iklan

DOWNLOAD SKRIPSI KIMIA PENGARUH PENGGUNAAN BUKU TEKS KIMIA BERBASIS CHEMOENTREPRENEURSHIP (CEP) TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA DI SMA N 6 SEMARANG



       I.LATAR BELAKANG
Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa (UURI No. 20 Tahun 2003). Sistem pendidikan yang diberlakukan selama ini belum dapat memenuhi harapan dari tujuan pendidikan nasional yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 tersebut.
Fenomena yang ada saat ini di negara Indonesia adalah banyak orang-orang cerdas yang tumbuh dan berkembang di Indonesia, bahkan setiap tahunnya selalu diluluskan para sarjana mulai S1 sampai S3 dari puluhan perguruan tinggi yang menyebar diseluruh nusantara. Hal ini membuktikan bahwa negara indonesia yang kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) ini tidak kekurangan sumber Daya manusia (SDM) untuk mengolahnya. Namun kenyataan yang ada adalah bahwa Sumber Daya Alam kita sekarang ini masih banyak dikelola oleh orang-orang dari bangsa asing. Hal ini bisa jadi karena kekampuan intelektual masyarakat indonesia tidak diimbangi dengan kemampuan praktik sehingga dalam tataran konsep kita subur tapi dalam tataran praktis kita mandul.
Kimia merupakan ilmu tentang materi dan energi, dan oleh karena itu siswa yang mempelajari kimia seharusnya mengenal betul tentang apa arti materi, bagaimana penggolongannya, sifat-sifat, struktur, sampai pada energi yang menyertai jika materi itu berubah. Oleh karena itu dibutuhkan pendekatan yang tepat dan efektif dalam mempelajari ilmu kimia. Agar siswa memperoleh gambaran yang jelas dan detail terkait materi yang sedang dipelajari.
Pembelajaran kimia di SMA cenderung text book oriented dan kurang terkait dengan kehidupan sehari-hari sehingga membuat pelajaran menjadi abstrak dan cenderung menuju terjadinya kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan. Sementara itu guru yang mengajar kurang memperhatikan kemampuan berfikir siswa yakni dengan pola pembelajaran yang kurang bermakna. Metode yang digunakan pun kurang bervariasi sehingga motivasi belajar siswa menjadi berkurang.
Pendidikan berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Manusia terus-menerus berusaha memperbaiki model pembelajaran mulai dari yang paling sederhana seperti mencatat dan ceramah sampai kepada model yang lebih bervariasi seperti yang banyak dikenal sekarang ini (Ery, 2007 : 2). Semua hal tersebut dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan siswa yang mana di era seperti sekarang ini dituntut untuk kreatif dan inovatif.
Konsep pendekatan Chemoentrepreneurship (CEP) adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar mempunyai semangat berwirausaha. Dengan pendekatan ini pengajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan produk. Bila peserta didik sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan memotivasi mereka untuk berwirausaha (Supartono, 2006 : 9).
Dengan adanya pembelajaran dengan pendekatan CEP yang notabenenya merupakan  pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata, maka diharapkan pula siswa atau peserta didik akan menjadi lebih paham terhadap materi pelajaran kimia yang cenderung abstrak.
Buku teks merupakan sumber belajar bagi siswa dimana didalamnya terdapat materi-materi yang akan dipelajari oleh siswa. Buku teks yang menarik akan membuat siswa sebagai peserta didik akan lebih bersemangat untuk membacanya. Dan buku teks kimia berbasis CEP bisa dikatakan menarik karena didalamnya ada muatan-muatan materi yang bisa mengarahkan siswa untuk mengaplikasikan teori-teori yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian mengenai “PENGARUH PENGGUNAAN BUKU TEKS KIMIA BERBASIS CHEMOENTERPRENEURSHIP (CEP) TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA DI SMA N 6 SEMARANG”.

    II.RUMUSAN MASALAH
Permasalahan dalam penelitian ini adalah : apakah ada pengaruh penggunaan buku teks kimia berbasis chemoentrepreneurship (CEP) terhadap hasl belajar kimia di SMA N 6 Semarang?

 III.TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan dari  penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada pengaruh penggunaan buku teks kimia berbasis chemoentrepreneurship (CEP) terhadap hasl belajar kimia di SMA N 6 Semarang?

 IV.MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran kimia baik siswa, guru, penulis maupun peneliti lain.
1.      Bagi Siswa
Melatih siswa agar lebih aktif, kreatif dan mandiri dalam belajar menyelesaikan masalah-masalah kimia sehingga dapat meningkatkan sikap positif siswa untuk berpikir runtut, kritis dan sistematis dalam usaha pemecahan masalah, merangsang otak siswa dalam memahami masalah dan cara menyelesaikannya. Hal ini akan memberi peluang terjadinya peningkatan pemahaman dan kemampuan belajar siswa serta memberi nuansa nyaman dan menyenangkan dalam belajar. Peserta didik diberi peluang untuk melaksanakan kerja ilmiah dan dieksplorasi potensinya secara optimal yang menumbuhkan sikap kewirausahaan.
2.      Bagi Guru
Sebagai bahan pertimbangan dan informasi bagi guru dan calon guru kimia dalam memilih buku teks kimia sebagai media pembelajaran berbasis chemoenterpreneurship (CEP) yang sesuai, efektif dan efisien dalam kegiatan belajar-mengajar kimia sehingga dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa dan juga berkesempatan menerapkan model pembelajaran lain yang unggul,kreatif dan inovatif.
3.      Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan akan membantu penciptaan panduan pembelajaran bagi mata pelajaran lain dan juga sebagai bahan pertimbangan dalam memilih pendekatan pembelajaran yang akan diterapkan bagi perbaikan di masa yang akan datang.
4.      Bagi Peneliti
Penelitian ini akan sangat berguna bagi peneliti yakni untuk mengetahui apakah buku teks kimia sebagai media pembelajaran berbasis chemoenterpreneurship (CEP) efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X semester II, dan juga untuk menyelesaikan tugas belajar yang sedang ditunaikan.

    V.PENEGASAN ISTILAH
Penulis memberikan batasan-batasan istilah dalam judul yang berbunyi “Pengaruh penggunaan buku teks kimia berbasis chemoenterpreneurship (CEP) terhadap hasil belajar kimia di SMA N 6 Semarang”  sebagai berikut:
1.      Pengaruh
Dari kamus bahasa Indonesia (Purwodarminto, 1984) disebutkan bahwa pengaruh adalah……………………. Pengaruh diukur dengan koefisien determinasi (r2).
2.      Buku Teks
Buku teks merupakan sumber belajar bagi siswa dimana didalamnya terdapat materi-materi yang akan dipelajari oleh siswa
3.      Pendekatan Chemoentrepreneurship (CEP)
Konsep pendekatan Chemoentrepreneurship (CEP) menurut Supartono (2006 : 9) adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu yaitu pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar mempunyai semangat berwirausaha.
4.      Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil yang dicapai oleh siswa secara maksimal setelah melakukan proses pembelajaran. Menurut Nana Sudjana (1990 : 22) hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya.
Yang dimaksud hasil belajar dalam penelitian ini adalah sikap ilmiah yang timbul dari dalam diri siswa setelah melakukan proses pembelajaran.

 VI.LANDASAN TEORI
A.    Tinjauan Tentang  Belajar dan Pembelajaran
1.      Belajar
Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis.Untuk menghindari ketidaklengkapan persepsi tersebut, berikut ini akan disajikan definisi dari beberapa ahli.
Skinner (dalam Syah, 2005: 64) berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi (penyesuaian tingkah laku) yang berlangsung secara progresif.
Gagne (dalam Sukarja, 2006: 261-262) menyatakan belajar adalah suatu perubahan watak atau kemampuan (kapabilitas) manusia yang belangsung selama suatu jangka waktu dan bukan sekedar proses pertumbuhan.
Winkel (dalam Darsono, 2004: 4) menyatakan belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap.
Dari pengertian belajar yang dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan sebuah proses yang menghasilkan perubahan tingkah laku. Belajar pada mulanya adalah akibat dorongan rasa ingin tahu.
Belajar sebagai proses adalah kegiatan yang dilakukan secara sengaja melalui penyesuaian tingkah laku dirinya guna meningkatkankualitas kehidupan. Sedangkan belajar sebagai hasil adalah akibat dari belajar sebagai proses. Sehingga seseorang yang telah mengalami proses balajar akan memperoleh hasil berupa kemampuan terhadap sesuatu yang menjadi hasil belajar.
Benjamin Bloom (dalam Sudjana, 2001: 22) membagi hasil belajar menjadi tiga ranah, yaitu:
1.      Ranah kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi.
2.      Ranah afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri dari penerimaan jawaban atau reaksi, penilaian.
3.      Ranah psikomotorik, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak.
2.      Pembelajaran
Pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction yang berarti self intruction (dari internal) dan external instruction (dari eksternal) (Sugandi, 2004: 9).
Sementara Briggs (dalam Sugandi, 2004: 9) mengatakan pembelajaran adalah perangkat peristiwa yang mempengaruhi si belajar sedemikian rupa sehingga si belajar memperoleh kemudahan dan berinteraksi dengan lingkungan.
Jadi pada hakikatnya pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
Menurut Gafur (dalam Sukarja, 2006: 264) bahwa dalam proses pembelajaran ada dua unsur yang sangat penting, yaitu model pembelajaran dan media pembelajaran.
a.       Model Pembelajaran
Menurut Winata putra (dalam Sugandi, 2004; 84) model pembelajaran (models of teaching) adalah pola yang digunakan guru dalam menyususn kurikulum,mengatur materi pelajaran dan memberi petunjuk dalam setting pembelajaran.
Sukamto (dalam Bakar, 2006: 27) mengartikan model pembelajaran sebagai suatu kerangka konseptual yang melukiskan prosedur atau langkah-langkah yang sistematis dalam mengelola pengalaman belajar sehingga para siswa dapat mencapai kompetensi tertentu. Sementara kompetensi diartikan sebagai kualifikasi atau seperangkat kemampuan berupa pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dituntut oleh suatu jabatan tertentu (Arbi dan Syahrun dalam Bakar, 2006: 29). Kompetensi ini ditunjukkan dalam bentuk proses atau hasil kegiatan yang didemonstrasikan oleh peserta didik sebagai penerapan dari pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajarinya (Mulyasa, 2003: 24).
b.      Media Pembelajaran
Media dapat diartikan sbagai alat bantu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan, informasi dan bahan pelajaran untuk merangsang  pikiran, perasaan, perhatian, dan keterampilan makna belajar (Mappa, 1994: 162).
Pada umumnya konsep kimia bersifat abstrak. Untuk dapat memahaminya harus dimulai dari pengalaman konkrit. Inilah fungsi pokok dari media, yaitu dapat membawa siswa menuju pemikiran abstrak melalui pengalaman konkrit.
Jika tingkat konkrit-abstrak dan media yang digunakan untuk pendekatannya dialurkan pada garis, di dapat pola sebagai berikut:
konkrit                                                                          astrak

                           pengalaman langsung     simulasi                 gb. Hidup             gb. Mati             lambang verbal

(Sastrawijaya, 1988: 169)
media dapat digolongkan menjadi: 1) bahan tak terproyeksikan (papan tulis, kartu peraga, bagan, foto objek); 2) rekaman suara (rekaman dalam kaset suara, rekaman cakram); 3) gambar diam yang diproyeksikan (slide, lembaran bening OHP); 4) gambar bergerak yang diproyeksikan (film, rekaman video) (Marjohan, 1994: 188-189).
B.     Faktor yang Mempengaruhi hasil Belajar
Perolehan hasil belajar antar siswa tidak sama karena banyak faktor yang mempengaruhi proses belajar. Secara garis besar, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses belajar dapat dikelompokkan menjadi tiga macam, yakni:
a)      Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan fisiologis dan psikologis
1.      keadaan fisiologis meliputi panca indera dan kondisi jasmani yang melatarbelakangi aktivitas belajar seperti gizi yang cukup dan lain-lain. Menurut Syah (2005: 146) panca indera yang dominan adalah indera pendengaran dan penglihatan.  Daya pendengaran dan penglihatan yang rendah, umpamanya, akan menyulitkan sensory register dalam menyerap item-item informasi yang bersifat echoic dan iconic (gema dan citra).
2.      faktor psikologis yang mempengaruhi proses belajar siswa meliputi: 1) kecerdasan/bakat, 2) motivasi, 3) perhatian, 4) berpikir, 5) ingatan/lupa, dan sebagainya. (Mappa, 1994: 36)
b)      Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yaitu keadaan/kondisi lingkungan di sekitar siswa. Faktor eksternal meliputi lingkungan sosial dan nonsosial.
1.      Lingkungan sosial meliputi lingkunggn sekolah seperti guru, para staf administrasi dan teman-teman sekelas dan lingkungan sosial siswa seperti masyarakat dan tetanga juga teman-teman sepermainan serta lingkungan keluarga.
2.      lingkungan nonsosial meliputi gedung sekolah dan letaknya, rumah tempat keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar siswa.
c)      Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang melipuiti strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.

C.     Chemoenterpreneurship (CEP)
Menurut Nasution dalam Eri (2007 : 19) entrepreneur diartikan sebagai orang yang pandai memanfaatkan peluang usaha  lalu menterjemahkannya menjadi usaha yang memiliki nilai tambah. Entrepreneur adalah seorang motivator yang menggabungkan teknologi yang berbeda dan konsep-konsep bisnis untuk menghasilkan produk atau jasa baru yang mampu mengenali setiap kesempatan yang menguntungkan, menyusun strategi dan yang berhasil menerapkan ide-idenya. Erpreneurship adalah segala hal yang berkaitan dengan sikap, tindakan dan proses yang dilakukan oleh para erpreneur dalam merintis, menjalankan dan mengembangkan usaha mereka.
Konsep pendekatan Chemoentrepreneurship (CEP) adalah suatu pendekatan pembelajaran kimia yang kontekstual yaitu pendekatan pembelajaran kimia yang dikaitkan dengan obyek nyata. Tujuannya adalah untuk memotivasi siswa agar mempunyai semangat berwirausaha. Dengan pendekatan ini pengajaran kimia akan lebih menyenangkan dan memberi kesempatan pada peserta didik untuk mengoptimalkan potensinya agar menghasilkan produk. Bila peserta didik sudah terbiasa dengan kondisi belajar yang demikian, tidak menutup kemungkinan akan memotivasi mereka untuk berwirausaha (Supartono, 2006 : 9).
Untuk merancang pembelajaran dengan pendekatan CEP diperlukan guru yang dapat mendesain dan melaksanakannya dengan prinsip-prinsip pembelajaran kimia lainnya. Guru harus mengetahui secara pasti materi-materi kimia yang tepat dan sesuai dengan pendekatan pembelajaran CEP. Pembuatan desain pembelajaran harus sesuai antara obyek atau fenomena yang dipelajari dengan kegiatan siswa. Kegiatan siswa ini perlu dirancang sedemikian rupa agar sesuai dengan kompetensi yang diharapkan dikuasai oleh siswa. Pembelajaran ini di desain dan dilaksanakan berangkat dari obyek atau fenomena yang ada disekitar  kehidupan peserta didik, kemudian dikembangkan ke konsep-konsep kimia yang berkaitan dengan proses kimia yang melandasi, termasuk factor-faktor yang mengendalikan  atau mempengaruhi proses tersebut hingga sampai ke kesimpulan yang bermakna. Kesimpulan yang bermakna ini dapat berupa penemuan suatu produk yang bermanfaat, terobosan teknologi yang berkaitan dengan konsep atau proses kimia yang dipelajari dan rekomendasi-rekomendasi dampaknya terhadap kemaslahatan umat manusia dan lingkungan (Supartono, 2006 : 9)
Dengan landasan pemikiran tersebut, pendekatan CEP menuntut potensi peserta didik untuk belajar secara maksimal sehingga mampu menampilkan kompetensi tertentu. Proses belajar siswa tidak lagi berorientasi pada banyaknya materi pelajaran kimianya (subject matter oriented), tetapi lebih berorientasi kepada kecakapan yang ditampilkan oleh peserta didik (life-skill oriented). Dengan pendekatan pembelajaran yang demikian, sejumlah kompetensi dapat dicapai, proses belajar engajarnya menjadi lebih menarik, peserta didik lebih terfokus perhatiannya dan termotivasi untuk mengetahui lebih jauh serta hasil belajarnya menjadi lebih bermakna (Supartono, 2006 : 9).
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pendekatan CEP merupakan pendekatan pembelajaran kimia yang berhubungan dengan obyek nyata sehingga siswa dapat mempelajari proses pengolahan suatu bahan menjadi produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomi. Dengan pembelajaran ini diharapkan dapat memotivasi siswa untuk berwirausaha.

VII.HIPOTESIS
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sifatnya masih sementara dan masih lemah dan perlu pembuktian lebih lanjut. Adapun hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Hi  :  Ada Pengaruh penggunaan buku teks kimia berbasis chemoenterpreneurship (CEP) terhadap hasil belajar kimia di SMA N 6 Semarang.
Ho :  Tidak ada Pengaruh penggunaan buku teks kimia berbasis chemoenterpreneurship (CEP) terhadap hasil belajar kimia di SMA N 6 Semarang.

                                             IX.METODE PENELITIAN
Penentuan Subjek Penelitian
1.      Populasi
Menurut Arikunto (2002:108), populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua siswa kelas XI  SMA N 6 Semarang.

2.      Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002:109). Sampel pada penelitian ini tidak menggunakan siswa kelas XI secara keseluruhan, tetapi hanya sebagian saja. Agar sampel dikatakan representatif (mewakili populasi), diperlukan teknik pengambilan sampel yang tepat. Teknik pengambilan sampel yang dilakukan adalah teknik cluster random sampling, yaitu secara acak dipilih dua kelas sebagai sampel, dengan syarat populasi tersebut harus bersifat normal dan homogen. Salah satu kelas bertindak sebagai kelas eksperimen yang diajar dengan menggunakan buku teks kimia berbasis chemoenterpreneurship (CEP), sedangkan kelas lainnya sebagai kelas kontrol diajar  dengan metode konvensional.
3.      Variabel
Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002:96). Variabel dalam penelitian ini adalah :
a.       Variabel bebas yaitu variabel yang mempengaruhi suatu kejadian. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan buku teks kimia berbasis CEP.
b.      Variabel terikat yaitu variabel sebagai akibat dari  variabel bebas.Variabel terikat dalam penelitian ini hasil belajar siswa kelas XI SMA N 6 Semarang tahun pelajaran 2007/2008 pada pokok bahasan koloid.
A.    Faktor yang diteliti
Faktor yang diteliti dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang dilihat dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Hasil belajar kognitif siswa diukur dengan tes objektif, hasil belajar afektif diukur dengan kuisioner, sedangkan hasil belajar psikomotor diukur dengan lembar observasi.
B.     Teknik Pengumpulan Data
1.      Sumber Data
Menurut Suharsimi Arikunto (2002: 17), sumber penelitian adalah subjek dari mana data diperoleh. Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA 2 Semarang, guru, serta lingkungan yang mendukung pelaksanaan penelitian.
2.      Jenis Data
Data yang didinginkan adalah data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes hasil belajar. Data kualitatif diperoleh dari angket dan lembar observasi.
3.      Cara Pengambilan Data
a.       Tes hasil belajar
Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Arikunto, 2002:127). Tes dalam penelitian ini merupakan tes prestasi atau achievement test, yaitu tes yang digunakan untuk mengukur pencapaian seseorang setelah mempelajari sesuatu (Arikunto, 2002:128). Dalam penelitian ini , tes digunakan untuk mengukur hasil belajar kimia siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol. Metode tes yang digunakan adalah pre tes dan post tes.
b.      Lembar observasi
Menurut Arikunto (2002:133), observasi merupakan kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indera. Dalam penelitian ini, metode observasi digunakan untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa pada aspek psikomotorik.
c.       Angket
Angket atau kuisioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang responden ketahui (Arikunto, 2002:128). Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai tanggapan siswa terhadap pembelajaran kimia dengan menggunakan buku teks kimia berbasis chemoenterpreneurship (CEP).
C.     Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian ini terdiri dari tahap persiapan, tahap uji coba, dan tahap pelaksanaan penelitian.
1.      Tahap Persiapan
a.       Observasi tentang materi-materi pelajaran yang mendukung penelitian
b.      Membuat kisi-kisi instrumen penelitian berdasarkan indikator dan ranah kognitif yang digunakan
c.       Menyusun instrumen penelitian
2.      Tahap Uji Coba
a.       Instrumen diuji cobakan pada siswa kelas XII SMA 6 Semarang
b.      Memberi skor dan menganalisis hasil tes uji coba, untuk menentukan instrumen yang akan digunakan pada akhir penelitian.
3.      Tahap pelaksanaan penelitian
Penelitian dilakukan dengan menggunakan buku teks kimia berbasis CEP pada kelas eksperimen dan menggunakan metode pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.
D.    Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah desain control group pre test post test yaitu desain eksperimen dengan melihat perbedaan pre tes maupun post test antara kelas eksperimen dan kelas kontrol.

Tabel 3  Rancangan Penelitian
Kelas
Keadaan Awal
Perlakuan
Keadaan Akhir
Eksperimen
Y1
X1
Y2
Kontrol
Y1
X2
Y2
Keterangan:
X1: Pembelajaran kimia dengan menggunakan buku teks kimia berbasis CEP.
X2:   Pembelajaran kimia dengan menggunakan metode konvensional
Y1:   Kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi pre test
Y2:   Kelas eksperimen dan kelas kontrol diberi post test
E.     Instrumen Penelitian
Tujuan uji coba adalah untuk memperoleh butir tes yang mempunyai kategori baik dan bisa dipakai untuk penelitian. Analisis perangkat tes adalah analisis untuk mengetahui validitas , reliabilitas , indeks kesukaran soal dan daya pembeda soal.
1.      Validitas
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen dikatakan valid bila instrumen itu, untuk maksud dan kelompok tertentu, mengukur apa yang semestinya diukur, derajat ketepatan mengukurnya benar dan validitasnya tinggi (Ruseffendi, 1994:132). Untuk mengukur validitas butir soal dalam penelitian ini digunakan rumus korelasi point biseral yaitu:
                                                                               
   Keterangan:
rpbis = koefisien korelasi point biseral
Mp    = rerata skor siswa yang menjawab benar
Mt    = rerata skor siswa total
P       = proporsi siswa yang menjawab benar
q       = proporsi siswa yang menjawab salah
q       = 1 - p
St      = standar deviasi dari skor total
n       = jumlah siswa
Setelah dihitung thit dibandingkan dengan ttabel , dengan taraf signifikan 5 % , jika thit > ttabel maka butir soal dikatakan valid.
2.      Reliabilitas
Reliabilitas instrumen atau alat evaluasi adalah ketetapan alat evaluasi dalam mengukur atau ketetapan siswa dalam menjawab alat evaluasi itu. Sebuah alat evaluasi dikatakan reliabel apabila hasil dari dua kali atau lebih pengevaluasian dengan dua atau lebih alat evaluasi yang senilai (ekivalen) pada masing-masing pengetesan akan sama. Suatu alat evaluasi dikatakan baik, bila reliabilitasnya tinggi (Ruseffendi, 1994:142). Dalam penelitian ini, pengujian tingkat reliabilitas instrumen dilakukan dengan menggunakan reliabilitas internal, yakni perhitungan dilakukan berdasarkan data dari satu kali hasil pengetesan (Arikunto, 2002:155). Perhitungan reliabelitas internal untuk instrumen ini menggunakan rumus KR-21, dengan rumus sebagai berikut:
                                                         
Keterangan:
r11    = reliabilitas instrumen
Vt     = varians total
M      = skor rata-rata
k       = jumlah butir soal                        (Arikunto,  2002:164)
Harga r11 yang dihasilkan dikonsultasikan dengan rtabel. Harga r11 yang diperoleh diterima jika memenuhi kriteria r11 > rtabel.
3.      Indeks Kesukaran Soal
   Indeks kesukaran soal merupakan bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya suatu soal. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauannya (Arikunto, 2003:207). Rumus yang digunakan untuk mengukur indeks kesukaran soal adalah sebagai berikut :
   Keterangan:
IK     = indeks kesukaran
JBA  = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal pada    kelompok atas
JBB  = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal pada kelompok bawah
JSA  = banyaknya siswa pada kelompok atas
JSB   = banyaknya siswa pada kelompok bawah
Kriteria indeks kesukaran soal disajikan pada tabel di bawah ini :
Tabel 4  Kriteria Indeks Kesukaran soal
Interval IK
Kriteria
IK = 00,00
0,00 < IK ≤ 0,30
0,30 < IK ≤ 0,70
0,70 < IK < 1,00
IK = 1,00
Terlalu Sukar
Sukar
Sedang
Mudah
Terlalu Mudah

4.      Daya Pembeda Soal
Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang pandai (upper group) dengan siswa yang kurang pandai (lower group). Soal dianggap mempunyai daya pembeda yang baik jika soal tersebut dijawab benar oleh kebanyakan siswa pandai dan dijawab salah oleh kebanyakan siswa kurang pandai (Arikunto, 2003:211). Makin tinggi daya pembeda soal , makin baik pula kualitas soal tersebut. Rumus yang digunakan sebagai berikut:
                                
   Keterangan:
DP    = daya pembeda soal
JBA  = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal pada kelompok atas
JBB  = jumlah siswa yang menjawab benar pada butir soal pada   kelompok bawah
JSA  = banyaknya siswa pada kelompok atas
Kriteria yang digunakan seperti tabel di bawah ini :
Tabel 5  Kriteria Daya Pembeda Soal
Interval DP
Kriteria
DP ≤ 0,00
0,00 < DP ≤ 0,20
0,20 < DP ≤ 0,40
0,40 < DP ≤ 0,70
0,70 < DP ≤ 1,00
Sangat jelek
Jelek
Cukup
Baik
Sangat baik

F.      Analisis Data
Analisis data yang digunakan terbagi dalam dua tahap , yaitu tahap awal dan tahap akhir.

1.      Analisis Tahap Awal
Analisis tahap awal digunakan untuk melihat kondisi awal populasi sebagai pertimbangan dalam pengambilan sampel yang meliputi uji normalitas , homogenitas dan analisis varians.

a.       Uji normalitas
Uji ini berfungsi untuk mengetahui apakah data keadaan awal populasi terdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah uji chi kuadrat (χ2) , persamaannya adalah sebagai berikut :
     χ2 =                  (Sudjana, 2002:273)
Keterangan:
χ2  = chi kuadrat
Oi  = frekuensi hasil pengamatan
Ei   = frekuensi harapan
k    = banyaknya kelas interval
Hasil perhitungan nilai χ2 dikonsultasikan dengan nilai χ2 pada tabel dengan dk = k-3 (k adalah banyaknya kelas interval) , dengan taraf signifikansi 5 %. Jika χ2hitung χ2tabel , data tersebut terdistribusi normal
b.      Uji homogenitas
Uji ini untuk mengetahui seragam tidaknya varians sampel – sampel yang diambil dari populasi yang sama. Dalam penelitian ini jumlah kelas yang diteliti ada dua kelas. Setelah data homogen baru diambil sampel dengan teknik cluster random sampling. Uji kesamaan varians dari k buah kelas (k>2) populasi dilakukan dengan menggunakan uji Barlett (Sudjana, 2002:261). Langkah – langkah perhitungannya sebagai berikut:
1.      Menghitung s2 dari masing – masing kelas
2.      Menghitung varians gabungan dari semua kelas dengan rumus:
                          
3.      Menghitung harga satuan B dengan rumus:
                                
4.      Menghitung nilai statistik chi kuadrat (χ2) dengan rumus:
                                   
Kriteria pengujian : Ho diterima jika χ2hitung  χ2 (1-α) (k-1) , dimana χ2 (1-α) (k-1) didapat dari daftar distribusi chi kuadrat dengan peluang (1-α) dan dk = (k-1) (Sudjana , 2002:263). 
2.      Analisis Tahap Akhir
a.       Uji normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data dari kedua kelompok terdistribusi normal atau tidak dan untuk menentukan uji selanjutnya apakah memakai statistik parametrik atau non parametrik. Pasangan hipotesis yang akan diuji adalah :
         Ho : data berdistribusi normal
         Ha : data tidak berdistribusi normal
Kenormalan data dihitung dengan menggunakan uji chi kuadrat (χ2) dengan rumus:
                       χ2 =                     (Sudjana, 2002:273)
Keterangan:
χ2  = chi kuadrat
Oi  = frekuensi hasil pengamatan
Ei   = frekuensi harapan
K   = banyaknya kelas interval
Data akan berdistribusi normal jika χ2hitung ≤ χ2tabel dengan taraf signifikan 5 % dan derajat kebebasan dk = k – 3.
b.      Uji kesamaan dua varians
Uji kesamaan varians bertujuan untuk mengetahui apakah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol mempunyai tingkat varians yang sama (homogen) atau tidak.
                    
Keterangan:
s12 = varians kelompok eksperimen
s22 = varians kelompok kontrol
Kriteria pengujian adalah terima hipotesis Ho jika : F(1-α)(n1-1) < F < F1/2α(n1-1, n2-1)  (Sudjana, 2002:249).
c.       Uji hipotesis penelitian
Uji ini digunakan untuk menguji hipotesis penelitian yang kedua.
Pasangan hipotesis yang akan diuji adalah:
Ho : µ1 = µ2
Ha : µ1 ≠ µ2
Keterangan :
µ1= rata-rata hasil belajar kimia kelompok eksperimen
µ2= rata-rata hasil belajar kimia kelompok kontrol
 Uji t dipengaruhi oleh hasil uji kesamaan dua varians antara kelompok yaitu:
a)      jika varians kedua kelompok sama, maka rumus yang digunakan adalah:
      
dimana
      
Keterangan :
rata-rata nilai kelas eksperimen
rata-rata nilai kelas kontrol
varians nilai-nilai kelas tes eksperimen
 varians nilai-nilai kelas tes kontrol
n1  = jumlah anggota kelas eksperimen
n2  = jumlah anggota kelas kontrol
Kriteria pengujiannya terima Ho, jika –t1-1/2α ≤ tdata ≤ t1-1/2α dimana t1-1/2α didapat dari daftar distribusi t dengan dk = (n1+ n2 - 2) dan peluang (1-1/2α) (Sudjana, 2002:239-240).
b)      jika varians kedua kelompok tidak sama, maka rumus yang digunakan adalah
     
Keterangan :
rata-rata nilai kelas eksperimen
rata-rata nilai kelas kontrol
varians nilai-nilai kelas tes eksperimen
 varians nilai-nilai kelas tes kontrol
n1    = jumlah anggota kelas eksperimen
n2   = jumlah anggota kelas kontrol
Kriteria yang digunakan adalah terima hipotesis Ho jika :
<
dengan  
  dan 
t1 = t(1-1/2α), (n1-1) dan  t2 = t(1-1/2α), (n2-1)
(Sudjana, 2002:241)
d.      Analisis terhadap pengaruh variabel
Untuk menentukan hubungan antara variabel bebas dengna variabel terikat digunakan koefisien korelasi biserial. Rumus yang digunakan adalah :
                  (Sudjana, 2002:390)
Keterangan :
         rb = koefisen korelasi biserial
         = rata-rata hasil belajar kelompok eksperimen
         = rata-rata hasil belajar kelompok kontrol
         p  = proporsi siswa kelompok eksperimen
         q  = proporsi siswa kelompok kontrol
         q  = 1 – p
u  = tinggi ordinat pada kurva normal pada titik-titik yang memotong bagian normal baku menjadi bagian p dan q
sy  = simpangan baku untuk semua nilai dari kedua kelompok
Untuk dapat memberikan penafsiran terhadap koefisien korelasi yang ditemukan tersebut besar atau kecil, maka dapat berpedoman pada ketentuan sebagai berikut :
0,0 – 0,199 = sangat rendah
0,2 – 0,399 = rendah
0,4 – 0,599 = sedang
0,6 – 0,699 = kuat
0,7 – 0,899 = sangat kuat              (Sugiyono, 2001:216)
e.       Analisis deskriptif untuk data aspek afektif dan  psikomotorik siswa
Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui nilai afektif dan psikomotorik siswa baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Rumus yang digunakan adalah :
 Persentase skor =    (Sudjana, 2002:47)
f.       Analisis deskriptif terhadap pembelajaran kimia dengan menggunakan buku teks kimia berbasis CEP.
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui tanggapan siswa terhadap pembelajaran kimia dengan buku teks kimia berbasis CEP. Rumus yang digunakan adalah :
Persentase skor =    (Sudjana, 2002:47)

            X.SISTEMATIKA SKRIPSI
Susunan skripsi ini terdiri atas tiga bagian yaitu :
a.       Bagian Pendahuluan
Bagian pendahuluan skripsi ini berisi halaman judul, pengesahan, motto dan persembahan, abstraksi, kata pengantar, daftar isi, daftar lampiran, daftar gambar, dan daftar tabel.
b.      Bagian Isi
Bagian ini terdiri atas lima bab, yaitu:
Bab I         :  Pendahuluan
Berisi tentang latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah dan sistematika skripsi.
Bab II        : Landasan Teori dan Hipotesis
Berisi teori-teori yang mendukung dan berkaitan dengan permasalahan, yaitu meliputi tinjauan tentang proses belajar-mengajar, factor yang mempengaruhi hasil belajar, dan buku teks kimia berbasis chemoenterpreneurship (CEP).
Bab III      : Metode Penelitian
Berisi metode penentuan subyek penelitian, faktor yang diteliti, teknik pengumpulan data, prosedur penelitian, instrumen penelitian, dan analisis data.
Bab IV      : Hasil Penelitian dan Pembahasan
Berisi hasil-hasil penelitian serta pembahasan.
Bab V        : Penutup
Berisi kesimpulan dari penelitian dan saran-saran
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Bakar, Usman. Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Konpetensi dalam Mata Pelajaran Kimia di SMA. Jurnal Pengajaran. Vol 29 (1): 26-41.
Darsosno, M. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Press.
Ery susanti. 2007. Peningkatan Kreatifitas dan Hasil Belajar Kimia Melalui Pendekatan CEP Dengan Bantuan Game Simulation di SMA N 9 Semarang (Skripsi). Semarang: Jurusan Kimia FMIPA UNNES.
Mappa, Syamsu&Basleman, Anisah. 1994. Teori Belajar Orang Dewasa. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Mulyana. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA Kelas X. Jakarta: Erlangga.
Rueffendi, E.T.  1994.  Dasar-Dasar Penelitian Pendidikan dan Biidang Non-Eksakta Lainnya.  Semarang: IKIP Semarang Press
Sastrawijaya, Tresna. 1988. Proses Belajar-Mengajar di Perguruan Tinggi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sudjana, Nana.  2002.  Metode Statistika.  Bandung: Tarsito
Sugandi, Achmad. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT UNNES PRESS.
Sukarja. 2006. Peningkatan Mutu Pembelajaran Kimia SMA dengan Menggunakan Teaching Guide Berbantuan Komputer. VIII (2): 256-273.
Supartono. 2006. Peningkatan Kualitas peserta Didik Melalui Pembelajaran Kimia Dengan Pendekatan Chemoentrepreneurship (CEP). Semarang: Jurusan Kimia FMIPA UNNES
Syah, Muhibbin. 2005. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "DOWNLOAD SKRIPSI KIMIA PENGARUH PENGGUNAAN BUKU TEKS KIMIA BERBASIS CHEMOENTREPRENEURSHIP (CEP) TERHADAP HASIL BELAJAR KIMIA DI SMA N 6 SEMARANG"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top