa tangan didorongkan kebelakang pada waktu seluruh tangan di bawah air.
Akibatnya mereka juga percaya bahwa tarikan tangan akan berakhir di bawah air dengan giat mendorong ke bolakang dan ke atas dengan menjentikkan tangan.
Perpindahan dari menarik ke istirahat terjadi ketika posisi tangan berubah. Akhir dari tarikan lengan, telapak tangan pada posisi tepat menghadap ke belakang. Selama perpindahan dari menarik keistirahat telapak tangan mulai diputar ke dalam, sehingga menghadap paha.
Ketika tangan diangkat ke atas, dan kelingking yang pertama me- ninggalkan air dan tangan ke luar dari air seperti pisau, membuat tahanan sangat kecil. Jalan yang baik untuk menggerakan ini adalah seperti meluncurkan tangan ke luar dari saku celana (pantalon). Keluarnya lengan dari air untuk istirahat di1akukan seperti mengangkat siku ke luar dan diayunkan ke depan.
Dari keseluruhan gaya terlalu sedikit perhatian dikeluarkan untuk fase istirahat. Seperti berulang kali dinyatakan “Bagian dari gaya hanya berarti adalah yang terjadi di bawah air” adalah penyederhanaan yang berlebih-lebihan dan kerumitan mekanika gaya.
Fakta-fakta kerusakan gaya umumnya diantara perenang wanita karena menggunakan istirahat lengan lurus.
Tipe ini siku istirahat tidak banyak membengkok, dan lengan dibawa ke luar air dalam gerakan ayun lebar. Hal ini menyebabkan gerakan ke samping dari pinggul dan tungkai, dan menambah tahanan.

Gambar 24. Kerusakan Gaya Karena Istirahat Lengan Lebar.
Ketika lengan kembali sebagaimana mestinya, siku dibengkokkan dan dibawa dalam posisi tinggi dengan tangan dipertahankan di dekat badan.Gerakan ini menjaga radius putaran dekat badan, dan tidak menghasilkan gerak ke samping dari pinggul dan tungkai.

5). Teknik Menggulingkan Badan
Mengguling sangat diperlukan untuk membantu memelihara garis arah badan, disamping itu mengguling bertujuan untuk mengurangi tahanan.
Perenang gaya crawl dengan kontinyu memutar badannya disekitar sumbu membujur. Dalam kenyataannya mereka mempergunakan waktu lebih banyak pada sisi-sisinya dari pada mereka gunakan dalam posisi mendatar.
Walaupun mengguling mungkin banyak diperlukan oleh perenang, sebagian terbesar perenang terlalu sedikit mengguling. Perenang gaya crawl akan rnengguling paling sedikit 450 untuk setiap sisi. Sebagian besar perenang mengguling melebihi 450 ke sisi pernapasannya. Mengguling sebagai reaksi wajar dan mèrupakan bagian lain dari gaya.
Gangguan di dalam garis arah samping terjadi ketika perenang mencoba mempertahankan posisi datar (flat). Mereka mencoba untuk “mendapatkan” tubuh mereka dalam posisi yang mudah ketika lengan mereka diayunkan ke bawah dan ke atas. Hal ini tidak mungkin dikerjakan. Gerakan vertikal bahu menggunakan tenaga yang ber1awanan pada pinggul dan tungkai, hal tersebut akan menyebabkan gerakan kearah samping jika tubuh tidak diperbolehkan “mengguling” searah gerakan lengan. Dengan demikian bahu akan mengikuti lengan, pinggul akan mengikuti bahu, dan tendangan tungkai dalam arah samping sehingga memudahkan gerak “mengguling”.
Barangkali kesalahan umum sebagian besar perenang menyangkut kegagalan untuk memutar dengan cukup untuk membawa bahu ke luar dari air dimana istirahat dapat dilakukan dengan benar.
Ketika bahu berada di air, istirahat harus, kalau perlu lebih ke samping, menyebabkan pinggul dan kaki ditarik ke luar dari garis arah badan.
Selama istirahat akan mengguling secukupnya sehingga bahu bebas dari air sampai masuknya tangan dalam air.

 6). Teknik Bernapas
Arah pandangan memegang peranan penting dalam mempertahankan posisi kepala yang baik. Selama mengeluarkan napas pandangan ditujukan ke depan pada sudut 450 ke dasar kolam. Dagu tidak akan diarahkan ke depan terlalu jauh, jika hal itu dilakukan pada saat memutar kepala untuk mengambil napas akan menggerakkan kepala ke luar dari sumbu pusat dan mengganggu keseimbangan.
Tindakan memutar kepala untuk bernapas akan dikoordinasikan dengan menggulingkan badan. Hal ini kemungkinan besar mengurangi pengaruh gangguan sehingga putaran kepala dapat pada garis arah samping.
Muka akan berputar menuju ke samping jika menggulingkan badan menuju sisi pernapasannya.
Sebagian besar waktu yang tepat untuk mulai memutar muka ke luar dari air ketika lengan pada sisi yang berlawanan memasuki air. Sebab ayunan ke bawah dari lengan akan menyebabkan perenang mengguling menuju sisi pernapasannya. Memutar kepala pada waktu menggulingkan badan memungkinkan mulut terbebas dari air untuk bernapas tanpa perlu mengangkat kepala dari air.
Menarik napas sebaiknya tanpa menelan air, tetapi pada anak/orang yang baru belajar berenang menelan air merupakan hal yang biasa terjadi, segera setelah salah satu mata dapat melihat permukaan air. Mulut perenang mungkin tidak nampak di atas permukaan, sebab perenang akan bernapas di bawah haluan ombak yang ditimbulkan oleh gerak ke depan atau karena hidung dan bagian depan muka membuat alur kecil atau palung air sehingga perenang hampir dapat bernapas di bawah air (hal ini dapat dilakukan perenang yang sudah mahir/terlatih)
Setelah mengambil napas, muka diputar kembali ke air. Memutar muka kembali ke air dilakukan ketika lengan pada sisi pernapasan mendekati depan untuk masuknya tangan dan badan mulai mengguling kearah sisi berlawanan. Jangan mengambil napas apabila muka kembali ke air. Pengeluaran napas segera dimulai setelah napas diambil. Bagaimanapun hal tersebut, pelan-pelan dan dikontrol sehingga semua udara tidak dihembuskan sebelum siap untuk ambil napas berikutnya.
Dalam teknik bernapas yang sempurna, tujuannya akan diajarkan untuk bernapas dengan mudah di dalam air seperti dilakukan di darat. Reaksi wajar pada perenang baru, dihantui dengan kebutuhan memperoleh udara, bernapas dalam udara berlebihan kemudian dihembuskan. Hal ini sering menyebabkan perenang melebih-lebihkan dalam bernapas.
Mengambil napas hanya melalui mulut, sedang pengeluaran napas melalui mulut, atau hidung dan mulut secara serentak.

Gambar 25. Teknik Bernafas Gaya Crawl

7). Posisi Badan
Tujuan mengambil posisi badan sebaik mungkin agar memperoleh hambatan sekecil-kecilnya.
Perenang lebih sedikit menemui tahanan ketika posisi badan rata-rata air (streamline).
Posisi badan rata-rata air harus dalam sikap horisontal yang baik dan dalam garis arah samping.
Perenang yang melengkungkan punggungnya dan membawa kepala dan bahu tinggi dalam air, adalah tidak efisien untuk berenang.
Untuk mengatasi pembuangan tenaga yang menyebabkan membentuk tahanan, dengan mencondongkan posisi badan dan tendangan dalam, sehingga memaksa kepala dan tubuh dalam air tetap tinggi.
Tenaga ini harus dipakai sebaik-baiknya untuk menambah tenaga dorongan.
Sprinter naik lebih tinggi dalam air, sebab kecepatan perenang menambah tenaga tahanan di bawah badan, yang berubah “mengangkat” perenang lebih tinggi dalam air sama seperti sebuah boat ketika menambah kecepatannya.Jika perenang meluruskan dengan horisontal, muka perenang di air dengan garis air dimana antara garis rambut dan pertengahan puncak kepala. Perenang tidak akan berusaha memperoleh kepala tinggi yang tidak wajar, maupun tidak akan mendorong kearah bawah dengan berlebihan. Mengangkat kepala dapat menambah tahanan sebesar 20 sampai 35 persen. Pandangan mata diarahkan ke depan bawah untuk memelihara orientasi ke depan.
Kekurangan daya apung secara nyata tidak menghalangi untuk mengambil sikap horisontal yang baik. Ketika perenang bergerak melalui air, tahanan di bawah badan menambah daya apung.Oleh karena itu dimungkinkan untuk perenang yang tidak mempunyai daya apung untuk mempertahankan badan di permukaan.
Kedalaman tendangan adalah faktor penting dalam garis arah horisontal. Ketepatan dalam tendangan adalah dugaan terbaik dalam hubungannya dengan badan perenang. Tendangan kaki hanya sedikit rendah dari garis imajiner yang diperpanjang ke belakang dari bagian paling dalam dari tubuh. Walaupun tendangan terlalu dalam pada umumnya salah, hal itu juga dimungkinkan untuk tendangan yang terlalu sempit.
8). Teknik Pukulan Kaki
Gerakan pukulan kaki bertujuan untuk membantu mendorong badan ke depan disamping juga untuk keseimbangan badan.
Counsilman (1982) membagi pukulan menjadi tiga macam yaitu dua pukulan kaki menyilang, dua pukulan kaki lurus, dan enam pukulan kaki. Sedang Ernest W. Maglischo (2003) membedakan empat macam pukulan kaki, seperti tersebut di atas ditambah dengan empat pukulan kaki.
·      Dua pukulan kaki menyilang
Pukulan ini paling banyak digunakan oleh perenang laki-laki, dua pukulan kaki lurus paling menonjol diantara perenang wanita. Dalam pukulan ini setiap tarikan lengan diberikan satu pukulan kaki. Untuk setiap seluruh putaran lengan diberikan dua pukulan. Selama bagian dari fase pukulan satu tungkai menyilang di atas tungkai yang lain. Selama pukul berikutnya posisi diantara dua tungkai dibalik.
·      Dua pukulan kaki lurus
Perenang menggunakan dua pukulan kaki lurus juga hanya menggunakan dua pukulan kaki untuk setiap putaran lengan (setiap lengan satu pukulan). Dalam hal ini tungkai tidak menyilang di atas tungkai yang lain, tetapi pukulan ke atas dan ke bawah hampir lurus.

Beberapa pelatih berspekulasi bahwa dua pukulan kaki lurus lebih unggul dari pada dua pukulan kaki menyilang. Sebab gerakan menyilang membuang-buang gerakan. Mungkin gerak menyilang dari tungkai bertujuan menghilangkan reaksi akibat istirahat lengan dan sedikit banyak memelihara jajaran badan. Faktanya sedikit laki-laki menggunakan dua pukulan kaki lurus dan sedikit wanita menggunakan pukulan kaki menyilang, secara tidak langaung tanggung jawab dari perbedaan anatomi atau peran dari beberapa variasi seperti mengapung, kelentukan, atau kekuatan. Kedua tendangan mengandung waktu istirahat nyata ketika tidak ada gerakan dari tungkai. Pada waktu titik istirahat nampak akan menyebabkan bertambahnya tahanan sehingga menganggu.
·      Enam pukulan kaki.
Dalam teknik ini, setiap tungkai secara komplit melakukan tiga tendangan, untuk keseluruhan enam tendangan perputaran lengan. Nampaknya metode ini banyak digunakan oleh sprinter. Namun beberapa sprinter kelas dunia juga rnenggunakan bentuk dari dua pukulan kaki. ketepatan dari tendangan ke dalam pukulan lengan juga terjadi dengan otomatis, perenang tidak memikirkan tentang itu. Kenyataannya, irama amat tepat dan terjadi amat cepat sehingga hampir tidak mungkin perenang berfikir tentang itu dan cukup memberi reaksi dengan cepat untuk mengkoordinasi gerakan dengan sadar.
·      Empat pukulan kaki.
Irama dari empat pukulan kaki nampaknya juga dikompromi. Pukulan ini terutama digunakan, tetapi tidak semata-mata oleh perenang laki-laki, untuk menghemat tenaga sambil mempertahankan jajaran samping dan horisontal. Paling sedikit ada dua pola dari empat pukulan kaki yang umum digunakan.
Pertama adalah “Cangkokan (hybrid)”. Ini merupakan kombinasi dari pola enam puku1an dan dua pukulan. Adalah sesungguhnya suatu irama enam pukulan dengan menganggap memberi tekanan pada dua pukulan.
Kedua dari irama empat pukulan adalah, dalam kenyataannya, suatu modifikasi dari enam pukulan kaki.Pengamatan dari perenang yang menggunakan pola ini mengungkapkan bahwa memberi tekanan dua pukulan untuk batas yang hampir tidak kelihatan.Disini tendangan diberi tekanan, biasanya dapat disamakan untuk ayunan lengan yang telah disingkat.Walaupun ada empat macam pukulan kaki, tetapi dalam kenyataannya hanya sedikit saja peranang yang dapat menggunakan dua tipe tendangan kaki.

3.    Teknik Dasar Renang Gaya Dada 
a.  Renang Gaya Dada
Gaya dada merupakan gaya renang yang paling kuno dan merupakan salah satu dari gaya renang yang tertua, gerakannya menyerupai katak dalam berenang.

Gambar 26. Gaya Dada

b.    Teknik Dasar Renang Gaya Dada
1). Posisi Badan
Seperti halnya dalam segala gaya, badan harus streamline atau sehorizontal mungkin dan masih memungkinkan lengan dan tungkai menimbulkan fungsinya mendorong. Foto-foto dari bawah air dari para perenang-perenang pemula dan perenang-perenang gaya dada dalam perlombaan, menunjukan bahwa mereka berenang dengan badannya membentuk sudut yang tajam, dengan demikian menimbulkan banyak hambatan frontal dan ekor .

Gambar 27. Posisi Badan Saat Meluncur Gaya Dada

2). Gerakan Tungkai
Pertentangan mengenai gerakan tungkai gaya dada terutama berkenaan dengan sumber dari kekuatan dorongannya. Ada dua teori yang menguasai pendapat mengenai gerakan tungkai: teori wedge action dan teori whip action.
a. Teori Wedge Action.
Penjelasan paling kuno dan mungkin yang paling umum mengenai gerakan tungkai seperti ini seperti dilukiskan oleh Davis Dalton dalam tahun 1907 menyatakan bahwa perenang harus “meluruskan kedua tungkai, menyatukannya, dengan demikian air ditekan antara tungkai-tungkai dan mendorong badan maju”. Banyak orang masih percaya akan teori itu hal ini dibuktikan oleh fakta seperti banyak buku-buku masih mengatakan bahwa Wedge (gerakan hentakan) merupakan sumber kekuatan yang terbesar bagi tungkai gaya dada. Tetapi air merupakan zat yang mengikut dan tidaklah masuk akal jika air harus ditekan kebelakang, tetapi karena ada ruang antara kedua tungkai, maka air mengambil arah ke atas dan ke bawah ketika air mengalir kesekitar tungkai.

b. Teori Whip Action ( Hambatan Sekecil Mungkin).
Orang yang mengajukan teori kedua menyatakan bahwa kekuatan yang berasal dari hentakan dapat diakibatkan dan dorongan kedepan diperoleh hampir seluruhnya dari mendesak air ke belakang dengan telapak kaki.Dalam pemulihan gerakan cambuk tekukan pada pinggul lebih sedikit dan lebih banyak tekukan pada lutut. Sudut yang dibentuk oleh bidang badan dan tungkai bagian atas sekitar 450, dibandingkan dengan gerakan hentakan 900. Tumit-tumitnya dibawa naik sampai air menyentuh pantat dan hentangan lutut lebih sedikit. Selama pemulihan tumit-tumit agak terpisah.Sehingga cara yang paling efisien untuk melakukan gerakan tungkai gaya dada dapat dibuat generalisasi yang berikut. Pemulihan harus menggunakan usaha otot yang minim dan menciptakan hambatan sekecil mungkin. Tetapi pemulihan itu harus menempatkan tungkai pada posisi yang menguntungkan untuk memulai fase jejakan. Kedua lutut jangan terbantang terlalu lebar. Ketika fase jejakan dimulai, tumit-tumit kaki harus hampir mencapai pantat, fase jejakan harus dimulai dengan jejakan kearah luar dari ujung-ujung ketika kedua lutut mulai bersatu. Ini dilaksanakan dengan rotasi kearah dalam dan menarik ketengah kedua tungkai bagian atas, kedua tungkai tidak bisa mencapai ekstensi penuh sebelum mereka hampir bersentuhan. Apabila jejakan telah selesai, kaki harus runcing (plantar flex) agar menimbulkan gerakan sesedikit mungkin. Walaupun demikian, perenang harus mengusahakan tungkainya serileks mungkin karena ketegangan dalam merentangkan yang tidak semestinya hanya akan menimbulkan kelelahan.
Posisi yang baik dari kedua tungkai setelah pemulihan selesai            (sejauh mengenai mendatarkan tubuh) ialah pada sudut tekukan kira-kira 300 pada pinggul. Tetapi ini tidak menempatkan kedua kaki pada posisi yang kuat untuk mendorong kebelakang. Pada titik ini secara relatif kedua tungkai lemah dan dorongan ujung kaki kebelakang terutama harus dilakukan oleh otot-otot ekstensor lutut (kelompok otot quadricep extensor). Jika lutut menekuk pada sudut 500 sampai 600 hambatan yang ditimbulkan lebih banyak, tetapi ini akan mendapat kompensasi yang lebih banyak dari kekuatan jejakan, yang disebabkan oleh penggunaan tambahan dari otot –otot ekstensor pinggul( terutama otot-otot gluteus maximus).
Apabila tungkai ditekuk sampai sudut 900, maka penambahan hamabatan akan lebih banyak dari penambahan dorongan. Tekukan pinggul sebanyak ini akan diikuti oleh munculnya pinggul keluar air dan timbulnya penurunan pada saat kedua kaki mendorong kebelakang. Bukti dari kesalahan penggunaan tipe gaya ini turunnya pinggul. Sudut tekukan pada pinggul yang saling menguntungkan ialah antara 50o sampai 60o.
Ketika kedua kaki dijejakkan kearah belakang, tungkai bagian atas dapat didorong keatas kearah permukaan. Apabila ini tidak dilakukan, jalur jejakan kaki akan mengarah kebawah secara diagonal dan ujung kaki akan membentuk pola “V” ketika keduanya bersatu. Tindakan ini akan merugikan karena akan menyebabkan jejakan ujung kaki mendorong pinggul naik keatas, yang seharusnya lurus kedepan, dan meyebabkan ujung kaki pada akhir dari jejakan akan menimbulkan banyak hambatan. Hal ini juga tidak memungkinkan penggunaan maksimal dari otot-otot ekstensor pinggul pada akhir jejakan.
Aspek penting dari kaki gaya dada adalah bertambahnya kecepatan gerakan kaki ketika jejakan dilakukan. Permulaan dari jejakan dilakukan dengan gerakan pasti tetapi tidak cepat sehingga perenang merasakan tekanan air pada telapak  kakinya. Ketika kedua kakinya menjejak kebelakang ia harus menambah kecepatan kakinya sampai mencapai kecepatan maksimum dicapai seperempat terakhir dari jejakan kakinya. Kesalahan terbesar yang dapat dilakukan oleh perenang ialah terlalu besar mempercepat jejakannya pada bagian permulaan dari jejakan sehingga pada bagian terakhir jejakannya, kedua kaki hampir bersatu. Kecepatan dari jejakan ini langsung berhubungan dengan ekstensi dari lutut. Ini juga merupakan satu alasan lain mengapa lutut jangan lurus sepenuhnya sebelum kedua kaki hampir bersatu.
Serangkaian gambar ini menunjukan cara yang betul dari gerakan cambuk gaya dada, seperti yang harus dilakukannya ketika melakukan latihan tungkai dengan papan renang. Jika benar-benar melakukan gerakan tungkai itu dalam gaya seluruhnya, ujung-ujung kaki akan jatuh lebih rendah di bawah air pada waktu-waktu yang berlainan dalam gerkan yang ditunjukkan disini. ini disebabkan karena reaksi dari tarikan lengan dengan pengangkatan kepala, dengan penjelasan sebagai berikut:
·      Ketika tungkai tidak melakukan jejakan, kedua kaki harus lurus sepenuhnya, posisi datar dengan permukaan air. Kaki harus pelantar flexed (runcing).

Gambar 28. Gerakan Kaki Gaya Dada
·      Pemulihan tungkai mulai dengan tekukan tungkai pada pinggul dan lutut. Beberapa pelatih berusaha menyuruh para perenang menjaga kedua tumitnya bersatu ketika di bawa ke atas. Perenang yang tungkainya baik kedua tumitnya hampir bersatu seperti diperlihatkan pada gambar berikut, tetapi tumit-tumitnya itu sedikit saling bersentuhan

Gambar 29. Tarikan Kaki Gaya Gada

·      Ketika kedua tumit mendekati pantat, kaki mulai menekuk pada mata kaki (dorsi flexed) dan kedua tumit dan lutut agak membentang.

Gambar 30. Posisi Kaki Gaya Dada Saat Menekuk

·      Lutut dan pinggul mencapai tekukan maksimumnya ketika jari-jari kaki diputar kearah luar dan mata kaki dorsi flexed. Sudut yang dibentuk antara dan kaki bagian ialah 125o.

Gambar 31. Posisi Telapak Kaki Gaya Dada

·      Beberapa inci pertama dari jejakan kaki kebelakang tidak mendorong dan digunakan bagi kaki untuk mempercepat dan memungkinkan ujung-ujung kaki dalam posisi yang baik untuk melakukan jejakan kebelakang dengan sisi dan dasar dari kaki. Pada saat ini, kaki telah terikat dengan air dan menjadi efektif.

Gambar 32. Posisi Telapak Kaki Gaya Dada Saat Membuka

·      Ujung kaki didorong kearah luar dan kebelakang ketika lutut merentang. Kedua tungkai bagian atas didorong ke atas kearah permukaan air oleh aksi dari otot-otot extensor pinggul yang kuat. Kedua ujung kaki, masih dorsi flexed, mendorong air dengan telapak kakinya.

Gambar 33. . Posisi Telapak Kaki Gaya Dada Saat Akan Diluruskan

·      ketika kedua kaki terus melentang pada kedua lututnya, kedua tungkai itu mulai di satukan. Tungkai bagian atas terus di dorong ke atas.

Gambar 34. Posisi Telapak Kaki Gaya Dada Saat Diluruskan

·      Lutut-lutut hampir terentang sepenuhnya ketika ujung kaki hanya terpisah beberapa inci.

Gambar 35. Posisi Telapak Kaki Gaya Dada Saat Akan Dirapatkan

·      Pada saat kaki meyelesaikan jejakannya, kedua kaki plantar flexed. Perenang akan mempertahankan posisi meluncur ini untuk waktu yang pendek selama ini ujung kakinya akan naik beberapa inci sampai tumit-tumitnya hampir menyentuh permukaan air.

Gambar 36. Posisi Telapak Kaki Gaya Dada Saat Dirapatkan

Gerakan lutut sangat penting dalam gerakan  tungkai gaya dada. Para perenang gaya dada harus memiliki fleksibilitas lutut yang baik, terutama untuk penekukan mata kaki, (yaitu membawa ujung dari kaki ke atas mengarah kelutut). Tekukan dorsi mata kaki yang baik ketika jejakan dimulai mungkinkan dasar dari kaki mendorong air kearah belakang. Ketika kedua ujung kaki ditarik ke atas selama fase pemulihan, kedua lututnya rileks dan kedua ujung kaki hanya mengikuti lutut ke atas. Ketika kedua ujung kaki mulai membentang, tekukan dorsi pada mata kaki dimulai, dan ketika jejakan kebelakang dari ujung kaki dimulai, kedua lutut  harus sudah mencapai tekukan maksimalnya. Tekukan dorsi pada mata kaki ini dipertahankan sampai jejakan hampir selesai, dan ketika jejakan mendekati penyelesaian, maka kakinya plantar flexed untuk memungkinkan dasar dari kaki menghadap ke atas dalam posisi datar. Seringkali telapak kaki didorong bersama, tetapi gerakan ini lebih cepat dicapai dalam gerakan hentakan daripada gerakan mencambuk, karena gerakan ini tidak dapat dilakukan kecuali jika kedua tungkai bagian di atas di putar kearah luar.
Tendangan gaya dada mengalami inovasi dengan tendangan mirip kaki dolpin, Sehingga hampir semua perenang gaya dada sekarang menggunakan pola gelombang (wave style) dari pada pola datar (flat style).

Gambar Bentuk Flat Style                   Gambar Bentuk Wave Style

Gambar 37. Bentuk Flat Style & Bentuk Wave Style

3). Tarikan Lengan.
Gerakan lengan gaya dada hanya terdiri dari menarik (pull) dan memulihkan (recovery). Tarikan lengan pada gaya dada di mulai dengan awal tarikan yang dalam sekitar 12 cm sampai 15 cm dibawah permukaan air. Jika perenang memulai tarikannya pada permukaan, ada kecendrungan untuk naik terlalu tinggi dan tenaga akan dihamburkan dalam gerakan naik turun.
           

Tampak dari samping                                  Tampak dari depan

Tampak dari samping                                  Tampak dari depan
Gambar 38. Tarikan Tangan Gaya Dada

4).  Pernafasan dan Pengangkatan Kepala
Banyak orang menganjurkan agar kepala perenang gaya dada berada pada posisi tinggi, agar perenang dapat berenang dalam posisi yang tetap. Posisi kepala ini telah digunakan oleh banyak perenang, beberapa darinya telah berhasil.

4.    Teknik Dasar Renang Gaya Punggung
a.  Renang Gaya Punggung
Pada dasarnya ada dua macam gaya punggung, yaitu gaya punggung dasar (Elementary Back Stroke) dan gaya punggung crawl (Back Crawl Stroke).
Renang gaya punggung dasar biasanya diperkenalkan pada calon penolong tingkat pemula, yaitu seorang calon yang telah menguasai gaya rimau dan gaya punggung crawl. Adapun cara berenangnya dengan menggerakkan tangan dan kaki bersama-sama. Tangan dari posisi lurus di samping badan kemudian ditarik perlahan-lahan, setelah posisi lengan lurus dengan bahu tangan dijulurkan ke samping sejajar bahu, Selanjutnya digerakkan dengan cepat untuk mendayung sampai tangan merapat di samping paha. Sedang gerak kaki dilakukan dengan membuka dan menutup seperti gerak kaki pada gaya dada (The American Red Cross, 1981).

Gambar 39. Renang Gaya Punggung Dasar

Renang gaya punggung crawl (Back Crawl Stroke), adalah berenang dengan posisi badan terlentang, lengan kanan dan kiri digerakkan bergantian untuk mendayung. Tungkai naik turun bergantian dengan gerak mencambuk (Arma Abdoellah, 1981). Gaya renang ini yang dipergunakan dalam perlombaan.

Gambar 40. Renang Gaya Punggung Crawl

b.  Teknik Dasar Renang Gaya Punggung
1)  Posisi Badan (The Body Position)
Badan dibaringkan dipermukaan air dengan tulang bagian depan pinggul menyentuh permukaan. Permukaan air disekitar kepala perenang tetap konstan. Dagu tidak dimasukkan rapat sekali pada kerongkongan. Dagu justru agak ditahan tetapi tidak kaku.

Gambar 41. Posisi Badan Gaya Punggung
2) Gerak Tungkai (The Leg Action)
Gerak tungkai dangkal, tetapi kontinyu, dan tungkai berombak. Pada akhir gerakan, ibu jari kaki agak “memecah” permukaan air. Gerak tungkai sempit dan kaki tidak banyak turun di bawah garis badan maupun keluar permukaan air. Gerak tungkai tidak kaku sebab hal itu melelahkan dan menyebabkan irama pukulan menjadi terganggu. Jari-jari kaki tidak sengaja diruncingkan, hal itu menyebabkan ketegangan pada otot tungkai dan kaki. Perenang hendaknya dapat merasakan lewatnya air diantara jari-jari kaki melalui gerakan tungkai. Hal ini menandakan bahwa pergelangan kaki dan kaki rilek.

Gambar 42. Gerakan Tungkai gaya Punggung

3) Gerak Lengan (The Arm Action)
Pada tingkat pemula, perenang akan diajar untuk memasukkan lengan yang pertama dengan jari kelingking. Lengan masuk dalam air dengan tepat di belakang bahu masing-masing. Lengan langsung mendayung, dan ketika tangan menyentuh air jangan ragu-ragu.   
Gulingkan badan dengan wajar kearah lengan yang mulai mendayung. Gerakkan tersebut membantu tangan dalam mencapai kedalaman yang benar untuk mulai mendayung. Ketika lengan bergerak mendayung, siku mulai membengkok. Hal itu merupakan kekritisan siku, ketika bengkok mengarah lurus ke bawah ke dasar kolam dan tidak kearah kaki.Ketika tangan melalui garis bahu, bengkoknya siku di tambah kira-kira sampai 90 derajat. Ketika tangan sampai dekat permukaan air, tetapi badan berguling kearah lengan yang mendorong mempunyai pengaruh pada tangan yang tetap di bawah permukaan air.
Dayungan berakhir dengan mengulurkan lengan bawah dan tangan mendorong ke belakang kearah bawah dalam mengakhiri gerak.

Gambar 43. Gerakan Lengan Gaya Punggung

4) Istirahat (Recovery)
Pada waktu tangan menyelesaikan dayungan dengan menekan kearah bawah, badan mulai mengguling ke sisi yang berlawanan. Gerak ini menyebabkan bahu pada lengan yang telah menyelesaikan dayungan muncul di air. Bahu mendahului lengan dalam fase istirahat.
Istirahat dibuat dalam bidang vertikal. Otot-otot lengan rilek sehingga menambah daya gerak (kepesatan), selama lengan mendayung dapat digunakan untuk membantu istirahat lengan. Ketika lengan istirahat dengan lancar, aliran gerak telapak tangan menghadap ke samping luar.

Gambar 44. Istirahat(Recovery) Lengan Gaya punggung

5) Pengaturan Tempo Lengan (Timing the Arm)
Gerak istirahat lengan pada saat masuknya tangan dalam air sedikit cepat dari pada tangan yang sedang menyelesaikan dayungan. Ketika lengan yang istirahat masuk dalam air, tangan yang berlawanan sedang mencapai samping badan. Pada tingkat ini, tekanan air dirasakan pada telapak tangan saat masuknya tangan sama dengan pada saat tangan menyelesaikan dayungan. Hal ini dijamin bahwa pengaturan termpo lengan menghasilkan dorongan kontinyu. Hal itu dengan memperhatikan bahwa lengan tidak saling meliputi (overlap) dalam pengaturan tempo sesungguhnya pada gaya bebas. Hal itu membagi dua tempo yang dijamin bahwa disana sedikitpun tidak berhenti dalam mendayung.

Gambar 45. Pengaturan Tempo Lengan Gaya Punggung

6 Bernapas (Breathing)
Perenang gaya punggung tidak perlu bernapas setiap menggerakkan lengan, sebab muka bebas dan air setiap waktu. Namun demikian, perenang perlu mendapatkan keseimbangan diantara irama bernapas terlalu pelan dan tempo yang terlalu cepat.
Bernapas terlalu pelan mungkin menurunkan irama gerak lengan, sementara bernapas terlalu cepat mungkin menghasilkan kelelahan sebelum waktunya.
Tempo, yang digunakan oleh banyak perenang gaya punggung, adalah mengambil napas ketika satu lengan istirahat dan mengeluarkan napas pada saat lengan yang lain istirahat. Hal itu diragukan apakah teknik tersebut tetap ideal sebab, dalam teori, pengeluaran napas akan memerlukan waktu lama dari pada mengambil napas.
Nampaknya bahwa perenang gaya punggung akan diperkenankan untuk mendapatkan irama bernapas mereka sendiri, sementara cara bernapas mereka diperhatikan tidak terlalu cepat atau lambat (Cecil Colwin, 1977).

Gambar 46. Bernapas (Breathing) Gaya Punggung

5. Teknik Renang Gaya Kupu (Butterfly)
a. Renang Gaya Kupu
Gaya kupu- kupu (butterfly) adalah suatu variasi dari gaya katak (gaya dada ortodox), dimana lengan dikeluarkan dan air pada waktu diayunkan kemuka.Gaya kupu-kupu dapat dikatakan menyerupai gaya crawl dalam hal bahwa lengan dan kaki bekerja serupa, dengan kekecualian yang nyata bahwa kedua lengan bergerak bersamaan, demikian juga kedua kakinya. Gaya kuku-kupu pertama diperkenalkan sebagai suatu bentuk dari gaya dada mana digunakan gerakan kaki, gaya dada dengan tarikan tangan gaya kupu-kupu. Dalam tahun 1952 FINA memisahkan dua gaya itu dan meresmikan penggunaan kaki dolfin pada gaya kupu-kupu.

Gambar 47. Gaya Kupu

b.  Teknik Dasar Renang Gaya Kupu (Butterfly)
1). Posisi Badan
Pada gaya kupu-kupu ada lebih banyak gerakan badan ke atas dan bawah daripada gaya renang yang lain. Gerakan ini bukanlah suatu gerakan yang dipaksa, tetapi hasil dari tiga faktor utama: (1) gerakan menjejakan kaki ke bawah memaksa pinggul ke atas, (2) inertia dari proses recovery lengan cenderung menarik kepala dan bahu ke bawah, (3) bagian pertama dari tarikan cenderung membuat kepala dan bahu naik ke atas. Walaupun beberapa dari gerakan dalam bidang vertikal ini menguntungkan, seperti misalnya untuk memudahkan pernapasan, badan harus tetap cukup mendatar apabila perenang ingin menjaga agar tingkat hambatan cukup kecil. Turun naik yang besar dari badan, seperti dilakukan pada masa permulaan dari gaya itu dianggap propulsip, sekarang dianggap merugikan bagi gerakan ke depan.
Demikian juga, penghalangan gerakan naik turun ini juga merugikan, karena hal ini akan menyulitkan proses recovery lengan, tehnik gerakan kaki dan pernapasan yang betul. Perenang-perenang gaya kupu-kupu yang menggunakan gaya ini dengan baik berkata bahwa mereka merasakan suatu gerakan mengalir dari tubuh mereka, dan suatu naik turun yang lambat tapi ritmis dalam posisi badan. Pengamatan yang teliti dari film atau serangkaian gambar-gambar dari perenang-perenang gaya kupu-kupu yang baik menunjukan bahwa mereka melakukan timing pada gerakan kaki, tarikan dan pengangkatan kepala untuk bernapas sedemikian hingga secara relatif badan tetap horizontal. Pinggul dari seorang perenang gaya kupu-kupu yang baik dekat dengan permukaan air dan sudut dari badannya pada umumnya tidak mendekati diagonal yang digambarkan dalam Gambar 48 posisi badan. Efek dari tarikan lengan, gerakan kaki, dan pernapasan pada posisi badan, dan juga bagaimana timing-nya dalam seluruh gerak, akan dibicarakan pada bagian dari bab ini.

Gambar 48. Posisi Badan Gaya Kupu

2). Gerakan Kaki
Gerakan kaki ini adalah yang tercepat dari keempat gaya kompetitip apabila dilakukan dalam latihan kaki dengan papan renang. Gerakan kaki itu sukar untuk beberapa perenang dan membutuhkan fleksibilitas mata kaki yang baik (flenter flexion). Seperti gerakan kaki crawl dan punggung. Latihan merentangkan mata kaki bersama-sama dengan banyak latihan kaki akan menambah fleksibilatas mata kaki ini.
Ada suatu kemungkinan yang benar bahwa dalam gaya kupu-kupu salah satu dari gerakan kaki itu betul-betul mendorong kemuka, suatu ide yang telah dibuang oleh banyak ahli dalam kasus gaya punggung dan crawl. Ada sedikit bukti ilmiah untuk membenarkan fakta bahwa gerakan kaki itu mendorong atau tidak, atau bahwa salah satu dari dua gerakan kaki dalam setiap siklus gerakan mendorong sedangkan lainnya tidak. Gerakan kaki kebawah yang pertama, gerakan yang terjadi segera setelah lengan masuk air, biasanya lebih besar dan lebih kuat dari kedua gerakan. Gerakan itu terjadi pada saat perenang ada pada kecepatan terendah dalam siklus gaya, disebabkan karena kenyataan bahwa percepatan yang telah ia peroleh selama tarikan lengan sebelumnya telah mulai habis. Faktor ini ditambah dengan efek hambatan yang ditimbulkan oleh masuknya lengan kedalam air terhadap kecepatan maju, menyebabkan perenang ada pada tingkat kecepatan yang rendah ini. Gerakan kaki pertama yang terjadi pada saat ini, kemungkinan mendorong perenang maju, tetapi jelas gerakan kaki ini berfungsi untuk mengangkat pinggulnya dan membuat tubuhnya ada dalam posisi horizontal yang hampir streamline betul ketika tarikan lengan dilakukan. Gerakan kaki kedua terjadi selama bagian terakhir dari tarikan lengan. Gerakan ini hampir selamanya lebih kecil dari gerakan kaki pertama, dan berfungsinya ialah untuk membatalkan efek turunnya pinggul dari bagian terakhir tarikan terhadap posisi badan. Beberapa perenang tidak menggunakan gerakan kaki kedua, dan akibatnya pinggul terdesak kebawah oleh bagian akhir dari tarikan. Bahkan juga beberapa perenang yang baik menghilangkan gerakan kaki yang kedua ini apabila mereka lelah, atau gerakan kedua ini demikian kecil dan lemahnya sehingga hampir tak terlihat. Ini sangat mungkin terjadi apabila perenang lelah, baik pada suatu perlombaan atau dalam latihan, dan tak dapat menyelesaikan tarikan lengannya dengan betul, sehingga waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tarikan lengan diperpendek sedemikian sehingga perenang tidak mempunyai waktu untuk menggerakan kakinya dua kali pada setiap tendangan. Apabila tarikan lengan diperpendek, terutama pada akhir setiap tendangan, makin tidak dibutuhkan gerakan kaki kedua yang fungsi utamanya ialah untuk menjaga agar pinggul tetap diatas. Gerakan kaki kedua dapat tetap dilakukan dalam tendangan dengan menyuruh perenang memperpanjangan tendangan dengan menarik lengan-lengannya lebih jauh kebelakang.
Apabila seorang perenang dengan tarikan lengan yang sangat kuat melakukan sprint dan menggunakan finish yang kuat pada tarikannya, kedua gerakan kaki per-cycle akan hampir sama kuatnya. Nampaknya kekuatan atau kuatnya finish tarikan banyak mempengaruhi besarnya kaki kedua. Menurut perasaan saya pelatih tak usah mengajar dan perenang tak usah mencoba memaksakan gerakan ke mayor dan minor, tetapi sampai batas-batas tertentu. Biarkanlah gerakan itu terjadi secara wajar. Persis seperti seorang pelari otomatis mulai mengayun lengannya lebih kuat apabila melakukan sprint. Demikian pula mungkin seorang perenang gaya kupu-kupu menyesuaikan kaki dolfin (terutama yang kedua) pada akhir dari tarikan.Nampaknya tidaklah dapat dibenarkan untuk merubah dua tendangan kaki sebagai teknik terbaik dengan satu, tiga atau bahkan empat tendangan.

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "MAKALAH OLAHRAGA PENGERTIAN RENANG DAN TEKNIK DASAR"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top