KARYA TULIS ILMIAH MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG NILAI TEMPAT MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS II SDN RINGINSARI KECAMATAN TEMPUREJO KOTA Pasirian



BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu cara pembentukan kemampuan manusia untuk menggunakan akalfikiran/rasional mereka sebagai jawaban dalam menghadapi berbagai masalah yang timbul di masa yang akan datang. Salah satu tujuan pendidikan yaitu untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan pendidikan yang baik kita akan mudah mengikuti perkembangan zaman di masa yang akan datang.Sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi kehidupan, akan membawa sikap mental tingkah laku anak didik. Hal ini merupakan proses yang secara alami munculnya suatu permasalahan yang baru dalam dunia pendidikan. Sehingga dalam penyampaian materi pelajaran dituntut untuk selalu menyesuaikan dengan kondisi anak sekarang. Perlu diketahui bahwa pendidikan kemarin, sekarang dan yang akan datang banyak perubahan. Guru yang selalu menggunakan metode monoton, artinya dari tahun ke tahun tidak pernah mengalami perubahan karena adanya perubahan kondisi, mereka akan mengalami permasalahan yang yang tidak mereka sadari. Oleh karena itu sebagai seorang pendidik harus mau tahu akan kebutuhan anak didik, terutama dalam pelayanandan penyampaian materi pelajaran. Sehingga sangat perlulah sebagai pendidik mengadakan variasi metode pengajarannya. Manakah yang lebih tepat untuk menyampaikan materi supaya hasil proses belajar mengajar berhasil maksimal.Perubahan pengajaran tidak harus disertai dengan pemakaian perlengkapan uang serba hebat, tetapi lebih menekankan pada pengembangan cara-cara baru belajar yang lebih efektif dan sesuai dengan kemampuan peserta didik. Pembelajaran akan efektif bila guru dapat mengidentifikasi masalah yang dihadapi di kelasnya, kemudian menganalisa dan menentukan factor-faktor yang diduga menjadi penyebab utama, yang selanjutnyamenentukan tindakan pemecahannya.Tuntutan peningkatan kualitas professional guru belum memenuhi syarat yang diinginkan atau diharapkan, karena antara petunjuk perlaksanaan yan sudah ada banyak terdapat kendala bagi para pelaksana pendidikan utamanya guru terbukti dengan dampak yang dilapangan antara lain:
1.        Keterampilan anak didik masih sangat rendah, terutama tentang keterampilan
2.        Tingkat pengetahuan dan prestasi siswa dalam mata pelajaran matematika lebih rendah dari mata pelajaran yang lain.
3.        Suasana belajar kurang dinamis.
Permasalahan di atas disebabkan oleh dominasi guru masih tinggi, peran guru dalam proses belajar mengajar sebagai penyebar ilmu krang berperan sebagai fasilitator,guru masih banyak bergantung pada buku, guru masih dominan menggunakan ceramah dan mencatat, guru kurang mengoptimalkan bekerja bersaman-sama dan siswa dianggap lulus tes atau dapat mengerjakan tes tanpa memperhatikan aspek lain seperti kejujuran,pengendalian diri, penghargaan kepada orang lain, dan kemampuan bekerja sama.Demikian gambaran situasu pembelajaran saat ini yang terjadi di lapangan khususnya pembelajaran di Sekolah Dasar.Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses pembelajaran dari segi hasil.
Dari segi peoses pembelajaran dikatakan berhasil apabila seluruhnya atau setidak-
tidaknya sebagaian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif baik fisik, mental maupun social dalam proses pembelajaran di samping menunjukkan kegairahan belajar tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya diri yang tinggi. Sedangkan dari segi hasil proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan-perubahan perilaku yang positif dari peserta didik seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar Metode mengajar banyak sekali jenisnya, disebabkan oleh karena metode ini dipengaruhi oleh beberapa factor misalnya : tujuan yang berbagai jenis dan fungsinya,tingkat kematangan siswa yang berbeda, situasi yang berbagai keadaan, pribadi guru dan kemampuan professional yang berbeda-beda. Karena itu sulit untuk memberikan satu klasifikasi yang jelas mengenai metode yang pernah dikenal di dalam pengajaran.Namun demikian ada sifat umum yang menjadi mungkin untuk mengadakan klasifikasi yang jelas tetapi fleksibel.Di dalam kenyataan banyak factor yang menyebabkan tidak selalu dapat dipergunakan metode yang paling sesuai dengan tujuan, situasi dan lain-lain. Guru
sering kali terpaksa menggunakan metode pilihan. Agar usaha pendidikan tidak sia-sia.Berdasarkan hasil ulangan harian ke I mata pelajaran matematika dengan kompetensi dasar “Menentukan nilai tempat satuan, puluhan dan ratusan”, menunjukkan rendahnya tingkat penguasaan materi.Dari 20 siswa di kelas II hanya 11 siswa yang mencapai tingkat penguasaaan materi sebesar 75% ke atas.Oleh karena itu, peneliti meminta bantuan kepada teman sejawat untuk mengidentifikasi kekurangan dalam pembelajaran.Dari hasil diskusi tersebut, maka terungkap masalah yang terjadi dalam pembelajaran, yaitu “Rendahnya tingkat penguasaan siswa terhadap materi”. Setelah penulis menganalisa dengan melakukan diskusi dan tukar pendapat dengan teman sejawat selaku pengamat, maka diketahui bahwa faktor penyebab siswa kurang menguasai materi yang diajarkan adalah:
1. Kurangnya perhatian siswa terhadap materi
2. Guru dalam menjelaskan materi terlalu cepat.
Mengingat permasalahan tersebut adalah masalah yang bermuara dari dan dirasakan oleh guru kelas, maka peneliti berupaya mencoba cara yang paling efektif dalam memperkenalkan konsep kepada anak didik mencari yang paling mudah, dekat dengan diri siswa sehingga pelajaran Matematika menjadi menyenangkan, maka dari itu penulis mengajukan penelitian dengan judul “Meningkatkan pemahaman siswa tentang nilai tempat melalui metode demonstrasi pada siswa kelas II SDN Ringinsari Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian”.

B.       Rumusan Masalah

Masalah adalah segala rintangan tentang hambatan dan kesulitan yang memerlukan pemecahan jawaban agar usaha pencapaian tujuan dimaksud dapat berhasil dengan baik. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “bagaimanakah penggunaan metode demonstrasi dalam meningkatkan pemahaman tentang nilai tempat pada siswa kelas II SDN Ringinsari?



C.      Tujuan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Tujuan penelitian perbaikan pembelajaran ini adalah untuk mengetahui apakah penggunaan metode demonstrasi dapat meningkatkan pemahaman tentang nilai tempat pada siswa kelas II SDN Ringinsari?
D.      Manfaat Penelitian Perbaikan Pembelajaran
  1. Manfaat bagi guru
1.         Dapat menyelesaikan tugas dengan cepat, tepat dan benar, serta dapat memanfaatkan waktu dengan baik dan tepat, mampu menyelesaikan soal yang tak terbatas dalam waktu yang relative singkat.
2.         Hasil perbaikan ini dapat dijadikan bahan masukan dan perbandingan dalam melaksanakan proses pemahaman nilai tempat pada siswanya, sehingga pelaksanaan kegiatan guru lebih berkembang dan terarah dalam pengelolaan situasi dan kondisi siswa.
3.         Untuk bahan pertimbangan dalam peningkatan prestasi siswa di masa yang akan datang.
4.         Untuk selalu memperbaiki dan meningkatkan proses/hasil pembelajaran dengan manfaat metode yang tepat.
5.         Membantu guru berkembang secara professional.
6.         Meningkatkan rasa percaya diri guru.

      2.  Bagi Kepala Sekolah

1.         Sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam
2.         mengambil kebijaksanaan untuk membina guru dalam menentukan keberhasilan
3.         pengelolaan pembelajaran di sekolah.
4.         Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di SDN Ringinsari
5.         Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian.

3.   Bagi Peneliti Lain
Ini diharapkan bisa ditindak lanjuti dengan perbaikan pengembangan.Perbaikan ini juga bisa digunakan sebagai bahan referensi dan sumber infomasi mengenai penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran.





BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.      Metode Mengajar

Matematikan merupakan suatu bahan kajian yang memiliki objek anstrak dan dibangun melalui proses penalaran dedukatif, yaitu kebenaran suatu konsep diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran sebelumnya sudah diterima, sehingga keterkaitan antar konsep dalam matematika bersifat sangat kuat dan jelas. Dalam pembelajaran matematika agar mudah dipahami oleh siswa, prosespenalaran induksi dapat dilakukan pada awal pembelajaran dan kemudian dilanjutkan dengan proses penalaran dedukatif untuk menguatkan pemahaman yang sudah dimiliki Matematika berfungsi untuk mengembangkan kemampuan bernalar melalui kegiatan penyeledikan, eksplorasi dan eksperimen, sebagai alat pemecahan masalah malalui pola piker dan model matematika serta sebagai alat komunikasi melalui symbol, tabel, grafik, diagram, dalam menjelaskan gagasan. Tujuan pembelajaran matematika adalah melatih cara berfikir secara sistematis, logis, kritis, kreatif dan konsisten.Kecakapan atau kemahiran matematika yang diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika mulai SD dan MI sampai SMA, adalah sebagai berikut:

1.    Menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efesien dan tepat dalam pemecahan masalah.
2.    Memiliki kemampuan mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, grafik atau diagram untuk memperjelas keadaan atau masalah.
3.    Menggunakan penalaran pada pola, sifat atau melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan
4.    Menunjukkan kemampuan strategi dalam membuat (merumuskan), menafsirkan, dan menyelesaikan model matematika dalam penyelesaian masalah.
5.    Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.
6.    Kemampuan matematika yang dipilih dalam Standar Kompetensi ini dirancang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan siswa dengan memperhatikan perkembangan pendidikan matematika di dunia sekarang ini. Untuk mencapai kompetensi tersebut dipilih materi-materi matematika dengan memperhatikan struktur keilmuan, tingkat kedalaman materi, serta sifat esensial materi, dan terpakainya dalam kehidupan sehari-hari secara rinci, standar kompetensi tersebut adalah sebagai berikut: Melakukan penjumlahan dan pengurangan sampai 500.

B.  Geometri dan Pengukuran
Menggunakan pengukuran waktu, panjang, dan berat dalam pemecahan masalah.Keberhasilan siswa dalam belajar matematika dipengaruhi banyak factor, baik itu dalam diri siswa sendiri (intern) maupun dari luar (ekstern).Salah satu factor yang berasal dari luar adalah metode yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar.
Ditinjau dari fungsinya, metode mengajar matematika merupakan suatu cara tersendiri yang dipergunakan oleh guru dalam menyapaikan materi pelajaran tertentu kepada siswa.Apalagi materi pelajaran matematika merupakan perpaduan antara materi yang bersifat abstrak dan konkrit atau benda nyata.Ketepatan atau efektifitas penggunaan metode mengajar disamping dipengaruhi oleh karakter pribadi seorang guru itu sendiri, juga dipengaruhi oleh jenis materi yang diajarkan. Jadi penggunaan metode mengajar, harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Dan metode yang baik dipergunakan oleh guru A, belum tentu baik pula dipergunakan oleh guru B, oleh karena itu, penggunaan metode harus disesuaikan pula dengan karakter pribadi guru itu Semua metode mengajar, mempunyai kelebihan dan kekurangan sendiri, sehingga guru harus pandai-pandai memilih dan menggunakannya.Jika memang diperlukan seorang guru dapat mengkombinasikan beberapa metode yang memang diperlukan.
Seorang guru hanya menggunakan metode yang monoton (tida bervariasi) tanpa memperhatikan jenis materi yang sedang diajarkannya, biasanya akan membosankan,sehingga dapat mengurangi kegairahan belajar siswanya. Dengan sendirinya akan mempengaruhi keberhasilan siswa dalam belajarnya.Seorang guru yang mau memperhatikan perubahan jaman dewasa ini, dia akan mengembangkan dirinya dengan menyesuaikan metode mengajarnya dengan keberadaan siswa pada jamannya dia akan dianggap sosok guru idola, hal ini memang penting.
Macam-macam metode menurut Ruseffendi, (1990:34) adalah: macam-macam metode pembelajaran metamatika meliputi metode (1) ceramah (2) expositori (3) demonstrasi (4) latihan dan praktek (5) Tanya jawab (6) diskusi (7) permainan (8) karya wisata (9) laboratorium (10) kegiatan lapangan (11) inkuiri (12) pemecahan masalah (13) pemberian tugas/pekerjaan rumah (14) metode proyek (15) pengajaran beregu (16) Keterampilan Dasar Mengajar Matematika Dalam kegiatan belajar mengajar matematika, seorang guru dituntut memiliki seperangkat keterampilan dasar mengajar matematika. Menurut Hasibuan dan Mujiono (1986) bahwa keterampilan mengajar dapat berupa: “(1) keterampilan member penguatan (Reinforcement) (2) keterampilan bertanya (3) keterampilan menggunakan variasi (4) keterampilan menjelaskan (50 keterampilan membuka dan menutup pelajaran

C.  Metode Demonstrasi

     1. Pengertian MetodeDemonstrasi.
Metode demonstrasi adalah suatu penyajian yang dipersiapkan secara teliti untuk mempertontonkan dan mempertunjukkan yaitu sebuah tindakan atau posedur yang
digunakan.Metode ini disertai dengan penjelasan, ilustrasi, dan pernyataan lisan (oral) atau peragaan (visual) secara tepat 9dalam Canei, 1986:38).Dari batasan ini, Nampak bahwa metode ini ditandai adanya kesengajaan untuk mempertunjukkan tindakan atau penggunaan prosesur yang disertai penjelasan, ilustrasi, atau pernyataan secara lisan Winarno mengemukakan bahwa metode demonstrasi adalah adanya seorang guru, orang luar yang diminta, atau siswa memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas (Winarno, 1980:87). Batasan yang dikemukakan Winarno memberikan kepada kita,bahwa untuk mendemonstrasikan atau memperagakan tidak harus dilakukan oleh guru sendiri dan yang didemonstrasikan adalah suatu proses.
Dengan memperdulikan batasan metode demonstrais seperti dikemukakan oleh Cardille dan Winarno, maka dapat dikemukakan bahwa metode demonstrasi merupakan format interaksi belajar-mengajar yang sengajar mempertunjukkan atau memperagakan tindakan, proses, atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang lain kepada seluruh siswa atau sebagian siswa. Dengan batasan metode demonstrasi ini, menunjukkan adanya tuntutan kepada guru untuk merencanakan penerapannya, memperjelas demonstrasi oral maupun visual, dan menyediakan peralatan yang diperlukan.

     2. Tujuan Penerapan Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi barangkali lebih sesuai untuk mengajarkaan keterampilan tangan ini dimana gerakan-gerakan jasmani dan gerakan-gerakan dalam memegang sesuatu benda akan dipelajari, ataupun untuk mengajar hal-hal yang bersifat rutin (Staton,1978:91). Dengan kata lain, metode demonstrasi bertujuan untuk mengajarkan keterampilan-keterampilan fisik daripada keterampilan-keterampilan intelektual.Cardille mengemukakan bahwa metode demonstrasi dapat dipergunakan untuk:
1.        Mengajar siswa tentang bagaimana melakukan sebuah tindakan atau menggunakan suatu prosedur atau produk baru.
2.        Meningkatkan kepercayaan bahwa suatu prosedur memungkinkan bagi siswa.
3.        Meningkatkan perhatian dalam belajar dan penggunaan prosedur. (Canei, 1986:38)

         Sedangkan Winarno mengemukakan bahwa tujuan penerapan metode demonstrasi Mengajarkan suatu proses, misalnya proses pengaturan, proses pembuatan, proses kerja.Proses mengerjakan dan menggunakan.
         Menginformasikan tentang bahan yang diperlukan untuk membuat produk tertentu.Mengetengahkan cara kerja. (Winarno, 1980:87-88).
Berdasarkan pendapat di atas, maka tujuan penerapan metode demonstrasi yang dikemukakan oleh Staton, Cardille, dan Winarno, dapat diidentifikasi tujuan penerapan metode demonstrasi yang mencakup:
1.        Mengajar siswa tentang suatu tindakan, proses atau prosedur keterampilan-keterampilan.
2.        Mengembangkan kemampuan pengamatan pendengaran dan penglihatan para siswa secara bersama-sama.
3.        Mengkonkretkan infomasi yang disajikan kepada para siswa.

     3. Keunggulan Metode Demonstrasi.
         Dengan mempertunjukkan atau memperagakan suatu tindakan, proses, atau prosedur, maka metode demonstrasi memiliki keunggulan-keunggulan sebagai berikut:
1.        Memperkecil kemungkinan salah bila dibandingkan kalau siswa hanya membaca atau mendengar penjelasan saja, karena demonstrasi memberikan gambaran konkret yang memperjelas perolehan belajar siswa dari hasil pengamatannya.
2.        Memungkinkan para siswa terlibat secara langsung dalam kegiatan demonstrasi,sehingga memberi kemungkinan yang besar bagi para siswa memperoleh pengalaman-pengalaman langsung. Peluang keterlibatan siswa memberikan kesempatan siswa mengembangkan kecakapannya dan memperoleh pengakuan dan penghargaan.
3.        Memudahkan pemusatan perhatian siswa kepada hal-hal yang dianggap penting,sehingga para siswa akan benar-benar memberikan perhatian khusus kepda hal tersebut.
         Dengan kata lain, perhatian siswa lebih mudah dipusatkan kepada proses belajar dan tidak tertuju kepada yang lain.Memungkinkan para siswa mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum mereka ketahui selama demonstrasi berjalan, jawaban dari pertanyaan dapat disampaikan oleh guru ada saat itu pula.

D.      Penerapan Metode Demonstrasi dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa
       Sebelum mengajar atau pembelajaran dilaksanakan, seorang guru harus membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), menentukan konsep materi yang akan dipelajari siswa, mencari dan merumuskan masalah yang sesuai dengan konsep tersebut, serta merencanakan strategi pembelajaran yang cocok.Mengacu dari metode yang dipergunakan, maka selama proses kegiatan belajar mengajar siswa dapat memusatkan perhatiannya pada pokok bahasan yang akan didemonstrasikan, siswa memperoleh pengalaman yang dapat membentuk ingatan yang kuat, siswa terhindar dari kesalahan dalam mengambil suatu kesimpulan, pertanyaan-pertanyaan yang timbul dapat dijawab sendiri oleh siswa pada saat dilaksanakannya demonstrasi, apabila terjadi keraguan siswa dapat menanyakan secara langsung kepada guru, kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki karena langsung diberikan contoh konkretnya.
       Menurut Basyirudin Usman (2002:46) menyatakan bahwa keunggulan dari metode demonstrasi adalah perhatian siswa akan dapat terpusat sepenuhnya pada pokok bahasan yang akan didemonstrasikan, memberikan pengalaman praktis yang dapat membentuk ingatan yang kuat dan keterampilan dalam berbuat, menghindarkan kesalahan siswa dalam mengambil suatu kesimpulan, karena siswa mengamati secara langsung jalannya demonstrasi yang dilakukan.
      Adapun menurut Syaiful Bahri Djamara (2000:56) menyatakan bahwa keunggulan metode demonstrasi adalah membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu kegiatan pembelajaran, memudahkan berbagai jenis penjelasan, kesalahan-kesalahan yang terjadi dari hasil ceramah dapat diperbaiki melalui pengamatan dan contoh konkret dengan menghadirkan objek sebenarnya.
       Berdasarkan uraian di atas maka penggunaan metode demonstrasi diharapkan dapat meningkatkan pemahaman siswa pada pokok bahasan nilai tempat ratusan, puluhan.Adapun prosedur demonstrasi yang harus dilakukan dalam pembelajaran, dalam hal ini untuk meningkatkan pemahaman pada pelajaran matematika pada pokok bahasan nilai tempat adalah:
1. Mempersiapkan alat bantu yang akan digunakan dalam pembelajaran.
2. Memberikan penjelasan tentang topic yang akan didemonstrasikan.
3. Pelaksanaan demonstrasi bersamaan dengan perhatian dan perniruan dari siswa.
4. Penguatan (diskusi, Tanya jawab, dan latihan) terhadap demonstrasi.




BAB III

PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN

A.      Subjek Penelitian
       Lokasi Penelitian yang digunakan untuk melaksanakan penelitian ini adalah SDN Ringinsari Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian.Waktu yang digunakan peneliti dalam melakasanakan penelitian tindakan kelas ini selama 2 siklus, yaitu pada tanggal 13 Oktober 2011 (Siklus 1) dan 20 Oktober 2011 Mata pelajaran yang diteliti adalah Matematika dengan materi pembelajaran nilai tempat, Kelas II Semester I SDN Ringinsari Tahun Pelajaran 2011/2010.Jumlah siswa SDN Ringinsari kelas II B berjumlah 20 siswa, terdiri dari 10 siswa perempuan dan 10 siswa laki-laki.Karakteristik siswa adalagh meliputi latar belakang ekonomi yang  sebagian besar siswa berasal dari keluarga kurang mampu, pendidikan orang tua pada umumnya hanya sebatas lulus Sekolah Dasar (SD).

B.       Deskripsi Per Siklus
       Penelitian ini mengenai peningkatak pemahaman nilai dengan menggunakan metode demonstrasi dilaksanakan melalui beberapa tahapan.Tahapan yang dimaksud adalah perencanaan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan tersebut dilaksanakan dalam dua siklus sebagaimana dijelaskan berikut ini:
       1. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan pada siklus pertama ini adalah:
1. Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP)
2. Menyiapkan media pembelajaran
3. Menyiapkan LKS
       2. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan pada siklus pertama ini adalah:
1.    Guru menjelaskan materi tentang nilai tempat ratusan, puluhan, dan satuan.
2.    Siswa mencatat penjelasan guru.
3.    Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya apabila ada kesulitan dalam memahami materi pelajaran.
4.    Guru menunjuk beberapa siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis.
5.    Guru memberikan soal evaluasi kepada siswa.
3. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengamatan pada siklus pertama ini adalah:
1. Mengamati aktifitas siswa dalam menjawab soal.
2. Mengamati aktifitas siswa dalam kerja kelompok mengerjakan LKS.
3. Mengamati aktifitas siswa dalam menyampaikan hasil kerja kelompok.
4. Mengamati aktifitas guru dalam proses pembelajaran.
  1. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap refleksi siklus 1 ini adalah:
1. Mancatat hasil pengamatan ;
2. Mengevaluasi hasil pengamatan;
3. Menganalisis hasil pembelajaran; dan
4. Memperbaiki kelemahan untuk siklus berikutnya.

            Adapun yang dilakukan pada siklus II adalah sebagai berikut :
1.         Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perencanaan pada siklus 2 adalah:
1. Menyusun Rencana Pembelajaran (RPP)
2. Memadukan hasil refleksi siklus 1 agar siklus 2 lebih efektif
3. Menyiapkan media pembelajaran
4. Menyiapkan tes tulis

2.      Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pelaksanaan pada siklus kedua ini adalah:
1.    Guru menjelaskan materi tentang nilai tempat ratusan, puluhan, dan satuan.
2.    Siswa mendengarkan penjelasan guru dan mengajukan pertanyaan.
3.    Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok.
4.    Secara berkelompok, siswa diminta mengerjakan LKS (menyebutkan nilai tempat)
5.    Melalui perwakilan, tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
6.    Guru memberikan soal tes akhir siklus 2.
3.         Kegiatan yang dilakukan dalam tahap pengamatan pada siklus 2 ini adalah:
1. Mengamati aktifitas siswa dalam menjawab soal.
2. Mengamati aktifitas siswa dalam kerja kelompok mengerjakan LKS.
3. Mengamati aktifitas siswa dalam menyampaikan hasil kerja kelompok.
4. Mengamati aktifitas guru dalam proses pembelajaran.
5. Mengamati perkembangan materi
4.    Kegiatan yang dilakukan dalam tahap refleksi siklus kedua ini adalah:
1. Mancatat hasil pengamatan ;
2. Mengevaluasi hasil pengamatan;




BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.      Deskripsi Per Siklus

Dari tindakan yang telah dilaksanakan dapat dilaporkan adanya peningkatan kemampuan mengajar pada guru dan peningkatan pemahaman nilai tempat melalui metode demonstrasi pada siswa kelas II SDN Ringinsari Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian.
Peningkatan kemampuan mengajar tersebut antara lain:
1.        Kebiasaan mengajar yang membiasakan guru aktif menjelaskan dan menerangkan mulai berkurang, dan berubah menjadi bimbnag dan mengembangkan inisiatif siswa.
2.        Kebiasaan siswa yang biasa pasif, berubah menjadi aktif dalam mengidentifikasi
3.        Setiap akhir pelajaran, siswa memperoleh hasil belajar (produk) selama proses belajar berlangsung melalui diskusi kelompok maupun individu.
4.        Pada saat pembelajaran guru, mulai selalu memeprhatikan:
  1. Perbedaan individu
  2. Pengorganisasian kelas
  3. Variasi pembelajaran
5.        Guru lebih banyak mendorong siswa berkreatif dan menciptakan iklim belajar yang kondisif.
6.        Hasil penelitian dalam proses analisis data berupa peningkatan pemahaman nilaitempat melalui metode demonstrasi pada siswa kelas II SDN Ringinsari Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian berupa tes tulis. Proses analisis data tersebut disajikan dalam 2 siklus sebagai berikut:
Berdasarkan hasil analisis data tersebut terhadap pemahaman nilai tempat, maka dapat ditentukan jumlah siswa yang mendapat nilai sama.
Secara lengkap hasil analisis data terhadap pemahaman nilai tempat siswa kelas II SDN Ringinsari Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian diuraiakan berikut ini:
1.        Siswa yang mendapat nilai 50 sebanyak 3 anak
2.        Siswa yang mendapat nilai 60 sebanyak 5 anak
3.        Siswa yang mendapat nilai 70 sebanyak 9 anak
4.        Siswa yang mendapat nilai 80 sebanyak 4 anak
Untuk lebih jelasnya, hasil analisis data pemahaman nilai tempat pada siklus 1,dipaparkan berikut ini.

Tabel 4.1 : Hasil Tes Akhir Pada Siklus 1

No
Nama Siswa
Nilai










Jumlah


Rata-rata


Prosentase

Hasil penelitian pada siklus 1 menunjukkan bahwa pemahaman siswa kelas II dalam memahami materi nilai tempat masih belum maksimal.Oleh karena itu, penelitian dilanjutkan pada siklus 2.Daftar nilai tersebut jika disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut:
Dalam proses pembelajaran siklus 2, siswa kelas II melanjutkan menjawab soal melalui tes tulis. Berdasrkan hasil analisis data terhadap pemahaman nilai tempat, maka ditentukan jumlah siswa yang mendapat nilai yang sama. Secara lengkap hasil analisis data nilai siswa kelas II SDN Ringinsari Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian diuraiakan sebagai berikut :
a.    Siswa yang mendapat nilai 50 sebanyak 0 anak
b.    Siswa yang mendapat nilai 60 sebanyak 2 anak
c.    Siswa yang mendapat nilai 70 sebanyak 3 anak
d.   Siswa yang mendapat nilai 80 sebanyak 8 anak
e.    Siswa yang mendapat nilai 90 sebanyak 4 anak

Untuk lebih jelasnya, hasil analisis data pemahaman nilai tempat pada siklus 2,dipaparkan berikut ini.


Tabel 4.2 : Hasil Tes Akhir Pada Siklus 2

No
Nama Siswa
Nilai










Jumlah


Rata-rata


Prosentase



Hasil penelitian pada siklus 2 menunjukkan bahwa pemahaman siswa kelas II dalam memahami materi nilai tempat sudah banyak mengalami pengingkatan yang bermakna atau signifikan.
Daftar nilai tersebut jika disajikan dalam bentuk grafik sebagai berikut:





B.       Pembahasan Setiap Siklus
Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan dalam siklus 1 dan 2,terlihat jelas ada peningkatan pemahaman materi nilai tempat melalui metode demonstrasi pada siswa kelas II SDN Ringinsari Kecamatan Tempurejo Kota Pasirian.Peningkatan tersebut disajikan dalam tabel 4.3 berikut ini.




Tabel 4.3 : Perbandingan hasil tes Akhir pada Siklus 1 dan 2
No
Nama Siswa
Nilai










Jumlah


Rata-rata


Prosentase


Berdasarkan tabel di atas Nampak 18 siswa telah mampu memahami materi nilai tempat melalui metode demonstrasi dan hampir seluruh siswa mengalami peningkatan yang sangat signifikan dari siklus 1 ke siklus 2.Hal tersebut membuktikan bahwa penggunaan metode demonstrasi sangat tepat untuk meningkatkan kemampuan siswa khususnya tentang nilai tempat.Untuk lebih jelasnya adanya peningkatan tersebut lihat gambar dalam grafik di bawah ini.

Tabel hasil tes akhir siklus I dan II

No
Nama Siswa
Siklus I
Siklus II
Ketuntasan




Tuntas











Jumlah




Rata-rata




Prosentase





Berdasarkan grafik di atas terlihat peningkatan yang signifikan mulai dari pra siklus (55%), kemudian pada siklus 1 meningkat menjadi 65% dan siklus 2 meningkat menjadi 90%.

BAB V

KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT


A.      Kesimpulan
Setelah adanya kegiatan perbaikan pembelajaran dapat ditarik kesimpulan sebagai
1.        Dengan menggunakan metode demonstrasi, ternyata mampu meningkatkan pemahaman tentang nilai tempat pada siswa kelas II SDN Ringinsari.
2.        Dengan meningkatnya pemahaman siswa kelas II SDN Ringinsari pada materi tentang nilai tempat, maka prestasi siswa pun juga ikut meningkat.
B.       Saran Tindak Lanjut
Agar penelitian tindakan kelas ini bisa bermanfaat untuk sesame, maka dikemukakan saran-saran berikut ini:
1.        Diharapkan agar pembaca, khususnya rekan-rekan guru melakukan penelitian lanjutan.Misalnya melakukan timdakan kelas mengenai peningkatan pemahaman siswa melalui media atau metode pembelajaran yang lain.
2.        Walaupun hasil penelitian tindakan kelas ini belum tentu cocok diterapkan di lembaga pendidikan lain, peneliti tetap berharap agar hasil penelitian ini tetap dapat dilaksanakan yaitu penggunaan metode yang tepat untuk meningkatkan pemahaman nilai tempat pada siswa. Hal yang demikian perlu dilakukan, karena dengan penggunaan metode yang tepat dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
      Demikian kesimpulan dan saran yang dapat disampaikan, semoga bermanfaat bagi banyak pihak.







DAFTAR PUSTAKA

Bahri, Jamara Syaiful. (2000). Keunggulan Metode Demonstrasi. Jakarta: Bina Aksara.

Cenei (1986).Tujuan Penerapan Metode Demonstrasi. Boston: Allyn & Bacon.

Mujiono.(1986). Keterampilan Dasar Mengajar Matematika. Jakarta: Intan Pariwara.

Reuseffendi (1990).Macam-macam Metode. Jakarta: Bina Aksara.

Usman, Basyirudin. (2002). Penerapan Metode Demonstrasi dalam Pembelajaran.

Jakarta: Pustaka Jaya.

Staton (1978).Penerapan Metode Demonstrasi. Boston: Allyn & Bacon.

Winarno (1980).Pengertian Metode Demonstrasi. Jakarta: Rineka Cipta.

0 Response to "KARYA TULIS ILMIAH MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TENTANG NILAI TEMPAT MELALUI METODE DEMONSTRASI PADA SISWA KELAS II SDN RINGINSARI KECAMATAN TEMPUREJO KOTA Pasirian"

Post a Comment