DOWNLOAD MAKALAH PENDIIDKAN PENGARUH SERTIFIKASI TERHADAP PROFESIONALISME GURU-GURU DI SMA MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

  Setelah dikeluarkan serta disahkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mulai  saat itulah sertifikasi menjadi istilah yang sangat populer dan menjadi topik pembicaraan yang hangat di kalangan masyarakat, terutama di dunia pendidikan. Hal itu dapat dimaklumi karena selain merupakan fenomena baru, istilah tersebut juga menyangkut nasib dan masa depan guru.
Dengan diberlakukannya undang-undang tersebut, memiliki tiga fungsi. Pertama, sebagai landasan yuridis bagi guru dari perbuatan semena-mena dari siswa, orang tua dan masyarakat. Kedua, untuk meningkatkan profesionalisme guru. Ketiga, untuk meningkatkan kesejahteraan guru. (Masnur Muslich 2007: V).
Dengan demikian, sertifikasi guru merupakan program yang menjanjikan bagi guru. Selain pemerintah bermaksud ingin meningkatkan profesionalisme guru, juga ingin meningkatkan taraf hidup guru. Tak ayal, isu ini mendapat sambutan hangat di kalangan pendidikan terutama para pendidik.
Harapan itu segera terwujud setelah pemerintah menerbitkan Permendiknas Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Guru Dalam Jabatan, 4 Mei 2007, dan keputusan Mendiknas Nomor 057/0/2007 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Guru Dalam Jabatan, 13 Juli 2007.
Akan tetapi dikalangan pendidik, banyak oknum-oknum yang demi mendapatkan sertifikasi akhirnya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sertifikasi guru tersebut demi mendapatkan kesejahteraan guru yang memang sangat menjajikan.
Demikianlah, dengan melihat realita yang ada menyebabkan perlu dilakukan penelitian mengenai apakah terdapat pengaruh sertifikasi terhadap profesionalisme guru dalam mengajar. Dalam hal ini penelitian akan dilakukan di seluruh SMA Muhammadiyah Yogyakarta karena melihat banyaknya siswa-siswi yang sekolah di lembaga Muhammadiyah tidak berhasil lulus UAN pada tahun ajaran 2009/2010.
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
1.   Bagaimanakah pandangan guru-guru SMA Muhammadiyah Yogyakarta terhadap sertifikasi guru?
2.   Bagaimanakah tingkat profesionalisme guru-guru SMA Muhammadiyah Yogyakarta?
3.   Apakah ada pengaruh sertifikasi terhadap profesionalisme guru di seluruh SMA Muhammadiyah Yogyakarta?
4.   Faktor apa saja yang mempengaruhi profesionalisme guru?
C.    Tujuan Penelitian
Dari beberapa hal rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Ingin mengetahui seperti apa pandangan guru-guru SMA Muhammadiyah Yogyakarta terhadap sertifikasi guru.
2.      Ingin mengetahui tingkat profesionalitas guru-guru SMA Muhammadiyah Yogyakarta.
3.      Ingin mengetahui apakah ada atau tidak ada pengaruh sertifikasi guru terhadap profesionalisme guru-guru SMA Muhammadiyah Yogyakarta dalam mengajar.
4.      Ingin mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi profesionalisme guru.

D.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Praktis
a)      Untuk Guru
1)      Guru/pendidik dapat mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi profesionalitas dalam mengajar.   
2)      Guru/pendidik dapat menyadari sepenuhnya bahwa sertifikasi bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan guru tapi juga merupakan ukuran akademik dan motivasi meningkatkan profesionalitas guru dalam mengajar.
b)      Bagi Peserta Didik/Siswa
1)      Siswa bisa lebih kritis dalam memberikan masukan kepada gurunya terkait dengan profesionalisme guru dalam mengajar.
2)      Siswa dapat memberikan kritikan-krtikan atau saran-saran kepada lembaga untuk meningkatkan proses belajar mengajar.
2.      Manfaat Teoritis
Bagi bidang penelitian dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi penelitian selanjutnya.

E.     Tinjauan Pustaka
Sebatas pengetahuan peneliti, belum ada yang meneliti tentang pengaruh sertifikasi terhadap profesionalisme guru dalam mengajar, akan tetapi ada beberapa penelitian yang memiliki kesamaan variabel, antara lain penelitian yang dilakukan oleh:
1.      Dian Maya Shofiana (2008)
Penelitian yang dilakukannya berjudul “Pofesionalisme Guru dan Hubungannya dengan Prestasi Belajar Siswa di MTS Al-Jami’ah Tegallega Cidolog Sukabumi”, penelitian ini menggunakan dua bentuk metode penelitian, pertama, dengan metode penelitian Library Research, yaitu penelitian kepustakaan. Kedua, penelitian lapangan (Observasi). Penilitian ini mengambil sampel sebanyak 40% yaitu 40 orang, dengan 20 orang laki-laki dan 20 orang perempuan dari jumlah seluruh kelas VII dan VIII tahun ajaran 2007/2008 yaitu sebanyak 110 orang. Hasil penelitian ini terdapat korelasi positif yang signifikan antara profesionalisme guru dalam bidang studi Fiqih dengan prestasi hasil belajar Fiqih siswa MTS Al-Jami’ah Tegallega Cidolog Sukabumi.
2.      Mika Marsely (2008)
Judul penelitian “Pengaruh Program Sertifikasi Guru Terhadap Kesejahteraan dan Motivasi Kerja Guru SMA Negeri se-Kota Malang”. Penelitian ini termasuk penelitian Explanatory Research dengan mengambil sampel sebanyak 57 guru dari 74 guru yang telah mendapatkan sertifikasi. Hasil penelitian ini adalah terdapat pengaruh yang positif antara program sertifikasi guru terhadap kesejahteraan dan motivasi kerja guru.
3.      Cahyo Gutomo (2009)
Judul penelitian “Dampak Sertifikasi Guru dalam Meningkatkan Profesionalisme Guru PAI di MA dan MTS Ali Maksum Kerapyak Yogyakarta”. Penelitian ini menggunakan metode Field Research (penelitian lapangan) melihat dampak sebelum dan sesudah sertifikasi dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian ini mengambil sampel semua guru di MA dan MTS  Ali Maksum yang telah lulus sertifikasi. Hasil penelitian ini adalah:
a)      Guru-guru di MA dan MTS Ali Maksum sebelum mengikuti sertifikasi adalah termasuk guru yang professional.
b)      Guru-guru di MA dan MTS Ali Maksum khususnya yang mengajar PAI telah memenuhi kriteria sertifikasi dan telah lulus sertifikasi.
Dari ketiga penelitian di atas, maka peneliti merasa bahwa penelitian tentang “Pengaruh Sertifikasi Terhadap Profesionalisme Guru-Guru di SMA Muhammadiyah Yogyakarta sangat perlu untuk dilakukan sebagai acuan bagi lembaga Muhammadiyah untuk mengontrol profesionalisme guru-gurunya dalam mengajar.

F.     Kerangka Teoritik
1.      Sertifikasi
a)      Pengertian
Isu yang paling menjadi perhatian di dunia npendidikan setelah pengesahan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Desember 2005 adalah persoalan sertifikasi guru. Ada yang memahami bahwa guru yang yang sudah mempunyai jenjang S-1 Kependidikan secara otomatis sudah bersertifikasi. Ada juga yang memahami bahwa sertifikasi hanya dapat diperoleh melalui pendidikan khusus yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang di tunjuk oleh pemerintah.
Agar pemahaman sertifikasi lebih jelas, maka berikut ini dikutipkan beberapa pasal yang tertuang di dalam Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai berikut:
1)      Pasal 1 butir 11: Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru dan dosen.
2)      Pasal 8: Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
3)      Pasal 11 butir 1: Sertifikat pendidik sebagaimana dalam pasal 8 diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan.
4)      Pasal 16: Guru yang memiliki sertifikat pendidik memperoleh tunjangan profesi sebesar satu kali gaji, guru negeri maupun swasta dibayar pemerintah.
Dari kutipan beberapa pasal di atas, maka sertifikasi dapat diartikan sebagai proses pemberian sertifikat pendidik kepada guru yang telah memenuhi persyaratan tertentu, yaitu memilki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan yang layak.
b)     Perlunya Guru Disertifikasi
Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah mengisyaratkan akan memberlakukan sertifikasi bagi guru, sebagaimana yang telah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang program pembangunan nasional yang berisi pembentukan badan akreditasi dan sertifikasi mengajar di daerah. Undang-Undang tersebut dikeluarkan dengan tujuan meningkatkan kualitas tenaga kependidikan secara nasional.
Tidak cuma di Indonesia, sertifikasi guru juga sudah diberlakukan di Negara Asia, Cina  telah memberlakukan sertifikasi guru sejak tahun 2001. Termasuk juga dengan Filipina dan Malaysia juga telah mengisyaratkan kulaifikasi akademik minimum dan standar kompetensi bagi guru (Mansur Muslich 2007: 4).
Kemudian muncul pertanyaan kenapa guru perlu disertifikasi? Melihat nasib dan kesejahteraan guru di Indonesia, memang sangat memprihatinkan. Bayangkan saja sebagian guru mengakui ada yang mencari objekan di luar tugas mengajar, seperti menjadi guru privat, bahkan ada guru yang menjadi tukang ojek.
Oleh sebab itu, pemerintah ingin memberikan reward berupa penghargaan/pemberian tunjangan profesional yang berlipat dari gaji yang diterima. Harapan kedepannya adalah tidak ada lagi guru yang bekerja mencari objekan diluar dinas karena kesejahteraannya sudah terpenuhi. Tapi apakah tujuannya hanya untuk meningkatkan kesejahteraan guru tanpa mengesampingkan profesionalitas guru dalam mengajar?
Secara formal, Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Undang-Undang RI Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan menyatakan bahwa guru adalah tenaga profesional.
Sebagai tenaga profesional, guru dipersyaratkan memiliki kualifikasi akademik S-1 atau D4 dalam bidang yang relevan dengan mata pelajaran yang diampunya dan menguasai kompetensi sebagai agen pembelajaran.
c)      Manfaat dan Tujuan Sertifikasi
Sebagaimana yang telah kita ketahui, bahwa tugas utama seorang guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Oleh sebab itu, jika kita menilik kembali Undang-Undang Guru dan Dosen, maka akan diketahui tujuan sertifikasi bahwa sertifikasi sebagai bagian dari peningkatan mutu guru dan kesejahteraannya, sehingga diharapkan guru menjadi pendidik yang profesional, yaitu yang berpendidikan minimal S-1 / D4.
Adapun manfaat sertifikasi adalah sebagai berikut. Pertama, melindungi profesi guru dari praktik layanan pendidikan yang tidak kompeten sehingga dapat merusak citra profesi guru. Kedua, melindungi masyarakat dari praktik pendidikan yang tidak berkualitas dan profesional yang akan menghambat upaya peningkatan kualitas pendidikan dan penyiapan sumber daya manusia di negeri ini. Ketiga, menjadi wahana penjamin mutu bagi LPTK yang bertugas mempersiapkan calon guru dan juga berfungsi sebagai kontrol mutu bagi pengguna layanan pendidikan. Keempat, menjaga lembaga penyelenggara pendidikan dari keinginan internal dan eksternal yang potensial dapat menyimpang dari ketentuan yang berlaku (Mansur Muslich 2007: 9).  
d)     Hal Yang Diujikan  Dalam Sertifikasi
Dalam rangka memperoleh profesionalisme guru, maka hal yang diujikan dalam sertifikasi adalah kompetensiguru. Kompetensi adalah kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja.
Dalam Kepmendiknas Nomor 045/U/2002 menyatakan bahwa kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu. Dalam Undang-Undang Guru dan Dosen Pasal 10 dan Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional Pendidik Pasal 28, kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. Jadi, keempat jenis kompetensi guru itulah yang diujikan dalam sertifikasi
2.      Profesionalisme Guru
a)      Pengertian
Istilah profesional berasal dari profession yang berarti pekerjaan, Arifin dalam buku kapita Selekta Pendidikan mengatakan bahwa profession mengandung arti yang sama dengan kata occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus (1995: 105)
Sudarwan Danim mengatakan bahwa tuntutan kehadiran guru yang professional tidak pernah surut, karena dalam latar proses kemanusiaan dan pemanusiaan, ia hadir sebagai subjek paling diandalkan yang sering kali disebut Oemar Bakri (2003:191-192).
b)     Landasan/Dalil Guru Profesional
Dalam pendidikan, seorang guru/pendidik dituntut untuk profesional dalam mengajar sesuai dengan bidang yang digeluti, sebagaimana hadits Rasulullah SAW: “Jika suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan profesinya (ahlinya) maka tunggulah kehancurannya.” (H.R. Bukhari)
Juga Firman Allah SWT dalam Q.S Al-An’am ayat 135 yang berbunyi
ö@è% ÉQöqs)»tƒ (#qè=yJôã$# 4n?tã öNà6ÏGtR%s3tB ÎoTÎ) ×@ÏB$tã ( t$öq|¡sù šcqßJn=÷ès? `tB Ücqä3s? ¼çms9 èpt7É)»tã Í#¤$!$# 3 ¼çm¯RÎ) Ÿw ßxÎ=øÿムšcqßJÎ=»©à9$# ÇÊÌÎÈ
Artinya: Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, Sesungguhnya akupun berbuat (pula). kelak kamu akan mengetahui, siapakah yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.
c)      Perlunya Guru Profesional
Dalam pendidikan, guru adalah seorang pendidik, pembimbing, pelatih, dan pemimpin yang dapat menciptakan iklim belajar yang menarik, memberi rasa aman, nyaman dan kondusif dalam kelas.
Keberadaannya di tengah-tengah siswa dapat mencairkan suasana kebekuan, kekakuan dan kejenuhan belajar yang terasa berat diterima oleh para siswa. Kondisi seperti itu ternyata memerlukan keterampilan dari seorang guru, dan tidak semua mampu melakukannya. Menyadari hal itu, maka peneliti menganggap bahwa keberadaan guru profesional sangat diperlukan.
Guru yang profesional merupakan faktor penentu proses pendidikan yang bermutu. Untuk dapat menjadi guru profesional, mereka harus mampu menemukan jati diri dan mengaktualkan diri. Pemberian prioritas yang sangat rendah pada pembangunan pendidikan selama beberapa puluh tahun terakhir telah berdampak buruk yang sangat luas bagi kehidupan berbangsa dan bernegara (Asrorun, 2006: 9).
Untuk itu, guru diharapkan tidak hanya sebatas menjalankan profesinya, tetapi guru harus memiliki keterpanggilan untuk melaksanakan tugasnya dengan melakukan perbaikan kualitas pelayanan terhadap peserta didik baik dari segi intelektual maupun kompetensi lainnya yang akan menunjang perbaikan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.
d)     Kriteria-Kriteria Guru Profesional
Keberhasilan guru dapat ditinjau dari dua segi, yaitu segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses, guru dipandang berhasil apabila mampu melibatkan sebagian peserta didik secara aktif baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran serta adanya rasa percaya diri. Sedangkan dari segi hasil, guru dipandang berhasil apabila pembelajaran yang diberikannya mampu mengubah perilaku pada sebagian besar peserta didik kearah yang lebih baik.
Oleh karena itu, guru yang profesional harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yang positif. Oemar Hamalik dalam bukunya “Proses Belajar Mengajar”, guru professional harus memiliki persyaratan, yaitu sebagai berikut:
1)      Memiliki bakat sebagai guru.
2)      Memiliki keahlian sebagai guru.
3)      Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
4)      Memiliki mental yang sehat.
5)      Berbadan sehat.
6)      Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
7)      Guru adalah manusia berjiwa pancasila.
8)      Guru adalah seorang warga yang baik.
e)      Kemampuan Yang Harus Dimiliki Guru Profesional
Sebagaimana lazim dipahami bahwa dikalangan pendidikan, guru dipandang sebagai sosok yang utuh apabila memiliki kompetensi profesional. Dalam buku yang ditulis oleh Mansur Muslich, kompetensi profesional guru terdiri atas beberapa kemampuan, yaitu sebagai berikut:
1)      Mengenal secara mendalam peserta didik yang hendak dilayani
2)      Menguasai bidang ilmu sumber bahan ajaran, baik dari segi,
a)      Substansi dan metodologi bidang ilmu (disciplinary content knowledge), maupun
b)      Pengemasan bidang ilmu menjadi bahan ajar dalam kurikulum (pedagogical content knowledge).
3)      Menyelenggarakan pembelejran yang mendidik, mencakup
a)      Perancangan program pembelajaran berdasarkan serangkaian keputusan situasional,
b)      Implementasi program pembelajaran termasuk penyesuaian sambil jalan (midcourse) berdasarkan on going transactionaldecision berhubungan dengan adjustments dan reaksi unik (idiosyncratic response) dari peserta didik terhadap tindakan guru,
c)      Mengakses proses dan hasil pembelajaran
d)     Menggunakan hasil asesmen terhadap proses dan hasil pembelajaran dalam rangka perbaikan pengelolaan pembelajaran secara berkelanjutan.
4)      Mengembangkan kemampuan profesional secara berkelanjutan.
Disamping itu ada satu hal lagi yang perlu mendapatkan perhatian khusus bagi guru yang profesional, yaitu kondisi yang nyaman, lingkungan belajar yang baik secara fisik maupun psikis.
 Demikian juga E. Mulyasa mengatakan tugas guru yang paling utama adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan belajar yang menyenangkan, agar dapat membangkitkan rasa ingin tahu semua peserta didik sehingga timbul minat dan nafsunya untuk belajar (2002:187).
f)       Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profesionalisme Guru
Menurut Alimuddin, ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi profasionalisme guru dalam mengajar, yaitu sebagai berikut:
1)      Status Akademik
Pekerjaan guru adalah pekerjaan yang bersifat profesi, secara sederhana pekerjaan yang bersifat profesi adalah pekerjaan yang hanya dilakukan oleh mereka yang secara khusus disiapkan untuk itu dan bukan untuk pekerjaan lainnya.
2)      Pengalaman Belajar
Dalam menghadapi peserta didik, tidak mudah untuk mengorganisir mereka, dan hal tersebut banyak menjadi keluhan, serta banyak pula dijumpai guru yang mengeluh karena sulit untuk menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan dan menggairahkan. Hal tersebut dikarenakan guru kurang mampu untuk menguasai dan menyesuaikan diri terhadao proses belajar mengajar yang berlangsung.
3)      Mencintai Profesi Sebagai Guru
Rasa cinta akan mendorong individu untuk melakukan sesuatu sebagai usaha dan pengorbanan. Seseorang yang melakukan sesuatu dengan tanpa adanya rasa cinta, biasanya orang tersebut akan melakukannya dalam keadaan terpaksa. Dalam melakukan sesuatu akan lebih berhasil apabila disertai dengan adanya rasa mencintai terhadap apa yang dilakukannya itu.
4)      Berkepribadian
Secara bahasa kepribadian adalah keseluruhan sifat-sifat yang merupakan watak seseorang. Dalam proses belajar mengajar, kepribadian seorang guru ikut serta menentukan watak siswanya.
G.    Kerangka Berfikir


  1. Hipotesis
Ho: Tidak ada pengaruh antara sertifikasi terhadap profesionalisme guru dalam mengajar di seluruh SMA Muhammadiyah Yogyakarta.
Ha: Ada pengaruh antara sertifikasi terhadap profesionalisme guru dalam mengajar di seluruh SMA Muhammadiyah Yogyakarta.

  1. Metodologi Penelitian
1.      Jenis Penelitian
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian lapangan dengan menggunakan metode survei.
2.      Variabel Penelitian
a)      Sertifikasi Guru merupakan variabel X
b)      Profesionalisme Guru Dalam Mengajar merupakan variabel Y
3.      Populasi dan Sampel
a)      Populasi penelitian adalah seluruh guru SMA Muhammadiyah Yogyakarta yang sudah mendapatkan sertifikasi sebanyak 50 orang
b)      Pengambilan sampel penelitian menggunakan “Teknik Random Langsung”, yaitu guru yang berasal dari,
1)      SMA Muhammadiyah 1 sebanyak 5 orang, 
2)      SMA Muhammadiyah 2 sebanyak 4 orang,
3)       SMA Muhammadiyah 3 sebanyak 5 orang,
4)      SMA Muhammadiyah 4 sebanyak 5 orang,
5)      SMA Muhammadiyah 5 sebanyak 4 orang,
6)      SMA Muhammadiyah 6 sebanyak 4 orang,
7)      SMA Muhammadiyah 7 sebanyak 3 orang.
4.      Metode Pengumpulan Data
a)      Kusioner/Angket
Metode angket digunakan untuk mengetahui pandangan guru terhadap sertifikasi serta profesionalisme guru dalam mengajar.
b)      Observasi
Metode observasi digunakan untuk memperoleh sejumlah data yang berkenaan dengan aktifitas guru yang menunjukkan keprofesionalan guru dalam mengajar.
5.      Metode Analisis Data
Karena penelitian ini untuk mencari komparasi, maka pengujian dilakukan dengan menggunakan rumus Product Moment, yaitu:




DAFTAR PUSTAKA
Sholeh, Asrorun Ni’am. 2006. Membangun Profesionalitas Guru Analisis Kronologis atas Lahirnya Undang-Undang Guru dan Dosen. eLSAS, Jakarta.
Arifin, H.M, 1995. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Bumi Aksara, Jakarta.
E. Mulyasa. 2002. Kurikulum Betbasis Kompetensi, Konsep, Karakteristik dan Implementasi. PT Remaja Rosdakarya, Bandung.
Hamalik, Oemar. 2006. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. PT. Bumi Aksara, Jakarta.
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 057/O/2007 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Penyelenggara Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan.
Muslich, Mansur. 2007. Sertifikasi Guru Menuju Profesionalisme Pendidik. PT Bumi Aksara, Jakarta.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Sudarwan, Danim. 2003. Agenda Pembaruan Sistem Pendidikan. Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

0 Response to "DOWNLOAD MAKALAH PENDIIDKAN PENGARUH SERTIFIKASI TERHADAP PROFESIONALISME GURU-GURU DI SMA MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA"

Post a Comment