iklan

KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH PENDIDIKAN TERBARU



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Perumusan Masalah
Pendidikan merupakan persoalan terpenting bagi semua ummat sebab pendidikan mampu mengembangkan individu dan masyarakat yang memiliki cakrawala berpikir kritis. Pendidikan juga merupakan alat untuk memajukan peradaban, mengembangkan masyarakat serta menciptakan generasi baru yang dapat berbuat banyak bagi kepentingannya.
Dunia pendidikan merupakan aset nasional dan sosial yang paling strategis dan realistis dalam usaha meningkatkan harkat dan martabat manusia.  Melalui pendidikan, manusia dapat menguak tabir kehidupan sekaligus dapat menempatkan dirinya sebagai subyek dalam setiap perubahan dan pergeseran misalnya pada aspek kultural.
Pendidikan dapat mempersiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan penuh tanggung jawab menuju arah kedewasaannya sehingga tujuan dapat tercapai.  Tujuan yang akan dicapai dijelaskan dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 Bab II Pasal 3 yang berbunyi sebagai berikut :  Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa dan bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, berilmu cukup, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 
Pendidikan milik semua bangsa, milik semua masyarakat tanpa memandang strata sosial, ekonomi, agama, budaya dan ras. Pendidikan menjadi sumber kekuatan dalam era globalisasi dan pasar bebas karena tanpa pendidikan manusia dihadapkan pada perubahan-perubahan yang tidak menentu. Ibarat nelayan di “lautan lepas” dapat tersesat jika tidak memiliki kompas sebagai pedoman untuk bertindak dan mengarunginya. Begitu halnya dengan hubungan pendidikan dengan lapangan kerja sangat linear dan memiliki keterpaduan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan antara sub komponennya.  Apabila arus pendidikan tidak mampu menembus dimensi lapangan kerja, maka mengakibatkan hubungan yang tidak linier antara pendidikan dengan kebutuhan lapangan kerja, karena apa yang terjadi di lapangan kerja sulit diikuti oleh dunia pendidikan, sehingga terjadi kesenjangan. Untuk mengantisapasi hal ini maka pendidikan harus diletakkan pada empat pilar yaitu belajar mengetahui (learning to know), belajar melakukan (learningto do), belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Syamsinar,  2008). 
Suatu kenyataan bahwa pendidikan sudah dinikmati masyarakat, program pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan sentuhan pendidikan frekuensinya sangat tinggi.  Hal ini dibuktikan dengan ditingkatkannya dana pendidikan sebesar 20% oleh pemerintah.  Bantuan pendidikan dana BOS sangat membantu manajemen pendidikan.  Begitu halnya dengan program Gubernur Sulawesi Tenggara “Bahteramas” memberikan ruang bagi dunia pendidikan untuk akses dan eksis di masyarakat.  Tentunya, kebijakan pemerintah ini dapat membawa angin surga bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara secara khusus dan masyarakat Indonesia secara umum. Akan tetapi, suatu hal yang miris bahwa anak-anak suku Bajo yang bermukim di wilayah pesisir sampai hari ini masih belum menikmati manfaat pendidikan secara merata.   Dari aspek kualitas maupun kuantitas pendidikan masih sangat terbatas, slogan sebagai komponen anak bangsa yang minim dalam menikmati pendidikan sampai kejenjang yang lebih tinggi melekat erat dalam tubuh anak-anak suku Bajo.  Hal ini akan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia yang sentrumnya adalah ketidakberdayaan dalam mengelola sumberdaya perikanan. 
Sampai saat ini, kondisi pendidikan Sulawesi Tenggara, partisipasi sekolah hanya mencapai 64%, namun khusus untuk suku Bajo hanya mencapai 0,5%. Hal ini disebabkan masyarakat suku Bajo lebih memilih  untuk mengikuti tradisi nenek moyang mereka sebagai nelayan secara turun temurun.
Suku bajau atau suku Bajo banyak berdiam di perairan Sulawesi dan kepulauan sekitarnya. Pemukiman suku Bajo memang banyak di sekitar pulau Sulawesi. Antara lain perairan Manado, Kendari dan Kepulauan Wakatobi (Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko).
Dengan wilayah laut yang lebih luas tentu saja kekayaan hayati menjadi beragam. Di perairan Sulawesi Tenggara saat ini terdapat banyak jenis Ikan, Kerang-kerangan dan bermacam-macam hewan laut lainnya yang hidup berkembang biak. Ini tentu saja dimanfaatkan oleh penduduk yang hidup di daerah pesisir pantai maupun penduduk yang kesehariannya berprofesi sebagai nelayan termasuk masyarakat suku Bajo. Masyarakat suku Bajo yang berprofesi sebagai nelayan tidak semua memiliki kehidupan yang sejahtera. Hal ini disebabkan nelayan suku Bajo tergolong nelayan tradisional dan anak-anaknya sedikit mendapat sentuhan pendidikan dan jangan heran kalau anak-anak suku Bajo buta aksara dan buta huruf.  Hal ini akan berdampak terhadap masa depannya dan juga masa depan sumberdaya perikanan. 
Salah satu contoh yang menunjukkan rendahnya tingkat pendidikan bagi anak-anak suku Bajo adalah anak suku Bajo yang terdapat di desa Labotaone Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan. Wilayah tersebut merupakan daerah pesisir yang salah satu komunitas masyarakatnya adalah suku Bajo. Keadaan pendidikan anak-anak suku Bajo di wilayah tersebut sangat memprihatinkan, karena 96% anak suku Bajo usia sekolah tidak mengenyam pendidikan, walaupun orangtua dari anak-anak suku Bajo ini menghendaki anaknya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain jauhnya fasilitas sekolah dari perkampungan mereka. Untuk sampai ke sekolah yang terletak di pusat desa mereka harus naik perahu (mendayung) sendiri karena orang tua mereka pergi mencari makan yang memiliki resiko kecelakaan yang cukup besar karena apabila ada gelombang yang besar perahu mereka terbalik dan anak-anak tersebut hanyut dibawa gelombang. Selain itu, mereka biasanya malu untuk bertemu dengan masyarakat banyak dan daya dukung ekonomi yang terbatas, sehingga anak-anak suku Bajo tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya di desa tetangga. Berdasarkan pemikiran diatas maka untuk menjawab tantangan pendidikan suku Bajo dan untuk memajukan kehidupan masyarakat suku Bajo di berbagai aspek khususnya aspek pendidikan, maka dibutuhkan suatu wadah atau tempat yang bisa menampung anak-anak Bajo tersebut untuk mendapatkan pendidikan seperti model rumah singgah sehingga suatu saat suku Bajo maju secara ekonomi dan pendidikan.
Salah satu program pendidikan yang berbasis kreativitas perikanan yang bersifat nonformal seperti rumah singgah dimana merupakan wadah/tempat belajar bagi anak-anak yang mengenyam pendidikan program ini, memiliki asas manfaat dan motivasi pendidikan yang besar bagi anak suku Bajo.  Program ini juga mendukung visi gubernur dalam membebaskan anak bangsa di jazirah Sulawesi Tenggara dari keterbelakangan pendidikan.  Lomba karya tulis ilmiah merupakan salah satu wahana penyaluran informasi dalam penguatan eksistensi model rumah singgah berbasis kreativitas perikanan, sehingga diharapkan adanya komitmen dan respon positif dari banyak pihak untuk peduli terhadap pendidikan anak Bajo karena mereka adalah sama seperti anak suku lainnya yang butuh pendidikan dan kesejahteraan hidup.
B.     Gagasan Kreatif
Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat.
Masyarakatpesisir adalah masyarakat yang dinamis yang menggantungkan hidupnya pada hasil perikanan.  Kecenderungan masyarakat pesisir Sulawesi Tenggara adalah mengeksploitasi sumberdaya perikanan secara terus menerus tetapi dengan pengetahuan yang terbatas, masyarakat pesisir tidak mampu mengelola sumberdaya alam yang ada dengan baik.  Sehingga, mereka tidak bisa bersaing dengan masyarakat yang berada di perkotaan dan selalu mendapat predikat bahwa masyarakat pesisir adalah masyarakat yang memiliki keterbelakangan pendidikan dan ekonomi.  Oleh karena itu, dengan adanya rumah singgah sebagai alternatif pendidikan nonformal ini diharapkan agar anak-anak suku Bajo sederajat tingkat pendidikannya dengan anak-anak di perkotaan.  
 Untuk menerapkan pembangunan masyarakat pesisir khususnya di bidang pendidikan maka perlu dilakukan beberapa cara:
1.      Pemerintah konsisten terhadap tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU. No. 20 Tahun 2003, dimana setiap warga Negara berhak untuk memperoleh pendidikan yang sama baik yang terdapat didaerah terpencil seperti masyarakat pesisir maupun yang berada di perkotaaan.
2.      Memotivasi masyarakat pesisir agar peduli terhadap pendidikan melalui model pendidikan rumah singgah berbasis perikanan sebagai alternatif pendidikan nonformal yang memperkuat program pendidikan formal.
C.  Tujuan dan Manfaat Penulisan
a.  Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan karya tulis ilmiah ini adalah :
1.      Untuk memberikan kajian teoritis tentang model rumah singgah berbasis kreativitas perikanan sebagai alternatif pendidikan nonformal bagi anak-anak suku Bajo.
2.      Memberikan informasi kepada pelaku pendidikan dan pemerintah daerah untuk mengarahkan implementasi program pendidikan secara intensif dan berkelanjutan pada daerah-daerah terpencil khususnya suku Bajo.
3.      Sebagai kajian tentang upaya komitmen dan konsistensi pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan berdaya saing global.

b.  Manfaat Penulisan
Karya tulis ini diharapkan dapat memberikan manfaat :
1.      Adanya komitmen pemerintah bagi penerapan pendidikan adil makmur merata bagi anak-anak suku Bajo,
2.      Adanya informasi tentang manfaat pendidikan rumah singgah berbasis kreativitas perikanan bagi anak-anak suku Bajo, sehingga menjadi bahan referensi bagi pemerintah dalam penguatan kebijakan pendidikan.
3.      Adanya model-model pembelajaran kreatif yang berbasis muatan lokal produktif.





BAB II
 TELAAH PUSTAKA
2.1. Konsep Pendidikan
Secara umum, tujuan pendidikan adalah mewujudkan kedewasaan peserta didik yang bersifat normatif.  Selain itu kedewasaan mengarah pada kedewasaan psikis (rohani) dengan tujuan menumbuh kembangkan rasa tanggung jawab terhadap sikap, pola pikir dan tingkah laku dalam masyarakat.  Untuk mencapai tujuan itu dibutuhkan waktu yang relatif lama sebab dibatasi oleh usia sehingga harus diwujudkan secara bertahap dan dijabarkan secara jelas. Proses pendidikan tidak terlepas dari lingkungan masyarakat dan kebudayaan. Untuk itu, pendidikan harus mampu mendayagunakan struktur masyarakat.
Sistem pendidikan di Indonesia dalam rumusan Undang-Undang sistem pendidikan nasional dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 merumuskan bahwa pendidikan secara garis besar dikelompokkan dalam satuan pendidikan. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan pada jalur formal, nonformal dan informal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan terstruktur dan terjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.  Pendidikan dasar berjenjang dari sekolah dasar (SD) selama enam tahun dan sekolah menengah pertama (SMP) yang diselenggrakan selama 3 tahun, pendidikan menengah meliputi sekolah menengah atas (SMA) dan sekolah menengah kejuruan (SMK) atau pendidikan vokasi yang diselenggarakan selama 3 tahun, sedangkan jenjang pendidikan formal meliputi institut, akademi dan universitas.  Pendidikan nonformal dalam rumusan ini adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang, termasuk dalam jenjang dalam pendidikan ini termasuk kursus-kursus dan pelatihan-pelatihan. Sedangkan pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari,oleh dan untuk masyarakat.
Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 dijelaskan pula beberapa defenisi yang menjadi tolak ukur bagi pendidikan yaitu :
1.      Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
2.      Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan yang nonstruktural.
3.      Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
4.      Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 
5.      Kegiatan pendidikan nonformal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.
a.       Media Pendidikan
Media merupakan alat yang harus ada apabila kita ingin memudahkan sesuatu dalam pekerjaan.  Media merupakan alat bantu yang dapat memudahkan pekerjaan.  Setiap orang pasti ingin pekerjaan yang dibuatnya dapat diselesaikan dengan baik dan dengan hasil yang memuaskan (Peter, Q., 2005). 
Raihani (2005), menyatakan bahwa penggunaan media tidak harus membawa bungkusan berita-berita semua, siswa cukup dapat mengawasi suatu berita. Dari pendapat tersebut, dapat dihubungkan bahwa penyampaian materi pelajaran dengan cara komunikasi masih dirasakan adanya penyimpangan pemahaman oleh siswa. Masalahnya adalah  siswa terlalu banyak menerima sesuatu ilmu dengan verbalisme. Apalagi dalam proses belajar mengajar yang tidak menggunakan media dimana kondisi siswa tidak siap, akan memperbesar peluang terjadinya verbalisme.  Lebih lanjut Daniel, K. (2000), mengemukakan bahwa media yang difungsikan sebagai sumber belajar bila dilihat dari pengertian harfiahnya juga terdapat manusia didalamnya, benda, ataupun segala sesuatu yang memungkinkan untuk anak didik memperoleh informasi dan pengetahuan yang berguna bagi anak didik dalam pembelajaran. 
Sasaran penggunaan media adalah agar anak didik mampu menciptakan sesuatu yang baru dan mampu memanfaatkan sesuatu yang telah ada untuk dipergunakan dengan bentuk dan variasi lain yang berguna  dalam kehidupannya. Dengan demikian mereka dengan mudah mengerti dan memahami materi pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada mereka (Robert, 2005).  Selanjutnya Arhabib, (2000), mengemukakan bahwa media merupakan alat yang memungkinkan anak muda untuk mengerti dan memahami sesuatu dengan mudah dan dapat untuk mengingatnya dalam waktu yang lama dibandingkan dengan penyampaian materi pelajaran dengan cara tatap muka dan ceramah tanpa alat bantuan.
Syamsinar (2006) mengemukakan bahwa secara umum media mempunyai kegunaan:
1.      Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
2.      Mengatasi keterbatasan ruang, waktu tenaga dan daya indra.
3.      Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan sumber belajar.
4.      Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan visual, auditori dan kinestetiknya.
5.      Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman dan menimbulkan persepsi yang sama.
Selain itu, kontribusi media pembelajaran menurut Robert (2005)  adalah :
1.      Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar
2.      Pembelajaran dapat lebih menarik
3.      Pembelajaran menjadi lebih interaktif dengan menerapkan teori belajar
4.      Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek
5.      Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan
6.      Proses pembelajaran dapat berlangsung kapanpun dan dimanapun diperlukan
7.      Sikap positif siswa terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan
8.      Peran guru berubahan kearah yang positif
Daftar kelompok media instruksional menurut Anderson (1976) dalam Syamsinar (2006) pada Tabel 1 berikut ini:
Tabel 1. Daftar Kelompok Media Instruksional
Kelompok Media
Media Instruksional
1.
Audio
  • pita audio (rol atau kaset)
  • piringan audio
  • radio (rekaman siaran)
2.
Cetak
  • buku teks terprogram
  • buku pegangan/manual
  • buku tugas
3.
Audio – Cetak
  • buku latihan dilengkapi kaset
  • gambar/poster (dilengkapi audio)
4.
Proyek Visual Diam
  • film bingkai (slide)
  • film rangkai (berisi pesan verbal)
5.
Proyek Visual Diam dengan Audio
  • film bingkai (slide) suara
  • film rangkai suara
6.
Visual Gerak
  • film bisu dengan judul (caption)
7.
Visual Gerak dengan Audio
  • film suara
  • video/vcd/dvd
8.
Benda
  • benda nyata
  • model tirual (mock up)
9.
Komputer
  • media berbasis komputer; CAI (Computer Assisted Instructional) & CMI (Computer Managed Instructional

Syamsinar (2006), mengemukakan bahwa peranan guru dalam proses pembelajaran adalah selain sebagai pendidik maka peran-peran guru diperluas yaitu sebagai berikut :
§  Pelatih, guru harus memberikan peluang yang sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing.  Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak. 
§  Konselor, guru harus menciptakan satu situasi interaksi belajar mengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana yang kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dari guru.
§  Manajer pembelajaran, guru memiliki otonomi dan kemandirian yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar mengajar dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber peunjang pembelajaran.
§  Partisipan, Guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa.  Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak akan tetapi ia sebagai fasilitator pembelajaran siswa.
§  Pemimpin, diharapkan guru menjadi seseorang yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama.  Disamping sebagai pengajar, harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luar mengajar.
§  Pembelajar, guru harus secara terus-menerus belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya.
§  Pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya.  Guru yang mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif dan mampu menghasilkan berbagai karya dalam bidangnya.  Hal ini harus di dukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang tinggi sebagai basis kualitas profesionalismenya.
2.3. Rumah Singgah dan Pendidikan Alternatif
Salah satu bentuk penanganan anak pesisir khususnya anak Bajo adalah melalui pembentukan rumah singgah. Konferensi Nasional II Masalah Pekerja anak di Indonesia pada bulan Juli 1996 mendefinisikan bahwa rumah singgah sebagai tempat pemusatan sementara yang bersifat nonformal, dimana anak-anak bertemu untuk memperoleh informasi dan pembinaan awal sebelum dirujuk ke dalam proses pembinaan lebih lanjut (Sander,  2006).  Sedangkan menurut Departemen Sosial RI, rumah singgah didefinisikan sebagai perantara anak jalanan dengan pihak-pihak yang akan membantu mereka. Rumah singgah merupakan proses nonformal yang memberikan suasana pusat realisasi anak jalanan terhadap sistem nilai dan norma di masyarakat.
Secara umum tujuan dibentuknya rumah singgah adalah membantu anak mengatasi masalah-masalahnya dan menemukan alternatif untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sedang secara khusus tujuan rumah singgah adalah :
1.      Membentuk kembali sikap dan prilaku anak yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
2.      Mendukung upaya komitmen dan konsistensi pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan dan berdaya saing global.
3.      Memberikan berbagai alternatif pelayanan pendidikan dini untuk pemenuhan kebutuhan anak dan menyiapkan masa depannya sehingga menjadi masyarakat yang produktif (peran mutu layanan paud nonformal dalam mendukung anak jalanan menuntaskan wajib belajar pendidikan (Jawariah,  2008).
Ada berbagai bentuk pendidikan alternatif yang telah dilaksanakan oleh masyarakat baik perorangan maupun secara kelompok LSM-LSM, seperti “laboratorium edukasi dasar” oleh Romo Mangun dan Kelompoknya “Sekolah Tanpa Dinding” ataupun “Sekolah Darurat Kartini” di kolong jembatan tol Rawa bebek dan Kolong Tol Jembatan Tiga Jakarta oleh si kembar Ryan dan Rossi (ibu kembar) yang mengorganisir dan membelajarkan ratusan anak-anak miskin, terlantar yang hidup dijalanan.
Rumah singgah tidak menampung anak-anak secara permanen tapi hanya untuk waktu tertentu. Konsep ideal dari rumah singgah adalah anak-anak yang berada di pulau-pulau terpencil khususnya daerah pesisir yang didiami oleh suku Bajo dapat singgah di rumah untuk melakukan kegiatan yang positif misalnya, bagi yang putus sekolah dapat memperoleh pelajaran nonformal, dapat bermain, memperoleh tambahan gizi seperti minum susu atau bubur kacang ijo atau aktivitas lainnya yang merupakan pemenuhan hak anak-anak, yang tidak bisa diperoleh di rumahnya (Fadli, 2007).











BAB III
  METODE PENULISAN
3.1. Jenis Penulisan
Penulisan karya tulis ilmiah ini bersifat kajian pustaka dan studi kasus.  Untuk itu penulis menyusun berdasarkan bahan-bahan yang berasal dari buku teks, hasil penelitian dan informasi lainnya yang relevan dengan topik bahasan karya tulis ilmiah ini.  Data yang diperoleh disajikan secara deskriptif, sehingga diharapkan dapat menjadi bahan informasi tentang manfaat rumah singgah berbasis kreativitas perikanan bagi pemerintah dan masyarakat suku Bajo.

3.2. Obyek Penulisan

Penulisan karya tulis ilmiah ini bertitik tolak pada kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.  Sedangkan obyek penulisan  model rumah singgah berbasis kreativitas perikanan sebagai alternatif pendidikan nonformal bagi anak suku Bajo.






BAB IV
  PEMBAHASAN
4.1.Analisis Situasi
Sulawesi Tenggara adalah salah satu wilayah yang banyak didiami oleh suku Bajo. Suku Bajo yang tersebar di beberapa wilayah sulawesi tenggara. Mereka mendiami daerah pesisir Sulawesi Tenggara. Masyarakat Bajo yang ada di Sulawesi Tenggara memiliki kesamaan dengan suku Bajo yang berada di wilayah Indonesia. Masyarakat Bajo tergolong masyarakat dengan tingkat pendidikan dan ekonomi yang rendah. Hal ini dapat dilihat dari partisipasi anak-anak suku Bajo yang bersekolah jumlahnya sangat sedikit. Dari 64% partisipasi sekolah yang ada di Sulawesi Tenggara hanya 0,5% saja anak-anak suku Bajo yang bersekolah.  Hal ini sangat memiriskan hati. Anak-anak suku Bajo tidak bersekolah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain jarak antara rumah dan sekolah jauh, banyaknya hambatan yang dilalui bila anak-anak suku Bajo pergi bersekolah, kurangnya motivasi dan dorongan dari orang tua, anak-anak suku Bajo lebih senang bermain dan mencari ikan di laut dari pada pergi bersekolah. Seperti masyarakat masyarakat Bajo pada umumnya masyarakat Bajo Sulawesi Tenggara juga memanfaatkan sumberdaya perikanan yang ada di sekitarnya. Mereka umumnya menggantungkan hidupnya terhadap hasil tangkapan yang mereka dapatkan. Hasil tangkapan yang tidak menentu menjadikan masyarakat Bajo sebagai salah satu masyarakat pesisir yang dari segi ekonomi tidak sejahtera.
Data yang menunjukan rendahnya partisipasi pendidikan anak-anak suku Bajo dari total 60 orang usia wajib sekolah (7-12 tahun), dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.

Rendahnya partisipasi sekolah dari anak suku Bajo, ditunjang dengan minimnya sarana pendidikan.  Contoh kasus di Desa Labotaone bahwa satu-satunya sekolah formal yang ada di desa ini adalah Sekolah Dasar Labotaone yang kondisinya sangat memprihatinkan dan hanya memiliki 2 orang guru tetap dan 4 orang Guru honor.  Selain itu, akses transportasi menuju kecamatan lain yang meiliki sekolah yang lebih baik kualitasnya baik fisik maupun non fisik sangat jauh dan harus menyeberang laut.  Hal ini yang memungkinkan tidak adanya motivasi bagi masyarakat Bajo untuk menyekolahkan anaknya.  Dari 60 anak suku Bajo yang masuk dalam kategori umur wajib belajar 9 tahun, hanya 6 orang yang bersekolah.  Oleh karena itu, dari aspek respon pendidikan bagi anak suku Bajo di Desa Labotaone sangat rendah sekali.
4.2  Masyarakat Bajo dan Kehidupannya
Masyarakat suku Bajo menyebut dirinya sebagi orang laut.  Hal ini disebabkan oleh kehidupannya yang lebih banyak beraktifitas di sekitar daerah pesisir.  Sebenarnya masyarakat suku Bajo memiliki penghasilan yang besar, namun mereka tidak mampu mengelola penghasilan mereka dengan baik.  Ini dapat dilihat pada kehidupan sehari-harinya, mereka tergolong masyarakat yang miskin. Menurut Manan presiden suku Bajo seluruh Indonesia (2008) mengatakan, pada dasarnya pendapatan rata-rata suku Bajo dibelanjakan pada hari itu juga, atau untuk membeli perhiasan emas.  Hal ini dapat terlihat dalam kehidupan masyarakat Bajo yang ada di Tanjung Lemo. Contohnya mereka memiliki banyak furniture (Kulkas, DVD, VCD, TV, Parabola ) padahal itu cuma sebagai pajangan belaka, karena barang-barang itu tidak digunakan juga, sebab di daerah tanjung Lemo tersebut tidak ada aliran listrik, ketergantungan yang tinggi terhadap aktifitas melaut dan gaya hidup yang dipandang ”boros” sehingga kurang berorientasi ke masa depan Pada kehidupan mereka belum memiliki konsep menabung apalagi memanajemen keuangan keluarga.  Soal pendidikan mereka kurang mendapat perhatian.  Tercatat hanya 0,5% suku Bajo yang tersentuh pendidikan dari 64% angka partisispasi sekolah di Sulawesi Tenggara.  Hal ini disebabkan masyarakat suku Bajo lebih memilih untuk mengikuti tradisi nenek moyang mereka sebagai nelayan secara turun temurun. Anak-anaknya lebih senang terjun mencari ikan dari pada sekolah.
HoMe_bAJ0e









                                                                                                                                   
(Doc: Pribadi, 2009)
Gambar 2. Kondisi pemukiman suku Bajo dan aktivitas anak usia belajar anak-anak suku Bajo Tanjung Lemo Desa Labotaone (Sawonua, dkk.  2009)
4.2.     Model Rumah Singgah Berbasis Kreativitas Perikanan sebagai Alternatif Pendidikan Nonformal
Rumah singgah adalah suatu wadah untuk proses belajar dan mengajar bagi anak-anak yang tidak memperoleh pendidikan yang layak.  Rumah singgah ini berbentuk nonformal yang berorientasi pada pengembangan kapasitas anak didik, baik dari aspek keilmuan maupun pengembangan potensi dan kreativitasnya Fadli (2007), mengemukakan bahwa umumnya rumah singgah dibentuk oleh LSM-LSM atau masyarakat yang peduli terhadap pendidikan bagi anak-anak yang terlantar, hidup dijalanan, tidak sejahtera dan tidak mendapatkan kehidupan yang layak.  Selain itu, Qaimudin (2005), menyatakan bahwa rumah singgah merupakan sarana yang produktif bagi anak putus sekolah untuk dibina dan dilatih agar menjadi generasi yang tangguh, mandiri dan siap pakai dalam dunia kerja.
Disini perlu ditekankan bahwa rumah singgah tidak dapat menggantikan pendidikan formal. Rumah singgah berfungsi untuk memperkuat pendidikan formal.  Selain itu, rumah singgah juga berfungsi memotivasi anak-anak untuk mengikuti pendidikan formal dan di dalam rumah singgah juga diajarkan mengenai muatan lokal.  Muatan lokal yang di desain dalam rumah singgah sesuai dengan kondisi atau keadaan lingkungan sasaran siswa yang mengikuti rumah singgah.  Selain itu, rumah singgah sebagai salah satu media agar siswa yang dibina dalam rumah singgah tersebut bisa belajar mandiri melalui kewirausahaan.
Rumah singgah yang berbasis kreativitas perikanan memiliki peranan yang sangat besar bagi anak-anak suku Bajo.  Selain dapat meningkatkan sumberdaya manusia masyarakat pesisir pada umumnya, juga yang menjadi dampak utama adalah peningkatan kualitas sumberdaya manusia anak suku Bajo.  Dilihat dari tingkat konsumsi sumberdaya perikanan yang sangat besar dapat menjadi peluang yang baik untuk mengembangkan pola pemikiran generasi penerus bagi masyarakat pesisir.  Orang Bajo sebenarnya cerdas, jika selama ini terlihat tertinggal itu karena kebijakan pemerintah dan sistem yang layak saja yang belum berpihak kepada mereka.  Oleh karena itu, rumah singgah  dijadikan sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan masyarakat pesisir yang setara tingkat pengetahuan dan kemandiriannya dengan masyarakat perkotaan pada umumnya.  Sebenarnya, masyarakat suku Bajo merupakan salah etnis yang memiliki disiplin tinggi.  Salah satu contohnya adalah ketika mereka menambatkan perahu di pesisir pantai, mereka mengetahui satu atau dua jam kemudian harus diambil. Jika tidak diambil, masyarakat Bajo tidak akan jadi melaut, karena air sudah surut dan perahu tidak bisa ditarik ke lepas pantai, jadi jika membentuk rumah singgah di sekitar lingkungan masyarakat Bajo tidak akan menemukan kesulitan yang berarti karena dilihat dari hal tersebut mereka merupakan tipe masyarakat yang disiplin dengan budaya dan kearifan lokalnya. Jadi sendi modernitas dan kaum terpelajar sudah dimiliki masyarakat Bajo, cuma formalnya saja yang belum mereka nikmati sehingga kecerdasan dan keterampilan sepertinya tertutupi.
Syamsinar (2006), mengemukakan bahwa 90% rumah singgah yang dibentuk di Sulawesi Tenggara yang saat ini berjumlah 5 buah berhasil baik dari aspek pelaksanaan maupun tujuan pembentukannya.  Siswa rumah singgah sangat respek dan peduli dengan program rumah singgah karena orientasi programnya pengembangan sumberdaya manusia dan pemberdayaan.
Umumnya rumah singgah dikelola secara mandiri oleh yayasan, kelompok masyarakat dan kelompok binaan lembaga pendidikan formal.  Program kurikulumnya juga berbeda dengan lembaga pendidikan formal seperti SD, SMP dan SMA.  Akan tetapi katagori program rumah singgah teori 40% dan praktek lapangan 60%.  Fadli (2007), menyatakan bahwa terjadi perubahan karakter siswa dalam memahami materi yang frekuensinya lebih banyak prakteknya jika dibandingkan dengan teori. 
Rumah singgah berbasis kreativitas perikanan memiliki model pengajaran antara lain : a) Belajar sambil bermain, b) belajar melalui komik,  c) belajar melalui film dan, d) belajar sambil berwirausaha.  Materi yang diajarkan adalah mata pelajaran umum 30% (bahasa Indonesia/membaca dan menulis), pendidikan agama dan motivasi 10% dan materi perikanan (pengenalan ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang serta budidaya laut) sebesar 50% serta praktek usaha 10%..  Materi umum khususnya membaca dan menulis memiliki peringkat kedua dalam jumlah persentase materi, tetapi menjadi faktor utama dan terpenting diajarkan pada anak suku Bajo.  Hal ini disebabkan 98% anak suku Bajo yang tergabung dalam rumah singgah belum mengetahui baca dan tulis.  Sawonua, (2009), menyatakan bahwa anak-anak suku Bajo yang tidak menikmati dunia pendidikan formal rata-rata tidak dapat membaca dan menulis dan bahkan ada diantara siswa rumah singgah yang kurang memahami bahasa Indonesia.  Selanjutnya dikatakan bahwa muatan lokal yang didesain dalam rumah singgah disesuaikan dengan karakteristik lingkungan, dukungan sumberdaya perikanan dan pola hidupnya.  Muatan lokal menjadi keyword dalam rumah singgah berbasis kreativitas perikanan. 
Pola pengajaran dalam rumah singgah berbasis kreativitas perikanan, yaitu guru dominan dan aktif dalam membina dan memotivasi siswa rumah singgah.  Hal ini disebabkan karena salah satu faktor yang menyebabkan anak-anak suku Bajo tidak bersekolah pada sekolah formal adalah faktor motivasi dan budaya nenek moyang mereka yang hanya melaut tanpa memperhatikan kualitas pendidikan dan sumberdaya manusianya.
Ubaidillah (2007), menyatakan bahwa tingkat keberhasilan model pembelajaran pada rumah singgah disajikan pada Tabel 2 berikut:
Tabel 2. Model Pembelajaran dan Implementasinya
No.
Model Pembelajaran
Implementasi
Persentase Keberhasilan (%)
1.
Belajar sambil bermain
6 pertemuan
24,30
2.
Belajar melalui komik
6 pertemuan
21.70
3.
Belajar melalui film
6 pertemuan
16,80
4.
Belajar sambil berwirausaha
6 pertemuan
37,2

Model pembelajaran belajar sambil berwirausaha memiliki persentase keberhasilan yang lebih tinggi karena siswa yang dididk dalam rumah singgah memiliki motivasi berwirausaha dan wadah ini dijadikan sebagai media pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan dirinya dalam berusaha untuk membantu kehidupan keluarganya.
Tati (2004), mengemukakan bahwa program rumah singgah umumnya kreatif dan inovatif serta produktif.  Kreativitas bahan ajar sangat menentukan keberhasilan daya serap siswa karena motivasi siswa berbeda dengan pelajar pada sekolah formal.
Sawonua, (2009), mengemukakan bahwa rumah singgah berbasis perikanan dapat ditempuh beberapa tahap, mulai dari tahap persiapan sampai dengan tahap pelaksanaan.  Materi pelajaran yang akan disajikan berupa materi umum (Bahasa indonesia dan pendidikan agama) dan materi khusus (Pengenalan potensi sumberdaya hayati perairan yang harus dilindungi dan dilestarikan sampai dengan bagaimana mengolah hasil perikanan tersebut dalam skala yang lebih besar, Budidaya rumput laut, Pengenalan ekosistem terumbu karang, Pengenalan Ekosistem Mangrove, Pengenalan Ekosistem Lamun dan Belajar berwirausaha).
Peningkatan kemampuan SDM merupakan hal yang sangat menentukan keberhasilan pengelolaan sumberdaya dalam menjaga lingkungan, sehingga dalam pengelolaan sumberdaya perairan yang ada lebih terjaga kelestariannya.  Dalam model pembelajaran rumah singgah yang berbasis perikanan ada fokus pembinaan yang dilakukan adalah mendidik anak-anak suku Bajo dengan pendidikan yang mengarah kepada  model kreativitas perikanan.  Melalui model pendidikan rumah singgah berbasis perikanan ini diharapkan anak-anak suku Bajo dapat menggunakan pengetahuan yang didapatkan di dalam mengelola sumberdaya perairan yang ada.  Selain itu, model pendidikan rumah singgah berbasis perikanan ini diadakan guna menumbuhkembangkan serta memajukan sumberdaya manusia yang lebih maju.  Dalam model rumah singgah berbasis perikanan, tidak merubah budaya yang ada pada masyarakat Bajo, sehingga anak-anak suku Bajo selain mendapatkan pendidikan mereka juga tidak kehilangan jati diri mereka sebagai “orang laut”.
Perbandingan antara Model pembelajaran pada rumah singgah dan Model pembelajaran pada Pendidikan formal dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:
Model Pembelajaran Rumah Singgah
Model pembelajaran Pendidikan Formal
*      Proses belajar dan mengajar tidak formal berdasarkan kebutuhan dan kondisi diri dan lingkungan sekitarnya.
*      Tidak terdapat mekanisme formal dan terstruktur serta berjenjang pada tingkatan pendidikan lanjutan.
*      Tidak menggunakan seragam sekolah pada umumnya
*      Hubungan sosial antara pengajar dan diajar lebih erat karena guru harus menjadi bagian dari siswa agar dapat mentransfer ilmu yang diajarkan
*      Proses belajar dan mengajar dapat ditentukan atas dasar kesepakatan bersama antara pengelola, guru dan siswa.
*      Materi lebih berorientasi pada ilmu dan kemandirian serta profesionalisme
*      Pengelolaan materi dilakukan secara parsial oleh guru
*      Proses belajar dan mengajar formal


*      Pendidikannya berjenjang dari Taman Kanak-Kanak, SD, SLTP, SMA dan Perguruan Tinggi.
*      Wajib menggunakan seragam sekolah sesuai dengan ketentuan yang ada.
*      Interaksi guru dan siswa terbatas dalam batasan tteori yang disampaikan.

*      Proses belajar dan mengajar terikat oleh waktu.

*      Materi pembelajarannya terstruktur berdasarkan kurikulum yang ada.

*      Pengelolaan materi secara kolektif.

Sumber : (Sawonua, 2009 dan Fadli, 2007)

Zumrah (2006), mengemukakan bahwa model rumah singgah juga menitikberatkan pada pendidikan karakter, bergerak dari knowing menuju doing atau acting. Salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang anak suku Bajo adalah motivasi untuk knowing sangat rendah, sehingga sangat minim doing atau acting yang produktif dan ramah lingkungan. 
Untuk mencapai pendidikan karakter tersebut sentuhan motivasi yang diberikan mencapai 10%, dimana motivasi yang diberikan bagaimana anak suku Bajo dapat lepas dari belenggu keterbelakangan pendidikan menuju kecerdasan anak bangsa.  Selanjutnya agar dapat menuju acting, maka sentuhan pembelajaran yang diberikanan dalam rumah singgah untuk kategori praktik mencapai 50%.  Pengajaran diarahkan bagaimana mereka memenej lingkungan dan memelihara lingkungannya baik kekayaan potensi terumbu karangnya, padang lamun maupun ekosistem mangrovenya, Selain itu dikembangkan aspek praktik budidaya laut seperti belajar berwirausaha rumput laut, belajar berwirausaha budidaya ikan.  Untuk mendukung hal tersebut, pengelola rumah singgah harus mampu membuat kerjasama atau kemitraan dengan pelaku bisnis ditingkat petani, sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu media percontohan pembelajaran langsung di lapangan.  Hal tersebut  dapat mengikis dan membuka rantai kemiskinan, sehingga anak suku Bajo dapat lepas dari keterbelakangan ekonomi menuju kemandirian hidup yang baik dan sejahtera.



BAB V
  SIMPULAN DAN REKOMENDASI
5.1. Simpulan
Simpulan karya tulis ilmiah ini adalah:
1.  Partisipasi sekolah anak suku Bajo di Desa Labotaone sangat rendah yaitu 10% bersekolah (6 orang) dan 90% tidak bersekolah (54 orang).
2.  Rumah singgah berbasis kreativitas perikanan memiliki model pengajaran antara lain : a) Belajar sambil bermain, b) belajar melalui komik,  c) belajar melalui film dan, d) belajar sambil berwirausaha. 
3.  Pola pengajaran dalam rumah singgah berbasis kreativitas perikanan, yaitu guru dominan dan aktif dalam membina dan memotivasi siswa rumah singgah.
4.  Model rumah singgah rumah singgah berbasis kreativitas perikanan merupakan alternatif pendidikan informal yang tepat, cepat dan produktif bagi anak-anak suku Bajo.
5.2. Rekomendasi
Rekomendasi dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah :
1.      Kebijakan pemerintah lebih berorientasi pada pendidikan anak-anak Bajo khususnya peningkatan kapasitas instrument pendidikan dan sarana pendukung lainnya
2.      Perguruan tinggi dapat bermitra dengan pemerintah untuk membina anak putus sekolah, sehingga mereka dapat produktif dan berdaya saing.











DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, 2001.  Intelektual Anak Usia Dini. C.V. Triasco : Jakarta.

Anonim, 2009.  PAUD. Jadi Prioritas DEPDIKNAS. Harian Rakyat Merdeka.
Arhabib,  2000.  The Character Education, New Delhi: Qazi Publishers, hlm. 1
Daniel, K., 2000.  Instructional Media and Technologies for Learning.  Prentice-Hall.
Fadli,  2007.  Perubahan Karakter Anak Didik Pendidikan Nonformal.  Jurnal Muhasanah. Edisi 2. Vol. 1 No. 1. Hal 1-4.

Hasan, H., 2004. Strategi Pengembangan dan Pemasaran Pusat. PAUD. DEPDIKNAS.

Jawariah,  2008.  Penerapan Pendidikan Berbasis Agama Islam bagi Siswa Pendidikan Nonformal pada Kelompok Usia 7-12 Tahun.  Jurnal Muhasanah. Edisi 2. Vol. 2 No. 1. Hal 1-5.

Raihani,  2005. Media Pembelajaran yang Efektif bagi Pendidikan Usia Dini.  Jurnal Muhasanah. Edisi 1. Vol. 1 No. 1. Hal 1-4.

Robert,  2005.   “The Relation between Media Use and Children’s Civic Awareness”, Journalism Quarterly, hlm. 52, 531-538.

Syamsinar, 2008. Pendidikan Anak Bangsa Kini dan Mendatang. C.V. Triasco : Jakarta.

Sander, D.Z., 2006. Pemberdayaan Keluarga Sebagai Basis Utama Pendidikan Anak.  C.V. Media Pendidikan : Jakarta.

Sawonua, H.P., 2009. PKM Perintisan Rumah Singgah Berbasis Perikanan Bagi Anak-anak suku Bajo Di Labotaone Kecamatan Laonti Kabupaten Konawe Selatan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Haluoleo. Kendari.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003. Pendidikan Nasional.

Undang-undang Republik Nomor 14 Tahun 2005. Pendidikan Nasiuonal.

Ubaidillah, 2007. Model Rumah Singgah Berbasis Muatan Lokal. Gautama Press. Bandung.

Peter, Q.,    2005.  Instructional Media and Technologies for Learning. New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Qaimudin,  2005.  Model Pembelajaran Rumah Singgah yang Efektif bagi Anak-Anak Jalanan.  Skripsi.  IAIN Alauddin Makassar.

Zumrah,  2006.  Penguatan Karakter Islami Siswa Rumah Singgah “Studi Kasus Rumah Singgah bagi Pemulung dan Anak-Anak Jalanan di Makassar.   Skripsi.  IAIN Alauddin Makassar.

Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "KUMPULAN KARYA TULIS ILMIAH PENDIDIKAN TERBARU"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top